Cahaya matahari pagi tembus melalui jendela kamar kecil milik Nina. Cahayanya yang silau dan hangat, ternyata tak cukup membangunkan Rio dari tidur lelapnya. Sudah hampir tiga hari Rio tak pulang ke rumah. Keluarganya sampai kewalahan, takut kalau-kalau Rio diculik atau menjadi korban pembunuhan. Apalagi Theo Samahita, ayah Rio, yang sangat menyayangi putra satu-satunya itu. Nina mengusap perlahan pipi mulus Rio dengan punggung tangannya. Nina masih tidak percaya, bagaimana ada manusia dengan fisik sesempurna ini? Dan yang paling tidak bisa Nina percaya, kini Rio ada di sampingnya. Tidur satu ranjang dengannya. Oh, dan bahkan akhir-akhir ini hampir setiap hari mereka bercintaa. Membayangkan apa yang baru saja keduanya lakukan semalam saja, membuat pipi Nina langsung merona merah seketik

