Chandra memarkir mobilnya di carport dengan sedikit kesal. Bayangan Naina mengusirnya masih terngiang. "Ini jadwal Mas bersama Kayla dan istrinya. Hari Rabu Mas baru ke sini." "Itu bukan masalah, Naina." Naina berbalik dan berjalan menuju pintu kamar yang terbuka. "Mas harus bersikap adil. Jangan bertindak semaunya." Dia sudah berada di luar, wajahnya seperti topeng tanpa ekspresi, tapi rahang yang mengeras menandakan amarah yang dipendam. Naina bisa melihatnya dan rasa bersalah menyergap. "Nai hanya tidak mau Bu Vina berpikir Nai yang meminta Mas selalu di sini," katanya dengan kepala tertunduk. Suara riang Kayla menyambutnya saat dia membuka pintu rumah utama. "Papa!" Kayla berlari dan hampir menabraknya. Chandra dengan sigap menangkapnya. "Jangan berlarian, Sayang." Dia mengangk

