Diskusi

3169 Words
Wanita memiliki perasaan yang sangat peka terhadap sekitar. Maka dari itu, banyak seorang ibu yang selalu merasa cemas berlebihan sebelum terjadi suatu tragedi yang menimpa keluarganya. -Sinta- Seperti biasa, seperti rutinitas setiap paginya, Rama bangun pagi, mandi dan bersiap-siap ingin berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu. Setelah cukup lama membenahi penampilannya di depan cermin, Rama tersenyum senang kemudian menyemprotkan parfum di pergelangan tangannya. Setelahnya dia meyambar sebuah tas sekolahnya dan segera bergegas keluar dari sana. Menuruni anak tangga dengan langkah riangnya. Tak lupa siulan terdengar dari bibirnya. "Selamat moring wahai penghuni surga!" seru Rama ceria. Mamanya melirik saja sedangkan Bi Inah, pembantu di rumahnya Rama yang baru saja balik kampung itu terkekeh senang mendengar suara ceria dari anak majikannya. Bi Inah adalah seorang wanita berusia hampir lima puluhan. Beliau sudah bekerja dirumahnya Rama selama kurang lebih dua puluh tahun. Bahkan Rama sudah menganggap Bi Inah seperti neneknya sendiri. Maka tak jarang jika Rama memanggilnya dengan sebutan Mbok. "Pagi," balas mamanya dengan raut wajah yang biasanya saja. Rama masih mempertahankan senyum lebarnya. "Selamat pagi juga Mas Rama," ujar Bi Inah. "Eh Mbok Inah udah balik aja. Apa kabar keluarga Embok yang ada di desa?" tanya Rama basa basi sembari duduk di samping kursi mamanya. "Alhamdulillah, Mas. Keluarga yang ada di desa sehat-sehat semua." "Anak Mbok nggak ikut ke sini?" tanya Rama dengan santainya berlagak sok kenal dengan anak gadisnya Bi Inah. Padahal Rama tak pernah bertemu secara langsung dengan putrinya Bi Inah. Hanya tahu lewat foto saja. Ya, Bi Inah memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita. Namanya adalah Putri.  "Nggak, Mas. Lagi sibuk persiapan mau ada acara nikahannya," kata Bi Inah dengan anggukan kepalanya. "Yah, kok mau nikah aja sih Mbok. Rama belum siap loh," ucap Rama terdengar nada yang sedikit kecewa mendengar perkataanya Bi Inah. "Heh, ingat ya. Kamu sama Mbak Putri itu umurnya terpaut tujuh tahun," komentar mama yang sedang sibuk memasukkan kotak makan ke dalam tas jinjingnya. "Ya siapa tahu Mbak Putri mau sama Rama, Ma," balas Rama dengan lugasnya. Segera memakan sarapan yang sudah tersedia di atas piringnya. Tak lupa juga s**u coklat dengan asap yang masih mengepul tersaji di gelasnya. "Mana mau Mbak Putri sama berondong." "Kalo berondongnya modelan kayak Rama, Mbak Putri pasti maulah," balas Rama membuat perdebatan kecil dengan mamanya. Sedangkan Bi Inah hanya tertawa melihat interaksi yang terjadi antara majikan dan anaknya itu. "Dih, Mbak Putri bakal kabur duluan." "Au ah. Rama pasti kalah mulu kalo debat sama Mama." Mamanya hanya mencibir saja akan tetapi gerakan tangannya masih sama. Memasukkan beberapa benda ke dalam tasnya itu. Rama yang melihat mamanya yang sibuk sedang berkemas mengernyitkan alisnya. Tak seperti biasanya mamanya itu terlihat akan berpergian pada pagi hari. Setelah menyelesaikan sarapannya Rama menatap lurus ke arah mamanya yang kali ini sedang memakan sarapannya. "Mama, rapi amat. Mau kemana?" tanya Rama saat menyadari pakaian yang mama gunakan itu memang terlihat sangat berbeda dari biasanya. "Mama mau kerja. Oh iya Mama lupa bilang, mulai hari ini dan seterusnya Mama kerja buka usaha kecil-kecilan. Mama buka usaha toko kue. Nanti peresmian tokonya jam empat sore. Kamu datang ya. Ajak teman-temanmu juga," papar mamanya setelah menelan sarapannya. "Wah, serius Ma? Yah, Mama jadi sibuk dong." "Meskipun Mama sibuk, Mama tetap ingat sama tugas Mama. Udah ya, Mama berangkat dulu. Masih ada banyak yang harus Mama urus. Bi, Saya tinggal dulu ya." "Oh baik, Buk," balas Bi Inah menunduk pelan. Mama mengangguk segera berjalan ke arah Mama. Menyodorkan tangannya dan langsung dibalas oleh Rama. Mencium sebentar dahinya Rama kemudian bergegas keluar dari rumah. Sedangkan Rama masih betah duduk di kursinya. Melihat Bi Inah yang terlihat asyik mencuci piring. "Mbok, papa udah turun buat sarapan tadi?" tanya Rama yang belum melihat keberadaan papanya itu. Semakin hari papanya terlihat sangat jarang berada di rumah. "Udah, Mas. Tadi bapak berangkat pagi. Sekitar jam empatan gitu." "Tumben," gumam Rama pelan. Karena merasa janggal saat mendengar papanya berangkat ke kantor lada pukul empat pagi. "Mungkin banyak kerjaan, Mas," balas Bi Inah kemudian berjalan keluar menuju halaman belakang. Rama hanya memgangguk-anggukan kepalanya saat mendengar ucapannya Bi Inah. Saat dirinya akan bangun dari duduknya tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Disusul dengan teriakan yang terdengar memuakan di telinganya Rama. "RAMA! ADA YANG BARU NIH! ADA OREO RASA GADO-GADO LOH!" terikan itu sangat mudah dikenali oleh Rama. Teriakan tak berfaedah itu masih saja terdengar. Dengan langkah lebar Rama segera berjalan menuju pintu utama. Tak lupa sebelum itu dirinya mengambil sebuah apel yang ada didalam keranjang buah. "RAMA! MAIN YUK! RAM--" Bugh! "Aaiihss…" erangan seseorang terdengar saat Rama berhasil membungkam teriakan itu dengan cara melempar sebuah apel ke arah dahi si pelaku. Membuat si pelaku dengan refleks menangkap apel itu dan meringis sembari mengusap dahinya sendiri. "Nggak usah teriak-teriak. Lo pikir rumah gue apaan? Hutan sss?" cerca Rama langsung membuat orang yang tadi dia lempari apel memberengut kesal. "Tidak ramah, bingang satu," ujar Dewa spontan. Setelahnya memakan apel yang tadi dilembar oleh Rama. Ya, pelaku dari seseorang yang dari tadi berteriak di depan pintu rumahnya Rama adalah Dewa. Sudah pernah dikatakan bukan, jika Rama dan Dewa adalah tetanggan dengan komplek yang berbeda. Rama menempati komplek blok A sedangkan Dewa menempati komplek blok B. Rumah mereka sebenarnya hanya berjarak lima rumah saja. Jadi, memang tidak terlalu jauh jika diukur dengan berjalan kaki saja. "Kenapa lo kesini?" tanya Rama dengan nada yang terdengar sangat tidak ramah di telinga. "Mau nebeng lo lah. Apalagi," jawab Dewa kemudian memperlihatkan senyum lebarnya. "Gue nggak bawa motor." "Nah enak dong. Lo pasti bawa mobil kan?" "Nggak. Gue juga nggak bawa mobil." "Terus lo ke sekolah mau naik apaan?" "Naik kuda baja," balas Rama tanpa pikir panjang langsung keluar dari rumah menuju garasinya. Sedangkan dibelakangnya Dewa berjalan membuntuti Rama dengan patuh. Yang penting dirinya bisa menumpang dengan Rama. Karena motor legend-nya sedang merajuk dan diperbaiki di bengkel langganannya. Setelahnya Rama mengeluarkan motor merahnya. Setelah menghidupkan mesinnya, Dewa langsung naik tanpa disuruh oleh Rama. Membuat Rama mendengus kesal. Karena rasa kesalnya terhadap Dewa sudah bertumpuk-tumpuk, dengan jahilnya Rama menarik gas motornya membuat motornya itu melaju dengan sangat kencang. "WOY RAMA! PELAN-PELAN WOY! ISTIGHFAR RAM. LO ITU LAGI NGENDARAI MOTOR BUKAN LAGI NGAJAK ORANG MATI! WEY ISTIGHFAR WEY!" teriak Dewa refleks memeluk tubuhnya Rama dengan sangat erat karena jujur saja Dewa merasa sangat takut sebab motor yang dikendarai oleh Rama ini melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Rama yang mendapat pelukan secara tiba-tiba itu tentu saja terkejut. Dengan sebelah tangannya Rama menepuk tangannya Dewa yang melingkar di tubuhnya. "WOY TANGAN LO WA! NGGAK MUHRIM PELUKAN SAMA GUE! LEPASIN WOY!" Dan pada akhirnya pagi ini mereka dihiasi oleh teriakan perdebatan mereka disepanjang jalan menuju sekolah mereka. Membuat beberapa pengendara jalan merasa kesal dengan tingkah dua remaja laki-laki itu. *** Siang hari, dikelas masih ada kegiatan pembelajaran. Pada siang ini adalah mapel Bahasa Indonesia tapi kelasnya Rama freeclass karena sedang ada rapat penting para guru. Dan mereka diberi tugas untuk berkelompok. Sebenarnya jam pembelajaran belum selesai tapi tugas kelompoknya Rama sudah selesai karena kerja kerasnya Nakula. Ya, seperti biasa Nakula lah yang akan Rama jadikan pasukan perangnya untuk mengerjakan tugas kelompok milik mereka. Saat ini mereka berlima, Rama, Sinta, Naya, Dewa dan Nakula sedang bersantai dihiasi berbincang-bincang ria. Teringat sesuatu, Naya segera mengetik beberapa pesan ke nomornya Rama. Dirinya sedang merencanakan sesuatu. RAMALING Online Naya||  Ram, buru jalanin rencana A. Mumpung dia lagi nggak ada kerjaan. Rama mengernyit heran saat melihat pop up pesan dari nomornya Naya. Rama mendongakkan wajahnya menatap ke arah Naya yang dibalas dengan Naya melirik ke arah Sinta memberi kode. Tapi tetap saja Rama tak bisa menangkap apa maksud dari kodenya Naya. Dengan cepat Rama mengetikkan balasan ponselnya. RAMALING Mengetik…. Rama|| Gue harus apa? Naya|| Gantung diri! Ya bikin Sinta nyamanlah. Cepet. Gue, Dewa sama Nakula pantau diem-diem. Rama|| Iye-iye. Bentar, gue mikir dulu. Rama menoleh ke arah kirinya dimana di kursi samping kirinya tengah duduk Sinta yang sedang bertopang dagu memperhatikan teman sekelasnya. Bahkan Sinta tak menyadari jika Rama sedang memperhatikan dirinya. Rama berdeham sebentar kemudian menegakkan tubuhnya. Memajukkan sedikit tubuhnya ke arah Sinta. "Lo tahu nggak, Sin?" tanya Rama tiba-tiba menarik perhatian tak hanya Sinta saja. Akan tetapi Naya, Dewa dan juga Nakula. Mereka berempat kompak menoleh ke arah Rama berada yang saat ini sedang duduk santai dengan pandangan lurus ke arah Sinta. Menatap Sinta dengan tatapan yang berbeda. "Tahu apa?" tanya Sinta ikutan bertanya karena tak mengetahui apa yang Rama maksud. "Tiap kali gue lihat elo, hati gue berbungan-bunga," ujar Rama tiba-tiba. Sinta masih memandang ke arah Rama dengan pandangan yang terlihat bertanya. Tak terlihat raut merona dikedua pipi tirusnya Sinta. "Apakah ini yang dinamakan riba?" sambung Rama dengan wajah polosnya membuat Naya, Dewa dan juga Nakula menggeram marah karena rencana membuat Sinta nyaman berkhir gagal. Plak! "Aaiisshh…. Kok gue ditampar?" protes Rama mengusap pipinya dengan kasar. Menatap tajam ke arah Sinta yang dibalas dengan tatapan malas dari si lawan. "Lo ngegombal apa lagi ngajak gelud?" tanya Sinta sarkas. Kemudian merogoh ponselnya karena merasa bosan. Rama menatap ke arah Naya, Dewa dan Nakula yang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Bahkan Naya memberinya kode dengan tangannya seperti pisau yang menggores leher. Rama malah menatap ke arah ketiga temannya dengan pandangan bertanya. Mendenger suara notifikasi, Rama segera membaca pesan yang baru saja Naya kirim. RAMALING Online Naya|| Emang bener kata Sinta. Kalo ngomong sama elo hawanya pengen ngajak gelud. Rama|| Lah? Salah gue dimana? Naya geram membaca balasan pesan dari Rama. Segera mendongak saat melihat Rama yang masih menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung. "SALAH LO, KARENA LO b**o!" "Kalem kalem, Nay. Jangan pake urat. Kasian wajah elo entar kelihatan tua sebelum waktunya," timpal Rama santai kemudian menyeruput air mineral dalam bentuk botolan. "Au ah. Gue nyerah. Wa, Na, gue resign dari agen ganda gue. Sebelum gula darah gue naik  gue ijin mengundurkan diri. Sekian dan terima gaji," ujar Naya kemudian membungkukan tubuhnya sebentar. "Eh, Nay. Janganlah. Lo tega, lihat gue--" "Udah-udah, kalian dramanya udahan wey," ujar Dewa tiba-tiba setelah membekap mulutnya Rama. Bisa gawat rencana mereka berempat jika sampai Rama keceplosan dengan ucapannya. Dan pada akhirnya Naya tetap merajuk. Dirinya mogok bicara dengan Rama. Rama menghembuskan napasnya dengan kasar. Menoleh ke arah depan kelasnya. Saat itu juga dirinya melihat Laras yang sedang melintas di depan kelas. Dengan cepat Rama segera menarik tangannya Sinta. "Woy, Aldo, gue ijin ke toilet!" seru Rama berteriak meminta ijin kepada sang ketua kelas. Sinta sontak saja melemparkan telapak tangannya ke kepala belakangnya Rama hingga membuat Rama mengaduh kesakitan. "Kok ajak Sinta?" tanya Aldo mengintrogasi. Merasa curiga dengan tingkahnya Rama. "Nggak. Maksud gue, gue sama Sinta ijin ke perpus. Mau ambil buku buat referensi tugas kelompok," koreksi Rama dengan cepat. "Bukannya tugasnya cuma--" "Ah banyak omong lo ah. Intinya gue udah ijin sama Sinta." Setelah berkata demikian, Rama segera menarik Sinta keluar dari kelas. Disepanjang perjalanan itu Sinta sudah beberapa kali memberontak, bahkan dia juga mencubit, menendang, bahkan memukul Rama namun tenaga Rama sangatlah kuat. Melihat Sinta yang masih memberontak, membuat Rama menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Sinta. "Diem atau gue cium!" ancam Rama sengaja agar Sinta diam dengan kedua bola matanya yang melotot dengan sempurna. Awalnya Sinta terkejut namun tak berapa lama dirinya bisa menyesuaikan diri. "Iyuh banget dicium sama elo. Bisa ketularan virus rabiesnya elo. Udah ah, lepasin tangan gue," kata Sinta yang tengah berusaha melepaskan cekalan tangannya Rama. "Lo kepo soal Laras kan. Udah diem, nurut aja sama gue," kata Rama memberitahu. Mendengar kata Laras, membuat Sinta semakin penasaran. Pada akhirnya Sinta mengangguk dan menurut saat tangannya diseret lagi oleh Rama menuju suatu tempat. Dari kejauhan Sinta dapat membaca sebuah papan nama ruangan itu. Membolakan kedua matanya saat Rama berjalan mendekat dengan tangan yang masih mencekal tangannya Sinta. "Heh, lo jangan macem-macem sama gue!" teriak Sinta panik karena menyangka jika Rama menariknya menuju toilet yang membuat Sinta langsung berpikiran negatif. "Sshhtt…. Diem dulu. Dan jangan nethingan. Percaya sama gue, ini nggak seperti yang lo maksud." "Iya, terus kenapa kita ke toilet?" Rama menyuruh Sinta untuk diam dengan isyarat tangannya. Berjalan mengendap-endap ke arah toilet. Saat tiba di depan toilet, Rama kompak merapatkan diri ke dinding begitu juga dengan Sinta. Mereka menempelkan telingannya ke dinding juga. Tak berapa lama terdengar suara orang yang sedang muntah-muntah. Kedua mata Sinta membulat dengan sempurna. Dirinya akan bergegas masuk ke dalam toilet namun dicegat oleh Rama. "Tunggu di luar aja," bisik Rama pelan. Sinta berpikir sejenak hingga kemudian dirinya mengangguk. Clek! Pintu toilet terbuka. Dengan cepat Rama dan Sinta menegakkan tubuhnya menghadap ke depan. Laras terkejut terlihat dari kedua matanya yang membulat dengan sempurna. Sinta terpengarah saat melihat kondisinya Laras yang terlihat sangat pucat. Bahkan bibirnya terlihat bergetar. Saat Sinta ingin maju selangkah dan bertanya, akan tetapi Laras terlebih dahulu berlari menjauhi Rama dan Sinta. "Hei tunggu--" "Udah, nggak usah dikejar. Percuma. Dia juga nggak akan ngaku," kata Rama