Episode 1.0

4061 Words
[]𝐷𝑒𝑎𝑡ℎ 𝐺𝑎𝑚𝑒𝑠 - From One to One Thousand Survivals[] Episode 1.0: Rumah hantu - Games 40 Genre :[[>Psychological Horor, Mystery, Fantasy<]] [Fragmen 1/11] Beberapa saat kemudian. Sinkronisasi dengan ‘Avatar’ selesai. “Halo—halo—halo—halo—” Suara itu tidak menggema. Ia tidak memantul. Ia hanya… ada. Berulang. Seperti rekaman rusak yang dipaksa hidup di dalam kepala Enthy. Enthy (membuka mata perlahan, tidak langsung fokus, seperti sedang memastikan dirinya masih “ada”): “…Halo.” Lantai terasa dingin. Dingin yang nyata. Terlalu nyata untuk disebut ilusi. Ia bangkit. Enthy (menatap langit-langit ruangan yang bersih seperti bukan rumah hantu): “...” Enthy (memegang kain pakaiannya) : “...” “... Sekarang pakaian Maid.” Di tengah ruang— Enthy (menoleh ke layar hitam yang menggantung) “Itu?” “Tidak seperti biasanya, kenapa?” “Biasanya tidak ada.” Tulisan merah di layar hitam yang menggantung. ⇨ ‘Death Games’ Enthy (sedikit memiringkan kepala) : “Baiklah.” Enthy (menarik napas dalam-dalam) : “Stttt…” Tidak panik. Tidak takut. Enthy (menghembuskan napas perlahan): “Huuussshhh…” []Batin Enthy[] “Aku selalu melakukan ini setiap memulai ‘Death Games’.” Enthy berjalan ke arah pintu. Enthy (memegang gagang pintu, kemudian membukanya) : “...” Di luar ruangan setelah dia terbangun. Ada banyak ruangan dengan pintu tertutup. Di salah satu ruangan. Di dapur. Dapur itu terlalu besar untuk disebut dapur. Ada banner Villain Lumen Stars yang sangat besar. Langit-langit tinggi. Balok kayu tua. Perapian batu masih menyala redup, padahal tidak ada yang menyalakannya. Bau logam. Bukan darah. Tapi cukup untuk membuat tenggorokan terasa pahit. Ada enam gadis di dalamnya. Semuanya memakai pakaian maid. Toami (duduk di lantai, menangis) : “Uwaa!” “Kita dimana!?” (Bahunya bergetar.) “Apakah ini penculikan?” Wacha (berlutut di sampingnya, mencoba menenangkan—tangannya gemetar) : “Tenanglah ambil napasmu.” Neuro berdiri dekat meja panjang kayu dan biskuit tersedia di atas meja. Menatap Toami yang terus menangis. []Batin Neuro[] “Dia menangis seperti anak kecil meskipun dia sudah dewasa.” (Jeda pendek.) “Haruskah aku ikut menenangkannya?” Rarasa duduk di kursi kayu tua. Diam. Terlalu diam. Tatapannya tidak mengikuti suara. []Batin Rarasa[] “Aku takut…” Ilsa (mondar-mandir, langkahnya cepat, tidak teratur, seperti mencoba melarikan diri tanpa tahu ke mana) : “Belum terjadi apa-apa di sini, tapi ada 7 kursi di sini.” Alisa (menatap pintu masuk) : “Hmmp.” KEEEKKK— Pintu kayu berat itu terbuka. Semua kepala menoleh. Enthy berdiri di ambang pintu kayu itu. Tidak tergesa. Tidak terkejut. Enthy (berdiri tanpa melangkah lebih jauh, matanya menyapu ruangan seperti menghitung potensi ancaman): "Halo.” Suara itu jatuh begitu saja. Tidak meminta jawaban. Ilsa yang mondar-mandir mulai berhenti. Toami yang menangis tersedak. Meski sudah ditenangkan oleh Wacha di dekatnya. Rarasa yang diam hanya menatap kosong. Alisa yang tadi terus menatap pintu masuk, kini matanya tertuju pada Enthy. Neuro yang berdiri di dekat meja panjang mulai membuka mulutnya terlebih dahulu sebelum orang lain bicara. Neuro (bahunya sedikit terangkat, seperti ragu untuk berbicara): “Ha—halo… kurasa.” Enthy (dagunya sedikit terangkat, matanya berhenti sepersekian detik di tiap wajah seperti ingin mengingat wajah-wajah itu): “Apa aku yang terakhir datang?” []Batin Enthy[] “Aku selalu terbangun paling akhir.” “Bukan karena lambat.” “Tapi karena hanya kebiasaan… untuk terbangun paling akhir.” (Jeda) “Di rumah, aku tidak pernah benar-benar tidur.” Neuro (mengangguk pelan, tapi matanya tidak benar-benar fokus pada Enthy): “Mungkin… kurasa.” Beberapa saat kemudian. Ketujuh pemain duduk di kursi yang sudah disiapkan, seperti membentuk lingkaran namun tidak sempurna. Tidak ada yang bicara. Namun ruang itu seakan menuntut pengakuan. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya. Tak. Enthy mulai membuka pembicaraan dengan mengetuk meja. Enthy (suara stabil, tapi satu jarinya menyentuh pergelangan tangan seolah memastikan denyut): “Enthy.” “'Games' ke-40.” “Targetku seribu.” Sunyi. Ilsa (tertawa kaku) : “Ha.. Ha.. Ha…” Ilsa (menutup mulutnya sendiri seolah baru sadar suaranya kaku): “Empat puluh?” (Bahunya naik turun cepat.) “Kamu bercanda, kan?” Enthy (tidak berkedip, tapi jari telunjuknya berhenti mengetuk meja): “Nggak.” Enthy (bahunya sedikit turun, seperti menunggu kata-kata itu keluar): “Aku tidak pernah punya tujuan yang jelas di luar sana.” (Jarinya menyentuh pergelangan tangannya) Enthy (matanya berbinar, senyumnya muncul seperti sangat menyukai permainan yang disajikan setiap saat) : “Di sini setidaknya aku merasa lebih hidup~” (Jeda singkat.) “Ada ancaman~” “Tidak ada solusi pasti~” “Ada konsekuensi~” Enthy (menatap lantai kayu, bukan ke mereka): “Aku tidak merasa hidup di dunia atas…” Enthy (senyumnya semakin melebar) : “Tapi di sini setiap detik berarti.” (Matanya naik perlahan.) “Rasa takut membuatku sadar.” Enthy (menerima fakta pahit yang ia sendiri lontarkan, tapi ia seperti menyukai fakta yang ia lontarkan sendiri): “Sebagian orang terlahir untuk menjadi penonton.” “Sebagian lagi… menjadi korban.” (Jeda.) “Dan aku belajar menjadi yang ketiga.” Enthy (kata-kata yang ia lontarkan mulai melambat dan senyumnya mulai memudar, seperti tidak menyukai fakta ini): “Kalau aku berhenti di angka sembilan puluh sembilan…” (Jeda tipis.) “…itu berarti semua yang kulakukan sebelumnya sia-sia.” (Bahunya sedikit naik.) “Aku tidak suka… angka itu terlalu kecil untuk dilewati.” Enthy (menghela napas pelan): “Awalnya aku tidak punya alasan untuk memainkan permainan ini.” Enthy (Senyumnya kembali muncul, sambil memegang dadanya dengan kedua tangannya) : “Sekarang aku menyukai permainan ini~” (Jeda) “Dan aku masih sangat-sangat ingin memainkannya~.” Enthy (terus menjelaskan) : “Jadi.” Ia masih bicara menjelaskan banyak hal. Enam pasang mata menatap Enthy. Bukan kagum. Bukan percaya. Hanya… menilai. []Batin Neuro[] “Dia bicara seperti itu sambil tersenyum?” (Jeda.) “Dia bukan manusia.” []Batin Wacha[] “Dia terlalu tenang.” “Atau gembira?” []Batin Rarasa[] “E-empat puluh…” []Batin Toami[] “Dia… menakutkan.” Enthy (menatap mereka satu per satu sambil tersenyum) : “Mungkin.” “Aku lebih berpengalaman dari kalian.” (Jeda) “Jadi ikuti aku.” (Tidak ada nada meminta.) Enthy (mata menyipit tipis): “Ini bukan permainan saling membunuh, tapi melarikan diri dari tempat ini.” Enthy (suara stabil, tapi satu jarinya menekan meja sedikit terlalu kuat): “Aku tidak berencana kehilangan siapa pun.” (Jeda sepersekian.) “…kali ini.” []Batin Enthy[] “Aku terlalu banyak bicara.” Sunyi sesaat. Enthy sudah tidak berbicara sama sekali, ia sedang menunggu orang lain memulai pembicaraan. Ilsa (tersentak, seolah paham kalau Enthy sedang menunggu orang lain bicara) : “... Eeee…” Ia menggeser kursi miliknya setengah langkah mendekat, tapi berhenti sendiri. Ilsa (menatap wajah Enthy) : “...” []Batin Ilsa[] “Wajahnya tidak mencerminkan kata-katanya.” “Maksudku, liat saja wajahnya yang terlihat imut.” “Tapi kata-katanya…” (Jeda.) “Sungguh gadis yang aneh.” Ilsa (menghela napas cepat) : “Aku Ilsa.” Ilsa (senyum kecil yang dipaksakan) : “Ini 'Games' keduaku.” “Yang pertama hampir bikin aku mati.” Ilsa (senyumnya bertahan satu detik… lalu runtuh) : “Tapi aku masih di sini, kan?” Enthy menoleh ke arah Neuro. Neuro (bahunya tegang, satu tangan menggenggam pergelangan tangan sendiri seolah menahan getar): “Neuro.” (Jeda sepersekian detik, ia memaksa dagunya tetap terangkat.) “Aku masuk ke sini untuk membayar hutang orang tuaku.” (Suaranya naik sedikit tanpa ia sadari.) “Ini 'Games’ pertamaku.” Enthy (melihat wajah Neuro cukup lama) : “...” []Batin Enthy[] “Dia yang paling muda di sini?” “Aku 17 tahun.” “Mungkin dia 15 tahun?” Enthy (tatapannya menyapu mereka sekali lagi, lebih lambat, seperti menimbang berat masing-masing): “Kalian.” Enthy menatap dua gadis yang saling berdekatan di sudut ruangan— yang satu menggenggam bahu temannya, yang satu lagi hampir tidak bisa bernapas dengan benar. Wacha (menghela napas, berusaha stabil): “Aku Wacha.” (Jeda, rahangnya mengeras) “Aku harus melunasi hutang judi.” (Menoleh ke rambut Toami) “'Games' pertama.” Ia mencoba terdengar tegas. Tapi jarinya terus gemetar. Toami (tersedak, memegang ujung bajunya sampai kainnya terpelintir): “Aku… dijebak…” (Suaranya pecah) “Mereka bilang cuma tanda tangan biasa…” Toami (bahunya naik turun terlalu cepat, kuku-kukunya mencengkeram kain bajunya sampai hampir sobek): “A-aku harus bayar semuanya…” (Suaranya mengecil di tengah kalimat, seperti tenggelam.) “Toami… …” (Lebih pelan, hampir seperti meminta izin untuk ada.) “Pertama…” Enthy (menatap Toami sepersekian detik) : “...” []Batin Enthy[] “Dia bahkan tidak menyebut ini ‘game.’” “Seolah menolak untuk mengakuinya.” Enthy (menoleh ke arah Rarasa, seolah apakah Rarasa akan mulai bicara atau tidak mau bicara) : “...” Ruangan sunyi sangat lama. Rarasa (yang duduk terlalu diam akhirnya bergerak sedikit, setelah melihat mata Enthy yang tertuju padanya) : “...!” Rarasa (menatap lantai lagi terlalu lama, seolah takut kalau menatap orang lain utangnya akan menambah): “Rarasa…” (Jeda) “Utang bukan… milikku…” “Neuro…” (Jeda lagi, sulit mengatur napas) “Sama…” “…pertama.” Ia tidak benar-benar menjelaskan. Ia hanya meletakkan potongan kata di udara. Alisa yang sejak tadi menatap wajah Enthy namun tidak diperhatikan oleh Enthy akhirnya berbicara. Alisa (tersenyum tipis, satu alis terangkat) : “Halo, Enthy~” Semua langsung menoleh. Ia menyebut nama Enthy seperti menyambut teman lamanya. Neuro (mengerutkan kening, bahunya naik sedikit seperti menahan dingin yang tidak ada): “…Kalian saling kenal?” Alisa (memiringkan kepala, satu mata tertutup, satu jari tangannya menutupi mulutnya): “Tidak~” Alisa (mengacungkan jempolnya ke arah Enthy) : “Tapi orang yang berhasil menyelesaikan empat puluh Games…” “Itu patut diacungin jempol!” Ia berdiri. Tidak panik. Tidak gugup. Alisa (melangkah pelan) : “Aku Alisa.” (Jeda singkat) “Aku masuk untuk mengkhawatirkan seseorang.” Alisa (senyumnya muncul sepersekian detik, lalu seperti dipadamkan dari dalam) : “Tapi aku tidak ingat siapa itu.” Ilsa (sangat bingung apa yang di bicarakan oleh Alisa): “…Mengkhawatirkan?” “Tapi kamu nggak ingat siapa itu?” Alisa (menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis) : “Hmmp~” Ilsa (alisnya naik, tapi matanya gelisah) : “Siapa sih yang masuk ke tempat begini cuma buat khawatir?” Alisa (Tersenyum lebih dalam. Bukan senyum hangat. Senyum yang menyimpan sesuatu) : “Kalau dia mati di sini…” (Jeda. Tatapannya turun sepersekian detik, lalu kembali stabil.) “…aku tidak akan sempat mengatakan sesuatu.” Ilsa (menoleh ke arah Enthy lalu menoleh lagi ke arah Alisa) : “Aneh…” (Menghela napas pendek.) “Kalian berdua sungguh aneh.” Sunyi cukup lama. Enthy (menatap Alisa lebih lama dari yang ia lakukan pada orang lain): “...” “Ini 'Games' pertamamu?” Alisa (menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan seperti anak kecil sambil tersenyum) : “Ya~” Alisa (menatap Enthy lurus, mencondongkan tubuhnya ke arah Enthy, tanpa ragu mengulurkan satu tangannya pada Enthy) “Jadi, bantu aku.” Alisa (satu tangannya tetap terarah pada Enthy, suaranya tetap ringan, senyumnya semakin lebar sambil menutup kedua matanya) : “Karena kalau aku mati… dia juga akan hancur.” Enthy (kalimat yang ia dengar aneh. bukan logis. bukan dramatis. tapi terasa… berat.) : “...” []Batin Enthy 'Games'ke-43[] “Enthy hanya melihat tangan Alisa yang terarah pada dirinya.” “Tidak mencoba untuk menjabat tangan Alisa.” “Bukan tidak bisa.” (Jeda.) “Karena…” “Tapi tidak ingin melakukannya.” Alisa (membuka matanya, mengerutkan kening, lalu duduk kembali) : “Parah…” “Kamu jahat juga ya.” “Padahal ini hal mudah loh.” Neuro (menutup mata sebentar, tertawa kaku karena melihat Alisa marah) : “Hehehehe.” Ilsa (menghela napas panjang) : “...?” Semua mata kembali pada Enthy. Enthy (menyadari semua mata tertuju pada dirinya) : “...” []Batin Enthy[] “Ini lebih sulit dari perkiraanku.” “Semua yang berada di sini pemula, kecuali aku…” Tangan Enthy bergerak pelan. Ia mengambil satu biskuit dari meja kayu panjang itu. Enthy (menggigit perlahan, tapi matanya tidak pernah turun ke biskuit—tetap memperhatikan mereka): “Hmm.” Ia mencium sedikit. Menggigit. Krek. Suara itu terlalu nyaring untuk ruangan setegang ini. Neuro (tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya, ia mengambil biskuit dari tangan Enthy): “Tunggu!” “Kamu yakin ini aman?!” Enthy (mengerutkan kening karena biskuitnya diambil begitu saja, tapi tetap menjelaskan) : “...” “Mereka tidak mau boneka mati karena kelaparan.” “Jadi hidangan ini memang untuk kita.” Neuro (matanya menyipit menatap biskuit yang berada di tangannya, seperti mencoba membaca sesuatu yang tak terlihat): “Bagaimana kalau biskuit ini berisi racun psikologis?” Enthy (menatap biskuit yang berada di tangan Neuro, yang sebelumnya adalah miliknya) : “Aku tidak tahu apa racun psikologis.” “Tapi aku bisa tahu mana yang beracun dan tidak.” (Jeda kecil. Matanya turun sepersekian detik.) “Sebagian besar.” Neuro (mencoba memahami perkataan Enthy) : “…Sebagian besar?” (Suaranya lebih kecil dari yang ia inginkan.) Ia menatap biskuit di tangannya yang sudah termakan setengah oleh Enthy. Enthy (menatap piring yang dipenuhi biskuit) : “Semua biskuit itu, semuanya tidak beracun.” Neuro (menatap Enthy, menarik napas cepat, menelan ludah sebelum nekat): “Kamu yakin?” (Ia menghitung dalam hati.) “Kalau kamu belum mati dalam sepuluh detik, berarti aman.” (Jeda.) “…Baiklah akan aku coba…” Neuro langsung memasukkan sisa biskuit ke mulutnya. Neuro (mengunyah biskuit itu, pipinya sedikit menggelembung) : “Mmff—” (Beberapa detik setelah menelan) “aman…?” Neuro (Ia menunjuk ke tenggorokannya sendiri, seolah menjelaskan eksperimen ilmiah yang baru saja ia lakukan) : “Tidak akan terjadi apa-apa?” “Iya kan?” Enthy (masih mengerutkan kening, masih kesal karena biskuitnya diambil dan dimakan begitu saja oleh orang lain) : “Iya.” Enthy mengambil biskuit lain. Tapi sebelum Enthy sempat menggigit lagi— Ilsa (merebut biskuit di tangan Enthy dengan tangan sedikit gemetar, tapi mencoba terlihat santai): “Aku duluan! Aku belum siap mati!” (Ia menggigit terlalu cepat, lalu menelannya.) Enthy (matanya menyempit tipis seperti seseorang yang tidak suka disentuh mendadak): “Apa sih.” Enthy (menghela napas pelan, tapi matanya tidak meninggalkan Ilsa dan Neuro—seperti mengawasi hewan yang baru saja menyentuh kabel listrik): “Hah.” (Jarinya bergerak sedikit, refleks ingin mengambil kembali lain…) Tangan lain lagi muncul dari samping. Wacha (mengambil biskuit milik Enthy): “Distribusi harus adil.” Enthy (tangannya sedikit mengepal, menatap biskuit yang berada di tangan Wacha, padahal barusan berada di tangannya sendiri) : “Wacha juga…” Ia mengambil biskuit lain. Tangan lain merebutnya lagi. Rarasa (merebut biskuit milik Enthy, lalu menjauh dari Enthy) : “M-maaf…” Enthy (menatap biskuit yang ada di tangan Rarasa dengan rasa ingin menangis karena biskuitnya terus direbut) : “... Sudah cukup…” Enthy mengambil biskuit lagi. Tapi malah direbut lagi. Toami (merebut biskuit milik Enthy, lalu menjauh dari Enthy kemudian mengusap wajahnya yang sebelumnya basah oleh tangisannya) : “... Aku juga… mau memakan biskuit ini.” Enthy (menatap biskuit yang berada di tangan Toami, sedikit ragu untuk mengambil biskuit lagi): “... Kalian seharusnya mengambilnya sendiri.” Enthy (mengambil biskuit lagi, dengan menatap Alisa, takut biskuitnya di rebut lagi) : “...!” Alisa (tidak suka dengan tatapan Enthy, seolah dirinya mau mencuri biskuit milik Enthy): “...!” “Woi apa sih?” “Malah lihat-lihat ke aku?” “Emangnya aku tampak mau mencuri biskuitmu itu?!” Enthy (menyembunyikan biskuitnya di belakang tubuhnya) : “Iya.” Alisa mengambil sendiri biskuitnya. Satu biskuit diambil. Tidak ragu. Tidak panik. Alisa (mengambil biskuit dengan dua jari, seperti mengambil benda rapuh): “Kalau semua orang rebutan racun… rasanya tidak adil kalau aku cuma menonton.” Alisa (Senyumnya muncul pelan. Terlalu stabil. Menutup satu matanya) : “Kayaknya aku nggak bakal juga ngambil biskuitmu itu.” Neuro (menoleh cepat, rambutnya ikut berayun, alisnya bertaut): “Kamu yakin?” (Tangannya setengah terangkat, ragu antara mencegah atau membiarkan.) Alisa (menatap semua orang sebentar, menatap biskuit ditangannya): “Kalau kalian berani makan… aku cukup percaya diri untuk yang satu ini.” Ia menggigit. Krek. Tidak tergesa. Tidak terburu. Alisa (tiba-tiba memegang kepalanya, seperti menyadari bahwa biskuit yang ia makan beracun) : “Oek–!” “Apa ini?” “Ini racun?” (Suaranya melambat.) “Aku pusing…” Neuro (panik, mendekat ke arah Alisa) : “Nah kan, apa aku bilang!” “Kamu beneran keracunan?!” Alisa (suaranya sangat rapuh dan hampir tidak terdengar) : “... Sepertinya begitu…” “Hidupku sebentar lagi…” Neuro mendekatkan telinganya ke Alisa, mencoba mendengar suara Alisa. Alisa (suaranya sangat kecil, tapi tersenyum kecil) : “... Tolong bawakan ponselku…” “Disana ada data pribadiku…” Neuro (sadar sesuatu, ekspresinya langsung datar) : “...” “Kamu berbohong.” Alisa (tertawa kecil, karena kebohongan barusan yang ia ciptakan berhasil) : “Iyalah, emang kamu kira aku bisa mati semudah ini.” Enthy (melihat Alisa, bukan karena terkejut—tapi seperti mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia kenal): “…” (Kelopak matanya turun sepersekian detik.) []Sebuah kata-kata lama muncul di benaknya Enthy[] “𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙧𝙚𝙗𝙪𝙩𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙧𝙞𝙥𝙞𝙠… 𝙧𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙞𝙡 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙣𝙩𝙤𝙣.” Enthy (sudut bibirnya bergerak tipis—bukan senyum, hanya pengakuan): “Kau cepat menangkapnya.” Alisa (tidak paham sama sekali apa yang Enthy bicarakan) : “...?” “Apa yang kamu maksud?” Beberapa menit kemudian— Di atas piring itu hanya tersisa remah-remah. Enthy berdiri. Enam gadis lain mulai berdiri dari kursi mereka. Tidak langsung bergerak. Mereka menunggu langkah apa yang diambil Enthy. Sunyi sepersekian detik. Ilsa berkedip. Neuro menatapnya. Toami menggigit bibirnya. Tangannya memang gemetar. Enthy memperhatikan. Enthy (memiringkan wajahnya sedikit, kelopak matanya turun setengah, menarik napas perlahan): “Stttt…” (Ia menghembuskan napas perlahan.) “Huuussshhh…” Enthy (menutup mata sepersekian detik, mengatur napas seperti sedang menyelaraskan ulang dirinya) : “'Games' ini belum dimulai.” (Jeda.) “Ini hanya ruang tunggu.” Neuro (dagunya terangkat sedikit, matanya fokus ke wajah Enthy): “Apa artinya ada pemicu?” Alisa (mengangkat satu jari) : “Biasanya tombol merah besar yang bertuliskan ‘Jangan Tekan’.” (Jeda.) “Dan tentu saja kita akan menekannya.” Ilsa (menelan ludah): “Jangan bercanda soal itu…” Alisa (menatap Ilsa sambil tersenyum kecil) : “Aku tidak bercanda.” “Aku tidak pernah bercanda.” Ilsa (menatap wajah Alisa sambil mengingat beberapa saat sebelumnya) : “... Beberapa saat yang lalu.” Alisa (mengingat kembali beberapa saat sebelumnya): “Benar juga, tadi aku bercanda.” Enthy (menatap meja dan piring yang kosong, bukan ke siapa pun) : “Kunci, tombol, tuas, kehilangan anggota tubuh…” “Pengorbanan.” (Jeda.) “Pintu tidak pernah muncul gratis.” Sunyi. Ilsa (menghela napas cepat, kakinya bergerak sebelum pikirannya siap): “Jangan bilang ‘pengorbanan’ sembarangan…” (Matanya berkilat. Emosinya terlalu cepat.) Enthy (mengangkat dagu sepersekian, matanya berhenti bergerak—keputusan sudah selesai diambil sebelum ia bicara): “Aku akan mencari kunci itu.” (Jeda.) “Fase dua butuh pemicu.” Neuro (melangkah cepat sebelum pikirannya sempat menahan, rahangnya mengeras seperti menolak ditinggalkan): “Aku ikut.” (Ia menyentuh pergelangan tangannya sendiri—refleks menenangkan diri.) “Pengalamanmu diperlukan.” Rarasa (mengangkat wajahnya perlahan, seperti takut keputusan itu akan memicu sesuatu): “Aku…” (Tangannya mengepal kecil di sisi tubuh.) “…ikut.” Wacha (melangkah setengah langkah ke depan tangannya memegang tangan Toami) : “Kami juga.” (Matanya menatap Enthy, bukan memohon—menantang.) Toami (mengangguk terlalu cepat, rambutnya menutupi separuh wajahnya) : “Aku ikut.” “Aku tidak mau sendiri.” (Jarinya mencari ujung lengan Wacha tanpa sadar.) Ilsa (mengangkat satu tangan tidak terlalu tinggi, tapi telapak tangannya sedikit berkeringat) : “Aku di belakang saja.” (Senyumnya sangat kaku.) “Bukan karena takut.” “Ini strategi.” Alisa (tersenyum tipis, satu alis terangkat): “Heh.” “Kita sepemikiran.” Enthy (menatap mereka satu per satu, pupilnya berhenti lebih lama pada orang yang paling gelisah): “Baiklah.” (Jeda.) “Tapi jangan terlalu jauh.” Neuro dan Rarasa langsung mendekat. Terlalu dekat. Menempel. Neuro (rahangnya mengeras, satu tangannya refleks mencengkeram baju Enthy): “Kau bilang jangan terlalu jauh.” (Tatapannya tidak berkedip. Bukan menantang—mengoreksi.) Rarasa mengangguk kecil. Enthy menatap jarak mereka yang menempel pada dirinya. Enthy (menatap mereka berdua): “…Ini terlalu dekat.” (Jarinya bergerak sedikit, seperti ingin mendorong mereka, tapi dia tidak melakukannya.) Ilsa menahan tawa gugup. Mereka semua mulai menyusuri ruangan. Langkah kaki bergema pelan. Balok kayu tua berderit meski tidak disentuh. Neuro dan Enthy berbicara di setiap mereka membuka ruangan. Rarasa jarang berbicara pada Enthy maupun Neuro, tapi… mereka bertiga semakin dekat dari sebelumnya, bukan jarak mereka yang menempel… Lebih dalam dari itu. Ilsa terus melihat ke belakang. Alisa berjalan paling belakang. Sesekali Ilsa dan Alisa saling berbicara. Wacha dan Toami berjalan berdua. Wacha (bahunya maju setengah langkah menutup Toami, suaranya rendah tapi penuh tekanan): “Kalau ada yang harus jadi umpan… sebisa mungkin jangan kamu.” (Jarinya menekan pelan punggung Toami. Isyarat: mundur.) Toami (matanya melebar, jari-jarinya langsung mencengkeram lengan Wacha): “Aku juga…” (Suaranya hampir pecah.) “Sebisa mungkin jangan kamu.” Mereka semua terus melangkah. Terus membuka setiap ruangan. Lalu. Enthy (pupilnya mengecil sepersekian detik, satu tangannya refleks menarik Neuro ke belakang tanpa melihat): “Berhenti.” Neuro tersentak. Rarasa hampir menabrak punggungnya. SINHC—!! Laser menyapu udara di depan mereka. Enthy (melihat laser di depannya, napasnya tetap stabil): “…Laser.” Laser itu membakar jalan di depan mereka. Jalannya tidak rusak, hanya terbakar sebentar lalu api kembali padam. Enthy (pupilnya menyempit sepersekian detik, tangannya masih mencengkeram lengan Neuro sebelum akhirnya melepasnya perlahan): “…Sudah selesai.” (Jeda.) “Ayo kita lanjutkan.” Neuro (jantungnya masih berdetak kencang, suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia maksudkan): “Kamu yakin itu tidak akan aktif lagi?” Enthy (melirik bekas bakar yang sudah padam, jarinya menunjuk tepat ke titik tembak tanpa ragu): “Sistem di ‘Death Games’ itu hemat energi.” (Jeda.) “Perangkap ini hanya satu kali pakai.” (Bahunya turun.) “Ayo.” Enthy (berjalan seolah tidak terjadi apa-apa): “Laser itu hanya aktif sekali.” (Jeda tipis.) “Kalau sistem ingin kita mati… kita sudah mati barusan.” Enthy (menjelaskan sedikit aturan ‘Death Games’) : “Aturan di ‘Death Games’ ini cukup sederhana.” “Jadilah pemeran yang baik untuk penontonnya.” Neuro (menatap ke atas, ada beberapa CCTV tersembunyi, dan yang paling jelas ada di dekat laser yang terlihat jelas) : “...” Mereka semua berjalan lagi di jalan yang terbakar oleh laser mengikuti Enthy. Enthy (menjelaskan lebih lanjut aturan ‘Death Games’) : “Kalau di 'Games' saling membunuh, kamu jangan langsung membunuh lawanmu dengan cepat.” “Siksa dulu mereka.” “Tapi kalau membunuh dengan cepat juga nggak apa-apa, asalkan kamu bisa membunuh banyak lawanmu.” (Jeda cukup lama.) “Tapi aku tidak melakukan itu.” Neuro (menatap kaki Enthy, satu tangannya memegang pergelangan tangannya yang lain) : “... Lalu apa yang kamu lakukan?” Enthy (menjelaskan pertarungan dengan orang bernama Stella) : “Aku melawan Stella dari tim Rakun.” “Dia adalah pemimpin dari tim Rakun, kami bertarung satu lawan satu.” “Tapi aku menang dengan mudah, tapi…” “Kenapa aku selalu mengingat wajahnya?” “Padahal dia hanya pecundang…?” Enthy (tangannya mengepal tanpa sadar) : “Dia mati oleh seseorang yang sebelumnya tidak memiliki tujuan.” “Kira-kira umur Stella itu empat belas tahun.” Neuro (alisnya sedikit mengerut) : “Kamu kejam, kamu membunuh anak kecil seperti dia.” Enthy (menggenggam pergelangan tangannya dengan menggunakan tangannya yang lain, seperti tidak mau memperlihatkan fakta ini) : “Waktu itu, aku berumur lima belas tahun.” “Tapi… ada orang lain kubunuh selain dia.” “Valeria, dia adalah guru bagi Stella.” “Dia berada di tim ku, tapi dia membunuh kedua belah pihak.” “Yang menyebabkan banyak korban saat itu.” “Dia sangat gila, dia bahkan mengeluarkan jeroan setiap pemain.” Enthy (menutup matanya sebentar) : “... Aku tidak ingat siapa yang aku bunuh selain mereka berdua.” Beberapa menit kemudian. Semua ruangan diperiksa. Semua sudut disentuh. Semua balok dipukul. Tidak ada apa-apa. Mereka kembali ke titik awal. [Layar hitam] [To be continued]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD