Nuri masih sesegukan menangis di kamar mandi. Ia terus saja menggosok kuat bibirnya agar bekas cairan milik suaminya yang ia terpaksa telan,bisa hilang tak berbekas. Nuri bahkan mencolok mulutnya, agar apa yang sudah ia telan, bisa kembali ia muntahkan, tetapi percuma. Hingga rasa perih menyerang perutnya, wanita itu tidak mengeluarkan apa-apa.
"Nuri, kamu kenapa?" tanya Daniel dari luar. Nuri tidak menyahut. Air pancuran hangat yang membasahi tubuhnya sengaja ia besarkan. Agar suara suaminya tidak terdengar.
Apakah memang seperti ini menikah, lalu berhubungan suami istri? Kenapa rasanya jijik sekali. Batin Nuri.
Uek! Uek!
"Nuri, buka!"
"Saya gak papa, masuk angin saja." Nuri menyahut dengan suara bergetar.
"Ya sudah kalau gitu, cepat mandinya, saya juga mau mandi. Ini sudah mau magrib." Nuri lekas menyikat gigi sampai ke langit-langit mulut. Meskipun sudah bersih, tetapi ia masih merasa sangat lengket.
"Nuri, cepat, Sayang!" Nuri buru-buru memakai handuknya. Wanita itu membuka pintu kamar mandi. Ia tidak mau menatap wajah suaminya karena merasa takut.
"Besok lagi ya?" bisik Daniel sambil mencolek pipi istrinya. Nuri tidak menjawab, wanita itu bergegas memakai baju. Lalu keluar dari kamar.
Baginya, aktifitas panas yang baru saja ia lakukan bersama suaminya adalah hal yang mengerikan. Di mana ia tersedak, bahkan semua air liurnya keluar tanpa henti. Air mata yang tumpah pun tidak dihiraukan oleh suaminya, pria itu tetap melampiaskan hasratnya dengan memaju mundurkan kepala Nuri.
"Ibu mau makan malam?" tanya Siska; ART baru di rumah suaminya.
"Nanti saja. Saya mau buat teh saja."
"Biar saya yang bikin, Bu!" Kata Siska bermaksud mengambil gelas dari tangan majikannya. Namun, Nuri menepis pelan tangan wanita berumur sembilan belas tahun itu.
"Gak papa, kamu tolong buatkan untuk suami saya aja." Siska mengangguk paham. Nuri belum sanggup bertatap muka dengan suaminya. Rasanya masih sangat menyakitkan karena ia diperlakukan bukan seperti istri, tetapi p*****r. Mungkin ini memang juga karena kesalahannya sehingga suaminya marah.
"Ini, Bu." Nur menyerahkan cangkir teh yang ia buat untuk Daniel.
"Makasih, Nur. Kamu boleh istirahat. Saya masih ingin minum di sini." Gadis bernama Nur itu pun mengangguk. Nuri masih menyesap tehnya perlahan.
"Eh, kenapa di sini, Sayang?" tiba-tiba saja, Daniel sudah memeluk Nuri dari belakang. Wanita itu terkejut dan reflek melepaskan tangan suaminya yang tengah memeluk pinggangnya.
"Kaget, Mas. Ini tehnya. Saya mules, saya ke kamar mandi dulu ya." Nuri terpaksa berbohong karena ia masih malas untuk berbincang dengan suaminya. Ia bergegas masuk ke kamar tanpa mau mendengar seruan suaminya yang memintanya untuk balik lagi ke dapur setelah dari kamar mandi.
Nuri tidak benar-benar dengan alasannya. Wanita itu malah memilih tidur meskipun ia belum makan. Rasa kesal, kecewa, dan sedih mampu mengalahkan rasa lapar.
Keesokan harinya, Nuri memutuskan untuk konsultasi ke dokter kelamin. Ia tidak mau terus menjadi b***k oral suaminya. Untuk itu ia harus mengobati sakitnya, sehingga ia bisa berhubungan layaknya sepasang suami istri yang lainnya. Dengan naik ojek online, ia pergi ke rumah sakit besar. Masalah uang tidak ia hiraukan lagi, bukan karena suaminya banyak duit, tetapi karena sendiri sudah punya penghasilan dari jualan.
"Ibu Nuri," panggil perawat yang berjaga di depan ruang periksa. Wanita itu berdiri, lalu masuk ke dalam ruangan periksa.
Tanpa diketahui oleh wanita itu, ada orang lain yang tengah memperhatikannnya dan dengan seksama melihat nama dokete berikut spesialisnya.
Mau apa Nuri ke dokter alat kelamin? Apa Nuri sakit?
**
"Mbak, tebak tadi saya ketemu siapa di rumah sakit?" tanya Bu Mila yang baru saja turun dari taksi online. Bu Cici yang tengah memeriksa tanamannya langsung menoleh pada adiknya itu.
"Siapa? Artis?" tanya Bu Cici tak begitu penasaran. Ia malah kembali fokus pada tanamannya.
"Bukan, Mbak, tapi Nuri." Kegiatan menggunting tanaman itu pun ia hentikan.
"Nuri, sakit apa?" tanya Bu Cici kali ini dengan menunjukkan raut penasaran.
"Gak tahu, tapi berobatnya ke spesialis alat kelamin." Kening Bu Cici semakin berkerut dalam.
"Ya ampun, sakit apa? Kelamin? HIV? Kamu yakin gak salah lihat?"
"Ya gak tahu sakitnya apa, Mbak, tapi yang jelas Nuri masuk ke ruangan itu. Coba Mbak tanyakan saja ke Daniel. Bukannya mereka udah rujuk. Anunya bau kali, Mbak atau bisa juga dingin hi hi hi.... "
"Ya ampun, kasihan sekali putraku. Ya sudah, saya telepon Daniel dulu deh." Bu Cici bergegas masuk ke dalam rumah. Ia mengangkat gagang telepon rumah, lalu menekan nomor kantor anaknya. Panggilannya tidak kunjung diangkat, yang terdengar hanya nada sibuk saja.
Bu Mila menghampiri kakaknya yang duduk dengan cemas sambil terus melakukan panggilan.
"Gimana, Mbak? Gak diangkat ya?" tanya Bu Mila. Wanita itu mengangguk, lalu meletakkan gagang telepon ke asalnya.
"Coba telepon saja Nuri, Mbak. Tanya langsung saja dia sakit apa?" usul Bu Mila. Mama dari Daniel itu pun langsung menekan nomor ponsel menantunya dari ponselnya.
"Halo, Nuri, kamu di mana?"
"H-halo, Ma. Saya lagi di luar, Ma."
"Ngapain?"
"A-ada urusan sebentar, Ma. Ada apa, Ma?"
"Kamu sakit?"
"Eh, sakit? Nggak, Mama tahu dari mana? Saya alhamdulillah sehat-sehat saja."
"Jangan bohong, Nuri. Tante Mila melihat kamu masuk ke ruangan periksa dokter spesialis apat kelamin. Apa organ inti wanita kamu bermasalah?"
"Eh, b-bukan, Ma, ini saya mau cek kondisi rahim saja."
"Mama akan tahu apapun itu yang kamu sembunyikan ya, Nuri."
Sambungan itu pun terputus. Nuri hanya bisa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. Salah satu ujian berat dalam rumah tanggannya adalah ibu mertuanya. Namun, ia juga tidak mungkin membuat suaminya menjadi anak durhaka.
Mas, saya ada di rumah sakit, memeriksakan masalah saya. Kata dokter, saya harus dicek bagian dalam dan dilakukan bedah kecil jika memang bermasalah. Tolong jangan beritahu mama masalah ini ya, Mas. Saya malu.
Send
Ia mengirimkan pesan pada Daniel. Ia tidak mungkin membiarkan mertuanya tahu, bahwa ia masih perawan dan bermasalah dengan organ intinya, sehingga suaminya tidak terpuaskan. Akan semakin banyak tema yang bisa dilancarkan mertuanya nanti untuk mencela atau mem-bully-nya.
Pesannya belum dibalas, tetapi sudah centang biru. Itu tandanya Daniel sudah membacanya. Nuri memutuskan untuk pulang ke rumah dan membicarakan masalah bedah kecil nanti malam pada suaminya.
***
Dika baru saja selesai rapat. Pria itu merindukan mantan istrinya dan ingin bertemu, tetapi jangankan bertemu, pesan pun tidak bisa ia kirimkan karena wanita itu sudah memutuskan untuk kembali pada suaminya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apakah harus menyerah secepat itu?
"Pak Dika, ada anak-anak yang mau melakukan penelitian di kebun binatang kita. Apa propost mereka boleh kita pelajari?" tanya salah satu staf.
"Oh, iya, boleh, bawa aja ke sini proposal mereka. Nanti kita pelajari dulu." Lelaki yang berdiri di dekatnya itu pun sudah keluar dari ruangan. Sekeliling sepi karena sedang menikmati makan siang di restoran yang tidak jauh dari kebun binatang. Ia tidak ikut karena rapatnya saja baru selesai.
Kring! Kring
Ponselnya berdering. Ia berharap Nuri yang menelepon, ternyata mamanya.
"Halo, assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'alaykumussalam, Dika. Kamu lagi sibuk ya?"
"Nggak, Ma, baru aja kelar meeting. Ada apa, Ma?"
"Mama baru aja menelepon Nuri, tetapi nadanya sibuk terus."
"Ma, gak papa, biarin nanti saya saja. Kita jangan ganggu Nuri dulu sepertinya karena Nuri baru saja kembali pada suaminya."
"Ih, kamu jangan gitu, Dika. Kalau Nuri beneran rujuk dan langgeng sama suaminya gimana?"
"Ma, kalau jodoh gak akan ke mana. Biar pakai cara saya saja, Ma. Mama harus percaya dengan saya. Oh, iya, malam ini saya nginep di rumah Mama ya. Soalnya di rumah saya suka ada suara benda jatuh dari dapur, padahal gak ada yang jatuh."
"Sejak kapan? Serem banget rumah kamu."
"Udah semingguan, Ma."
"Mungkin rumah kamu perlu dirukiyah. Ya sudah, malam ini kamu tidur di rumah Mama saja. Sudah dulu ya. Assalamu'alaikum."
Bu Widya memutus panggilan terhadap Dika. Ia bergidil ngeri setelah mendengar cerita putranya itu. Bisa saja rumah lama tidak dihuni oleh manusia, menjadi tempat berkumpulnya jin dan setan. Oleh karena itu harus dirukiyah.
"Fitri, serem deh," ujar Bu Widya saat ART-nya itu tenga mengepel lantai.
"Ada apa, Bu?" tanya Fitri terheran.
"Di rumah Dika suka ada suara benda jatuh di dapur, tapi pas dilihat, bendanya gak ada," cerita Bu Widya dengan bulu tangan dan kaki ikut merinding.
"Ada yang iseng tandanya, Bu. Saya sih gak mau nuduh ya, tapi bisa kita pikirkan sama-sama, siapa orang yang paling sebal dan marah dengan Pak Dika, sehingga membuat gangguan goib seperti itu." Bu Widya tiba-tiba mendelik. Dahulu, mau sebulan Dika tidak tinggal di rumahnya, memang tidak pernah terjadi apa-apa, tetapi kenapa sekarang ada gangguan goib?
"Maksud kamu, Tika?" Fitri mengangguk.
"Satu-satunya orang yang paling marah dan kecewa pada Pak Dika adalah Tika. Jadi, ada kemungkinan mantan menantu Ibu itu."