“Lagi-lagi kalian berbuat ulah!” Ustadzah pengawas mendelik pada Hesti, Karin dan Fafa. Namun, itu tak membuat ketiganya takut, tentunya karena mereka mengandalkan pengaruhku.
Aku berdiri di belakang mereka, bersandar di daun pintu dengan perasaan bosan. Kejadian ini sudah pernah aku alami di masa lalu. Rasanya seperti sedang menonton untuk ke dua dua kalinya.
“Memang apa salah kita? Kita hanya minta bantuan sesama teman. Bukannya sesama saudara semuslim harus saling membantu?” sela Hesti.
Sejenak aku salut dengan permainan kata Hesti. Jelas dia memang tipikal wanita yang sangat pintar membuat yang buruk terlihat baik. Mulutnya lebih berbahaya dari gula. Manis dan mengandung racun.
“Hesti!” Ustadzah pengawas menggeram kesal.
Aku rasa jika tidak terikat akan etika seorang pengajar, wanita berkacamata dengan rahang tegas itu sudah siap menjambak mulut Hesti.
“Itu nama saya,” sahut Hesti santai, disambut tawa cekikikan Karin dan Fafa.
Ketiganya sama sekali tak mengindahkan status sebagai santri.
“Diam kalian!” Suara gebrakan meja menggema. Menghentikan tawa ketiganya.
“Jika meja rusak, Ustadzah harus menggantinya,” ujar Fafa.
Aku salut akan kesabaran Ustadzah pengawas, yang masih tetap menahan tangannya dari menampar pipi Fafa. Jika aku yang ada di posisi itu, mungkin aku sudah membuat banyak tanda telapak tangan di wajah Fafa.
“Kalian di hukum karena tindakan kalian yang memaksa santri mengerjakan tugas kalian!”
Hesti mendengus, ujung matanya melirik ke arahku. “Yakin ingin menghukum kita? Sepertinya Ustadzah lupa akan satu hal…” katanya angkuh. Nada suara yang sama persis seperti di masa depan.
Karin dan Fafa tiba-tiba menghampiriku.
“Ning Vina… katakan sesuatu agar kita bisa segera kembali ke kamar. Ada drama Korea yang belum selesai saya tonton,” ujar Karin.
“Ya, ingatkan ustadzah itu siapa Ning Vina.”
Hesti tersenyum kearahku. Ingin rasanya kurobek bibirnya. Arghh tanganku gatal ingin menampar wajah menjijikan mereka.
Aku terpaksa maju untuk mempertahankan karakter yang ada. Aku harus terlihat mirip seperti Vina yang dulu. Berwajah datar dan dingin.
“Kalian keluar dulu dari ruangan ini. Biarkan saya berbicara berdua dengan Ustadzah,” ujarku, pelan.
Dengan cepat dan patuh, ketiganya keluar dan menutup pintu rapat.
“Semoga hari ini Ning Vina tidak dalam mood yang buruk,” bisik Hesti di telinga Ustadzah sebelum melenggang pergi.
Di ruangan tersisa aku dan Ustadzah Pengawas. Di pondok ini, ustadzah pengawas berasal dari santriwati pengabdian. Mereka diamanahkan untuk menjaga keamanan dan tata tertib pondok. Usia mereka pun tak terlalu jauh dariku. Selisih 3-4 tahun.
“Ingin menghukum kita?” tanyaku mengawali.
Ustadzah berkacamata itu menatapku dengan seksama. “Ya.”
“Kenapa?”
“Ning Vina serius bertanya soal ini? Apa butuh saya list apa saja alasan yang membuat kalian pantas dihukum.”
“Seingat saya, ustadzah baru menjadi ustadzah pengawas 5 bulan ini, kan?” tanyaku memastikan.
“Ya,” jawabnya lugas. “Dan saya jelas tahu siapa Ning. Jadi, bisa kita berbicara langsung ke intinya?”
“Saya ingin….” Aku refleks tersenyum, membayangkan Karin, Hesti dan Fafa mendapat hukuman rasanya sangat bahagia.
“Ustadzah hukum Fafa, Karin dan Hesti. Hukum mereka dengan hukuman paling berat!”
Seketika ruangan itu hening. Sejenak ekspresi bingung langsung memenuhi wajah ustadzah pengawas. Detik berikutnya, ia menatapku datar. Lalu mengangguk.
Aku tersenyum, berbalik hendak pergi.
“Dan kamu juga,” lanjutnya.
Langkah kakiku terhenti, menoleh ke arahnya. Ustadzah Pengawas tersenyum tanpa ekspresi.
“Hari ini adalah hari terakhir saya mengabdi di pondok ini. Besok saya boyongan kembali ke kampung halaman saya. Kalian tidak akan bisa menyentuh saya.”
Aku berbalik sepenuhnya. “Bukan itu maksud saya. Saya—”
“Ada banyak ustadzah yang merasa tak berdaya karena pengaruhmu sebagai Ning. Kamu selalu menggunakan gelar itu untuk menindas siapa saja,” selanya.
“Dari hari ini, sebelum saya pergi, saya ingin memberi hadiah untuk semua orang yang pernah Ning Vina dzolimi.”
“Anggap saja ini… cara untuk menggugurkan dosamu, Ning Vina.”
.
.
“Sialan!” Hesti mendengus keras, membanting alat bersih-bersih di tangannya. Ini sudah ke sepuluh kalinya aku menahan diri untuk tidak menjambak mulut panjang Hesti.
“Aaarrrghhh—”
Plak!
Uppss, tanganku sepertinya punya kendali sendiri. Suara teriakannya sangat menganggu telingaku!
Hesti terdiam. Ia memegangi pipinya yang merah setelah tanda telapak tanganku membekas di wajahnya.
“Maaf, Ning Vina….” cicit Hesti.
Karin dan Fafa segera menghampiri Hesti terlihat panik. Apa mereka setulus itu pada Hesti?
“Semua ini gara-gara Hamzah! Si benalu yang sok jadi pahlawan itu,” dengus Fafa.
Karin mengangguk. “Iya, ini semua gara-gara Hamzah. Kita jadi harus membersihkan toilet pondok sebanyak ini.”
Hesti perlahan mendekat ke arahku. “Ning Vina, kita harus balas dendam pada Hamzah. Kita harus kasih dia pelajaran biar dia gak berani ngusik kita lagi! Dia harus tahu siapa Ning Vina!”
Sepertinya karena rasa lelah, aku nyaris lupa sandiwaraku sendiri. Aku menepis keras lengan Hesti.
“Siapa yang berkuasa di sini? Saya atau kamu? Kenapa kamu mendikti saya!”
“B-bukan begitu maksud saya, Ning… “ Suara Hesti goyah. Rasanya aku tak percaya. Apa ini juga salah satu keahliannya? Menipu saya dengan tampilan pura-pura lemah.
“Saya hanya ingin Hamzah tahu siapa Ning Vina.”
“Saya tak butuh berurusan dengan Hamzah! Buang-buang waktu!”
“Tapi, Ning—”Ketiganya terdiam saat Vina menoleh.
“Ini pertama kalinya, Ning Vina tidak ingin membalas orang-orang yang Ning benci…” cicit Karin yang seketika menarik kesadaran penuhku.
Sial!
Apa mereka curiga padaku?
Belum sempat aku memulihkan keadaan, tiba-tiba hidungku mimisan. Disusul tubuhku terasa sangat lelah, pandanganku mendadak jadi kabur.
Aku tanpa sadar telah menolak peristiwa masa lalu!
Bruk!
Aku terjatuh di lantai kamar mandi yang basah.
“Ning Vina bangun!”
Suara Karin samar-samar memasuki telingaku. Teringat akan kondisi yang belum dipulihkan, aku segera bangkit. Jika saja tubuhku tidak lemas, aku pasti sudah lompat dari kasur putih ini.
“Kapan kita akan memberi pelajaran untuk Hamzah?” tanyaku cepat.
Hesti muncul dari belakang Karin dan Fafa. Ia memberikanku segelas teh hangat. “Diminum dulu Ning.”
Aku dengan enggan menyeruput teh yang rasanya hampa itu.
“Gimana? Sekarang saja kita beri dia pelajaran,” ujarku cepat.
Sial!
Meski tanpa rencana, hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan agar tak ada peristiwa buruk sebagai gantinya.
“Ning harus tahu, Ustadzah yang menghukum kita tadi sudah dipanggil dewan redaksi pondok.” Fafa menambahkan informasi yang tidak kubutuhkan.
“Iya, kulo yakin, dia akan langsung dikeluarkan dari pondok detik ini juga!” kata Karin. “Siapa suruh cari masalah dengan Ning Vina, sampai buat Ning pingsan gini karena kecapaian.”
“Iya… Ustadzah sok itu akan tahu akibatnya berurusan dengan kita—”
Fafa dan Karin terdiam saat mereka menoleh ke arahku. Kurasa sekarang wajahku sudah semerah besi panas yang diceburkan ke dalam api.
“Ning Vina…” Hesti menenangi. Ia memberikanku sepotong kukis cokelat, yang tentunya tidak bisa aku tolak. Aku si maniak cokelat.
Dari dulu, Hesti memang sangat pandai meredam emosiku.
“Ning.. mengenai Hamzah. Kita sudah beri dia pelajaran yang gak akan dia lupakan seumur hidupnya!”
Deg!
Rasanya napasku nyaris berhenti. Apa yang ular ini lakukan pada Hamzah? Walau Hamzah sedikit menyebalkan, tapi dia calon suamiku di masa depan. Aku tidak mungkin membiarkannya kenapa-napa, kan?
“Memangnya apa yang kalian lakukan?” tanyaku. Jantungku sudah berdebar tidak karuan. Kukis cokelat yang biasanya manis, mendadak hambar.
“Apa?!” tanyaku tak sabar. “Memangnya apa yang bisa kalian lakukan pada Hamzah di pondok?”
Hesti tersenyum simpul. “Bukan kita, Ning. Tapi, Zayn. Zayn dengan senang hati membalas dendam kita pada Hamzah.”
“Zayn?”
Napasku nyaris terhenti. Aku jelas tahu bagaimana gilanya Zayn memberi hukuman pada seseorang yang dia lebeli sebagai musuh. Ditambah lagi, Zayn sangat membenci Hamzah setelah insiden di tangkap polisi waktu itu.
“Apa yang dia lakukan pada Hamzah?” lirihku tak berdaya.