Part 7

983 Words
Kristal nyaris mendorong pintu ruang tunggu dihadapannya sebelum menghentikan langkahnya tiba tiba, menoleh pada Inggrid yang sejak tadi mengekorinya dengan alis terangkat kebingungan melihat tingkah Kristal yang tak biasa. "Kenapa lo?" "Gue butuh Privacy?" Inggrid mengerjapkan matanya sekali lalu mengangguk cepat. "Oh, Sorry. Gue juga ada kelas kok." "Gue yang Sorry." "Ha?" "Makasih sebelumnya." Meninggalkan Inggrid yang kebingungan, Kristal akhirnya membuka pintu dihadapannya. Suara lembut yang terdengar tak asing namun dirindukannya itu mulai memenuhi telanganya, memacu rongga dadanya yang mulai berdebar. Menggila saat tatapannya jatuh pada seorang wanita paruh baya yang duduk disalah satu sofa, menggurutu pada pria paruh bayah yang hanya menunjukkan cengiran khasnya. "Mang Sule sih, Ah!" "Maaf Nya." "Awas aja yah kalau kita ketahuan!" Mang Sule akhirnya tak lagi bersuara saat tatapannya lebih dulu menemukan Kristal yang membeku ditempatnnya, kehilangan kata kata saat tatapannya bertemu dengan sepasang mata biru wanita yang masih terlihat anggun dengan rambut pirang mencoloknya. "Kristal!!?" Wanita itu berdiri dengan cepat, matanya mulai berkaca kaca begitu antusias saat menghampiri Kristal dan membawanya dalam pelukan penuh kerinduan yang tak terbantahkan. "Mommy kangen banget, sayang!" Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh yang bergetar dalam rengkuhannya mulai membalas pelukannya. "Kristal juga, Tan." Wanita paruh bayah itu melepaskan pelukannya dan melemparkan tatapan protes "Mom, Mommy!" "Tapikan-" "Diluar hubungan kamu sama Andra, kamu harus tetep manggil Mom!" "Tapi-" "Ga ada tapi tapi, ayo sini sini." Mom menarik Kristal menuju sofa, meringis pelan pada Mang Sule yang mengangguk penuh arti sebelum menutup ruang tunggu khusus untuk tamu penting di kampus. Bagaimanapun. Kristal menelan ludahnya susah payah, menatap jemarinya yang berada dalam genggaman erat Momnya Andra sebelum beralih pada wanita yang masih saja menatapnya lamat latmat penuh kerinduan. "Gimana kabar kamu? Orang tua kamu juga, semuanya sehat?" Suara wanita itu mulai bergetar, mata biru indahnya bahkan kini mulai berkaca kaca saat menyelipkan helaian rambut Kristal kesisi telinganya. "Semuanya sehat, Tan-Mom! Kabar suami Mom gimana?" Kristal berdehem pelan tak mampu mengelak dari tatapan peringatan Mom akan panggilannya Well, Bagaimanapun ini sudah tiga tahun berlalu dan Kristal nyaris lupa kapan terakhir kali memanggil wanita anggun ini dengan panggilan Mom, lagi pula Kristal bahkan belum bertemu dengan Daddy Andra bukan? "Daddy Andra sekarang udah sehat kok, memang masih butuh rehab tapi sekarang semuanya udah baik baik aja kok!" "Kabar Oma gimana?" "Sehat, paling lututnya aja yang sering sakit. Namanya juga orang tua, tante ajanih udah mulai sakit pinggang!" "Uhmm, yang lainnya gimana?" Mom Andra mulai menahan senyumannya, tahu jika Kristal tak akan menanyakan Andra. "Semuanya sehat kok, sekarang juga semuanya lagi ada dirumah Mom." Semuanya. Ah, berarti pria waktu itu benar benar Andra? Tapi. Kenapa pria itu tak menemuinya? Kristal tanpa sadar meremas jemarinya yang masih berada dalam genggaman Mom Andra yang seolah tahu apa yang sedang berkelana dikepalanya. "Lagi mikirin Andra, yah?" "Iy- Engga ko Mom!" "Hayoo, ngakuu! Kamu pasti kangen kan?" Kristal menggelengkan kepalanya dengan cepat sayangnya rona merah dipipinya sekarang mulai menghianatinya. Brengsek. Kan malu! "Tan-Mom, kalau boleh tau ada urusan apa disini yah?" Mom Andra menekuk wajahnya, melemparkan tatapan protes pada Kristal. "Mom kangen, emangnya ga boleh ketemu kamu kalau lagi kangen?" "Bukan gitu, tapi-" "Oh yah, kamu bisa kan makan siang sama Mom hari ini?" Kristal mengerjap sekali, menarik jemarinya dari genggaman tangan Mom Andra lalu melemparkan senyuman rasa bersalah. "Maaf, Mom. Kristal ada kelas hari ini." Mom terlihat kecewa namun memilih menyerah dan mengeluarkan ponselnya dari tas mahal yang senada dengan dressnya lalu menulirkannya pada Krostal. "Tante minta nomer kamu dong." Kristal menelan ludah susah payah, tahu jika setelah ini Mom Andra mungkin tak hanya sekedar akan menemuinya untuk makan siang tapi bahkan mengunjungi rumah dan menemui anggota keluarganya. Termasuk Andra. Kristal menerima ponsel ditangannya, merasakan debaran jantungnya yang menggila saat menyimpan nomor ponselnya disana dengan kecemasan luar biasa yang memenuhi kepalanya. Kristal belum siap. Belum siap bertemu dengan Andra karna ia bahkan tak tahu harus menunjukkan emosi atau melakukan apa saat bertemu dengan pria itu. Bahkan saat Mom akhirnya berpamitan dengan pelukan hangat yang diakhiri ciuman manis dikedua pipinya, Kristal masih saja berdiri mematung di pelataran kampusnya. Menyentuh dadanya yang menggila dengan jemari bergetar lalu meluruh memeluk lututnya menyembunyikan wajahnya disana. Kristal tahu. Hatinya merindu. Namun kepalanya tak mampu berhenti memikirkan segala kemungkinan yang membuatnya semakin ketakutan. Hari itu. Saat Kristal menginjakkan kakinya untuk terakhir kalinya di Apartemen Andra, saat mereka mengakhiri semuanya. Kristal bahkan mengancam Pria itu akan bersenang senang dan membuatnya menyesal dengan keputusannya. Namun yang terjadi Kristal hanya merindu, mencemaskan Andra yang harus menggantikan posisi Daddy yang sedang kritis waktu itu tepat saat mereka baru saja terluka. Lalu. Kristal menarik nafasnya dalam dalam, teringat malam saat ia melihat Andra membawa seorang wanita cantik dalam rangkulannya disebuah restauran mewah semalam. "b******k!" "Oh, sorry. Gue ganggu yah?" Kristal mengangkat wajahnya, seolah merasakan deja vu saat menatap sepasang sepatu yang berdiri dihadapannya lalu mendongak menemukan sepasang mata indah milik Yse yang tak elak membuatnya kecewa. Sialan. Apa Kristal baru saja sedang berharap jika itu Andra? "Yse?" "Iya, Kristal." Pria itu melemparkan senyuman manisnya, menarik tangan Kristal yang mengulurkan tangannya untuk bergegas bangkit. "Lo mau main ga?" "Ha?" Yse tampak kebingungan, meskipun cukup cemas mengingat saat ia terakhir kali meninggalkan Kristal malam itu saat ini dimatanya hanya seorang gadis yang barus saja mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Apa yang sedang terjadi? Gadis penuh dinding tak kasat mata yang selalu ada disekelilingnya itu tak terlihat hari ini, hanya ada seorang Kristal yang ia temui pertama kali saat gadis itu masih duduk dibangku sekolah menengah bersama teman temannya. "Lo kosong ga?" "Malam ini?" "Malam ini." "Yas!" Yse menyahut dengan semangat, setengah berlari mengekori Kristal yang segera berlalu menuju koridor. Apapun yang sedang gadis itu rencanakan. Yse tak lagi peduli. Kristal yang terlihat lebih manusiawi akan selalu terlihat lebih menyenangkan dan Yse bahkan tak mampu mengingkari debaran di rongga dadanya yang selau saja begitu antusias jika itu tentang seorang Kristal Arabella Damian. Ah, Yse tidak sedang jatuh cinta bukan? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD