“Ketawa terus sih Neng?” omelku setelah gantian menarik tangannya mendekat pada papi dan bang Roland yang mengobrol di teras rumahnya. Ampun bangetkan kelakuannya yang susah sekali aku tebak. Tadi takut, kemudian tertawa terus, sampai aku mikir dia kesambet si manis jembatan ancol. “Asalamualaikum beh!!, bang!!” sapaku mengabaikannya juga demi kesopananku pada orang tuanya dan bang Roland tentunya. Sontak keduanya menoleh lalu berdiri sampai kami berdiri berhadapan dan aku lepas juga genggaman tanganku di tangannya. “Walaikumsalam, pulang juga mereka Rol” komen papinya sambil menanggapi cium tanganku dan putrinya. Bang Roland tertawa pelan. “Dari mana kalian, happy banget” komennya kemudian. “Dufan bang!!, iseng aja mau mau nengokin ua di Ragunan, neng Risda gak mau, katanya nanti

