04. Si Cantik Shih-tzu

2068 Words
Previous.... Kemudian Tan menghampiri Vivi. Si Bichon Frise itu tersenyum miring memamerkan smirknya. "Aku mungkin saja penerus Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni yang telah lama dinanti." Vivi berkata congkak. "Aku memberikanmu kesempatan pertama untuk melihat keajaiban dunia yang terlahir dari cakarku." Vivi menyerahkan kanvas itu pada Tan. Tan menatapnya aneh, dilihatnya hasil lukisan Vivi. "Itu adalah lukisan seorang wanita tua berkerudung, yang tengah memangku seekor pangeran anjing yang tengah tertidur karena kutukan penyihir jahat," jelas Vivi detail. "Itu adalah Mama Oh dan aku," lanjutnya bangga. Namun yang dilihat Tan adalah coretan-coretan tak jelas. Tan mendengus kesal melihatnya. Ditatapnya Vivi sengit. "Jangan pernah perlihatkan aku lukisanmu lagi. Atau, akanku bunuh kamu dengan cakar Snowie!" ancam Tan, kedua mata tajamnya berkata bahwa dia tak sedang main-main. Snowie yang namanya disebut oleh Tan pun langsung tersenyum cerita; tak peduli dalam konteks apa. Seakan ada belangi yang baru saja menyambangi isi kepalanya. "Aku siap membantu Tan membunuh Vivi!" Vivi yang mendengar itu pun menggangga tak percaya. Direbutnya kanvas tersebut dari cakar Tan, dilihatnya sekali lagi lukisan miliknya. Mata Vivi melotot tidak percaya bercampur syok. "Kenapa lukisanku tiba-tiba jadi mengerikan seperti ini?" Vivi terduduk lemas. Padahal tadi ia yakin kalau lukisannya tidak kalah menabjukkan dari lukisan Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni. Mengapa dunia tidak selalu berjalan dengan apa yang dibayangkannya. "Astaga, kenapa ada anjing di sini?" Tubuh kelima hewan itu pun seketika menegang, mereka menoleh perlahan pada sumber suara yang tepat berdiri dibelakang punggung mereka. Seorang wanita dikucir dua tengah bersedekap menatap mereka tajam. EXCHANGE SOUL'S 04. ??? Vivi menatap bosan tembok dihadapannya. Diliriknya keempat temannya yang masing-masing 2 disamping kanan; ada Mongryeong yang tengah mengupil, lalu Toben yang tengah hampir tertidur sambil berdiri. Kemudian 2 disamping kiri; ada Snowie yang tengah menggoda Tan, sedangkan Tan sendiri tengah menahan kekesalannya akibat ulah Snowie. Vivi melirik kebelakang, didapatinya si pengasuh yang tengah duduk menyilangkan kaki, sambil asyik cekikikan memelototi benda tipis persegi panjang persis seperti milik Willis. Sejak tadi, perempuan itu tidak beranjak dari sana. Merasa diperhatikan, si pengasuh memelototi Vivi. Vivi pun langsung mengalihkan pandangannya dan kembali menatap tembok dengan penuh penghayatan. Kelima hewan itu kini tengah dihukum dengan alasan: melanggar ketertiban sekolah. Alhasil, mereka dihukum dengan menatap tembok selama lima belas menit. Lima belas menit yang terasa lima belas milyar abad bagi Vivi! "Aku lelah," keluhnya, "dan juga sangat lapar dan haus." Tiba-tiba terlintas omelette gosong buatan Willis dikepala Vivi yang sialnya terlihat tampak sangat lezat saat ini. "Kapan penderitaan ini akan segera berakhir Ya Tu—" "Ehem!" deham si pengasuh yang memiliki nama Kim Hyun-Aw tersebut, membuat kelima hewan itu pun kompak menoleh padanya. "Hukuman selesai. Kembalilah ke asrama masing-masing," kata Hyun-Aw, yang bagaikan proklamasi kemerdekaan bagi kelima hewan tersebut. Kelima hewan itu saling pandang sejenak sebelum akhirnya memisahkan diri; berjalan ke asrama masing-masing. "Dan untukmu Bichon Frise." Vivi berhenti berjalan ketika mendengar jenisnya disebut. Menoleh pada si pengasuh dengan dahi berkerut binggung. "Jangan bergumam ketika tengah dihukum, saat jam pelajaran, atau saat tengah makan. Itu tidak sopan, di sini kalian tidak diajarkan kurang ajar seperti itu, paham?" Pengasuh Hyun-Aw adalah pengasuh paling killer di Pet Hight School. Hampir separuh populasi siswa di sini terlihat love and hate dengan pengasuh Hyun-Aw. Vivi menyipitkan matanya. Ia kesal diatur-atur seperti ini! "Guk! Guk!" gonggongnya dibuat segalak mungkin. Dasar jelek! "Anjing pintar, sekarang pergilah," usir Hyun-Aw. Tangannya yang bebas dari ponsel mamengibas-gibas agar ketiga anjing itu segera pergi dari hadapannya. Dengan patuh. Mereka pun pergi dari asrama kucing tersebut. Di lorong, Toben bergumam, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. "Rupanya manusia itu senang dicaci, ya?" tanyanya. Ini masih berhubungan dengan pengasuh Hyun-aw yang sempat Vivi umpati. Vivi yang mendengar itu pun memutar bola matanya malas. "Itu karena manusia tidak mengerti bahasa kita, bodoh," jawaban disertai u*****n itu berasal dari moncong si Bichon Frise. "Jika manusia mengerti, pasti kita sudah lama punah karena dijadikan sup anjing atau isian kimbab akibat terlalu sering mengumpati mereka," sahut Mongryeong mengutarakan pendapatnya. "Dan anak baik tidak akan mengumpat." Vivi dan Toben mengangguk membenarkan. Ketiga anjing itu sudah sampai di asrama anjing. Mereka tengah berjalan di koridor, suasana koridor agak lenggang saat ini, sepertinya para anjing tengah menikmati fasilitas SPA. Itu adalah rutinitas para hewan di Pet Hight School setiap sore. Vivi yang memang tidak terbiasa merasa agak sedikit asing, biasanya ia akan selalu berada dalam suasana ramai, seperti ruang latihan OXE, konser, bandara, tempat fansign, atau lokasi syuting. Vivi yang berjalan didepan kedua temannya mendapati sebuah bola merah bergambar naga menggelinding diantara kedua kaki depannya. Vivi memungut bola merah itu dengan moncongnya. Matanya melihat sekeliling guna menemukan si pemilik bola tersebut. "Bwantcu awcu meunewmukuan peumilik boula iini," seru Vivi kepada kedua temannya, namun rupanya bola itu menghalanginya untuk berbicara. Toben dan Mongryeong saling pandang kebingungan. "Vivi, bicaralah yang jelas, kami tidak mengerti," binggung Toben. Vivi yang mengerti lantas meletakkan bola merah itu. "Bantu aku menemukan pemilik bola ini," ulangnya yang terdengar lebih baik ditelinga kedua sahabatnya. Mata Mongryeong berbinar. "Apakah ini semacam dongeng Cinderella? Sang pangeran menemukan sepatu kaca tuan putri. Kemudian mereka bertemu, jatuh cinta pada pandangan pertama, menikah, lalu hidup bahagia selamanya! Namun, dalam kasusumu sepatu kaca diganti dengan bola kaca bergambar naga, iya kan Vivi?" Pikiran gila Welsi Korgi itu kembali. Vivi memutar bola matanya malas mendengar semua omong kosong Mongryeong. "Maaf, bola itu milikku," lirih sebuah suara merdu. Ketiga anjing jantan itu pun menoleh, didapatinya seekor anjing betina cantik dengan rambut bergelombang panjang yang berkilauan indah. Anjing betina berjenis Shih-tzu itu tersenyum tipis. Rambut panjangnya yang dikucir satu dengan pita merah jambu membuat penampilannya semakin manis. Toben dan Mongryeong terpesona dengan kecantikan si Shih-tzu, mereka bahkan tak berkedip dengan mulut mengangga hingga membuat liur mereka menetes. Tiba-tiba ada ribuan bunga sakura berjatuhan menimpa kepala mereka berempat, menambah kesan romantisme khayalan kedua anjing tersebut. Toben membayangkan bagaimana jika dirinya dan si cantik itu berkeliling samudera dengan kapal pesiar dan di sore hari mereka mengakhirinya dengan ciuman manis dibawah senja. Sedangkan Mongryeong membayangkan bagaimana jika dirinya bisa menikah dengan anjing secantik ini, memiliki banyak anak, tinggal dirumah sederhana, dan hidup bahagia selamanya. "Ehem!" Vivi berdeham; membuyarkan imajinasi liar kedua temannya. "Jadi bola ini milikmu? Kalau begitu, ambillah." Vivi menggelindingkan bola merah itu kapada si cantik Shih-tzu. Selama beberapa saat. Anjing Shih-tzu itu menatap lekat Vivi, sebelum akhirnya berkata, "Terima kasih." Setelah membawa bola itu dengan moncongnya, si Shih-tzu langsung pergi tanpa mempedulikan si Toy Poodle dan si Welsi Korgi yang ingin berkenalan dengannya. Toben hampir mengejar anjing cantik itu hingga sebuah suara familiar menyapa indra pendengarannya. "Darimana saja kalian?" teriak anjing Toy Poodle betina itu galak. ΘωΘ "Aku merindukan Papa," keluh Byul. Saat ini kelima anjing itu tengah menikmati fasilitas SPA yang diberikan sekolah khusus mereka. "Aku juga merindukan my Brother dan Mama Park," sedih Toben, ikut-ikutan. Menerawang langit-langit dengan pandangan sendu. "Kapan para orangtua itu akan menjenguk anak-anaknya di asrama, Ya Tuhan?" ratap Byul. “Apa mereka lupa punya kami?” Vivi memutar bola matanya malas, ia menyodorkan sebuah tablet pada kedua anjing melankolis itu. "Kata Willis, kalau rindu telepon saja." Vivi melepas masker madunya. "Kita hidup di zaman modern kalau kalian lupa." Toben dan Byul langsung berebut tablet tersebut. Selang beberapa saat mereka melakukan video Call, bukannya rindu yang terobati yang mereka peroleh, melainkan keinginan memeluk sang tuan yang tak tertahankan yang justru mereka dapatkan. "Ini semua salah Vivi!" Meokmool mengarahkan cakarnya pada tepat dimata sang Bichon Frise. "Itu benar, Vivi harus bertanggungjawab atas semua kegundahan ini," sahut Mongryeong setuju. Alih-alih tersinggung, Vivi justru tampak berpikir sejenak. "Matteo Hyung akan segera melangsungkan pernikahan." Vivi menjeda ucapannya. "Bagaimana kalau kita menghadiri pesta itu?" usulnya. Ia menatap keempat temannya, mereka menatap Vivi lekat-lekat. Hingga .... "Itu adalah ide terbaik yang pernah aku dengar seumur hidupku!" teriak Mongryeong menggema keseluruh ruangan. Hingga membuat anjing-anjing lain yang tengah menikmati SPA terusik. Menatap mereka berlima tajam. Byul meminta maaf atas ketidak nyamanan yang mereka semua rasakan. Vivi berdeham. "Bagaimana yang lain?" tanyanya memastikan. Karena untuk melakukan sesuatu yang besar, kita harus memiliki banyak bala bantuan. "Kita akan berangkat dengan mobil baruku." Byul menawarkan mobil mewahnya. "Kita perlu cemilan selama perjalanan." Meokmool menawarkan cemilan mahal yang baru dibelinya. “Aku akan membawa semua cemilanku dan Kak Hoochoo.” "Aku akan membantu kalian memilih pakaian." Toben menawarkan rancangan busana hewannya. "Dan aku akan menyumbangkan suara emasku di pesta itu." Mongryeong berencana menjadi Wendding Singer. "Karena aku adalah tuan rumah, maka bersikaplah yang baik padaku." Mendengar ucapan Vivi. Mongryeong langsung bangun dan memijat pundak Vivi. Toben yang tidak mau kalah mengambil sebungkus cemilan milik Meokmool dan menyuapinya untuk Vivi. Sedangkan Byul mengipasi Vivi dengan tiga lembar dolar. Vivi tersenyum puas. Ia jadi berandai-andai, seandainya ia adalah seorang putra mahkota, pasti semua ras anjing di dunia akan tunduk dibawah keempat kaki mungilnya. Meokmool yang melihat itu pun memutar bola matanya malas. "Kita akan mengajak Monggu, Jjanggu, dan Jjangah juga, 'kan?" tanyanya memastikan. Ketiga anjing berjenis Toy Poodle yang Meokmool sebutkan itu adalah peliharaan Kim Jong, main dancer OXE. Vivi mengangguk. "Tentu saja, semakin banyak teman semakin bagus. Kita juga akan mengajak Hoochoo, Jjareu, Tan, dan Ron." "Oke, kalau begitu sudah dipastikan kita semua akan pergi ke pestaaaa!" teriak Toben menggema keseluruh ruangan, para anjing yang berada di ruangan yang sama dengan mereka kembali menatap tajam ke arah klompok anjing itu. Byul kembali meminta maaf atas ketidak nyamanan yang mereka semua rasakan. ΘωΘ Hari ini menu makan malam para anjing konglomerat itu adalah dog food basah yang dicampur dengan dog food kering berbahan dasar daging sapi kualitas terbaik. Dengan terlatih, para anjing itu mengambil tempat dan duduk layaknya manusia. Kedua kaki depan mereka letakkan dimeja panjang di depannya, satu persatu mangkuk penuh dog food lezat dihidangkan oleh para Cheef yang khusus membuat makanan hewan untuk murid-murid Pet Hight School. Porsi disesuaikan dengan ukuran tubuh, ada pula yang mendapatkan makanan berbeda karena alergi yang dimilikinya. "Selamat makan semua," ucap salah seorang Cheef wanita yang baru saja meletakkan piring dog food untuk Vivi. "Guk. Guk. Guk," balas Vivi dan teman-temannya yang semeja sebagai ungkapan terima kasih dan rasa syukur. Setelah itu, Cheef tersebut pergi dan membiarkan anjing-anjing itu mulai menikmati makan malam. Para Cheef itu akan kembali lagi sekitar setengah jam kemudian untuk membersihkan sisa makanan. "Ini sangat lezat, tetapi kenapa Toben tidak memakan dog food-nya?" tanya Byul bingung. Yorkshire Terrier itu sejak tadi memperhatikan Toben yang terus diam dengan dunianya sendiri sambil senyum-senyum. Byul jadi khawatir akan kesehatan mental Toben, pasalnya Toben adalah anjing yang memiliki nafsu makan tinggi dan selalu bersemangat. Namun sekarang, ia bahkan terlihat seperti patung anjing bodoh dan tidak mengendus makanannya sedikit pun. "Jika Toben tidak menginginkannya, berikan saja padaku," kata Vivi, "membuang-buang makanan itu dosa besar. Tuhan akan murka dan melemparkan kita ke neraka, diluar sana banyak anjing kelaparan, kita patutnya bersyukur." Byul dan Meokmool cengo mendengar kata-kata itu keluar dari moncong Vivi. Lantas kedua anjing betina itu kompak bertepuk tangan untuk Vivi. Seketika ... Cafetaria Pet High School berubah menjadi ruang persidangan PBB. Vivi berdiri dihadapan pemimpin bangsa-bangsa dengan mengenakan setelan jas formal dan kacamata hitam. Disampingnya, terdapat Toben dan Mongryeong yang menjadi pengawal pribadinya. Semua pemimpin dunia menghormati dan menyeganinya dan seluruh anjing betina di dunia ingin menjadi haremnya. Pletak! Tiba-tiba dunia kembali ke Cafetaria; didepan mata Vivi banyak anjing yang tengah makan. Sudah cukup Vivi mengkhayal, jidatnya sakit sekali karena jitakan Meokmool. "Aku bisa saja gagar otak, atau lebih parahnya lagi wajah tampanku jadi cacat karena pukulan kejammu itu!" marah Vivi sengit. Ditatapnya Toy Poodle betina itu geram. "Makanya jangan suka mengkhayal." Meokmool berujar santai. Sama sekali tidak peduli dengan tatapan kesal si Bichon Frise. Tidak menghiraukan pertengkaran kedua temannya. Toben mengendus bau anjing betina Shih-tzu yang ditemuinya tadi sore, langsung saja Toben mengikuti bau tersebut dan keluar dari Cafetaria tanpa sepatah kata pun pada teman-temannya. Vivi, Meokmool, Byul, dan Mongryeong terkejut akan aksi Toben yang tiba-tiba. "Habiskan dulu makanannya, baru menyusul Toben," pesan Byul ketika teman-temannya akan menyusul lanjutnya Toben padahal masih banyak dog food tersisa dimangkuk mereka. Ketiga anjing itu pun menuruti perintah Byul; menghabiskan makanan. Sebagai yang tertua, ucapan Byul sangat mereka patuhi. Sepiring dog food penuh itu mereka habiskan dalam dua menit, keempat anjing itu pun langsung turun dari kursi, menyusul Toben, sebelum anjing Toy Poodle itu membuat kekacauan. Meokmool yang sudah sampai di ambang pintu keluar kembali ke meja mereka dan membawa piring dog food milik Toben yang belum tersentuh itu dengan moncongnya. Kemudian ia menyusul ketiga temannya dengan susah payah; karena harus menyeret piring dog food milik Toben. ΘωΘ To Be Continued....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD