Part 9

1016 Words
Kristal menoleh dengan cepat saat seseorang mencekal lengannya, netranya bergetar saat menemukan wajah yang dirindukannya itu dibawah cahaya tamaram itu. Dunia seolah berputar disekitarnya, pria yang semakin terlihat panas sejak terakhir kali ia melihatnya menajamkan tatapannya marah. "A-" Nafas yang terengah, debaran yang menggila membuat leher Kristal seolah tercekik tangan tak kasat mata. Mencoba mengelak ilusi dari kedua matanya yang mungkin sedang membohonginya. Meraba kesadarannya. Kristal menepis cekalan dilengannya dengan kasar, membuang tatapannya lalu berlari dalam pelukan Yse yang baru saja tiba membelah lautan manusia dan mulai mengerti situasi yang terjadi diantara mereka dan melemparkan tatapan peringatan pada Andra. "Sorry but Kristal bareng gue." "Siapa?" Yse membalas pelukan tubuh yang masih bergetar hebat dalam pelukannya saat merasakan remasan kuat Kristal dikemejanya. "Gue pacaranya, ada masalah?" Yse menaikkan alisnya, pria dewasa yang tampak begitu maskulin itu jelas terlihat tidak ingin melepaskannya. Sayangnya, Yse tidak peduli. Berlalu tanpa kata dari sana, masih dengan Kristal dalam pelukannya yang terlihat benar benar tidak ingin sekedar menatap Pria yang masih terdiam ditempatnya. Mengekori mereka meninggalkan ruangan tamaran dengan suara bedebum keras itu dengan tatatapan tajam menusuknya, menahan kepalan tangan disakunya yang seolah siap menghantam Yse kapan saja. "So?" Sentuhan lembut jemari lentik dilangannya mengambil alih kesadaran Andra, menatap gadis cantik dengan gaun biru malam yang tampak begitu mempesona dengan rambut hitam panjang dipunggungnya. "Itu dia?" "Ayo, pulang." Gadis cantik itu tertawa dengan anggun, mengelus lengan Andra lalu berbisik rendah dengan bibir penuhnya yang sensual. "Aku bisa menunggu kalau kamu mau mengejar mereka." "Tidak perlu, kita pulang." Sahutnya melepas tangan tangan liar itu dari tubuhnya, kembali ke meja meraka hanya untuk mengambil jas yang masih tersampir dilengan sofa. "Aku bisa pulang sendiri." "Kita pulang, aku antar." "Please?" "Naina." Gadis itu menarik senyuman penuh arti, menatap genggaman tangan lebar dijemarinya itu penuh kemenangan lalu tanpa ragu memeluk lengan Andra. Melangkah beriringan, meninggalkan ruangan yang dipenuhi tatapan liar kelaparan yang masih saja mengekori mereka menuju pelataran. Tanpa tahu. Jika Kristal masih disana, masih berusaha menenangkan dirinya dengan tatapan dingin kearah Pria yang sangat dirindukannya lagi lagi dalam pelukan wanita lain bahkan membuka pintu mobil untuknya sebelum akhirnya benar benar meninggalkan tempat itu dengan mobil mewahnya. Hening yang panjang. Yse yang ingin menanyakan banyak hal bahkan Inggrid yang ingin melayangkan beribu sumpah serapah memilih diam dibalik kemudi, menunggu Kristal menarik nafasnya dalam dalam lalu membuka suaranya dengan tenang. "Kita pulang." Mereka akhirnya memilih pulang, disepanjang jalan Kristal hanya memejamkan mata dan Yse membungkam mulutnya di kursi belakang sementara Inggrid masih saja berusaha keras menahan makiannya dibalik kemudi. Bagaimanapun, Pertemuan tak terduga baru saja benar benar mengguncang seorang Kristal yang sialnya masih terlihat baik baik saja, itu jelas bukan sesuatu yang bagus mengingat apa yang telah terjadi diantara mereka. Saat mobil mewah itu akhirnya berhenti didepan sebuah mansion mewah, Yse turun dan mengetuk kaca jendela mobil yang segera terbuka. Menunduk dan manatap Kristal tepat dimatanya, ingin membuka suara namun tahu denganjelas semuanya hanya akan menjadi rangkaian kata tak berarti ditelinga gadis itu dan memilih mngusap kepalanya dengan lembut. "Good night, hati hati yah." "Ya, makasih buat malam ini." Kristal melemparkan senyum kecilnya, Yse mengangguk lalu melempar tatapannya pada Inggrid. "Mobilnya ga usah dibalikin, nanti biar sopir gue yang ambil." "Iyee, thanks sebelumnya." "Oke, see you ladies!" Mobil itu akhirnya melaju meninggalkan Yse yang masih berdiri mematung ditempatnya, merasakan hembusan angin malam dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya. Jadi. Itu pria yang sudah mencuri tawa seorang Kristal selama ini? ** "Kristal!" "Kristal!!" "Kristal!!!" Inggrid yang menggedor pintu kamar mandi akhirnya mengambil kunci cadangan dan menorobos masuk, menemukan Kristal yang berdiri mematung dibawah pancuran air dingin sedang menggenggam kalung berbandul cincin didadanya "Lo gila yah!?" Gadis itu akhirnya menyadari teriakan Inggrid saat mematikan air, menarik handuk dan segera membungkus tubuh memucat Kristal lalu menariknya keluar. "Lo bisa pake baju sendiri kan?" Gadis itu mengerjap sekali lalu menatap baju tidur dan pakaian dalam baru serta minyak kayu putih diatas ranjang Inggrid. "Tadi Mama lo nelpon, jadi gue bilang kalau lo udah tidur." "Iya, makasih." Sahut Kristal nyaris tak terdengar, mulai mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaian sementara pemilik Apartemen itu keluar dari kamar dan kembali masuk dengan pengering rambut ditangannya. "Duduk." "Gue-" "Gue bilang duduk, ga usah banyak bacod gue mau tidur!" Inggrid mendudukkan gadis itu, mulai mengeringkan rambut Kristal yang membuka botol minyak kayu putih ditanganya. Tak ada yang membuka suara. Yang terdengar hanya suara mesin pengering rambut memenuhi kamar yang didominasi warna navy biru itu. "Udah, tidur sana!" "Makasih." "Ga usah makasih, tidur aja gih!" Kristal bergegas bangkit, memilih menurut dan mulai bergelung dibalik selimut berusahaa meredam rongga dadanya yang kembali menggila saat mengingat pertemuannya beberapa saat lalu. Pria itu. Andra. Memejamkan mata, diam diam mengigit bibir dalamnya. Mengingat ucapan pria itu saat pertemuan terakhir mereka, tiga tahun lalu diapartemennya malam itu. Katanya akan menunggu Kristal, nyatanya pria itu selalu saja bersama perempuan lain. "b******k!" "Lah, gue bilangin tidur!" Inggrid yang baru saja berbaring di sampingnya melempar bantal, mengira Kristal sudah tertidur sebelum tiba tiba mengumpat. "Hm." Kristal merapatkan selimutnya, meringkuk memunggungi Inggrid dan kembali berkelana dengan isi kepala dan rongga d**a yang kembali berdebar menyesakkan Bagaimanapun. Sebesar apapun Kristal merindu, ia masih terlalu takut membiarkan pria itu kembali dalam hidupnya. Terlalu takut jika pria itu lagi lagi hanya akan singgah dan kembali meninggalkannya. "It's oke, gue disini ko." Kristal mengulum bibirnya, menahan isakannya saat merasakan usapan lembut inggrid dikepalanya. Menangis dalam diam. Diantara heningnya malam. Kristal akhirnya tertidur dengan mata sembab, meninggalkan Inggrid yang akhirnya terduduk menghela nafas dengan berat karna pada akhirnya tak bisa tertidur hingga cahaya matahari tampak malu malu menyelinap masuk kekamarnya dari balik tirai jendela. Sedikit banyak mengerti dilema yang sedang terjadi pada gadis yang seolah kehilangan dirinya ditahun tahun terakhir ini. Tepat saat Inggrid merapihkan selimut Kristal, ponsel milik gadis itu bergetar diatas nakas. Panggilan masuk memenuhi layar datar itu, seolah mengalami deja vu Inggrid nyaris menjerit dengan jemari bergetar. "Anjing!" Membekap mulutnya, Inggrid membaca pesan masuk di ponsel Kristal berulang ulang. Berusaha meyakinkan matanya yang masih melebar tak percaya, menelan ludah susah payah Inggrid kembali membaca pesan di ponsel Kristal. Andra Kamu dimana? Kamu tidak ada dirumah. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD