Bab 2

1016 Words
"Aku ngga mau tau, pokoknya kopi harus tersedia. Seingatku juga kamu masih ada stok kopi sebungkus dan kamu selipin di laci bawah dapur," ungkap Surya. Naina terdiam. Dia tak menyangka kalau sang suami bahkan memintanya memberikan satu-satunya barang yang dia miliki hasil dari mengumpulkan receh dari lomba cepat meng-klik link dana kaget. Dia tak habis pikir dengan suaminya yang sangat perhitungan padanya. Naina seolah tak diizinkan memiliki barang berharga meski itu hanya sebungkus kopi saset. "Tapi, Mas, itu—" "Apa? Buat teman kamu nulis? Lagian buat apa kamu nulis di platform ngga jelas itu? Mana ada duitnya? Buang-buang waktu dan kuota aja! Harusnya kamu mikir! Beli kuota itu bukan pakai daun! Jangan boros!" hardik Surya tak ingin dibantah. Naina hanya diam pasrah. Langkahnya terasa berat saat hendak menuju dapur. Apalagi untuk menyeduh kopi miliknya yang sangat dia suka. Naina adalah seorang ibu rumah tangga berusia dua puluh lima tahun. Dia sudah memiliki dua orang anak hasil pernikahannya selama lima tahun dengan Surya. Anak pertamanya hampir berusia tiga tahun dan yang bayi masih berusia dua bulan. Dulu, Naina juga seorang pejuang garis dua. Dia sempat mendapat omongan negatif dari sang mertua karena tak kunjung berbadan dua. Sementara yang menjadi masalah bukan karena dirinya. Melainkan karena kualitas benih suami yang kurang baik efek terlalu banyak merokok. Belum lagi hal lain yang dialami Surya, di mana membuat pria itu susah untuk membuahi istrinya. "Ck! Nai! Lama banget sih! Kamu tidur di dapur?" seru Surya tak sabar. Beberapa saat kemudian, barulah Naina menghampiri sang suami dengan membawa secangkir kopi yang seharusnya adalah miliknya. Namun, karena patuh kepada sang suami, wanita itu memilih mengalah, berharap nanti akan mendapat ganti atas kopi yang ia hidangkan kepada suaminya. *** Hari ini Surya kembali bekerja. Hal itu jauh lebih baik bagi Naina karena tak harus direpotkan oleh pria yang lebih mirip bayi besar dibandingkan sebagai kepala keluarga. Lagipula nafkah yang diberikan suaminya sama saja. Tak ada penambahan nominal, yang ada jatahnya semakin berkurang jika pria itu berdiam di rumah. Bukan karena Naina tak bersyukur. Hanya saja jika sang suami tahu Naina menyisihkan uang untuk kepentingannya sendiri, walau itu hanya sedikit, sang suami akan mengurangi jatah belanja untuk minggu berikutnya. Naina diberi uang 400 ribu untuk belanja sebulan. Dan itu sudah termasuk uang jajan anak-anaknya setiap hari. Jika sebulan ada 4 minggu dan seminggu ada 7 hari, Naina harus memutar otak agar belanja sehari tak lebih dari 15 ribu. Setiap harinya Naina berusaha keras agar uang 15 ribu cukup untuk makan dua orang dewasa dan satu balita dalam 3 kali sehari. Belum lagi kalau Surya setiap harinya menginginkan lauk berupa ayam dan ikan laut, sementara dengan uang belanja yang ada, hanya cukup untuk membeli lauk tahu, tempe dan sayur. "Uang di ATM kenapa berkurang?" Alis Naina berkerut saat membaca pesan dari suaminya. Wanita itu lantas memeriksa saldo rekening melalui m-banking yang terpasang di ponselnya. Naina lantas membuka history penarikan uang di mana terdapat potongan biaya admin kartu dan admin bulanan. Selebihnya, kemarin Surya minta diisikan pulsa untuk membeli kuota data ponselnya. "Bukannya kemarin buat ngisi saldo pulsa kamu?" balas Naina disertai lampiran gambar tangkapan layar ponselnya. "Oke. Aku kira kamu pakai uangnya," balas pria itu membuat Naina menggelengkan kepalanya. Ingin rasanya Naina marah saat itu juga. Namun, melihat kedua anaknya yang masih kecil, Naina hanya bisa menahannya. Tak ingin terlalu larut dalam emosi yang tengah membara, perempuan itu memilih untuk kembali melanjutkan aktivitasnya bermain bersama sang buah hati yang sedang aktif-aktifnya. Ponselnya, dia letakkan untuk sementara. Hingga tanpa terasa jam makan siang pun tiba. Beruntung lauk di pagi hari masih ada sisa meski tak seberapa. Yang penting cukup untuk anaknya, Naina akan merasa lega. Buah hatinya bukan anak yang suka pilih-pilih makanan. Selama bisa digigit, bisa ditelan dan tidak hambar, akan dimakan oleh anaknya itu. Biasanya Surya tidak pulang siang hari. Namun, siapa sangka suara motornya terdengar dari luar. Anaknya yang tadinya tengah makan, tiba-tiba berlari menyambut sang ayah di depan rumah petak mereka. "Hore! Nyanya datang!" seru anak pertama Naina yang masih balita. Anaknya melompat kecil kegirangan seraya bersorak melihat kedatangan ayahnya yang mulai mendekati rumah mereka. Surya hanya tersenyum, tak terlalu banyak berbicara dengan anaknya. Dia lantas masuk ke dalam rumah dan mendapati Naina panik, berkutat di dapur. "Ngapain kamu?" ketus Surya. "Em ... Ini bikin kopi buat kamu," ucap Naina lalu menyodorkan secangkir kopi pada suaminya. "Makan siang pakai apa?" tanya Surya seraya menerima cangkir kopi yang masih mengepulkan asap di atasnya. "Masih baru mau goreng ikan, Mas," cicit Naina menunduk. Dia sudah mengeluarkan tempe dan sebutir telur yang tersisa. "Buruan masaknya! Aku udah lapar!" ucap Surya lantas melenggang ke teras depan yang hanya selebar 1 meter. Naina mengangguk. Dengan cepat dia mengolah telur dan tempe, membuat menu sederhana yang biasa dimakan oleh suaminya. Naina hampir tak pernah menyiapkan sayur bagi suaminya karena pria itu tak pernah mau makan sayur. "Apa sayur itu? Makanan kambing!" ucap Surya saat pertama kali mereka menikah. Dan sejak saat itu, Naina tak pernah memasak sayur. Dia mulai kembali belanja sayuran tatkala anaknya mulai mengonsumsi MP-ASI agar anaknya tercukupi nutrisinya. Tak butuh waktu lama, makan siang untuk Surya telah tersedia. Telur dadar, tempe goreng dan sambal tomat merupakan menu yang disukai Surya. Tak pernah pria itu meminta masakan lain selain telur dadar, ikan goreng, tempe goreng. Hanya makanan olahan berbahan dasar ayam yang kadang dia makan tidak dalam versi goreng. Meski membuat makanan untuk Surya terbilang mudah, sayangnya Naina yang terbiasa makan dengan sayur harus menyesuaikan dengan apa yang dimakan suaminya. "Nanti malam makan apa?" tanya Surya usai meletakkan piring bekas makannya di tempat cuci piring. "Bahan makanan habis. Nanti titip belanjakan pulangnya, bisa?" cicit Naina. Dia terlihat takut saat mengatakannya. Surya tak segera menjawab. Pria itu bahkan sibuk mencari sesuatu dari tas selempangnya. Diambilnya sebatang rokok di dalamnya dan dia nyalakan, tak peduli asapnya memenuhi ruangan dan terhirup anak-anaknya yang masih kecil. Dia memilih menyesap gulungan tembakau kering dibungkus kertas itu sebelum akhirnya menjawab perkataan istrinya. "Memangnya belanja sekarang, tidak bisa? Itu ada motor! Kamu bisa nyetir motor sendiri!" jawab Surya. "Tapi-" "Tapi apa? Gak ada duitnya? Emang duit yang aku kasih, habis buat apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD