Dean melihat pemandangan kota Paris dari lewat jendela taksi yang ia tumpangi pagi ini. Dia langsung memikirkan Addy, pantas saja wanita itu sangat ingin pergi ke Paris enam tahun yang lalu, well, Paris is magical indeed. Tim kerjanya sudah menyewakan apartemen untuknya, dan mungkin besok harinya dia akan mulai bekerja di firma pemasaran itu. Ini tepat dua minggu setelah Dean izin untuk pergi ke Paris, dan dia tidak menyangka prosesnya akan secepat ini. Well, untuk bekerja sama dengan Savoir, yang secara harfiah adalah firma bergengsi di sini, waktu dua minggu termasuk cepat. Taksinya berhemti tepat di depan gedung apartemen yang akan dia tinggali sementara. “Mercy,” ucap Dean pada sopir taksi itu. Walaupun Dean tidak terlalu fasih berbahasa Prancis, tapi setidaknya dia bisa mengatakan da

