🚫Spoiler episode mendatang🚫
Enthy Games ke-43 (menatap gagang pintu rumahnya. Tangannya gemetar hebat, seolah tak sanggup menyentuhnya) :
“Empat puluh tiga…”
“Dan aku… baru pertama kali merasakan ketakutan seperti itu.”
Enthy Games ke-43 (ia mengingat kembali teriakannya sendiri) :
“Aku tidak mau mati…”
Enthy Games ke-43 (ia menelan ludah. Wajahnya menyandar pada pintu, air mata mengalir tanpa suara) :
“...Aku tidak mau…”
Enthy Games ke-43 (ia menatap tangan kanannya, tangannya gemetar hebat, kata-katanya hampir tidak jelas) :
“T-tangan… aku…”
“K-kehilangan… tiga ruas… jari…”
GLITCH–
Tiba-tiba pandangan Enthy menjadi gelap.
Seperti masuk kedalam dunia lain.
Enthy Games ke-14 (menatap Enthy dari belakang, tanpa ekpresi) :
“Kalau begitu.”
“Seribu permainan yang kamu janjikan itu untuk apa?”
Enthy Games ke-43(terduduk, tidak menatap dirinya yang muda) :
“… Aku hanya beruntung…”
“... Memangnya kau tahu apa tentang aku…?”
Enthy Games ke-43(menatap tangan yang gemetar, mengingat kembali semua peristiwa yang pernah ia alami) :
“... Semua ini…”
Sunyi.
[]𝐷𝑒𝑎𝑡ℎ 𝐺𝑎𝑚𝑒𝑠 - From One to One Thousand Survivals[]
Episode 0: Rumah hantu - Games 40
Genre :[[>Psychological Horor, Mystery, Fantasy<]]
[Fragmen 0/11]
Perekam video tidak dikenal (napas terengah, kamera goyang karena terlalu semangat):
“Kalian lihat tadi!?”
“Anggota Villain Lumen Stars keren banget!”
“Terutama Ciestte!!”
(Ia mendekatkan kamera ke wajahnya sendiri, mata berbinar)
Komentar video:
“Iya! Keren parah!!”
↳ “Lumen Stars memang beda!”
(Komentar lainnya.)
“Ayla hari ini cantik banget… tapi tetap dingin.”
↳ “Bukan cuma Ayla.”
↳ “Miho, Athena, Lyrian, Ciestte, dan Cia juga.”
↳ “Rezernty nggak dianggap lagi… wkwk.”
(Komentar lainnya.)
“Haha… Villain malah melindungi rakyat dari monster.”
“Hero-nya justru bikin rakyat sengsara.”
↳ “Fakta.”
↳ “Real.”
Penyiar TV memperlihatkan video itu kepada para penonton.
Penyiar TV (senyum profesionalnya sedikit kaku, jari menekan kartu skrip terlalu kuat):
“Para Villain kini lebih populer dibanding para Hero.”
(Pupil matanya bergerak cepat, seperti takut kamera menangkap sesuatu)
“Sejak dunia dilanda kekacauan dan monster bermunculan…”
Penyiar TV (menelan ludah tipis, bahunya menegang):
“Manusia dari dunia lain datang dengan kekuatan sihir.”
(Jeda sepersekian detik)
“Sebagian dari mereka menjadi Villain… dan menghancurkan kehidupan.”
Penyiar TV (tatapan turun sepersekian detik sebelum kembali ke kamera):
“Namun ketika para Hero masuk ke sistem pemerintahan dunia…”
“Mereka tidak berbeda dengan para Villain.”
Penyiar TV (senyum tetap terpasang, tapi ujung jarinya memutih karena terlalu menekan kartu skrip):
“Berbeda dengan Villain Lumen Stars.”
(Pupilnya menyempit sepersekian detik, seolah menerima instruksi lewat earpiece.)
“Mereka memburu monster, menumpas Villain lain…”
“dan melindungi masyarakat.”
CRITT
TV dimatikan.
Enthy (menatap layar hitam terlalu lama, seolah menunggu pantulannya berkedip duluan):
“...”
Enthy (duduk tanpa benar-benar bersandar):
“...Aku selalu masuk ke dunia bawah.”
“Untuk memainkan 'Games' kematian.”
(Pandangan lurus ke depan. Tidak fokus pada apa pun.)
“Tanpa sihir.”
Enthy (Jari-jarinya mengetuk meja satu kali. Tidak sadar) :
“Di dalam… Death Games.”
“Sihir akan disegel.”
Tok… Tok…
Ketukan itu pelan. Terukur. Seolah sudah tahu pintu ini akan terbuka.
Enthy berjalan menuju pintu. Tangannya memutar gagang tanpa ragu.
Di luar berdiri seorang perempuan.
Qiura.
Agen ‘Death Games’.
Orang pertama yang pernah menawarkan permainan itu padanya.
Dan kini… ia datang untuk yang ke-40 kalinya.
Enthy (bingung, alisnya sedikit terangkat) :
“Huh?”
Qiura (mengeluarkan ponsel lalu mengarahkan kamera ke Enthy):
“Kau tidak pernah terlambat.”
(Jeda.)
“Mari kita mulai apa yang kita bicarakan kemarin.”
Enthy (wajahnya mengerut, kata-katanya terpotong oleh Qiura) :
“Sekarang–?!”
Qiura (ponsel di tangannya terangkat setinggi wajah Enthy, alisnya sedikit terangkat seperti sutradara yang sedang menunggu aktor mulai):
“Mulai.”
(Jeda.)
“Sudah aku rekam.”
Enthy (tatapannya lurus ke kamera tanpa berkedip):
“Namaku Enthy.”
(Jeda.)
“Asal katanya dari ‘inspirasi ilahi’ meski aku tidak percaya tuhan atau ‘penuh dengan semangat’ jadi itulah kenapa aku sangat bersemangat.”
Enthy (senyum sedikit, tapi senyum itu pudar seketika) :
“Jadinya Enthy.”
Enthy (Ia menelan ludah kecil) :
“Sudah ke-39 kalinya aku menyelesaikan game.”
Enthy (memiringkan kepala sedikit) :
“Aku juga sudah melewati tembok 'Games' ke-30.”
(Napasnya keluar pelan.)
“Sebentar lagi ke-50.”
Enthy (menarik napas pelan, jemarinya saling menggosok tanpa sadar):
“Awalnya…”
“Aku hanya ingin uang.”
Ia tidak berbicara selama beberapa detik.
Lalu lanjut berbicara.
Enthy (tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya):
“Aku sangat miskin.”
Enthy (mengangkat kembali pandangannya ke kamera, wajahnya datar):
“Ketika aku direkrut oleh manajemen… aku memutuskan untuk ikut.”
Tidak berbicara lagi, kali ini lebih lama.
Kemudian lanjut berbicara.
Enthy (menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan):
“Iya.”
(Jeda.)
“Setelah beberapa kali…”
“Aku sudah punya cukup banyak uang.”
Enthy (bahunya naik sedikit, seperti orang yang sedang mengakui sesuatu yang aneh):
“Tapi aku tidak berniat berhenti bermain.”
Enthy (sudut bibirnya naik sedikit, seolah sedang menguji kata-kata yang ia ucapkan):
“Aku berpikir…”
“Mungkin aku bisa terus melakukan ini.”
Enthy (menatap kamera tanpa berkedip):
“Permainan yang mempertaruhkan nyawa…”
(Jeda.)
“…setidaknya itu membuatku merasa lebih hidup.”
Enthy (menoleh ke arah mobil di belakang Qiura):
“Kalau aku terus bermain…”
“Mungkin suatu hari aku akan mati.”
Enthy (menoleh kembali ke kamera, ekspresinya tenang):
“Tapi saat itu…”
“Mungkin aku akan menjadi hantu.”
Enthy (tersenyum kecil, hampir seperti lelucon pribadi):
“Aku tidak masalah dengan itu.”
Klik!
Qiura selesai merekam.
Enthy (menghela napas) :
“Huh…”
“Sudah diselesaikan?”
Qiura (melihat video barusan) :
“Aku rasa ini sudah cukup.”
Enthy berjalan ke arah mobil.
Enthy (tangannya sudah menggenggam gagang pintu, seperti tak ingin ada percakapan lebih lanjut):
“Kita sudah tidak punya alasan untuk menunggu.”
Mereka masuk ke dalam mobil hitam tanpa percakapan lebih lanjut.
Mesin menyala tanpa suara berlebih.
Mobil melaju menembus jalan malam. Lampu kota mengalir seperti garis cahaya di kaca jendela.
Enthy duduk bersandar sekarang, satu tangannya menopang dagu.
'Games' ke-40 menunggunya.
Enthy (mengeluarkan ponsel di saku celananya, menatap ponsel miliknya lalu sedikit melirik Qiura dengan alis sedikit terangkat):
“Hantu selalu dikaitkan dengan ilalang.”
Enthy (menghembuskan napas pendek) :
“Bukankah itu terlalu klise?”
Qiura tidak menoleh.
Tangannya tetap di setir, matanya fokus ke jalan di depan.
Qiura (menghela napas kecil, satu jarinya mengetuk setir):
“Aku bahkan belum memberitahumu nama 'Games' berikutnya.”
Qiura (sudut bibirnya naik tipis, seperti seseorang yang tahu rahasia kecil):
“Sepertinya…”
“Rumah hantu.”
Qiura (menatap kaca spion, bukan ke Enthy):
“Itu pilmu yang empat puluh.”
(Jeda)
“Apa kau tidak pernah berpikir untuk berhenti?”
Enthy (menjawab terlalu cepat. Tidak berkedip):
“Tidak.”
Qiura menggenggam kemudi lebih erat. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak jadi.
Qiura terdiam cukup lama, lalu dia bicara kembali.
Qiura (menghela napas tipis, jari-jarinya mengetuk setir dua kali):
“Orang biasanya berhenti setelah yang ketiga.”
Enthy (menjawab terlalu cepat, jarinya berhenti mengetuk paha tepat setelah kata terakhir):
“Aku tidak bermain untuk bertahan.”
(Jeda, bahunya turun setengah senti)
“Aku bermain untuk mencapai akhir.”
Qiura (tatapan masih di jalan, ibu jarinya mengusap setir berulang kali):
“Akhir seperti apa?”
(Suaranya datar. Tapi pertanyaannya terlalu personal untuk disebut prosedural.)
Enthy menatap ke luar jendela.
Mobil mereka masuk ke dalam sebuah portal. Portal itu mengeluarkan mobil mereka lalu keluar di dunia bawah.
Lalu.
Lampu-lampu bawah tanah melintas seperti garis waktu yang patah.
Enthy (tatapannya ke luar jendela, refleksinya terpotong lampu-lampu kota):
“Sampai seribu kali.”
(Jeda.)
“Baru selesai.”
Qiura (hampir tidak terdengar) :
“... Begitu.”
Enthy menatap pil kecil di telapak tangannya.
Tidak berwarna.
Tidak berbau.
Tidak istimewa.
Hanya pil tidur.
[]Batin Enthy[]
“Namun semua pemain tahu.”
“Ini adalah gerbang untuk pemindahan jiwa.”
Enthy memasukkannya ke dalam mulut.
Kemudian membuka botol air dengan satu tangan.
Tegukan pertama terlalu besar.
Air hampir tumpah dari sudut bibirnya.
Ia menelan dengan susah payah.
Kelopak matanya turun—
bukan karena lelah,
tapi seperti sesuatu yang menariknya dari dalam.
Kelopak mata Enthy mulai turun.
Ia memaksa matanya tetap terbuka.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tapi rasa kantuk itu seperti ombak.
Datang lagi.
Lebih berat.
[]Enthy – Narator[]
“Dia bisa saja menolak.”
“Atau melawannya.”
(Jeda.)
“Tapi tiga puluh sembilan kali.”
“Enthy sudah mencoba melawan tiga puluh sembilan kali.”
“Dan tidak pernah berhasil.”
Kelopak mata Enthy akhirnya menyerah.
Tubuhnya perlahan tenggelam ke kursi penumpang.
Napasnya menjadi dalam.
Berat.
Qiura meliriknya dari sudut mata.
Mobil terus melaju.
Suara mesin bawah tanah memudar lebih dulu.
Lalu tekanan udara di telinga menghilang.
Tubuhnya terasa ringan… seolah beratnya sedang dikurangi sedikit demi sedikit.
Para pemain memang benar-benar “tidur”.
Lalu jiwa mereka akan dipindahkan dari tubuh asli.
Tubuh asli disimpan dalam kondisi stabil oleh Agennya.
Sementara jiwa pemain dipindahkan ke media buatan:
‘Avatar’
Boneka biologis sintetis yang dirancang oleh para arsitek Death Games.
‘Avatar’ mampu merasakan suhu, tekanan, rasa sakit, dan kelelahan.
Cukup nyata untuk bertahan hidup.
Cukup palsu untuk diganti.
Kerusakan pada ‘Avatar’ tidak memengaruhi tubuh asli.
Namun—
jika ‘Avatar’ mati, sinkronisasi kesadaran akan terputus.
Dan tubuh asli…
akan ikut mati.
[Layar hitam]
[To be continued]