Pria kurang ajar

2053 Words
Rudi kini hanya bisa menggaruk tengkuknya begitu melihat kemurkaan dari pria yang sangat dihormatinya. Sebenarnya, ia merasa sangat pusing menghadapi sikap arogan dari tuan mudanya tersebut, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena berpikir malah akan jadi sasaran kemurkaan dari majikannya jika sampai berani berkomentar. 'Seharusnya tuan muda berpikir Tuhan telah memberikan jalan untuknya melalui nona cantik itu. Bukankah jika nanti tuan muda bekerja menjadi cleaning service akan membuat penyamarannya makin sempurna? Nah ... ini malah marah. Jadi, bingung aku dibuatnya,' gumam Rudi yang kini meringis menahan rasa sakit pada perutnya saat mendapatkan sebuah pukulan di sana Namun, ia tidak berani bersuara untuk sekedar mengeluh karena pria yang saat ini berdiri di hadapannya masih mengarahkan tatapan tajam padanya. Keenan yang kini merasa sangat kesal karena Freya menyuruhnya untuk menjadi karyawan rendahan di perusahaan, membuatnya ingin meluapkan kekesalannya. Melihat hanya ada pelayannya di sana, tidak membuang waktu, ia langsung mengarahkan tinjunya di sana. Seperti menganggap bahwa perut Rudi adalah samsak tinju gantung yang sering ia buat untuk latihan. "Tenang saja, aku akan memberikanmu uang sebagai ganti rugi, Rudi. Aku butuh pelepasan hari ini," umpat Keenan yang kembali mengarahkan tangan mengepal untuk meninju perut pelayannya tersebut. Dengan menahan rasa nyeri di perutnya, Rudi tidak menjawab perkataan dari pria yang saat ini berhasil membuat ulu hatinya sakit. 'Jika boleh memilih, aku ingin hidup aman damai sejahtera daripada banyak uang tapi hanya buat berobat ke rumah sakit,' gumam Rudi yang baru saja merasa lega karena majikannya hanya memukulnya tiga kali. Merasa kekesalannya sedikit berkurang, Keenan kini merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel dan menatap ke arah pelayannya yang sedang mengusap perut bekas perbuatannya. "Sebutkan nomor rekeningmu. Aku akan mengirimkan uangnya sekarang." Keenan kini terlihat membuka aplikasi M-banking dan mencari daftar untuk transfer. "Saya tidak hafal nomor rekeningnya, Tuan muda. Nanti saja saya menyuruh ayah untuk melihat buku tabungan di bawah baju yang ada di lemari. Kalau boleh tahu, Anda mau mentransfer uang berapa, Tuan muda?" Rudi yang kini merasa penasaran, tidak ingin dihantui rasa ingin tahu, sehingga memilih untuk bertanya langsung karena kepo. Sementara itu, Keenan yang terlihat memijat pelipisnya sambil geleng-geleng kepala menanggapi jawaban Rudi. "Satu juta. Dasar bodoh! Seharusnya kau menghafalnya. Jadi, saat sewaktu-waktu aku mengirimkan uang, tidak perlu susah payah untuk bertanya. Sudah sana pergi cari makan, aku akan masuk untuk melihat kamarnya." Dengan mengibaskan tangannya, kini Keenan berjalan ke arah kamar kos setelah membuka pintu gerbang berwarna hitam di hadapannya. Sementara itu, Rudi pun berjalan kaki untuk melaksanakan tugas dari majikannya sambil merutuki kebodohannya yang tidak menghafal nomor rekening sendiri. "Benar juga apa yang dikatakan oleh tuan muda. Aku benar-benar bodoh karena tidak hafal dengan nomor rekening sendiri. Jika tadi aku hafal, uang satu juta rupiah sudah mendarat dengan sempurna di rekeningku. Jika sepuluh hari tuan muda meninju perutku, uangku akan sepuluh juta. Seratus hari seratus juta lah! Wah ... bisa jadi jutawan aku hanya dengan bermodalkan perut sixpack ini." "Aku tarik kata-kataku tadi deh, yang mengatakan Jika boleh memilih, aku ingin hidup aman damai sejahtera daripada banyak uang tapi buat berobat ke rumah sakit. Aku ganti begini saja, jika boleh memilih, aku ingin punya banyak uang tanpa harus berobat ke rumah sakit saat dipukuli oleh tuan muda." Rudi baru saja keluar dari gang kecil yang akan menjadi tempat sementara untuknya, kini ia berjalan memasuki sebuah warung nasi Padang untuk membelikan makanan bosnya yang sedang kelaparan, termasuk dirinya sendiri. Sementara di sisi lain, saat ini Keenan baru saja membuka pintu dan mulai berjalan menuju ke arah kamar yang tadi ditunjukkan oleh Freya. Berada di bagian paling depan, membuatnya tidak perlu jauh-jauh berjalan ke belakang. Begitu mengarahkan kunci pintu dan memutarnya, ia pun langsung membukanya dan mengamati suasana di dalam ruangan kamar berukuran tiga meter tersebut. Ruangan kamar yang menurutnya sangat sempit dan membuatnya merasa sesak untuk bernapas. "Ruangan ini tidak lebih besar dari kandang ayam. Sangat sempit dan membuatku tidak leluasa bergerak." Setelah menutup pintu, kini Keenan berjalan masuk untuk melihat kamar mandi. Lagi-lagi ia hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat kamar mandi yang menurutnya sangat sempit karena tidak ada separuhnya dari tempat yang biasa ia gunakan. Embusan napas kasar terdengar jelas dari mulutnya saat merasa bahwa semua hal yang dilaluinya hari ini cukup berat. Dilihatnya hanya ada kasur di sudut ruangan dan almari pakaian berukuran sedang. Ia pun kini mendaratkan tubuhnya di atas kasur tipis tersebut dengan posisi kaki bersila seperti seseorang yang bertapa. "Ini kasur apa alas kaki? Astaga, membayangkan tidur di sini setiap malam, pasti akan membuat badanku sakit semua. Apa kabar pinggangku nanti." Puas mengumpat, ia kini merubah posisi menjadi tidur telentang dan menatap ke arah langit-langit kamar rendah di atasnya. Ia terdiam saat memikirkan tawaran dari sosok wanita yang mau menolongnya tanpa ragu karena rasa bersalah padanya. "Cleaning service dan ijazah terakhir. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, itu akan semakin melengkapi penyamaranku. Bagaimana tanggapan para wanita saat melihatku hanya menjadi seorang karyawan rendahan di perusahaan? Apakah orang-orang, khususnya para wanita akan menghinaku? Ataukah ada seorang wanita yang tulus mencintaiku tanpa mempermasalahkan pekerjaanku." "Baiklah, sepertinya aku terima saja tawaran dari Freya." Keenan mendadak mengingat sesuatu dan langsung meraih ponsel yang tadi ia letakkan di sebelah kanan tempatnya berbaring. Ia menghubungi orang kepercayaan papanya dan begitu sambungan telepon tersambung, langsung mengungkapkan keinginannya. "Halo, Om. Aku sekarang butuh bantuan, Om." "Tuan muda Keenan sudah kembali dari luar negeri? Bagaimana kabarnya, Tuan muda? Memangnya Tuan muda ingin saya melakukan apa?" "Sudah dan kabar aku tentu saja sangat baik, Om. Oh ya, aku butuh ijazah palsu tapi atas nama Keenan Wijaya. Ijazah SMA, ya Om. Aku butuh sekarang karena ini sangat urgent. Suruh orang membuat ijazah palsu atas nama itu. Bisa, kan?" "Harus hari ini, Tuan muda?" "Iya, paling lambat malam ini karena aku butuh buat besok." Keenan yang baru saja menutup mulutnya, mendengar suara teriakan dari sosok wanita yang sangat dihafalnya, sehingga ia buru-buru berpamitan dan mematikan sambungan telepon. "Om, aku harus pergi! Ada hal mendesak!" Begitu selesai mematikan sambungan telepon, kini ia berjalan menuju ke arah pintu keluar dan masih mendengar suara Freya. "Keenan!" panggil Freya yang berada di luar pagar karena tidak mungkin ia berani masuk ke tempat kos laki-laki, sehingga ia hanya diam di tempatnya sambil mengamati pintu kamar pria yang tadi ditolongnya. Begitu melihat pintu tersebut terbuka dan muncul sosok yang dicarinya, ia melambaikan tangan. "Kemarilah! Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu." Kini, Keenan berjalan mendekati sosok wanita yang terlihat sedang membawa sesuatu di tangannya dan membuatnya memicingkan mata. "Ada apa lagi? Itu apa?" Tanpa membuang waktu, begitu Keenan membuka pintu gerbang, Freya langsung memberikan sebuah map besar berwarna coklat. "Ini contoh CV yang harus kalian bawa besok. Ada nama perusahaan lengkap sama alamatnya. Tulis saja pakai tangan daripada harus buang-buang uang untuk mencetak. Lagipula kau kan tidak punya uang. Oh ya, bukankah tadi aku memberikanmu uang dua ratus ribu? Itu untuk biaya makan kalian berdua selama beberapa hari di sini. Kau harus bisa irit, jadi jangan boros." Pandangan mata Keenan yang masih mengarah pada amplop coklat di tangannya, merasa sangat heran pada sosok wanita di hadapannya yang seolah sangat meremehkannya. "Tunggu, apakah kau berpikir aku tidak bisa membuat surat lamaran, sehingga membawakan contoh ini? Satu lagi, uang dua ratus ribu untuk makan kami berdua selama beberapa hari? Apa kamu sedang bermimpi, Freya? Ibarat kata, uang itu hanya bisa untuk membeli permen saja bagi anak kecil. Bukannya tadi, kamu bilang mau pinjam uang pada temanmu?" Saat Freya berniat untuk menjawab, ia mendengar bunyi notifikasi masuk dan langsung melihat ponselnya untuk memeriksa pesan. Sebenarnya, begitu tiba di kamar kos tadi, ia menghubungi beberapa temannya untuk meminjam uang. Bahkan ia rela menahan rasa malu hanya demi bisa menolong pria yang dianggapnya sangat menyebalkan tersebut. Namun, mendengar umpatan dari pria yang ada di hadapannya, membuatnya berkali-kali merasa sangat kesal. Berharap mendapatkan kabar baik, kini ia membuka pesan yang diketahui dari sahabatnya. Maafkan aku, Freya. Aku tidak punya uang karena sudah kubelikan ponsel baru kemarin. Kamu terlambat satu hari. Seandainya kemarin, mungkin masih ada. Kamu pinjam sama yang lain aja. Raut wajah penuh kekecewaan kini tampak jelas dari Freya. Ia kemudian menunjukkan balasan dari sahabatnya pada pria yang baru saja mengumpatnya. "Nih, lihat! Aku sudah menghubungi beberapa temanku dan ini salah satu jawabannya. Baru kali ini aku meminjam uang pada orang lain hanya demi menolong pria kere berlagak sepertimu." Refleks Keenan langsung memicingkan mata saat mendengar kalimat bernada sindiran yang ditujukan padanya. Untuk pertama kalinya ia dihina berkali-kali oleh seorang wanita, tetapi sama sekali tidak bisa membalasnya. "Pria kere berlagak. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kere, Freya? Jangan mengumpatku dengan hal yang sama sekali tidak kupahami." Hal berbeda dirasakan oleh Freya saat merasa senang ketika bisa mengumpat pria yang tidak tahu umpatannya. Kini, ia terkekeh geli melihat respon dari wajah penuh kebodohan tersebut. "Nanti kau tanyakan saja pada tetangga kos. Kalau jam segini, mereka asyik tidur karena lebih suka melek saat malam hari kayak kelelawar. Oh ya, berapa nomormu? Agar aku tidak perlu repot-repot ke sini saat ingin memberitahu sesuatu." Kini Keenan bisa melihat Freya tengah bersiap untuk mencatat nomornya pada ponselnya. Sementara ia mulai mengingat sesuatu, bahwa ia belum sempat membeli nomor Indonesia. 