10. Gapura Wringin Lawang

1284 Words
Joan yang fashionable mendadak menjadi panciable dengan sederet p****t panci hitam pekat yang diminta jadi kinclong oleh mak Lampir dalam hitungan menit. Meski dibantu Kenken, tetap saja wajah Joan menjadi lukisan abstrak dengan warna hitam mendominasi. Belum lagi egonya yang ternoda karena harus menggosok p****t panci sambil goyang patah-patah. Encoookkk mak... Sementara Badra disuruh mak Lampir belanja sayuran ke pasar. Dengan pesona wajah dan body Badra yang mentereng, mak Lampir berharap ibu ibu dipasar akan memberikan diskon yang lumayan besar pada Badra. Bahkan sebelum disuruh pergi, mak Lampir masih sempat mengajari Badra jurus kiceup kiceup mesra untuk dipraktekkan dipasar. Siapa tau ada hoki nyasar, beli kangkung dua ikat dapat bonus daging ayam sekilo. Ngareup. Yang paling naas tentu saja Dhie. Mak lampir hanya menyuruhnya menyapu halaman. Eh kok naas sih? Bayangkan, Dhie harus menyapu halaman yang penuh dengan sampah dedaunan hanya dengan satu buah lidi saja! Itu saking sayangnya mak Lampir sama sapu lidi jadi cuman ngasih satu. Mungkin sampai selesai Asean Games juga ga akan bersih tuh halaman. Itulah hukuman yang diberikan mak Lampir pada mereka karena telah membuat rumahnya berantakkan. Tapi rasanya hukuman itu terlalu kejam. Oh andaikan mereka bisa mengadu, pastilah mereka akan mengadukan hukuman k**i mak Lampir pada Komnas HAM Kiaracondong. Tapi apa daya, mereka tak punya kuasa bahkan sedikit nyali untuk melawan mak Lampir pun tak ada. Beginilah nasib orang orang yang gampang tertindas. "Ibu tiri hanya sayang kepada anaknya saja...hiks hiks hiks..." Terdengar nyanyian Dhie yang menyayat hati. Saking menyayatnya, daun daun yang berguguran pun smakin banyak. Bukan karena alam ikut sedih tapi karena shock mendengar suara Dhie yang cempreng pisan. "Woii!! Brisik! Brisik!" Joan dan Kenken keluar beriringan sambil berteriak kompak menyuruh Dhie diam. Mereka baru saja selesai menggosok semua p****t panci yang membandel. "Kalian....whuahahaha..." Dhie malah tertawa terpingkal-pingkal melihat penampakan sahabatnya. Persis areung yang baru diangkat dari tempat pembakaran sate. "Diam!!"pelotot Joan, galak. "Ini semua juga gara gara kamu tau." "Enak aja nuduh. Ini tuh gara gara Badra tauk!"sangkal Dhie. "Dimana-mana juga cowok ganteng mah ga bisa disalahin. Jadi ini smua gara gara kamu Dhiya!" "Eits ga bisa begitu dong. Aturan dari mana tuh? Lagian yang jadi sahabat kamu teh siapa, aku atau Badra? Kok malah nyalahin aku." "Tentu saja kamu salah wong kamu pergi hikingnya ga ngajak aku. Coba kalau sama aku, pasti yang ktemu Badra kan aku duluan." "Aku itu sudah ngajak kamu sama Ken tapi kamunya aja yang keukeuh pergi ke Singaparna! Cih! Kalau ke Singapura rada keren, ini mah Singaparna." "Kenapa harus jauh-jauh ke Singapura kalau produk dalam negeri aja udah bagus? Cintai produk dalam negeri atuh! Itu baru keren!"cibir Joan. "Sstt jangan ribut. Nanti kedengaran mak Lampir. Bisa bisa hukuman kita ditambah."lerai Kenken, langsung berdiri menyelinap diantara Joan dan Dhie. "Baru juga di omongin orangnya dah muncul."bisik Dhie melirik ke arah pintu yang terbuka. Joan dan Kenken menoleh dan langsung pasang senyum lebar. "Selamat sore, mak!"sambut mereka sambil memasang senyum palsu, kompak. "Huahhh!" Senyuman mereka hanya disambut uapan lebar mak Lampir. "Apa Badra belum pulang?"tanyanya sambil mengusap-usap perut. "Belum, mak."sahut Kenken "Ke pasar aja lama. Awas aja kalau otak Badra terkontaminasi ajaran emak, tak rendos sampai..."rutuk Joan, pelan. "Sampai apa heh?! Sudah berani ngancam yah?!" Dua mata mak Lampir langsung melotot galak. "E..e, tidak mak."Joan mengkerut diam lalu bergeser ke belakang tubuh Kenken. "Makannya itu mulut dipasang kanvas rem biar ga blong. Kasih oli sedikit biar rada halus ngomongnya."celetuk Dhie, polos. "Kalau perlu di tune up sekalian." "Benar itu. Sekalian aja ganti matanya sama spion bling bling biar gak kelap kelip melulu setiap lihat cowo mulus."tanggap mak Lampir, santai. "Emangnya aku motor apa? Cih!" Joan membuang mukanya ke arah lain. "Emang ada yah spion bling bling?" Kenken malah dengan polos bertanya pada mak Lampir "Kenapa? Mau beli?" "Enggak. Cuma nanya, mak."ngengesnya, bikin Joan dan Dhie terkikik geli. "Hahh kenapa lama sekali..." mak Lampir mungusap-usap perutnya yang mulai keroncongan. "Lagian emak ada ada aja. Masa orang leumpeung begitu disuruh kegenitan? Yang ada malah jadi patung hidup."dumel Dhie. "Yeyy namanya juga usaha."elak mak Lampir. Akhirnya mereka kompak duduk dihalaman menunggu Badra pulang. Mak Lampir mulai asyik dengan belaian bulu Ayam ditelinganya, kadang sampai meureum melek saking asyiknya. Sementara Joan dan Kenken sibuk membersihkan muka dengan segayung air dan se dus kecil tisu. Hanya Dhie yang melanjutkan tugasnya menyapu halaman. Wuussshhh... Jleb! "Akhh!" Sontak mereka kaget mendapati Badra yang tiba-tiba muncul dan berdiri dihadapan mereka. "Ini..." Dengan wajah datar Badra menyerahkan satu kresek sayur mayur beraneka ragam warna. "Kenapa lama sekali?"gerutu mak Lampir sambil menerimanya. "Maaf. Disana sepertinya aku melihat gapura Wringin Lawang, ternyata setelah ku datangi bukan." "Gapura Wringin Lawang?" Joan mengingat sebentar. "Bukannya itu candi yang ada di Mojokerto? Yang bentuknya seperti candi bentar atau gerbang yang terbelah?" "Ya ya, orang-orang disana menyebutnya Pintu Beringin."Kenken ikut bersemangat karena merasa jiwa Albert Einsteinnya dipanggil. "Konon jaman dulu itu adalah pintu masuk ke kediaman patih Gajah Mada atau istana Majapahit." "Ohhh begitu." "Gapura Wringin Lawang dibuat dari tumpukkan batu bata merah yang sangat rapi dengan tingkat presisi sangat tinggi. Luas dasarnya 13x11 meter dan tingginya 15,5 meter."jelas Kenken, lengkap bin komplit. "Gimana sih bentuknya? Aku belum pernah kesana."tanya Dhie pada Kenken, penasaran. "Wringin Lawang berbentuk seperti puncak gunung untuk melambangkan gunung Mahameru. Gunung Mahameru ini diyakini sebagai persemayaman para dewa." Tapi malah Badra yang menjawab. Ingatannya melayang jauh ke jamannya. "Lalu kenapa modelnya harus terbelah dua?" Kali ini Joan yang bertanya. "Karena konsep gapura adalah dualisme, mencerminkan pasangan yang selalu ada di dunia, seperti kiri-kanan, atas-bawah, terang-gelap, laki-perempuan, dan masih banyak lagi lainnya. Lalu ada gapura kecil yang menempel. Gapura kecil yang menempel ini bisa terlihat jika dilihat dari luar yang letaknya pada bagian induk. Gapura kecil ini digambarkan sebagai gerbang yang dimiliki rakyat dan yang lebih besar merupakan milik dari raja. Ini bisa diartikan sebagai kebijaksanaan raja lebih besar daripada kekuasaan rakyat, namun rakyat sepenuhnya berada dibawah perlindungan kekuasaan dan kebijaksanaan raja." "Wooww!" Dhie dan Joan berdecak kagum setelah mendengar penjelasan Kenken. "Tapi aneh, masa tiba-tiba gapura Wringin Lawang ada di Kiaracondong?"celetuk mak Lampir yang langsung mendapat tatapan horor dari mereka. "Lho benar, kan? Buktinya tadi Badra lihat."elak mak Lampir dengan cueknya. "Mungkin yang dia lihat itu gapura Agustusan di g**g-g**g pinggir jalan gede yang kebetulan bentuknya seperti Wringin Lawang, mak."ujar Dhie. "Bisa jadi." Mak Lampir manggut-manggut setuju dengan Dhie. "Tapi kalau cuman buat mastiin kenapa lama sekali? Cuman dapat sayuran lagi."protes mak Lampir karena tidak ada daging atau ikan didalam kresek. Semua menunggu jawaban Badra. Tapi yang ditanya malah diam termenung dengan kening sedikit dikerut. "Sebenarnya tadi disebrang pasar aku mendengar sayembara yang aneh. Jadi aku berhenti dulu. Sayembaranya terus diulang-ulang tanpa jeda. Aku terus mendengarkan karena ingin tau apa isi sayembara itu, tapi sampai sekarang pun aku tidak tau. Bahasanya tidak bisa ku mengerti..."cerita Badra, serius sekali. "Emang seperti apa bunyinya?"tanya Dhie. Sejenak Badra diam lalu menarik nafas panjang, bersiap melafalkan sayembara yang tadi didengarnya di pasar. Dan ternyata sayembara itu berbunyi; "Tahuuu buleud di goreng dina katel ngadapang..." ?????? Sunyi.... Sepi... Lalu, "Si ontohod siah Badraaa!!!"mak Lampir pun mengaum marah. "Itu mah bukan sayembara tapi tukang tahu buleud yang lagi jualan!!" Braakk! Saking kesalnya mak Lampir berdiri lalu menendang bangku dihadapannya. "Eh??!" "Ha ha ha!!!" Yang lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Kesel tapi geli, kesel tapi lucu, kesel tapi ingin ketawa. "Kabina-bina teuing siah! Maeunya eleh ku tukang tahu!! Disuruh ngarayu tukang daging eh malah mejeng ngedengerin tukang tahu! Teung teuingeun pisan maneh teh Badra!! Tobaatt tobaatt!" Gubrakk! Dan akhirnya mak Lampir pun pingsan... --------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD