Mendengar ada suara seorang pria di dekat Vania, cukup mengganggu pikiran Devan yang akhir-akhir ini banyak memikirkan dirinya, dan mulai merasa khawatir kalau gadis itu dekat dengan pria lain.
Gila memang, mencintai putri sahabatnya sendiri tidak pernah terpikir sebelumnya. Namun, saat mengingat usia Devan yang sudah berkepala empat, ia mulai membatasi diri agar perasaannya tidak semakin dalam, akan tetapi pada kenyataannya, tasa cinta yang Devan meiliki malah semakin kuat sekalipun ia sudah berpikir, kalau Vania tidak akan membalas cintanya.
Kalau sampai Burhan tau perasaan apa yang ia miliki untuk Vania, mungkin Burhan akan mengirim dia ke rumah sakit jiwa, dengan dugaan sudah kehilangan akal karena mencintai putrinya.
Devan terus diam memikirkan hal itu, bukan hanya tentang perasaannya terhadap Vania, tapi juga perasaan Burhan juga Anna yang pasti akan sangat kecewa.
Dia mengacak rambutnya frustasi, ponsel yang baru saja ia gunakan untuk menghubungi Vania, ia letakkan di atas meja, lalu kembali fokus dengan Laptoop-nya.
"Kenapa?" tanya Bastian tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ia baca.
Devan hanya melirik ke arah Bastian, tanpa menjawab.
"Gelisah?" tanyanya lagi.
"Gelisah kenapa?" saut Devan.
"Ntahlah, akhir-akhir ini gue perhatiin loe jadi agak pendiem. Kenapa?" Bastian meletakkan berkas yang ia baca tadi di atas meja, lalu duduk bersandar terus memperhatikan mimik wajah devan saat menjawab pertanyaan darinya.
"Lagi banyak pikiran."
"Megan?"
"No." Dengan tegas Devan langsung menjawab, tidak.
"Vania?" tebaknya lagi.
Devan bergeming, tetapi tatapannya mengatakan, iya.
"Udah gue duga sih sebelumnya." Bastian kembali mengambil berkas yang sempat ia letakkan tadi, dan lanjut membaca.
"Salah nggak sih gue?"
Dua sahabat Devan yang tau semua tentang dirinya hanya Burhan dan Bastian, tetapi untuk kali ini, Burhan adalah satu-satunya orang yang tidak boleh tahu akan hal ini, sehingga tidak ada jalan lain selain meminta pendapat dari Bastian.
"Salah sih nggak, cuma masalahnya itu cewek anak dari sahabat loe sendiri, menurut lo bagaimana reaksi Burhan kalau tau lo suka sama anaknya?"
Peratanyaan yang tidak mampu Devan jawab, karena jawabannya sudah jelas akan marah, kecewa, dan parahnya lagi mungkin akan memutus tali persahabatan yang sudah sekian lama terjalin.
"Loe nggak perlu jawab, karenajawaban kita pasti sama," ujar Bastain.
Devan hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya tanpa berkata, lalu bersandar seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Mumpung belum terlalu dalam perasaan lo sama Vania. Mending lo lupain deh dia! ajak kencan cewek lain buat lupain dia."
"Gue nggak tau, gue belum bisa ambil sikap," jawab Devan.
"By the way, Vania lagi di mana sekarang?" tanya Bastain yang belum tahu hal apa yang tiba-tiba merusak mood Devan hari ini.
"Lagi sama temen-temenya di mall," jawab Devan.
"Temen cewek."
Devan mengangguk.
"Ada cowoknya juga?" tanya lagi.
"Ada."
"Pantes jadi bad mood."
"Kurang ajar, loe."
Jauh di sana, Vania yang saat ini sedang bersama teman-temannya di sebuah apartemen yang baru saja ia beli, membantu Vania merapihkan ruangan karena, rencananya apartemen itu akan dihuni setelah menemukan waktu yang tepat untuk bicara kepada Devan.
Selesai merapikan unit yang akan ia tempati nanti, ketiga teman Vania yaitu Ajeng, Avantika, juga Angel berpamitan pulang kepada Vania juga Erlangga yang saat ini masih berada di area parkir.
"Duaan aja nih?" ledek Angel, seraya menyenggol bahu Vania.
Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Apaan sih?"
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, meninggalkan Vania berdua dengan Erlangga.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Erlangga belum beranjak dari tempat ia berdiri bersama Vania.
"Nggak usah, Kak. Aku dijemput om Devan," tolak Vania.
"Di sini? bukannya om kamu nggak tau apartemen ini?" tanyanya lagi.
"Bukan, bukan di sini. Maksudku, nanti aku dijemput om Devan di perpustakaan deket kampus," ujar Vania.
"Terus dari sini ke perpustakaan naik apa, Nia? ojek?"
"Taksi, masih ada kan?"
"Nggak tau deh kalau jam segini. Mending aku anterin aja, yuk! dari pada nanti yang nyampe duluan om Devan, kan bisa bahaya."
Vania melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, saat ini waktu menunjukan pukul sembilan malam, dan biasanya taksi tidak akan melintas ke wilayah tersebut, sehingga mau tidak mau Vania pun bersedia diantar sampai ke perpustakaan oleh Erlangga.
Tiba di tempat tujuan, mereka masuk ke dalam, untuk membaca buku sambil menunggu kedatangan Devan, tidak lama yang ditunggu pun datang, menyapa mereka. "Vania."
Yang dipanggilpun menoleh ke belakang, termasuk Erlangga. "Malam, Om."
"Malam." Menyahuti sapaan Erlangga dengan senyum terpaksa.
"Kamu sudah makan?" tanya Devan kepada gadis itu seraya mengusap lembut bahu Vania sambil berdiri di belakangnya.
Gadis itu mengangguk. "Sudah, Om. Tadi sama temen-temen."
"Kalau begitu, kita pulang sekarang?"
"Iya, Om."
"Kak, Elang," panggil Vania.
"Iya, Nia,"
"Terima kasih untuk malam ini, terima kasih juga untuk bantuannya."
Erlangga tersenyum. "Sama-sama, Vania. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa menghubungiku."
"Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih."
Setelahnya mereka berdua pun keluar dari perpustakaan meninggalakan Erlangga sendiri di dalam perpustakaan.
Entah apa yang harus Devan lakukan, yang jelas saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja, dan sepanjang perjalanan pulang, tidak sedikit pun ia membuka suara, apa lagi bertanya tentang kegiatannya hari ini.
Pasti sangat menyenangkan bukan pergi bersama seorang pria tampan, melihat pemandangan kota Londong dari atas ketinggian 135 meter, dan berlabu di perpustakaan untuk berduaan, karena pada kenyataannya, saat Devan menemui mereka, Erlangga bersama Vania duduk berdampingan
"Manis sekali," batin Devan.
Dalam hati ia tersenyum ketir, memikirkan betapa bodohnya ia telah mencintai gadis yang usianya jauh di bawah dia, dan berharap cintanya akan terbalaskan. Jelas sulit, sangat sulit, apa lagi saat ini Vania sedang dekat dengan pria lain yang usianya sangat pas untuk menjadi kesihnya.
"Om Dev..." panggil Vania. Devan masih diam, laurut dalam lamunan yang tidak bisa berhenti memikirkan gadis yang saat ini sedang duduk di sebelahnya.
Karena belum mendapat Respon, gadis itu kembali memanggil untuk yang kesekian kalinya sambil memegang lengan pria itu. "Om Devan."
Ia terkejut, lalu menoleh sekilas. "Iya, kenapa?"
"Om sakit?" tanya Vania khawatir, karena perubahan sikap Devan yang akhir-akhir ini banyak diam kalau sedang bersama dengan dirinya.
Devan menggelengkan kepalanya. "Tidak." Dia menjawab tanpa menoleh, apa lagi tersenyum, karena saat ini Devan sedang dilanda rasa gelisah berat.
"Apa aku berbuat salah?"
"Maksudnya?"
"Akhir-akhir ini Om banyak diam, tidak seperti biasanya. Apa aku berbuat salah?"
"Tidak, Nia." Kali ini Devan menjawab dengan senyum.
Coba berpikir kembali akan terus mencintainya, atau berhenti sampai di sini dan melupakannya?