Menyelidiki

1246 Words
Keenan yang sebenarnya merasa tersinggung dengan perkataan dari pemilik kos wanita yang menganggap ia adalah pria m***m, sebenarnya ingin sekali membantah tuduhan tersebut. Bahkan di usianya yang sudah menginjak 30 tahun, ia benar-benar masih perjaka dan belum pernah sekali pun melakukan hubungan terlarang dengan seorang wanita. 'Sialan, ibu kos itu. Apa dia pikir semua laki-laki di dunia ini b***t? Hanya gara-gara kesalahan segelintir pria yang berbuat m***m sebelum menikah, orang-orang seperti aku yang masih sangat suci ini menjadi korbannya. Bahkan aku masih perjaka tong-tong. Aku pun merasa yakin kalau Freya masih perawan ting-ting,' gumam Keenan yang hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan amarahnya. Ia hanya menatap siluet sosok wanita paruh baya tersebut yang sudah berjalan semakin menjauh dari tempatnya berdiri dan di saat bersamaan, suara Freya membuatnya seketika menolehkan kepala. "Cepat katakan apa maumu sebenarnya! Kau tidak boleh lama-lama di sini karena ada banyak mata yang mungkin akan salah paham," ujar Freya yang tadinya merasa sangat terkejut karena Keenan mengunjungi tempat kosnya meskipun sudah berkali-kali dilarangnya. Bahkan ia merasa sangat geram dan ingin sekali menjitak kepala pria yang dianggapnya sangat arogan dan selalu berbuat seenaknya sendiri tanpa memikirkan apapun. Sementara itu, Keenan yang ingin membuat satu kebohongan lagi, kini mulai melihat mesin pencarian dan mengetik sesuatu di ponselnya. Begitu muncul artikel yang menjawab pertanyaan dari Freya dan mencurigainya, ia pun mulai membuka suara untuk menjelaskan semuanya. Kebohongan masuk akal yang dikatakannya kali ini untuk membuat wanita di sebelah kirinya percaya sepenuhnya padanya. "Bukankah kamu tadi bertanya padaku mengenai nomor London yang kupunya? Inilah jawabannya. Jadi, kita bisa menyamarkan nomor asli dengan mendaftarkan kode luar negeri. Bukankah nomorku terlihat keren karena lain dari yang lain? Apalagi itu seperti nomor luar negeri. Bahkan kamu mungkin telah mengira aku pernah ke London, kan? Padahal sebenarnya aku sama sekali belum pernah pergi ke sana." Merasa sangat tidak puas dengan penjelasan Keenan, kini Freya langsung merebut ponsel itu dari tangan kuat tersebut dan mulai fokus membaca dan mencermati. Namun, ada satu hal yang membuatnya merasa sangat aneh. Tentu saja pandangannya pun juga fokus pada benda pipih di tangannya. "Ponselmu ini berapa harganya? Sepertinya ponsel tanpa merk ini sangat mahal. Setahuku, hanya orang-orang kaya saja yang memilikinya. Bagaimana kamu bisa mempunyai ponsel mahal ini?" Freya yang sudah selesai membaca penjelasan di mesin pencarian, masih mengamati benda yang dianggap nyawa kedua oleh para manusia di zaman modern ini dan ia sangat terkejut saat tiba-tiba sosok pria di sebelahnya mendekatkan wajah dan berbisik lirih di dekat daun telinganya. Tiba-tiba, Keenan memiliki sebuah jawaban atas pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang mengenai ponselnya. Khususnya orang-orang kalangan menengah ke bawah yang selalu merasa penasaran dengan ponsel keluaran terbaru miliknya tersebut. "Jangan bilang siapa-siapa, ya. Aku dulu menemukan ini saat pergi ke Mall. Saat itu, aku pergi ke toilet dan melihat ponsel itu ada di sana. Tentu saja aku tahu kalau ini adalah ponsel mahal. Jadi, aku langsung menonaktifkan ponselnya dan langsung pulang. Salah sendiri ceroboh melupakan ponselnya. Jadi, ini adalah rezekiku dan musibah untuk sang pemilik ponsel." Refleks Freya yang mengetahui benda pipih yang ada di tangannya adalah curian, terlihat ia menepuk jidatnya dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Bahkan ia langsung mengembalikan benda pipih di tangannya tersebut pada jemari dengan buku-buku kuat tersebut. "Astaga, ternyata kau selain arogan, juga seorang pencuri rupanya. Menyesal aku telah menolongmu karena kau adalah pria yang tidak jujur. Aah ... sepertinya kau kehilangan dompetmu karena kena karma dari perbuatanmu. Orang menanam keburukan akan menuai sama seperti yang ditanam dan kau pun telah mendapatkan balasan dari perbuatanmu itu tanpa harus menunggu hari pembalasan di akhirat nanti." Keenan yang kini merasakan pepatah 'senjata makan tuan,' kini hanya bisa mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan melihat pada beberapa ibu-ibu yang sibuk menyuruh anaknya untuk segera pulang ke rumah karena hari mulai gelap. 'Jadi ini yang dimaksud pepatah itu? Kebohongan yang kubuat benar-benar merendahkan harga diriku. Kalau biasanya orang berbohong untuk menutupi keburukannya, aku malah mengarang sebuah keburukan untuk menutupi kesempurnaanku. Nasi sudah menjadi bubur, Keenan. Kau tidak bisa menyangkalnya lagi,' gumam Keenan yang kini memilih untuk memasukkan ponsel mahal miliknya yang sebenarnya dibeli dari uangnya sendiri. "Iya ... iya, aku tahu itu. Jadi, tidak perlu mengungkitnya lagi. Itu kejahatan yang pertama dan terakhir. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Kamu tenang saja, Freya. Aku pun minta maaf karena membuatmu ikut menanggung karma yang saat ini kujalani. Sepertinya Tuhan khusus memilihmu untuk menjadikanku manusia yang lebih baik. Jadi, buat aku menjadi orang yang lebih baik dengan kebaikan dan ketulusanmu." Freya awalnya menampilkan wajah masam karena masih merasa sangat kesal. Namun, ia yang melihat wajah sosok pria di hadapannya tersebut terlihat jelas menyesal, sehingga membuatnya merasa tidak tega. Apalagi ia tahu bahwa Tuhan akan mengampuni dosa umatnya yang mau bertaubat. Sementara ia hanya manusia biasa yang berkewajiban untuk memaafkan dan menolong orang membutuhkan. "Hanya kamu sendiri yang bisa merubah semua keburukanmu, Keenan. Semua itu bermula dari niat dan hati. Bersihkan hati dan niatkan hal baik dalam apapun yang kau lakukan. Aku yakin kau tidak akan menjadi tuan muda palsu yang songong lagi. Sekarang hari mulai gelap, cepat sana balik!" Mengibaskan tangannya dan berjalan meninggalkan sosok pria yang terlihat masih enggan meninggalkan tempatnya. Ia tidak ingin membuat para tetangga sekitar berpikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya, sehingga buru-buru berjalan masuk ke dalam pintu gerbang. Namun, ia yang tiba-tiba mengingat sesuatu, menoleh ke belakang. "Keenan, apa kau berencana menipu para wanita dengan nomor palsumu itu agar dikira pria tajir dan berada di luar negeri? Cepat buang nomor itu jika kau mau berubah menjadi orang yang lebih baik." Tuduhan konyol yang sama sekali tidak benar, tetapi tidak bisa dibantah olehnya, membuat Keenan hanya menggaruk tengkuknya. Sebenarnya, ada banyak orang-orang penting yang menyimpan nomornya. Jika ia harus mengganti nomor lama, yang ada, akan menambah pekerjaannya karena harus mengabari banyak orang bahwa nomornya telah diganti. Namun, saat ia memikirkan ingin membuat Freya percaya dan melihat kebaikannya, akhirnya memilih untuk mengalah dan menganggukkan kepala. "Aku akan memakai nomor asli, Freya. Kamu tenang saja, hari ini aku akan menggantinya. Bukankah itu cukup untuk membuktikan bahwa aku bukanlah tuan muda songong seperti perkataanmu barusan?" Hanya seulas senyuman yang kini tampak dari bibir Freya saat menanggapi perkataan dari pria di depannya. Ia merasa senang saat melihat keseriusan Keenan yang benar-benar mau menuruti perintahnya. Ada kepuasan tersendiri saat ia berhasil merubah pria di hadapannya yang tadinya sangat arogan, berubah menjadi lebih baik. Ia pun mengangkat dua ibu jarinya pada Keenan dan berjalan masuk ke dalam kamar kos. Sementara itu, Keenan yang dari tadi memilih untuk menunggu sosok wanita yang diincarnya untuk menjadi calon istri masuk ke dalam, baru ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke tempat kos yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Bahkan ia kini hanya senyum-senyum sendiri saat melihat Freya tadi menyunggingkan senyuman semanis madu padanya. 'Sepertinya Freya sangat senang setelah aku menuruti perintahnya. Semoga nanti dia jatuh cinta padaku setelah sering menghabiskan waktu bersama berdua. Sepertinya aku harus gencar menunjukkan kebaikan agar dia terpesona.' Baru saja ia membuka pintu gerbang di hadapannya, bahunya ditepuk dari belakang dan seketika membuat Keenan menoleh ke belakang. Ia kini memicingkan mata dan mengamati sosok pria yang ada di hadapannya mulai dari ujung kaki hingga kepala. "Maaf, Bro. Apakah ini tempat kos pria bernama Rendi?" tanya pria dengan tubuh tinggi tegap berkulit sawo matang dan langsung bergumam sendiri di dalam hati. 'Oh ... jadi pria ini yang membuat Lani menolakku? Bahkan Lani tadi sangat berisik saat memintaku untuk menyelidiki pria ini. Sebenarnya, siapakah pria di hadapanku ini? Aku bahkan mencium aura luar biasa darinya.' To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD