"Lo copy paste pertanyaan gue." Jawab Ana.
"Eh enggak, gue serius." Kata Jino.
Ana diam, untuk memikirkan jawaban apa yang tepat.
"Gak tau, sama aja kayaknya perasaan lo ke gue."
"Serius?!" seru Jino tanpa sadar dengan bersemangat.
"Iya, gak ada rasa gimana-gimana, biasa aja." Kata Ana, membuat ekspresi Jino dalam sekejap berubah.
"Serius?" tanya Jino.
"Iya," balas Ana yakin.
"Masak sih?"
Ana menatap jengkel Jino. "Emangnya gue harus punya perasaan kayak gimana?"
Jino meletakan tangannya di atas kepala Ana. "Deg-deg-an gak?"
"Kalau gak deg-deg-an gue mati dong, gimana sih? Namanya manusia mah, jantungnya pasti berdetak."
"Iih, bukan yang kayak gitu."
Jino beralih meraih salah satu tangan Ana, kemudian mendekatkan wajahnya pada Ana, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Membuat Ana melebarkan matanya.
Tidak ada yang bicara untuk beberapa saat, hanya pipi keduanya yang perlahan memerah. Jino akhirnya menyerah dan langsung buang muka, sementara Ana pura-pura membersihkan bajunya, seolah ada sisa remahan makanan di bajunya.
"Lo ngapain sih tadi? Mana sekarang kita lagi ada di tempat umum." Sungut Ana.
Jino tidak bisa menjawab, dia sendiri bingung dia sedang apa.
"Ekhem, udah habis belum bakpaonya? Kalau udah, mau langsung ke toserba?" tanya Jino.
"Foto in gue dulu dong, mumpung guenya lagi bagus." Balas Ana.
"Jelek ah foto di sini, mending selfie aja, yang bakal keliatan kan, cuman muka." Kata Jino. "Oh iya, kalau enggak kita foto berdua aja. Kan belum pernah tuh kita uplod foto berdua, biar pada makin yakin, kalau kita tuh pacaran."
"Pakai hp gue atau hp lo?"
"Dua-duanya aja."
"Gue duluan." Kata Ana sembari mengeluarkan ponselnya.
Jino kira Ana akan foto menggunakan kamera depan, tapi Ana malah foto menggunakan kamera belakang, membuat Jino mengernyitkan kening.
"Kok pakai kamera belakang?" tanya Jino.
"Kameranya bagusan yang belakang."
"Emang bisa selfie pakai kamera depan?"
"Bisa. Lo fokus aja ke kameranya."
Jino menuruti perkataan Ana. Karena Ana yang foto, jadinya Jino harus mepet ke Ana. Dua tiga, hingga lima foto diambil menggunakan ponsel Ana.
Lalu lanjut menggunakan ponsel Jino, jadi kini Ana yang harus mendekat. Jino merangkul Ana, kemudian nyengir lebar, yang membuat Ana otomatis ikut nyengir.
Dua detik sebelum gambar benar-benar diambil, Jino tiba-tiba menempelkan pipinya pada pipi Ana, membuat cengiran Ana hilang, terganti ekspresi terkejut dengan mata yang melebar.
•••
Ana melirik Jino yang sibuk dengan ponselnya, sementara ia belanja.
"Woy, ngapain sih? Sibuk aja sama hp." Kata Ana.
"Kenapa? Mau dibantuin bawa?" tanya Jino sembari mengangkat kepalanya dari ponsel.
"Bukan, jangan sibuk sama hp terus. Nanti nabrak." Balas Ana.
"Lagi bales-balesin komen gue." Kata Jino.
"Nanti lagikan bisa,"
"Gak bisa, nanti keburu komen yang bisa dibales tenggelam."
Ana menghela napas. "Terserah deh," gumam Ana, sehingga Jino tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
Seorang pegawai toko tiba-tiba mendekati Ana sambil membawa keranjang belanja.
"Mau pakai keranjang Mbak? Kayaknya kesusahan bawanya."
"Oh iya, makasih Mas."
"Tas Mbak resletingnya kebuka."
"Oh iya, aduh, gak liat."
Setelah menerima keranjang yang diberikan pegawai toko, dan meletakan barang-barangnya di sana, Ana pun menutup resleting tasnya.
"Makasih ya Mas,"
"Iya Mbak, sama-sama."
"Oh iya Mas, bisa minta tolong lagi?"
"Minta tolong apa Mbak?"
"Saya mau ngambil itu, tapi gak nyampe." Kata Ana sambil menunjuk s**u cair yang diletakkan di rak cukup tinggi.
Si pegawai itu mengulurkan tangannya untuk mengambilkan apa yang Ana minta, tapi tiba-tiba tangan Jino sudah lebih dulu mengambilnya.
"Kalau mau minta tolong kenapa gak bilang sama gue sih?" kata Jino sembari menyodorkan s**u yang sudah ia ambilkan itu pada Ana.
Ana menatap datar Jino, dan tidak menerima s**u yang sudah diambilkan Jino. Sementara pegawai yang sebelumnya hampir tidak jadi mengambilkan s**u, akhirnya tetap mengambilkannya, dan Ana menerimanya.
"Makasih Mas," ucap Ana.
"Iya sama-sama, saya permisi dulu." Kata pegawai itu sembari tersenyum, sebelum bergegas pergi.
"Ish! Kok malah yang diambilin gue gak diterima?!" protes Jino.
"Ya enggak enaklah, gue udah minta tolong duluan sama Masnya tadi." Balas Ana.
"Ya lagian kenapa minta tolong pegawai segala? Kan ada gue! Gue bahkan lebih tinggi dari dia." Kata Jino.
"Lo kan sibuk terus sama hp, entar ganggu lagi." Kata Ana ketus yang membuat Jino tidak bisa menjawab.
"Iya nih gue simpen." Kata Jino sembari mengantongi ponselnya. "Sini gue bawain keranjangnya." Jino mengulurkan tangannya, dan mengambil keranjang belanja yang Ana pegang.
"Makasih," ucap Ana, yang dibalas acakan rambut oleh Jino.
Ana menggembungkan pipinya, kemudian membuang muka dan pura-pura sibuk memilih barang.
Selesai memasukan apa saja yang Ibu pesan ke keranjang, Ana dan Jino pun bergegas ke kasir.
Selama menunggu belanjaannya dihitung, Jino hanya diam berdiri di belakang Ana, sambil meletakan dagunya di pucuk kepala Ana.
"Wah Mbak, struknya gak mau keluar, kayaknya error deh." Ujar pegawai kasir. Pegawai itu juga yang tadi memberika keranjang belanja serta membantu Ana mengambilkan s**u.
"Yah, terus gimana dong? Saya mau struknya." Kata Ana.
"Kayaknya harus nunggu agak lama Mbak. Mbak rumahnya di mana? Biar saya anter aja struknya nanti."
"Agak jauh sih Mas,"
Jino memasang ekspresi tidak suka. Ini sih modus, batin Jino.
"Beneran error atau gimana? Jangan macem-macem dong Mas, Mas gak liat saya yang segede ini di samping dia dari tadi? Saya pacarnya!" kata Jino.
Si pegawai gelagapan, dan tak lama akhirnya menyerahkan struk beserta uang kembalian.
Ana jadi tidak enak melihat raut wajah ketakutan pegawai itu. Setelah mengucapkan terimakasih dan membawa belanjaannya, Ana dan Jino pun bergegas keluar.
"Nyebelin banget sih, dia ngiranya gue apa lo? Jelas-jelas dateng sama gue, gue juga di deket lo terus, harusnya dia gak berani modus kayak gitu dong." Gerutu Jino.
"Selama keliatan belum nikah, ya dianggepnya masih ada kesempatan." Balas Ana. "Apa lagi tadi lo sibuk terus sama hp."
"Tapikan akhirnya hpnya gue simpen."
"Ya tapikan lo gak main hpnya udah akhir-akhir. Orang mikirnya lo pasti cuek."
"Ah, dianya aja yang gak tau malu."
"Ya udahlah, gak akan ketemu lagi juga sama itu orang. Lagian kan gak gue ladenin."
"Apaan gak diladenin? Tadi lo lebih milih s**u yang diambilin dia, dari pada gue!"
"Kan udah gue bilang alesannya."
"Terus lo terima keranjang yang dia kasih."
"Kan karena gue emang kerepotan bawa barang, gue lupa bawa keranjang. Meskipun dia modus, asal gue kebantu, ya kenapa enggak? Dia juga gak akan bisa lebih ke gue. Cemburuan banget sih."
"Siapa yang cemburu?! Kan gue bilang gini biar lo lebih hati-hati pas dimodusin. Gak semua cowok cuman ngomel-ngomel kalau modusnya gagal, kalau cowoknya psikopat dan ngejar-ngejar lo meskipun lo tolak gimana? Nanti dia berusaha milikin lo, hih, kan serem."
"Gue rasanya pengen nyita komik-komik lo dah, sama berhentiin kebiasaan lo nonton drama sama sinetron. Gue juga pilih-pilih kali, gak semua cowok modus gue tanggepin kayak tadi. Malah gue lebih sering gak nanggepinnya. Udah ah, pulang yuk."
•••
Ana hanya diam di depan laptopnya, tidak peduli dia sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk diam, menatap tulisannya yang baru setengah. Mau nulis, tapi tidak ada apapun di otaknya, kecuali Jino.
Iya, jujur saja. Ana terus memikirkan pria itu, lebih tepatnya tingkahnya seharian ini, juga setiap perkataan yang Jino lontarkan. Seolah ia sedang memberi kode.
'Ugghhh, gak mungkin, tapi gak mungkin. Siapa yang bakal suka sama orang kayak gue? Gak ada Na, sadar Na.' Batin Ana. 'Apa lagi Jino udah jelas tau sifat jelek gue dari A sampe Z. Orang yang gak tau gue sampe kayak Jino aja, biasanya suka langsung ilfeel sama gue.'
Ana menggelengkan kepalanya berkali-kali, saat sedang berkelut dengan pikirannya.
'Lagian gue udah janji gak akan nambah orang baru di hidup gue.'
Ana melipat kedua tangannya di atas meja, kemudian meletakkan dagunya di atas sana.
"Tapi muka nyebelinnya gak bisa pergi dari pikiran gue, huhuhu."
Ana kemudian menutup telinganya yang tiba-tiba terasa panas, karena mengingat moment saat Jino mengacak rambutnya, memegang tangannya, memeluknya.
"AKHHHHH!!!" teriak Ana tiba-tiba, membuat Ibu dan adiknya sampai terkejut.
"Kakak kenapa?!" tanya Ibu.
"Stress." Balas Ana.
•••
Jino melihat bolak-balik fotonya dengan Ana sore tadi. Ia menutup mulutnya, untuk menyamarkan rona di pipi dan bibirnya yang terus melengkung ke atas.
Ting! Sebuah pesan baru masuk ke ponsel. Jino langsung menegakan punggungnya, dan senyumannya memudar, saat melihat siapa pengirim pesan.
From: Tora
Lo beneran pacaran sama Ana?
To: Tora
Enggak,
From: Tora
Kok deket banget fotonya?
To: Tora
Emang kenapa? Kan biar meyakinkan aja kalau pacaran.
From: Tora
Ana bukan tipe cewek yang mau kayak gitu, meskipun kalian udah bikin perjanjian pacaran bohongan sekali pun.
To: Tora
Ya lagian emang kenapa sih? Kan lo juga udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Ana.
From: Tora
Ana udah cerita semuanya?
To: Tora
Heummm...
Harusnya gue bukan bilang 'hubungan'nya. Kalian selama ini cuman deket sebagai temen.
Tora tidak menjawab lagi, pesan terakhir Jino hanya dibaca. Mungkin Tora bingung mau jawab apa, Jino sendiri memilih tidak memperpanjang.
Tora tidak mungkin akan mengajak dia ribut hanya karena seorang perempuan, begitu pun sebaliknya. Kalau pun memang Tora selama ini masih menyukai Ana, dan tidak suka dengan hubungannya dengan Ana, Tora pasti tidak akan melakukan apapun.
Dia punya pemikiran yang lebih dewasa juga.
Dan Jino tidak akan mundur sekalipun nanti Tora tidak menyukai hubungannya dengan Ana. Toh, hubungan Ana dan Tora sudah masa lalu, dan Tora duluan yang meninggalkan Ana. Meskipun dia tidak bersama Ana, bukan berarti Ana akan bersama Tora.
Jino tiba-tiba tercenung, terkejut dengan pemikirannya sendiri.
'Emangnya gue suka sama Ana ya?' batin Jino.
Jino kemudian menopang dagu dan termenung. 'Tapi akhir-akhir ini kepikiran Ana terus sih. Tapi masak iya sih?'
Jino kali ini berbaring di kasur, kemudian guling-guling. 'Kadang nyebelin, kadang lucu, kadang bikin kasian, terus tsundere.' Jino tiba-tiba teringat waktu Ana menghampirinya dengan raut wajah khawatir saat ia jatuh saat berlari setelah mengerjai Ana.
"Aaaaaa... masak iya sih?" gumam Jino sembari meletakan kedua tangannya di pipi, dan menaikannya ke atas.
Jino membuka ponselnya lagi, melihat fotonya dengan Ana sekali lagi, sebelum pergi ke youtube, dan membuka video makeup tutorial Ana. Pencahayaan videonya sebenarnya tidak terlalu bagus, tapi lumayan, apa lagi Ana juga menambahkan filler di videonya. Jino tidak menyangka Ana cukup mahir mengedit video.
"Oh iya..." gumam Jino setelah ia selesai menonton video Ana. Jino keluar dari youtube, beralih ke aplikasi chat.
To: Ana
Na, mau bikin video lagi gak?
From: Ana
Minggu depan aja.
To: Ana
Kenapa? Kalau vlogger baru tuh harus bikin video setiap hari.
From: Ana
Bukannya kebalik ya?
To: Ana
Enggaklah. Ibarat channel lo itu kan baru lahir, harus dikasih banyak asupan biar cepet besar atau berkembang.
From: Ana
Gue capek. Tadi pagi kejar-kejaran sama lo, siangnya ke kampus lo, terus pulang dari kampus lo ke toserba.
To: Ana
Yahhhh...
From: Ana
Emang kenapa dah?
To: Ana
Ya gak papa, gue kan cuman mau ngedorong lo buat lebih produktif.
From: Ana
Kalau gue bikin video terus, terus kapan gue lanjutin tulisan gue?
To: Ana
Oh iya juga sih. Ya udah lo jangan lupa istirahat.
From: Ana
Hhmm, lo juga.
Jino menggigiti kuku jarinya. "Bilang apa lagi ya?"
Belum sempat Jino terpikir hendak bilang apa lagi, Ana sudah lebih dulu mengiriminya pesan lagi.
From: Ana
Lo besok ngapain?
To: Ana
Kuliah, dan kencan baby blue paling. Gue kayaknya akhir-akhir ini gak megang baby blue.
From: Ana
Bukannya tiap hari dinaikin ya?
To: Ana
Beda dinaikin sama dipegang.
From: Ana
Pembicaraan ini agak ambigu.
To: Ana
Ya saya rasa juga begitu.
From: Ana
Kenapa anda ini sangat bucin sama motor?
To: Ana
Karena hanya dialah yang menemani masa jomblo saya. Terlebih baby blue ini menyimpan banyak kenangan. Saya nabung bertahun-tahun buat beli dia.
From: Ana
Ohh seperti itu.
To: Ana
Kenapa kita ngomongnya jadi gini ya?
From: Ana
Gak tau,
To: Ana
Pengen ketemu...
"Eh anjir! Kok ngomong gini sih?!" Jino langsung mau menghapus pesan itu, tapi ternyata Ana sudah langsung membacanya.
From: Ana
Bukannya kita udah hampir seharian bareng ya? Ada perlu apa gitu?
To: Ana
Maksudnya pengen ketemu baby blue. Gue mainin motor dulu ya? Udah lewat seminggu kan ya, gak papa jadinya hehe.
"Aduh Jino, kok lo bedon banget sih..." gumam Jino.[]