Jino berpengangan pada pundak Ana, tapi sesekali akan memeluk pinggang, kalau Ana tiba-tiba melakukan hal sembrono, seperti...
"Na! Nyalain lampu sen Na!"
"Alah, cuman mau belok bentar." Balas Ana santai.
"Ya ampun tetep aja bahaya! Ya Tuhan ku! Kalau gue mati gue gentayangin lo! Aaaaaa!!!"
"Apa sih? Udah selesai belok juga."
Jino langsung diam, dan memindahkan tangannya dari pinggang Ana ke bahu.
"Gak usah modus deh," kata Ana.
"Elu kali yang modus, pengen dipeluk gue, makanya macem-macem." Balas Jino.
"Dih, males banget deh gue dimodusin." Gumam Ana.
"Na, lampu sen tuh penting, lain kali nyalain! Gunanya kan emang buat ngasih tau kalau lo mau belok, atau mau ke arah mana! Ngerti gak?!"
"Iya! Iya!"
Jino mendengus. "Haduhhh... padahal baby blue tuh baru gue ganti knalpot, malah bensinnya habis. Padahal gue yakin semalem bensinnya masih penuh, gue tuh gak pernah biarin baby blue dalam keadaan lapar dan haus. Atau jangan-jangan tangkinya bocor? Tapi! Yang paling parah lubang kunci joknya rusak, aduhhh... siapa sih yang nyakitin motor gue? Huhuhu tega banget. Sakit hati gue Na, huhuhu." Terdengar suara Jino menyerot ingus. Dia ternyata beneran nangis.
"Kok lo bisa ganti knalpot? Bukannya kita udah ada perjanjian, lo gak boleh ngotak-ngatik motor selama seminggu ya?"
Jino seketika gelagapan, mendengar penuturan Ana.
"I-itu... gue ganti knalpotnya di bengkel kok." Dusta Jino.
Ana tiba-tiba mengencangkan laju motornya, membuat Jino berteriak dan langsung memeluknya.
"Iya! Iya! Gue bohong! Gue ngelanggar perjanjian!" seru Jino.
Tapi tak lama ia akhirnya menyadari sesuatu. "Jangan-jangan... elu ya Na yang bikin bensin motor gue habis?"
•••
"Wah, bareng siapa Jin? Pacar lo?"
"Enggak mungkinlah, pacar gue modelannya begitu." Ana seketika menatap sinis Jino, yang baru menjawab pertanyaan temannya.
"Emang kenapa? Cantik kok."
"Kalau emang bukan pacar lo, bagus dong. Siapa Mbak namanya?"
"Ana," ucap Ana sambil tersenyum.
Jino berdecak, sambil menatap tajam teman-temannya.
"Akh, iya, iya, dia pacar gue! Gak usah modus kalian! Makanya ikutin akun medsos gue dong. Sana Na, cari meja lain, aku mau ngerjain tugas dulu, nanti aku samperin." Kata Jino.
"Lah, tadi bilangnya bukan."
"Lagi berantem." Balas Jino ketus.
Ana memutar kedua bola matanya, dan memilih pergi mencari meja lain, dari pada nanti terlibat dengan teman-teman kuliah Jino.
Sementara Jino langsung duduk di salah satu kursi, dan bergabung dengan teman-temannya.
"Gue denger tuh dari cewek-cewek yang ngikutin lo di medsos, katanya lo konfirm udah punya pacar, jadi dia toh?"
Jino hanya menaikan alisnya sebagai jawaban, sambil pura-pura sibuk mengeluarkan buku serta laptopnya dari tas.
"Penulis ya katanya?"
Jino menganggukan kepalanya. "Di kampus banyak tuh yang penggemarnya, tapi ada juga yang hatters-nya."
"Ya wajarlah, kayak gitu mah." Ucap Jino.
"Eh tapi gue ngakak sih, denger lo pakai konfirm-konfirm segala, kayak lo idol Korea aja."
"Ya, gue kan emang seganteng idol Korea,"
"HUWEEEEEKKK!!!" teman-teman Jino langsung kompak pura-pura muntah.