'Tidak mungkin aku memberikan nomorku yang masih nomor luar negeri pada Freya. Aku harus membeli nomor baru nanti. Lalu ini aku harus beralasan apa lagi padanya? Nomor Rudi. Aku berikan saja nomor Rudi, tetapi sialnya tadi belum sempat menanyakan nomornya. Kenapa dia belum balik-balik juga?' gumam Keenan yang saat ini menoleh ke arah kiri, berharap melihat sosok pelayannya. Namun, hanya kekecewaan yang dirasakannya karena batang hidung Rudi sama sekali tidak muncul. "Kau lagi cari apa? Apa kau merasa keberatan aku meminta nomormu? Takut aku pelet atau kusantet?" rengut Freya yang merasa sangat kesal saat dicueki. Padahal ini bukan kemauannya karena ia kali ini benar-benar sangat terpaksa melakukannya. Tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, kini Keenan memilih untuk mengurai pemikiran wanita yang sudah menampilkan wajah masam tersebut. "Tidak, bukan begitu. Aku tidak hafal nomor ponselku. Aku harus melihatnya di daftar kontak dulu, tetapi ponselnya sedang dibawa oleh sepupuku yang tadi aku suruh membeli makanan." "Astaga!" Terlihat Freya menepuk jidatnya begitu mendengar perkataan dari sosok pria yang dianggapnya sangat aneh tersebut. "Bahkan nomor sendiri saja tidak hafal. Sepertinya memori internalmu sudah penuh, hingga tidak mampu menyimpan nomor sendiri di otak. Sepertinya percuma aku tadi repot-repot ke sini. Aku pergi! Besok pagi jam 7 kita berangkat naik bus seperti tadi." Tanpa menunggu jawaban dari perkataannya, Freya berbalik badan untuk kembali ke tempat kos yang ada di seberang jalan. Hal berbeda kini dilihat oleh Keenan saat tadi menatap ke arah sebelah kanan, ada anak kecil berusia sekitar sepuluh tahunan tengah naik sepeda dengan sangat kencang. Begitu melihat Freya tiba-tiba berbalik badan dan langsung menyeberang tanpa lihat kanan kiri, ia berteriak dengan sangat kencang. "Freya, awas!" Refleks Keenan secepat kilat menarik pergelangan tangan Freya dan seketika tubuh ramping itu berbalik dan menabrak d**a bidangnya hingga mengikis jarak antara dirinya dan sosok wanita yang kini sudah dipeluknya. "Astaga, kau hampir saja ditabrak sepeda anak kecil itu tadi! Seharusnya kau lebih hati-hati, Freya. Jangan mentang-mentang ini bukan jalan besar, kau menyeberang seenaknya sendiri!" umpat Keenan yang kini berbicara tepat di depan wajah Freya yang tengah menundukkan kepala. Baru saja Keenan selesai mengungkapkan kekesalannya, ia merasa sangat terkejut saat tubuhnya kini terhuyung ke belakang saat tangan dengan jemari lentik itu mendorongnya. Bahkan membuat tubuhnya terhempas gerbang besi dan kepalanya pun demikian, hingga menimbulkan nyeri. "Dasar p****************g! Kau pasti sedang mencuri-curi kesempatan, bukan? Tadi di dalam bus, sekarang di sini. Pandai sekali kau bersilat lidah. Aku pikir kau adalah pria yang menghormati wanita meskipun sikapmu berlagak, ternyata aku salah!" Freya yang merasa diinjak-injak harga dirinya karena sudah dua kali pria yang ditolongnya selalu memeluk dan hampir menciumnya, membuat ia tidak bisa menahan diri lagi, sehingga langsung meluapkan semua emosi yang dirasakannya. Sementara itu, Keenan yang masih sibuk mengusap kepala belakangnya, merasa sangat marah karena pertolongannya malah dianggap sebagai sebuah penghinaan. Dengan netra tajam menatap wajah wanita dengan raut memerah tersebut, Keenan tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. 'Sialan! Kenapa aku malah dituduh pria kurang ajar? Padahal aku sama sekali tidak pernah mencuri-curi kesempatan dan yang terjadi adalah sebuah ketidaksengajaan. Tidak mungkin aku meninju wajah wanita ini?' umpat Keenan yang kini memilih untuk memberikan pelajaran pada wanita yang berada di hadapannya. "Saat aku benar-benar tulus menolongmu, malah ini yang aku dapatkan. Baiklah, aku akan membuat tuduhanmu menjadi kenyataan!" sarkas Keenan dengan tersenyum smirk dan berniat untuk mencium Freya. To be continued ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD