Tazza meninju balkon yang terbuat dari kaca lalu menendangnya dan berteriak seperti orang sinting. Pria itu membungkuk dan menyambar belati miliknya yang tergeletak tak begitu jauh. Scorpiano, belati itu dibuat di Italia, kesayangannya dan kali ini benda itu menggoreskan luka memanjang di atas lengannya. Sialan, ini situasi paling memuakkan yang pernah dialaminya. “Daddy?” pertanyaan itu berasal dari suara yang ragu-ragu. Tazza berbalik, matanya masih membara seperti arang. Pria itu berderap ke si anak laki-laki yang mematung dengan tubuh gemetar. “Lihat aku baik-baik dan dengarkan,” Tazza memerintah sembari mengguncang bahu anak itu. “Aku bukan Daddymu. Aku bahkan tak kenal kau dan berhentilah bersikap bego.” “Kau... bukan Daddyku?” air mata perlahan menuruni pipi halusnya. “Bukan,”

