Addy tidak tahu apakah yang diucapkannya ini sungguh dibawah kesadarannya atau bagaimana, karena yang keluar darinya tadi adalah kata-kata spontan. Pikirannya menyuruhnya untuk memikirkan hal itu matang-matang, apakah Dean serius dan tidak berbohong, dan apakah jika dia menerima Dean kembali, dia tidak akan menyesal? Dan bagaiaman dengan Irana? Tapi, semua itu terkalahkan dengan hatinya yang menyuruhnya untuk mengatakan; iya, dia sungguhan mencintai kamu, dan seharusnya kamu menerima tawaran dia dan langsung menikahinya saja. Sialnya, Addy kembali mengikuti kata hatinya. "Ad?" Dean di hadapannya masih diam seribu bahasa. Mungkin masih meyakinkan dirinya sendiri apakah Addy mabuk atau tidak. "Mana cincin yang kamu kasih padaku waku siang? Kembalikan," ucap Addy seraya mengulurkan tangann