•••
"Udah selesai belajarnya?" tanya Ana, saat melihat Jino sedang berjalan menghampirinya.
Jino hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sembari duduk di sebelah Ana, lalu menyenderkan kepala dan punggungnya ke sandaran sofa.
Ana memang duduknya memilih di pojok kafe yang terdapat sofanya.
"Capek?" tanya Ana, yang dibalas anggukan oleh Jino.
"Ya udah istirahat dulu aja, gue juga masih belum selesai ngetiknya." Kata Ana.
Jino melirik Ana yang masih tampak fokus mengetik, sambil sesekali menyeruput kopinya.
"Lo nulis berjam-jam gak selesai-selesai?" tanya Jino.
"Gue udah nulis dua chap cerita yang beda, ini lagi nulis cerita ke tiga." Balas Ana.
"Emang gak capek?"
"Ya capek, tapi karena gue ngerasa ini menyenangkan, yaaa... gak masalah."
"Lo pernah gak sih kepikiran buat berhenti nulis?"
Ana menarik sudut kiri bibirnya. "Ya sering lah, bahkan gue pernah tuh, bikin heboh bilang mau berhenti nulis, padahal ujung-ujungnya masih nulis, nulis lagi. Padahal yang baca juga udah berkurang banyak."
"Kenapa? Kenapa lo masih bertahan?"
"Karena gue suka." Ucap Ana sambil menatap Jino. "Ibarat gue lagi suka sama seseorang, meskipun orang itu nyakitin gue beberapa kali, tapi karena gue suka dan cinta sama dia, gue gak bisa ninggalin dia. Gue suka dan cinta sama seseorang itu pun, pasti emang karena ada sesuatu yang bikin gue suka sama dia. Gak sekedar cinta buta."
"Yahhh... ada kalanya gue capek, gak bisa mikir sama sekali buat nulis, tapi... gimana ya? Kalau gak nulis ngerasa ada yang kurang gitu. Dibanding nyakitinnya, masih banyak juga kok benefit yang gue dapet dari nulis."
"Gue dapet banyak temen dari nulis, meskipun gak jadi temen, kadang ngobrol di komentar. Kalau gue gak nulis, gue mungkin bakal bener-bener kesepian."
"Tapi... saran gue mending lo nyoba hal baru, gue tau lo sebenernya jenuh, keliatan banget dari mata lo." Tutur Jino sembari mengulurkan sebelah tangannya ke arah wajah Ana, ia mengusap pipi Ana dengan ibu jarinya. Sebenarnya ingin mengusap kantung mata Ana.
"Gue gak nyuruh lo berhenti nulis sih, tapi... coba deh eummm... ngelakuin hal lain. Kayak jadi vloger gitu, kan sayang makeup lo, dipakainya sekali-kali doang. Gak taunya nanti udah kadaluarsa. Kalau dipakai buat tutorialkan, nanti jadi cepet habis."
Ana terdiam. "Nanti gue pikir-pikir deh." Ucap Ana. "Ck, lo ngapain sih megang-megang muka gue? Kalau gue jerawatan awas aja lo." Ana tiba-tiba menepis kasar tangan Jino dari wajahnya.
"Iihh, harusnya lo baper dong." Kata Jino.
"Baper pala lo peang. Gue paling anti ya muka dipegang-pegang, nanti gue jerawatan. Kecuali lo udah cuci tangan pakai sabun."
Jino malah tiba-tiba menangkup kedua pipi Ana, di uyel-uyel, yang membuat Ana meronta dan berteriak.
"Woy!" seru Ana.
"Biar lo jerawatan parah! Hahahaha!"
"Jino!"
•••
Karena Ana belum selesai ngetik, Jino jadi pesan minuman dan makanan lagi, meskipun sebelumnya dia sudah pesan saat mengerjakan tugas bersama teman-temannya.
Ana melirik Jino yang sedang minum, sebelum melontarkan pertanyaan.
"Sebenernya perasaan lo ke gue gimana?"
Uhuk! Jino terbatuk. Jelas ia kaget dengan pertanyaan Ana.
Sementara Ana malah panik. "Eh, kenapa lo?!"
"Uhuk, uhuk, aduh, gue gak papa. Cuman kaget aja denger pertanyaan lo, lo kayak minta hubungan kita diperjelas aja."
"Dih, siapa juga yang minta digituin? Maksud gue, emang lo gak ada perasaan kesel, marah, gak respek, dan sebagainya ke gue hah? Kenapa lo keliatan enjoy aja sama gue?"
Jino terdiam sejenak, sembari menatap Ana sambil menopang dagu.
"Gak tau ya... gue lempeng aja sih." Kata Jino.
"Ooh," balas Ana.
"Emang kenapa sih?"
"Gak papa."
"Elu gak mau ngeluarin unek-unek lo kayak waktu itu?"
Ana menggelengkan kepalanya.
"Kalau ada sesuatu ngomong aja ke gue, gue bakal dengerin, dan gak akan ngomong ke siapapun." Kata Jino.
"Gue gak papa kok." Balas Ana.
Jino manyun. "Dari ekspresi lo sih gak nunjukin kayak gitu."
"Ekhem," Ana tiba-tiba berdehem, sembari memainkan kerah bajunya. "Gue dulu punya hubungan khusus sama Tora."
Kedua alis Jino terangkat mendengar penuturan Ana.
"Kita gak pacaran, tapi saling tau aja kalau kita tuh saling suka. Itu pas SMA, ya lo dan temen-temen lo gak tau, karena kita beda sekolah. Dan gue pun minta ke Tora, buat gak bilang ke siapapun kalau dia kenal gue, bahkan akrab, sampe sering ke rumah. Dia udah pernah cerita waktu itu, dia punya geng di sekolah, isinya delapan orang, termasuk dia, yaa... mungkin di antaranya ada lo."
"Tapi setengah tahunan kenal, gue mulai keluar sifat aslinya di depan Tora, dan dia gak suka. Dia perlahan jauhin gue, dan nunjukin kalau dia deket sama cewek lain juga. Terus... ya... ya udah, kita putus kontak gitu aja. Bukan salah Tora seratus persen, gue sadar diri betapa jeleknya sifat gue. Lo yang baru kenal sama gue pun, pasti nyadar. Karena awal kenal lo gue gak jaim."
Jino diam tidak merespon.
"Makanya tadi gue nanya, perasaan lo ke gue gimana? Emang lo gak ngerasa... gak nyaman gitu deket sama gue? Udah banyak orang yang ngejauh setelah kenal gue."
Jino menggaruk kepalanya. "Enggak sih, gue biasa aja."
Ana tersenyum tipis. Apa Ana percaya dengan ucapan Jino? Enggak.
Tapi Ana tidak mau mempermasalahkannya.
Sampai Ana selesai ngetik, tidak ada pembicaraan lagi di antara Ana dan Jino. Saat perjalanan pulang pun, Jino bahkan tidak memegang bahu apa lagi pinggang Ana lagi, Ana sendiri menyetir mengikuti aturan, tidak seperti sebelumnya. Jadi tidak ada acara Jino teriak-teriak.
Sesampainya di rumah, Jino langsung turun dari motor Ana sembari melepas helmnya.
"Makasih udah anter," ucap Jino sembari mengembalikan helm yang tadi ia kenakan ke Ana.
"Nanti bensin lo gue balikin." Kata Ana yang hanya dibalas anggukan oleh Jino.
"Gue... sebenernya gak begitu buruk, cuman gue emang sengaja pengen misahin diri dari orang-orang." Celetuk Ana, yang membuat Jino mengurungkan niatnya untuk langsung pulang.
"Kenapa lo kayak gitu?"
"Itu yang bikin gue nyaman, meskipun gue harus menderita sebentar, denger atau baca celaan orang."
•••
"Ana itu sakit ya Ma?" Ibu mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Jino.
"Sakit? Sakit apa?"
"Sakit jiwa,"
"Hush, kamu sembarangan aja ngomongnya."
Jino menopang kepalanya. "Ya habis dia aneh aja, sifatnya juga gampang banget berubahnya, ah bukan sifat, tapi mood dan pikirannya juga. Tadi pas di kafe, kita awalnya ngobrol biasa aja, tapi dia tiba-tiba bikin suasana jadi canggung."
"Ya kamu dampingin dia dong, pancing buat bikin dia cerita, sebenernya apa yang jadi beban dia." Kata Ibu.
"Enggak ah, nanti dia baper. Sebenernya tadi aku juga udah pancing biar dia terbuka, tapi dia tetep gak mau cerita beban dia apa. Lagian perjanjian sama Mamanya Ana, cuman bikin dia mau keluar dari zona nyamannya aja kan?"
"Loh? Jadi kamu deketin Ana, emang bener-bener karena cuman mau motor ninja?"
Jino diam, sembari memainkan bibir dan pipinya. "Jujur aja Ma, aku gak ada keinginan buat emang deket sama Ana."
"Emang kenapa?"
"Kurang sreg aja,"
"Jangan gitu dong."
"Kan gak bisa dipaksain juga Mah, percuma aja aku bilang aku temennya, padahal dalam hati aku, aku tuh gak nyaman. Realistis aja Ma, siapa sih yang suka sama cewek yang hobi marah-marah? Di media sosial juga dia kurang ramah, bahkan sering ngomong sarkastik, atau pakai kata-k********r. Coba deh Mama pikir, apa Mama juga bakal suka sama orang kayak gitu? Lagian dia tuh emang sengaja ngajak musuhan semua orang, katanya itu yang bikin dia nyaman."
"Heummm... ya karena Mama udah tua, apa lagi Mama itu seorang Ibu. Yang kayak Ana itu harusnya malah gak dijauhin, tapi diarahin, dan didampingin."
"Mamanya Ana gak arahin dan dampingin Ana?"
"Ya pasti udahlah, tapi tetep aja dia butuh temen sebaya. Orang tua sama orang asing yang jadi temennya ya bedalah rasanya."
"Tapi kalau kayak gitu jadi repot banget temenan sama Ana. Jadi seolah-olah, kita temenan sama Ana itu, buat ngurusin dia. Padahal Ananya sendiri, belum tentu peduli sama kita."
"Yah, kalau kamu emang sayang dan teman sejatinya Ana, gak akan ngerasa kerepotanlah."
"Yah, tapi aku gak gitu." Gumam Jino sembari menggaruk kepalanya. "Ah, udahlah, aku gak mau urusin. Yang penting perjanjian sama Mama Ana tetep jalankan?"
"Ya terserah kamu, tapi kalau bisa jangan sampe Ana tau niat kamu yang sebenernya, nanti dia sakit hati. Mama gak bisa maksa kamu buat ini itu, Mama cuman bisa nasehatin kamu. Lebih baik kamu emang tulus temanan sama dia."
•••
"Papa kan masih dinas, jadi besok adek-adek ke sekolahnya dianter kamu ya?" ujar Ibu pada Ana di tengah makan malam.
"Kenapa aku?" protes Ana.
"Ck, Kakak mau nyuruh aku? Sekali-sekali Kak Ana kek, aku terus. Kak Ana kan anak pertama, harusnya tuh Kakak yang diandelin, bukannya malah aku."
Ana menggerutu mendengar perkataan adik perempuannya, tapi tidak membantah lagi.
"Besok pakai taksi online aja nganterinnya, sekalian belanja di pasar." Kata Ibu.
"Iya," balas Ana kesal.
"Kakak kenapa sih bete mulu?" celetuk Ongin. "Kata Bu Guru, kalau kita mau disayang orang itu, harus ceria, harus banyak senyum, terus baik sama semua orang."
"Emang Kakak jahat?" tanya Ana.
"Iya! Kakak suka marah-marah!" balas Ajis sembari menunjuk Ana dengan garpu.
"Heh, ck, gak boleh kayak gitu ke Kakak." Kata Ibu sembari menurunkan tangan Ajis yang menunjuk Ana.
Ana diam. Dia setuju dengan perkataan adik-adiknya, karena memang itulah kenyataannya. Dia tidak mengelak, tapi tidak juga berpikir untuk berubah.[]