akhirnya setelah sedari tadi dirinya hanya diam saja. Jujur dirinya masih merasa kecewa dengan Laras yang tak pernah lagi terbuka dengannya. Dan juga sebenarnya Rama merasakan sedih yang sangat mendalam. "Jadi, menurut lo gimana?" tanya Rama yang tengah berjalan kembali ke arah kelasnya diikuti oleh Sinta. "Kalau dia sakit, nggak mungkin selama ini kan? Padahal hampir dua minggu. Kalau dia pusing, dia juga bakal nggak sanggup buat lari," komentar Sinta. "Jadi?" "Udah fix hamil. Dia hamil Ram. Cepet tanggung jawab lo," kata Sinta terlihat sangat khawatir. "Sinta, hei, dengerin gue," kata Rama menghadapkan tubuhnya sepenuhnya ke arah Sinta. Membuat Sinta terdiam sejenak karena nada yang Rama gunakan terdengar sangat aneh baginya. "Gue berani bersumpah, kalo bukan gue yang udah ngeham*ilin Laras. Oke? Tolong percaya sama gue," kata Rama terdengar memohon. Sinta terpesona sejenak. Namun tak berapa lama dirinya hanya mengangguk karena bingung mau merespon apa. Setelahnya Rama menarik tangannya lagi untuk dia ajak kembali ke kelasnya. "Terus, siapa pelakunya?" "Gue nggak tahu. Tapi masih gue selidiki," jawab Rama mantap. "Elo? Selidiki?" "Iya, kenapa? Nggak percaya?" tanya Rama dengan alis terangkat. Menduga jika Sinta masih belum percaya dengan dirinya. Namun hal yang tak dia bayangkan pun terjadi. "Percaya," balas Sinta yakin dengan tatapan seriusnya. Membuat Rama sontak menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Sinta. Melihat dan mendengar sendiri ketika Sinta berkata percaya dengan kurun waktu kurang dari lima detik membuat Rama terpana. Apakah ini berarti jika Sinta sudah mulai menaruh secercah kepercayaan padanya? Entah mengapa, memikirkan hal tersebut membuat sesuatu rasa menggelitik hatinya. Rasa lain yang dulu pernah dia rasakan saat bersama Laras. *** Malam harinya, Rama sedang belajar. Ralat, Rama sedang mengerjakan tugas, tak lupa juga sebuah laptop berwarna putih sudah dalam mode on di atas mejanya. Tiba-tiba sebuah pesan pop up dari akun hacker kenalannya muncul di layar laptop. Segera mengesampingkan tugasnya dan mulai menekan keyboard untuk membaca pesan tersebut. @Arber Oi @Hacker Boy Sekalinya ngechat, lo nggak penting ya? Darimana aja lo, kemarin-kemarin ngeghosting mulu. @Arber Gue habis keluar dari rumah sakit. Makanya baru bisa ngechat elo ini. @Hacker Boy Lo sakit apaan? @Arber Nggak terlalu buruk. Nggak usah dipikir. @Hacker Boy Siapa juga yang mikir. Gue cuma nanya. @Arber Btw, lo punya cita-cita jadi kelompok hacker elit yang punya misi buat memberantas kejahatan di dunia maya kan? @Hacker Boy Woiya jelas. Cita-cita sejak gue masih kecil itu. Gue pengen, kemampuan gue dalam meretas semakin meningkat. Biar gue bisa keterima di Alugora Cyber. @Arber Pastilah. Lo pasti keterima asal lo belajar lebih giat lagi. @Hacker Boy Lo juga. Saat Rama akan membalas pesan dari hacker lain yang bernama akun Arber itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dengan segera Rama menekan keyboard dengan sandi-sandi khusus pemograman yang sudah dia hapal diluar kepala. Setelah dirinya menekan keyboardnya, layar laptopnya berganti dengan sebuah tampilan website bloger berisi materi biologi. Segera membuka bukunya lagi tak lupa meraih sebuah bolpoin. Segera berakting seperti sedang menulis. Tok! Tok! Tok! "Siapa itu?" tanya Rama sengaja agar dirinya bisa memberikan alasan yang tepat jika dirinya ditanya sedang apa atau pertanyaan yang lainnya. "Ini Mama!" balas mama dari luar kamarnya. Rama mendesah lega saat mengetahui jika itu adalah mamanya. "Masuk aja, Ma. Pintunya nggak Rama tutup!" Dan sedetik setelahnya terdengar suara pintu yang terbuka. Mama berjalan mendekat dengan segelas s**u coklat yang masih panas. Bahkan terlihat dari asap tipis diatasnya. Meletakkan susus di samping meja belajarnya Rama. Mengusap rambutnya Rama dari arah belakang. Ketika tangan halus mamanya menyentuh kepala, membuat Rama merasakan kedamaian di hatinya. Inilah perbuatan yang paling Rama suka dari mamanya. Sering mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Kamu lagi apa?" tanya Mamanya basa-basi. Melirik ke arah layar laptop sebentar kemudian menoleh ke arah Rama lagi. "Lagi ngerjain tugas biologi, Ma. Ada apa?" tanya Rama setelah membalikkan tubuh menghadap mamanya. Tak lupa memberikan senyum lebarnya ke arah mama tersayangnya. "Mama ganggu ya?" "Enggak kok, Ma. Ini juga hampir selesai," kata Rama berdusta padahal dirinya baru mulai mengerjakan tugasnya. Ya tentu saja dirinya baru mulai mengerjakan tugasnya, karena tadi terpotong karena dirinya saling bertukar pesan dengan hacker kenalannya. Mama tersenyum kemudian duduk di kasurnya Rama dengan pandangan menghadap ke arah Rama. "Kamu tahu kan kalo sekarang papa sering lembur bahkan jarang ikut sarapan bareng kalau pagi," kata mama membuat Rama menganggukan kepalanya karena memang dirinya tahu jika papanya memang sering lembur pada dua minggu terakhir ini. "Itu karena dikantor, lagi ada masalah. Papa dari minggu lalu banyak kerjaan karena ada masalah di keuangan kantornya. Perusahaan memang enggak bangkrut, cuma ada seseorang yang sudah korupsi uang perusahaan," cerita mama membuat Rama terkejut dan diam-diam mengepalkan kedua tangannya di samping kursi. "Dari kemarin papa juga nggak bisa tidur dengan nyenyak. Makanya papa sering berangkat fajar dan enggak ikut sarapan pagi bareng." "Sekarang, papa gimana, Ma?" tanya Rama hati-hati takut menyinggung perasaannya mama. Mama menggelengkan kepalanya membuat Rama paham jika papanya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Nggak perlu kamu pikirin soal papa. Yang terpenting, untuk sekarang Mama minta kamu jadi anak yang nurut sama orang tua. Rajin belajarnya, jangan menambahi beban pikiran papa ya. Kamu kan tahu papa pengen kamu jadi apa?" "Rama tahu, Ma. Jadi penerus perusahaannya papa," balas Rama yang diam-diam semakin mengeratkan kepalan kedua tangannya. "Nah itu kamu tahu. Mama harap kamu bisa wujudin keinginan papa. Ya udah mama mau istirahat dulu. Susunya jangan lupa diminum. Belajar dengan giat ya, Sayang. Kalau kamu sudah capek, istirahat aja. Jangan dipaksain. Selamat malam Sayang," pamit mamanya yang kemudian berdiri dan mengecup kepala Rama sekali. Tersenyum dengan sejuta penuh arti. "Malam juga, Ma," balas Rama dengan senyum palsunya.  Setelah mamanya keluar dari kamarnya, Rama terdiam. Dirinya tak menyentuh bolpoinnya lagi ataupun menyentuh lapyopnya. Saat ini dirinya masih terbayang dengan perkataan mama. Dirinya bimbang, manakah yang harus dia perjuangkan. Apakah cita-citanya yang ingin menjadi seorang hacker elit pemberantas kejahatan ataukah memilih untuk mewujudkan impian otang tuanya untuk menjadi penerus di perusahaan papanya? Sungguh, diposisi yang sekarang Rama dibuat gundah dan gelishah. Dirinya takut memilih jalan yang salah sehingga membuat kedua orang tuanya kecewa. Atau membuat dirinya sendiri menyesal dengan pilihannya. Pikirannya terbagi menjadi dua, memilih menjadi hacker atau direktur perusahaan. 'Ya Gusti, gue frustasi. Mana satu yang harus gue pilih? Gue nggak mau ngecewain papa sama mama. Tapi gue juga nggak mau gue nyesel dikemudian hari,' batin Rama tersiksa dengan dua pilihan hidupnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD