Bagian 3: Kejadian Masa Lalu

1028 Words
#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power Seberat apapun masalah yang sedang dihadapi, yakinlah bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya. Maka dari itu, jangan lari dari-Nya, tapi mendekatlah. *** “Dika, anakku, kan?” Rahang wanita itu mengeras. Tangannya terkepal dengan buku-buku memutih. Inilah yang ia takutkan saat harus kembali ke tanah air. Bertemu pria ini. Pria yang telah meruntuhkan dunianya, impiannya, rencana masa depannya. Kejadian hari itu masih kental dalam ingatannya. Saat itu Resha berstatus sebagai mahasiswa magister yang sedang melakukan penelitian pendahuluan sebelum menentukan judul tesis yang akan dia garap. Penelitian ini dilakukan di Pratama Corp, perusahaan milik keluarga Randi dimana laki-laki itu menjabat sebagai direktur menggantikan ayahnya. Hari itu, hari yang naas. Resha disuruh mengantarkan laporan ke ruangan Randi. Resha menyodorkan berkas ke hadapan Ami, sekretaris Randi. “Kak Ami, aku disuruh nganterin ini ke Pak Randi. Aku kasih kakak aja ya.” “Nggak Re, langsung kamu kasih ke dalam aja ya. Pak Randinya lagi nggak ada tamu.” “Lha, kok gitu, Kak? Biasanya juga aku kasih kakak aja.” Protes gadis itu. Dia bukan pegawai di perusahaan ini. Tidak perlu kenal pimpinannya dengan baik dan tidak perlu basa-basi. Toh ini hanya enam minggu, tersisa empat minggu lagi. “Iya, itu kalau beliau lagi sibuk atau nggak bisa diganggu.” Jawab Ami tenang. Sepertinya pekerjaannya sedang sangat banyak sehingga Ami enggan meninggalkan kursinya. “Baiklah. Aku langsung masuk nih ya.” Ami mengangguk. Setelah mengetuk tiga kali, tapi tak kunjung ada respon dari dalam ruangan Pak Direktur. Resha memutuskan langsung membuka pintu. “Pak Randi, saya mau mengan….” Ucapan Resha terpotong karena menemukan Randi sedang mengigau di sofa. “Tidak. Kumohon jangan.” Keringat membasahi dahinya. Sepertinya mimpi buruk. Resha mencoba membangunkan. “Pak Randi, Paaaak.” Suara saja tidak mempan. Resha mencoba memikirkan cara membangunkannya karena mereka bukan mahram. Dia mendekat dan menepuk bahu pria itu agar segera bangun. Dengan cara ini dia tidak menyentuh kulit pria itu secara langsung, terhalang kemeja yang melekat di tubuh pria itu. Meskipun ini masih terbilang lancang, tapi kondisi ini darurat. Sependek pengetahuan Resha, orang yang sedang mimpi buruk harus segera dibangunkan. “Pak Randi, Paaaak.” Kali ini dibarengi tepukan di bahu pria itu. Randi tersentak dengan napas memburu. Matanya terbuka lebar dengan napas tersengal. “Anda baik-baik saja, Pak?” Tanya Resha karena merasa khawatir dengan keadaan Randi. Bukan menjawab, Randi malah menarik gadis itu sampai jatuh ke pangkuannya. Dengan kasar menerjang bibir ranum wanita itu. Tangan Randi mulai menjalari tubuh Resha yang lainnya tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Resha mendorong d**a Randi dan berusaha melepaskan diri. “Apa yang sedang Anda lakukan?” Teriaknya. Andai ruangan ini tidak kedap suara, seseorang tentu dapat mendengarnya. Sayang, ruangan ini didesain sedemikian rupa agar percakapan bisnis tidak dapat terdengar sampai ke luar ruangan. Bukannya menjawab, Randi kembali menarik paksa tubuh gadis itu ke arahnya. Resha kembali meronta, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Randi yang seperti kesetanan. Tidak kunjung bisa melepaskan diri, Resha mulai kehabisan energi. Dengan sisa tenaga yang ada, gadis itu menampar kuat pipi Randi sampai mengeluarkan darah di sudut bibir. Dia tersentak, seolah tersadar untuk sesaat. Hanya sesaat, kemudian melanjutkan apa yang tadi dilakukannya pada gadis itu. Randi tersulut emosi dan gairah diwaktu yang bersamaan. Dia mengelap darah disudut bibir menggunakan ibu jarinya lalu menyunggingkan senyum miring yang tampak mengerikan bagi Resha. Alhasil dia semakin ketakutan. Randi bangkit dari duduknya lalu memanggul wanita itu seperti karung beras di bahunya. Resha memberontak, kakinya ia tendang-tendangkan, berharap pria itu segera melepaskannya. Nyatanya, itu tidak berpengaruh apa-apa. Randi membawa Resha menuju kamar yang disediakan di ruangannya. Menghempaskan tubuh gadis itu di ranjang. Baru saja terhempas, Resha merasa memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari pria yang terlihat seperti sedang kesetanan ini. Ia berusaha duduk dan ingin berlari menuju pintu keluar. Tubuh lemahnya tak lagi gesit. Baru saja mendudukkan diri, belum sempat melangkah, bahunya kembali didorong oleh Randi. Pria itu mengambil yang bukan haknya. Resha tak dapat melawan, air matanya menjadi saksi bahwa ia tidak terima dengan semua ini. Randi jatuh tertidur di samping Resha. Setelah pria di sampingnya bernapas teratur, gadis yang tak lagi gadis itu bangun dari ranjang lalu memakai pakaiannya. Resha mengambil jas pria itu untuk menutupi gamisnya yang sudah robek di bagian d**a. Memasang hijab dengan cepat dan berlalu dari ruangan Randi. Wanita itu berusaha melawan rasa sakit di tubuhnya. Sekarang sudah pukul delapan malam, hampir semua karyawan sudah pulang. Kantor sepi. Resha menuju mejanya, mengambil tas lalu memesan taksi online. Sesampainya di kost, wanita itu mandi sangat lama. Ingin menghilangkan bekas sentuhan pria yang telah mengambil kehormatannya. Untuk sesaat, ingin rasanya mengakhiri hidup malam itu karena dia malu pada Tuhannya, malu pada keluarga, dan sekaligus mempermalukan seluruh keluarganya. Untunglah dia masih mengingat Allah sekarang. Dia menyadari ini bukan permasalahan yang ringan. Ini persoalan yang berat dan besar, tidak hanya dirinya sendiri yang akan terkena imbasnya. Teringat ceramah salah seorang ustadz di kajian yang pernah dikunjunginya. Ketika kamu memiliki masalah, dibandingkan berdo'a dengan mengatakan 'Ya allah, hamba punya masalah yang sangat besar,' lebih baik mengucapkan 'Hai masalah, aku punya Allah Yang Maha Besar.' Perlahan Resha mengembalikan dirinya pada kesadaran yang utuh. Saat kewarasannya kembali, wanita itu mandi janabah, menunaikan shalat Isya, lalu melanjutkan shalat Taubat. Sesenggukan wanita itu memohon ampunan Tuhannya. Memohon kasih sayang, memohon kekuatan untuk menjalani sisa umur. Dan yang paling utama, memohon agar benih pria itu tidak tumbuh di rahimnya. Lama, ia menenggelamkan diri dengan do’a-do’a panjang yang ia panjatkan pada-Nya. Tentang keluarga besarnya, terutama kedua orangtuanya. Setelah merasa agak tenang, sebuah rencana muncul di kepalanya, menjauh dari semua ini. Menjauh dari semua orang yang mengenalnya. Bukan untuk menghindari masalah, melainkan untuk menyelamatkan dirinya dan kelaurga yang sangat dia sayangi. Dia akan menerima tawaran yang rencana awal akan ditolaknya. Mengingat tanggal, tawaran itu masih berlaku. Harapan seolah meledakkan energi yang tersisa di tubuhnya. Ia langsung mempersiapkan segala sesuatunya malam itu juga dan segera pergi. Berharap saat matahari terbit esok hari, lembaran baru hidupnya dimulai. “Dika… Dia… anakku kan?” Ulang pria itu, membangunkan Resha dari lamunan kejadian masa lalu. Resha bergeming, belum sanggup membalikkan badan menghadapi tatapan tajam dari mata elang Randi. Jawaban apa yang harus dia berikan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD