Lani sedang sibuk memusatkan matanya pada acara televisi yang kini sedang mengudara. Kalau saja, di sampingnya tidak ada seseorang yang sejak tadi memandangi sambil tersenyum bak orang gila. Bukan hanya memandangi, tapi jemari Lani juga dimainkan segala rupa. Seolah-olah menyentuhnya saja tidak cukup. Akhirnya Lani menyerah, mendengus kasar merelakan acara favoritnya terlewat untuk fokus pada pria yang sejak tadi menganggu waktu istirahatnya itu. "Kamu tuh kenapa sih? Dari tadi jariku dimainin mulu? Udah gitu senyum-senyum nggak jelas lagi. Kamu perlu minum obat? Atau mau aku panggilin kakaknya Gilang yang psikiater itu?" Bukannya marah, Utha yang diceramahi panjang lembar malah makin tersenyum. Menundukan wajahnya malu-malu, meski justru yang terlihat lebih menjurus memalukan. "Utha!"

