"Om Devan!"
Devan terus berjalan tanpa memperdulihan Vania yang terus memanggilnya, bahkan sampai berulang-ulang kali memanggil, dia tetap mengacuhkan gadis itu, sehingga ia harus mempercepat langkah kakinya demi mengejar Devan yang tidak mau berhenti.
"Om Dev stop! kalau tidak aku yang akan pergi dari sini." Ancaman Vania seketika menghentikan langkah Devan yang saat ini sudah berada di depan pintu hendak membukanya.
"Kenapa Om menghindar dariku?" tanya Vania dengan deru nafas yang memburu, menahan rasa kesal, juga berlari mengejar dirinya.
Devan coba menetralkan perasaannya, sebelum menoleh ke belakang, menjawab pertanyaan gadis itu. "Kenapa?" tanyanya biasa saja.
"Kenapa Om Bilang?" kening Vania mengerut. "Yang bertanya kenapa itu seharusnya aku. Kenapa Om seperti ini? apa salahku?" Gadis itu terus mempertanyakan alasan atas perubahan sikap Devan yang selam ini ia simpan, bahkan dia berusaha bersikap biasa saja saat pria itu mengabaikannya.
Namun, tidak untuk kali ini, sebelum Devan menjawab semua pertanyaan, Vania tidak akan membiarkan Devan keluar dari unit, sekalipun konsekuensinya akan merugikan dirinya sendiri.
Pria berusia empat puluh tahun itu masih diam mematung tanpa menjawab satupun pertanyaan. "Kenapa Om diam? katakan kalau aku berbuat salah."
"Kamu tidak melakukan kesalahan." Devan mulai membuka suara, menahan gejolak hati yang terus berkata, lari peluk dia.
"Kalau aku tidak melakukan kesalahan, kenapa Om mengabaikan aku?"
"Tidak, om besikap biasa saja? apa ada yang aneh."
"Om berbohong."
"Aku tidak berbohong."
"Kalau Om tidak berbohong, lalu kenapa sarapan yang aku siapkan, Om tidak mau menyentuh?"
"Karna Om tidak lapar," jawabnya singkat.
"Bohong! Om tidak mau makan makanan yang aku buat kan?"
"Tidak, Vania."
"Lalu apa? Om tidak suka? kalau Om nggak suka, seharusnya Om jujur, bukan diam."
Diam bukan solusi, selama ini ia tidak memperdulikan sebuah alasan, terus berusaha memberikan yang terbaik, dengan harapan bisa membuat Devan kembali seperti dulu, menjadi Devan yang hangat dan menyenangkan. Namun, sepertinya Devan memilih bungkam, menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan.
"Kenapa Om berubah? kalau aku melakukan kesalahan, tolong katakan, Om. Jangan diam seperti ini, Om menyiksa perasaanku."
Semua pertanyaan yang Vania ucapkan, tidak ada satupun yang Devan jawab, ia memilih pergi begitu saja, meninggalkan Vania dalam kebingungan.
"Om Devan jahat, kalau ini yang om Devan mau, aku akan pergi dari rumah ini, kalau memang ini yang om mau."
Bukan hanya Vania, Kegelisahan juga menyelimuti hati Devan yang sama tersiksanya sudah mengabaikan gadis itu, gadis yang tidak seharusnya ia cintai, gadis yang seharusnya ia anggap sebagai keponakan saja, tidak lebih dari itu.
Namun, semakin hari perasaan Devan semakin besar, hal itu membuat Devan semakin tersiksa, karena tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam, dan berusaha terus menghindarinya, walaupun ia sendiri merasakan hal yang gadis itu rasakan.
"Lo kenapa sih, Dev?" tanya Bastian yang kebetulan ada di sana, membantu Devan memeriksa berkas-berkas persiapan untuk meeting.
"Gue bingung, semakin hari perasaan gue sama Vania semakin besar, Bas. Gue tersiksa terus mengabaikan dia, dan loe tau, pagi ini dia bertanya langsung sama gue atas perubahan sikap gue sama dia." ungkap Devan kebingungan.
"Ya jelas dia nanyain lah, loe berubah," kata Bastian.
"Ya terus gue mesti apa? apa yang bisa gue lakuin? memiliki dia pun itu nggak mungkin, bisa mati digorok gue sama Burhan."
"Loe kan belum coba, Bro. Kenapa nggak loe coba dulu."
Devan menggelangkan kepalanya, lalu menyandarkan tubuhnya, seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Itu nggak mungkin, gue nggak mau, karena keegoisan harus merusak persahabatan gue sama Burhan."
"Pilihan ada di tangan loe, Bro. Kalau loe sanggup kehilangan Vania, ya udah loe lepasin aja dia, suruh dia pergi dari rumah loe!"
Tidak bisa berpikir jernih, Devan kembali bungkam terus mencari jalan keluarnya, bahkan sampai tiba waktu di mana jam kerja telah usai, Devan masih kebingungan saat hendak kembali ke apartemen, bertemu lagi dengan Vania yang mungkin akan mempertanyakan hal yang sama seperti tadi pagi.
Lelah, begitu sampai di rumah, Devan mendudukan diri di atas sofa sambil bersandar, coba merilekskan tubuhnya yang terasa pegal, tidak lama Marta pun datang menghampiri Devan dengan menyerahkan secangkir teh panas.
"Terima masih, Marta."
"Sama-sama, Tuan."
"Oh iya, Sofia ke mana?" tanya Devan seraya menyeruput teh buatan Marta, dan biasanya jam Segini Sofia sedang menonton televisi acara kesukaannya.
"Sedang main di unit tetangga, Tuan." jawab Marta.
"Vania?"
"Tidak ada?"
Mendengae Vania tidak ada di rumah, Devan merubah posisi duduknya menjadi tegak. "Tidak ada?"
Marta mengangguk. "Iya, Tuan."
"Memangnya ke mana dia?"
"Sejak pagi tadi saya tidak melihat non Vania, Tuan. Saya pikir non Vania kuliah," ucap Marta.
"Tidak, saya tahu kalau hari ini dia libur."
"Atau mungkin sedang pergi bersama teman-temannya, Tuan."
Sejenak Devan terdiam, lalu berusaha berpikir seperti yang Marta pikirkan, dan berharap tidak terjadi sesuatu hal buruk yang bisa saja menimpa dirinya
Tidak terasa waktu terus berjalan, bahkan sampai pukul sebelas malam Vania belum juga pulang ke apartemen, Devan berpikir gadis itu pasti sedang bersenang-senang bersama teman prianya Erlangga, ia memilih tidak perduli, kembali mengerjakan tugas kantor yang sempat tertunda, tidak lama ponsel yang ia letakkan di atas meja berdering, melihat nama Anna tertera jelas dalam layar ponselnya, ia pun menjawab panggilan itu.
"Ada apa?" ucap Devan, meletakkan ponsel ke telinga, dihimpit oleh bahu, karena tangannya sibuk mengetik di depan laptoop.
"Loe udah bangun, Dev?" tanya Anna di seberang sana.
"Ngaco. Jam berapa ini?" saut Devan.
"Jam enam. Loe kan biasa bangun siang."
"Ngimpi ini orang, gue di mana, elo di mana, Siti?"
Anna tertawa terbahak, mengingat lokasi mereka berbeda. "Bambang, loe bikin gue keder aja."
"Ada apa buruan, gue lagi kerja ini." Devan mendengus.
"Ok, ok. Anak gue ke mana?" tanya Anna.
"Belum pulang," jawab Devan.
"jam segini? di London sekarang jam sebelas malam kan?"
"Hhmm..." menjawab tanpa berkata.
"Ke mana dia?"
"Mana gue tau, Siti."
"Masa elo nggak tau anak gue ke mana?" Suara Anna terdengar sedikit kesal.
"Anak elo itu udah gede, Siti. Masa gue mesti nanyain dia mau pergi ke mana," saut Devan.
"Tapi ini sudah malam, Dev. Tengah malam kayak gini anak gue yang masih perawan masih berkeliaran di luar, kalau ada apa-apa sama anak gue gimana?"
Devan baru sadar kalau Vani saat ini mungkin dalam bahaya, karena tidak biasanya ia berada di luar rumah sampai selarut ini.
"Elo gimana sih sebagai Om-nya? bukannya jagain anak gue, malah enak-enakan di rumah," protes Anna khawatir.
Sebetulnya Devan mulai khawatir, akan tetapi ia berusaha tenang selama bicara dengan Anna.
"Coba elo telepon dia, tanyain dia ada di mana," titah Devan.
"Gimana gue mau telepon? nomernya aja kagak aktif."
"Nggak aktif?" tanya Devan mulai panik.
"Iya. Kalau aktif, ngapain gue capek-capek ngehubungin elo."
"Serius, loe?"
"Kelakuan emang ya. Pantesan aja anak gue nekat beli apartemen lagi, nggak betah sih tinggal sama loe."
"Apa? Vania beli apartemen lagi?"
Devan yang terkejut, langsung melepaskan kaca mata, meletakkannya di atas meja.
"Iya, elo nggak tau kan anak gue beli apartemen lagi, itu karna elo nggak perduli sama dia."
"Nggak usah ngasal deh. Udah lah, nanti gue kabarin kalau Vania udah pulang."
"Ya udah, gue tunggu ya."
"Hhmm..."
Devan memutus sambungan telepon, meletakkan kembali ponselnya di atas meja dengan perasaan gusar. "Di mana kamu, Vania?"