Foto Mesra di f*******: Rahasia (7)
Seketika suaranya hilang, tak ada lagi pembicaraan.
“Nem, Buka!”
Tak ada gerakan.
Gemes, kutendang pintunya.
Dubrak!
“Buka, Nem!”
“Iya, Bu, sebentar ….!
Pintu dibuka.
“Apa, kamu ngomong apa barusan?”
“Ngomong apa gimana sich, Bu, yang ibu maksud?”
“Kamu tadi ngobrol sama seseorang kan di telepon? Jangan kira saya nggak dengar. Apa obrolan yang kamu maksud tadi, Hah?”
“Ehhm, ma-ma-maksud Ibu yang mana? Aduh, saya jadi takut. Ibu nich, tumben marah-marah.”
“Yang soal beli darah keperawanan! Paham?!” Aku berkata penuh penekanan tiap katanya.
Ia menatapku dua detik. Lalu tertawa.
“Owh itu. Ibu, nich, kirain apaan …. Itu kan dialog cerita, Bu. Inem tadi nemu cerita di internet, ceritanya seru. Inem ngomong ngikutin dialog yang ditulis. Duh sampe jantungan Inem. Kirain apaan Ibu sampe dobrak pintu. Cuma salah paham, Bu ….” ia menunjukkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.
“Kamu nggak usah ngaco, Nem!”
“Ya Allah, Bu. Beneran, suerrr, Inem jujur. Inem ngapain gitu-gitu. Bisa-bisa dimarah Bapak di kampung, aneh-aneh. Maaf, Bu, kalo bikin Ibu kaget.”
“Mana hape kamu? Tunjukin ke saya!”
“Eh, batrenya habis, Bu. Pas banget, Pas ibu panggil tadi, batrenya habis. Beneran ….”
Ia melangkah mundur mengambil gawainya.
“Nich, Bu, lihat, batrenya mati ‘kan? Nggak nyala. Inem charge dulu, deh. Kalau udah nyala nanti dikasih tahu ke Ibu. Maaf, ya, Bu.” Ia meringis.
Lalu ia tekan tombol on gawai itu berkali-kali.
Pintar sekali ular ini. Hapenya benar-benar mati!
Awas aja nanti, Nem, hapemu kuambil!
Esok paginya, Alhamdulillah, ada satu pengasuh dari yayasan, yang siap kerja mengurusi dua bocil lucuku itu bersama Inem. Aku tak hiraukan saran Mas Hangga untuk tidak nambah orang. Enak saja memberi mereka ruang untuk terus bersama. Bila perlu ambil satu lagi Pengasuh, biar rumah ini makin rame penghuni dan mereka nggak bisa sembarangan mengambil kesempatan.
Wajah Inem masam ketika melihat Mbak Yana mulai bermain dan ngobrol sama anak-anak. Sebelum dia mulai bekerja, di yayasan dia sudah kutatar untuk bisa tegas menghadapi kelakuan Inem. Sementara Mas Hangga hanya diam nggak menunjukkan ekspresi apapun.
***
Dikantor pukul sepuluh pagi. Pekerjaanku sudah selesai sebagian. Setelah sekian bulan, baru hari ini aku merasa pekerjaan agak longgar. Aku memikirkan rencana apa yang akan dilakukan saat nanti Inem dan Mas Hangga pada akhirnya mengakui hubungan mereka. Bercerai itu sudah pasti. Dan mulai sekarang mulai menghitung aset-aset apa saja yang bisa kuselamatkan agar Mas Hangga nggak seenaknya membawa harta lalu digunakan untuk hidup bersama Inem.
Iseng kubuka media sosial yang telah berbulan tak pernah kujamah.
Aku hanya ingin mencari hiburan dari suntuknya hidup yang sedang lelah kujalani.
Klik! Wall f*******: kubuka. lalu membaca beranda dan melihat status teman-teman yang dengan segala kegiatannya. Kukomen pendek-pendek hanya untuk sekedar bertanya kabar.
Lalu kembali melihat status-status lama yang pernah kubuat. Tapi aku seperti merasakan keanehan. Ada satu hal yang janggal dari tampilan facebookku kali ini, tapi apa? Aku scroll ke atas dan ke bawah. Sampai kemudian menyadari sesuatu. f*******: Mas Hangga sudah tidak lagi ada di bagian profilku yang menampilkan ikatan suami istri.
Jadi dia copot status suami istri di f*******:? Segera ku klik akun facebooknya. Tak ada yang aneh, masih seperti biasa. Dari list pertemanan dia, kuketik sebuah nama, “Inem.” Barangkali wanita itu sudah berteman dengan suami gantengnya. Nihil.
Aku melog out facebbok dan mencoba login menggunakan akun Mas Hangga. Tidak bisa login. Owh, berarti passwordnya diganti. Baiklah, berarti sekarang aku sudah benar-benar asing di kehidupan Mas Hangga. Dia bahkan sudah tidak ingin menunjukkan kepada dunia bahwa aku ini istrinya. Atau jangan-jangan ini kelakuan Inem yang mulai posesif itu?
Kucoba login lagi ke facebookku.
lalu mencari-cari akun yang like dan komen distatus Mas Hangga. Tak ada yang mencurigakan. Sampai, aku melupakan satu hal. Di wallnya ada satu akun bernama meow, memberi gambar bunga disaat ulang tahun Mas Hangga. Iseng ku klik profil sss Meow ini.
Apa yang terlihat? Status-status tak jelas tentangg kekesalan seorang wanita kepada wanita lain, yang ingin dia bunuh. Ah, kurasa nggak penting. Ini f*******: anak alay mungkin yaa, sering galau. kuklik yang like status dia. Ada satu akun bernama Cinta, tak ada yang mencurigakan sebenarnya, tapi akun ini lumayan beberapa kali melike status Meow.
Tapi entah kenapa aku seperti tergerak ingin membuka profilnya. Begitu aku klik maka jelaslah semuanya. Ternyata Allah tunjukkan, Bertebaran foto-foto seorang wanita dan laki-laki yang sedang selfie mesra.
Foto sang wanita jelas aku tahu siapa dia, dan foto sang pria yang di tutup sticker setengahnya, tentu tak akan bisa membuatku terkecoh atau tak mengenali siapa lelaki itu. Bahkan aku sangat mengnenali setiap inci tubuh dari lelaki itu, Mas Hangga! dan Inem!
Duduk berpelukan di antara ombak Ancol. lelaki itu memeluk pinggang si wanita Mesra sekali.
Di dalam hotel memakai handuk berdua terlihat habis mandi. dan itu lebih menjijikkan lagi, foto dua bibir yang hampir bersentuhan. Bahkan foto mesra di dalam rumahku ketika aku tak ada berderet rapi dalam satu album. Kesemuanya, foto sang pria di beri sticker separuh. Bodohnya kamu, Nem. Walau dunia tak tahu, jelas aku tahu siapa lelaki di foto itu.
Ada yang memanas dalam d**a. Tapi kesiapan diri dan logika membuatku seperti merasa siap melihat kemungkinan apapun yang akan terjadi.
Tiba-tiba ponsel berbunyi, panggilan w******p dari Mbak Yana.
“Bu tolong pulang, Mbak Inem marah-marah di telepon dengan seseorang sampai menangis-nangis. Sekarang dia mau bunuh diri!”
Mau bunuh diri. Ya Allah ngapain lagi si Inem.
“Yang bener Mbak?”
“Iya, Bu, dia ngancem mau bunuh diri sama orang di telepon itu. Jadi saya dan Yu Sri yang lihat jadi takut sendiri, karena dia teriak-teriak. Bu, Maaf apa dia sudah hamil? katanya dia minta tanggung jawab sama lelaki di telepon itu, tapi sepertinya jawaban lelaki itu nggak ngenakin, jadi dia marah besar dan mau bunuh diri itu. Sungguh saya takut, Bu. Dia sudah memegang pisau.”
“Anak-anak gimana, Mbak?”
“Anak-anak baru mau saya jemput, Bu. masih disekolah”
Inem, keliatannya dia sudah putus asa karena Mas Hangga mengulur-ulur waktu untuk membuka ke keluarga perihal pernikahan mereka. Ditambah lagi kehamilannya yang sudah semakin kelihatan.
“Oke, Mbak Yana, makasih infonya. Saya segera pulang ke rumah.”
Lekas aku berlari ke parkiran, lalu memacu mobil dengan kencang.
Ketika sampai, kuhentikan mobil di seberang jalan. Sayangnya aku melihat pemandangan yang begitu mengesankan. Mas Hangga juga baru keluar dari mobil yang dia parkir tapat di depan pagar rumah. Menutup mobil dengan keras dan berlari heroik untuk masuk ke dalam rumah. Aku yang tadinya hendak berlari, menghentikan langkah. Dan berjalan perlahan. Lalu memilih berdiri di balik pintu.
“Kamu apa-apaan, sich, Nem? Tolong jangan main-main ginilah!” ujar Mas Hangga. Nada suaranya bergetar. Mungkin sangat kalut melihat Inem dengan hebatnya berontak dari cekalan tangannya dan mencoba menancapkan benda tajam itu, ke perutnya. Bisa jadi, karena aku tak melihat, tapi aku lumayan bisa menerka keadaan.
“Kamu yang main-main sama aku, Mas. Tapi sekarang aku akan hentikan permainanmu. Aku akan akhiri semuanya. Minggir, biarkan aku mati!” teriak Inem.
“Nggak, jangan gila kamu nem.” Suara Mas Hangga terdengar geram dan meradang.
“Biarkan saja, Mas. Biarkan! Biar aku mati sama bayi yang dalam kandunganku, jangan perdulikan aku, Mas. Bukannya kamu memang nggak perduli. Mau sampai kapan aku sabar. Sampai perutku besar dan dketawain banyak orang, hah?!” Ia menangis, meraung.
Tangisannya tentu sangat membuat Mas Hangga iba dan kasihan.
“Nggak, Sayang, kamu nggak boleh mati, kamu sabar sedikit. Nggak akan lama. tolong ngertiin Mas. Kamu sabar, Sayang. Kamu tahu aku sayang kamu. Nggak mungkinlah aku sia-siain kamu. Plis mengerti Mas sedikit.”
“Nggak, Mas. Aku sudah nggak percaya kamu!!”
“Jangan gitu. Beneran Inem mau tinggalin Mas? Tega?”
Dengan susah payah dan ribuan bujukan Mas Hangga berusaha meyakinkan Inem.
Akhirnya jalang itu luluh. Tangisannya pecah, tapi ia sudah tidak berniat bunuh diri lagi.
Lelaki itu sekarang mungkin sudah memeluk Inem erat dalam dekapan. Menghentikan tangisannya.
“Janji ya, Mas, secepatnya!”
“Iya, Mas, janji, secepatnya. Tapi manut Mas jgua, ya..”
Dan aku yakin Mbak Hana dan Yu Siti pasti melongo dan shock melihat fenomena yang ada di hadapan mereka.
“Saya titip pesan buat kalian berdua, Hana, Siti. Tolong rahasiakan kejadian ini dari Ibu. Jangan sampai Ibu tahu. Oke?” Mas Hangga berkata dengan terengah-engah di antara suara tangisan Inem yang masih tergugu.
Sebuah drama yang indah.
Menunggu jeda beberapa menit, mencari situasi yang tepat. Aku lantas masuk ke dalam. Tetap dengan pendirianku, berpura-pura tidak tahu.
“Ada apa ini? Masuk-masuk kok Inem nangis?” tanyaku.
Mas Hangga sontak menengok ke arahku. Lalu secepat kilat melepas pelukannya dari Inem.
To Be Continued.