Episode 1.1

4004 Words
[]𝐷𝑒𝑎𝑡ℎ 𝐺𝑎𝑚𝑒𝑠 - From One to One Thousand Survivals[] Episode 1.1: Rumah hantu - Games 40 Genre :[[>Psychological Horor, Mystery, Fantasy<]] [Fragmen 2/11] Beberapa menit kemudian. Semua ruangan diperiksa. Semua sudut disentuh. Semua sudah dibuka. Tidak ada apa-apa. Mereka kembali ke titik awal. Sunyi. Enthy berdiri lumayan jauh dari meja kayu panjang. Matanya turun ke remah-remah biskuit di atas piring. []Batin Enthy[] “Kami belum juga menemukan kunci itu.” (Jeda.) “Dimana?” “Kenapa kunci itu sangat tersembunyi?” Enthy (menoleh ke arah Neuro yang berjalan ke arah meja kayu) : “...” Neuro (berhenti mendadak jaraknya cukup jauh dari meja kayu, sadar): “…Meja ini.” (Jarinya menunjuk meja kayu.) Rarasa (melihat ke atas, menatap banner terlalu lama): “Banner…” (Jarinya terangkat setengah.) “…belum disentuh.” Enthy (tangan kanannya memegang dagunya, kepalanya sedikit miring, ia memikirkan mana yang terdapat jebakan dan tidak) : “... Benar.” []Batin Enthy[] “Ini pilihan sulit…” “Kita tidak tahu yang mana ada jebakannya?” Ilsa menoleh ke arah banner, lalu menoleh ke arah meja kayu. Seperti memilih pilihan untuk disentuh terlebih dahulu. Ilsa (wajahnya mengerut sambil berjalan ke arah meja kayu) : “Lihat?” Ilsa (ia melangkah semakin cepat ke arah meja, emosinya tidak stabil) : “Kita cuma muter-muter kayak tikus dapur!” Enthy tidak melihat Ilsa bahkan tidak mendengar suara langkah kaki Ilsa karena Enthy sedang berpikir. []Batin Enthy ‘Games’ ke-43[] “Ilsa pikir tidak apa-apa karena Enthy belum mengatakan apa-apa, tapi itu salah…” “... Enthy tidak mengatakan apa-apa karena Enthy masih memikirkan sesuatu… yang akhirnya tidak membuatnya fokus.” “Dia belum mengetahui jebakan ada dimana?” “Dan tidak sadar bahwa Ilsa sedang berjalan… ke arah meja kayu itu.” Ilsa sudah sampai di meja kayu, tangannya terangkat. Tubuhnya condong ke arah piring. Ilsa (memegang piring, lalu mengangkat piring itu perlahan) : “Sampai tidak sadar, bahwa yang kita cari… mungkin ada di dekat kita.” Ilsa (tidak melihat apa-apa dibawah piring itu) : “... Disini juga tidak ada?” Ilsa (pupil matanya membesar karena melihat benang yang hampir tidak terlihat dan menempel di piring) : “Benang…?” Tik. Benang itu terputus. Tidak terjadi apa-apa. Enthy (kembali ke kenyataan atau sudah tidak memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak fokus, sedikit terkejut melihat Ilsa yang sudah memegang piring) : “...?!” Enthy (Ia berjalan pelan ke arah Ilsa, tapi kata-katanya belum sempat keluar semua) : “Ilsa–” SLING— Ilsa tak sempat bereaksi. Anak panah sudah menembus kepala Ilsa. Tidak ada darah yang keluar. Yang keluar adalah— Serpihan putih. Serat lembut. Kapas. Tubuh Ilsa masih berdiri. Matanya tertuju ke arah anak panah yang sudah menempel pada dinding setelah melewati kepalanya, lalu– CRAAK— Piring ditangannya terjatuh lalu Pecah. Kemudian tubuh Ilsa terjatuh. Matanya masih terbuka. Namun tidak ada lagi sesuatu yang melihat dari baliknya. Semua orang terdiam seperkian detik, mereka sedang mencerna apa yang terjadi sebelumnya. Wacha mundur dua langkah. Toami jatuh terduduk. Rarasa membeku. Neuro (mata membelalak, maju sedikit mendekat ke arah mayat Ilsa) : “Ilsa…” Neuro (wajahnya tidak jelas marah atau sedih disaat bersamaan, ia menoleh ke arah Enthy) : “... Kamu…” “Sebenarnya tahu ini akan terjadi iya, kan?!” Enthy (menoleh ke arah anak panah yang menempel pada dinding) : “...?” (Ia tidak mendengarkan apa perkataan Neuro, ia hanya berjalan ke arah anak panah yang menempel pada dinding.) Alisa (melihat Neuro yang mungkin butuh orang lain untuk meluapkan emosinya) : “...” Alisa (berjalan mendekat ke arah mayat Ilsa, tapi matanya mengarah pada Neuro) : “Jadi begini cara mereka menyaring kita.” Neuro (tangannya mengepal, wajahnya jelas sangat kesal) : “... Kamu juga…” “Kenapa kalian berdua seolah tidak peduli dengan orang yang barusan mati dihadapan mata kalian!!!” Neuro berjalan ke arah Alisa, memegang kerah pakaian milik Alisa. Neuro (menatap wajah Alisa, matanya merah tapi tidak menangis) : “Kamu nggak punya perasaan apa?!” “Dia barusan mati!” Alisa (kata-katanya keluar tanpa ekpresi berlebihan) : “Di dalam ‘Death Games’ kematian itu adalah hal biasa.” “Lagian dia itu bukan orang yang kamu kenal.” Alisa (menatap wajah Neuro, alisnya sedikit mengerut) : “Dan sejak tadi kamu itu selalu bersama Enthy dan Rarasa.” “Bukan bersama Ilsa.” Neuro (pupil matanya bergetar) : “Tapi dia tetap mati… kan?” Alisa (menatap wajah Neuro tanpa sedikit rasa bersalah) : “Lalu?” Neuro (melepaskan kerah pakaian Alisa) : “... Aku tidak… tahu.” (Ia kembali menatap mayat Ilsa, bersedih, meski atau bahkan tidak mengenal Ilsa, ia tetap bersedih.) Alisa (melihat Neuro yang baru saja memegang pakaian cukup lama) : “.....” Alisa (menoleh ke arah Enthy) : “Enthy.” (Jeda.) “Sebenarnya apa arti sebenarnya dari kata 'rumah hantu' ini, kamu pasti tahu itu?” Enthy mengambil anak panah yang menempel itu, melepaskannya lalu menoleh ke arah Alisa. Enthy (menatap lama wajah Alisa, ada sedikit geli di perutnya) : “...?” Enthy (tersenyum kecil, seolah mendapatkan adegan komedi) : “Serius…?” “Kamu bercanda, benar?” Alisa (maju satu langkah, matanya tertuju pada Enthy) : “Aku serius.” (Jeda.) “Artinya pasti memang bukan ada hantu di tempat ini, iyakan?” Enthy (menoleh kesemua orang di ruangan itu, ia menatap semua orang yang sepertinya memang tidak tahu apa arti sebenarnya dari ‘rumah hantu’): “Jadi kamu serius tidak tahu?” “Kalian tidak tahu arti dari ‘rumah hantu’ di permainan ini?” Enthy (menghela napas pendek, menoleh ke arah mayat Ilsa sepersekian detik lalu menoleh lagi ke orang-orang yang masih hidup) : “Huh…” []Batin Enthy Games ke-43[] “Enthy hanya menatap sepersekian detik wajah Ilsa.” “Seolah tidak ada artinya kalau ditatap terlalu lama.” “Atau memang hanya menerima fakta secara langsung dan cepat.” “Tapi… aku ingin lebih lama lagi menatap Ilsa.” “Dia beruntung… bisa mati dengan cara secepat seperti itu…” “... Tanpa p********n berarti…” “Dan di ingat oleh orang-orang sekitarnya…” “Bahkan oleh Enthy…” Enthy (menatap semua wajah yang masih hidup, seolah kematian Ilsa barusan tidak ada artinya baginya) : “Arti dari ‘rumah hantu’ di permainan ini adalah.” (Jeda.) “Pemain yang mati disini akan menjadi penunggu rumah ini.” “Atau dengan kata lain, menjadi hantu yang menghuni rumah ini.” Enthy (tersenyum, seolah-olah kata-kata barusan hanya sebuah fakta kecil) : “Jadi begitulah artinya~” Sunyi. []Batin Enthy Games ke-43[] “Enthy tidak menjelaskannya dengan jelas.” “Bahkan di akhiri oleh senyuman bukan kesedihan… sungguh orang yang aneh…” “Seharusnya kata-kata tambahan seperti ini…” “Pemain yang mati disini akan terus bersamanya…” “Didekatnya… dalam dirinya…” “Dalam ingatannya…” “Bukan berada disini… untuk menjadi penghuni rumah ini.” “Tapi untuk menjadi… penghuni dalam pikirannya sendiri…” “Hening muncul, tapi tidak bertahan lama.” “Ada keheningan di dalam keheningan, tapi itu… bukan kosong.” Atmosfer berubah. Bukan lagi ruang tunggu. Tapi sudah seperti arena seleksi. Enthy berjalan ke arah banner. Banner Villain Lumen Stars tergantung besar di pada dinding dapur yang sangat besar ini. Enthy (menatap ke atas, melihat banner itu, lalu melihat ke arah tangannya yang memegang anak panah) : “... Masih terlalu tinggi…” Enthy (menoleh ke segala arah, mencoba mencari barang untuk pijakan) : “.....” “Hmmp.” Enthy (memikirkan bagaimana caranya dia melihat apa yang ada dibalik banner besar dan tinggi itu) : “Bagaimana caranya?” Enthy (tatapannya tertuju pada meja dan kursi-kursi, senyum kecil terukir pada wajahnya) : “...!” Enthy (menatap semua orang, senyum lebar terukir pada wajahnya, seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan) : “Semuanya~” “Ayo dorong meja kayu itu kesini~” Wacha (menunjuk dan menatap sebentar meja itu) : “Meja kayu yang besar ini?” Enthy (matanya berbinar, senyumnya masih terukir pada wajahnya) : “Iya~” “Oh, sama dua kursi juga~” Wacha (menatap wajah Enthy yang tersenyum, yang seharusnya dia tidak boleh tersenyum pada situasi seperti ini) : “...” []Batin Wacha[] “Aku nggak yakin dia bisa jadi… pemimpin?” (Jeda.) “Apa dia… juga akan tersenyum ketika aku mati?” Wacha (menghela napas berat, seolah harus percaya pada orang gila dan harus menurut pada orang gila itu untuk bisa hidup) : “Baiklah.” Mereka semua berjalan ke meja, semua memegang satu sisi meja kayu termasuk Enthy. Lalu mendorongnya ke pojok dinding yang di atasnya terdapat sebuah banner. Kemudian Enthy membawa satu kursi, lalu diletakkan di atas meja kayu. Dan Alisa juga membawa satu kursi yang kemudian diletakkan di atas kursi tadi. Alisa (menatap ke meja dan kursi yang baru saja di dorong) : “Lalu apa?” Enthy (mendongak ke atas untuk melihat banner sebentar, lalu menatap tangannya yang memegang anak panah) : “Masih terlalu tinggi…ya?” Enthy (tiba-tiba menoleh ke arah Wacha, tangan kanan yang memegang anak panahnya terarah pada Wacha, senyum lebar kembali terukir) : “Benar juga, kalau pakai ini pasti bisa~” “Jadi ayo lakukan~” Wacha (masih bingung apa yang dibicarakan Enthy dan masih mencerna kata-katanya itu) : “Ayo lakukan…?” Enthy (mengangguk ringan) : “Hmmp~” Wacha (menunjuk dirinya sendiri, menyadari bahwa dia yang harus memanjat untuk melihat apa yang berada di balik banner) : “Maksudmu aku?!” Enthy (senyumnya masih terukir pada situasi yang seharusnya tidak ada senyum) : “Iya~” Wacha (suaranya lantang untuk menolaknya, alisnya mengerut) : “Ngaco!” “Ya aku nggak mau lah!” Wacha (ia sadar kalau melakukannya itu artinya sama saja dengan bunuh diri) : “Kamu pikir aku nggak akan bernasib sama seperti Ilsa!” Enthy (tanga kanannya memegang kepalanya untuk mengukur tinggi badannya) : “Tapi kamu yang paling tinggi disini.” “Aku cuma 154 cm.” Enthy (menatap tubuh Wacha untuk mengukur tubuh Wacha yang tinggi) : “Kamu mungkin 180 cm.” Wacha (menerima fakta kalau ia memang tinggi tapi tetap tidak ingin melakukan resiko bunuh diri untuk naik ke atas) : “Benar!” “Tapi aku tetap nggak mau!” Enthy (menjelaskan aturan tentang Death Games di permainan-permainan yang sebelumnya ia alami dan memberikan informasi ini kepada Wacha) : “Lagi pula tidak akan ada jebakan kedua.” (Jeda.) “Kalau mereka ingin dua korban cepat.” “Itu akan membosankan bagi mereka.” Wacha (kedua telinga ditutup oleh kedua tangannya, mencoba untuk tidak mendengar apa yang dikatakan Enthy) : “Nggak!” “Aku nggak mau denger!” “Pokoknya aku nggak mau melakukannya.” Enthy (menghela napas, sedikit kecewa) : “Huh…” Enthy (menoleh untuk mencari orang yang tinggi, ia melihat tubuh Toami yang hampir menyamai tinggi Wacha) : “Kalau begitu Toami.” Enthy (tapi harapannya langsung pudar setelah menyadari tubuh Toami yang cukup gendut) : “Huh…” “Jelas nggak bisa, yang ada kursi dan mejanya yang rusak.” Enthy (menoleh lagi, ia melihat Alisa yang baginya lebih tinggi darinya) : “Alisa, kalau gitu ini tugas untukmu~” “Kamu lebih tinggi dariku iya, kan~” Alisa (langsung menerima fakta bahwa ia memang lebih tinggi dari Enthy) : “Benar sih.” “Aku lebih tinggi 1 cm aja.” Alisa (menatap pita yang cukup besar di kepala Enthy) : “Tapi pita di atas kepalamu itu, apa kamu nggak menghitungnya.” (Jeda.) “Jadinya 157 cm.” Enthy (alisnya berkerut karena kalah debat) : “Kok gitu?” Enthy (menyerah karena tidak ada orang yang mau melakukannya, dan meskipun ada orang lain yang melakukannya, orang lain itu akan mati dari ketinggian) : “Huh.” “Yaudah aku nyerah deh.” Enthy (ia melepas sepatunya terlebih dahulu) : “Jadi aku yang akan melakukan itu.” Enthy berjalan ke meja kayu, menaiki meja kayu, lalu menaiki dua kursi di atas meja kayu itu. Kedua kursi itu sedikit bergetar saat dinaiki oleh Enthy. Semua hanya melihat, tidak ada yang menghentikan Enthy. Bukan mereka tidak bisa, tapi bingung apa yang harus mereka lakukan selain hanya melihat Enthy. Enthy (menatap telapak tangannya yang memegang anak panah dan sedikit merasakan getaran) : “Kalau aku patahkan anak panah ini…” “Jadi dua bagian…” Enthy (ia mengetahui bahwa kalau dipatahkan, bagian batang yang tidak memiliki bagian yang tajam tidak akan berguna) : “Tapi justru membuat anak panah ini tidak bisa menancap pada dinding ini.” “Hanya satu bagian yang bisa menancap, tapi sisi lainnya tidak bisa karena tidak setajam sisi utama.” Enthy (meskipun ia memikirkannya lebih lanjut, malah menjadi sangat beresiko) : “Kalau aku menancapkan sisi yang tajamnya terlebih dahulu, lalu menancapkan sisi yang tidak tajam.” “Itu tidak akan bisa karena pijakannya jadi tidak stabil.” Enthy (menatap telapak tangannya yang memegang anak panah) : “Jadi…” “Kalau aku patahkan hanya membuang-buang resource saja.” Enthy (pikirannya sudah tidak bisa menyimpulkan hal lain selain ini) : “Memang seharusnya aku melompat.” Ia menatap dinding sepersekian detik. Enthy (mengetuk-ngetuk dinding menggunakan tangan kirinya untuk merasakan betapa kokoh dinding itu) : “Tidak begitu kokoh.” (Ia melirik sebentar telapak tangannya yang memegang sebuah anak panah.) “Seharusnya aku bisa menancapkan anak panah ini… pada dinding ini hanya menggunakan tanganku.” Enthy mengambil ancang-ancang untuk melompat. Kemudian ia melompat lalu kursi di bawah Kakinya bergetar saat ia melompat. BROKSS– Anak panah di tancapkan kedinding. Enthy masih memegang anak panah yang kini menempel pada dinding itu. Enthy (masih memegang anak panah yang kini menempel pada dinding tapi kali ini pegangannya lebih erat, lebih erat dari sebelumnya) : “Bisa.” Enthy (menoleh ke atas, kain banner itu sudah sedikit lebih dekat dari sebelumnya tapi tetap cukup jauh dari tubuhnya) : “Masih jauh.” (Jeda.) “Aku harus naik ke atas anak panah ini.” Enthy (gelantungan pada anak panah yang tertancap di dinding, ada rasa aneh pada dirinya) : “Jangan patah atau terlepas.” ​Enthy (menatap banner Lumen Stars di atasnya, lalu menatap kakinya yang menggantung) : ​"Pasti bisa..." ​Enthy menekuk kedua lututnya, menarik tubuh ke atas. Perlahan. ​KRETEK. ​Anak panah itu berderit, sedikit melengkung menahan beban tubuh Enthy. ​Tangan kiri Enthy langsung mencengkeram dinding untuk menjaga keseimbangan. Badannya menempel erat pada permukaan dinding, seperti cicak. Batang anak panah itu kini berada di bawah telapak kakinya, menjadi satu-satunya pijakan rapuh yang memisahkannya dari kejatuhan. ​Ia tidak berdiri tegak, tapi berjongkok aneh di atas tumpuan tipis itu. ​Di mata orang yang berada dibawah, Enthy terlihat seperti orang yang sedang menantang maut hingga ratusan kali. Enthy berdiri di atas anak panah itu, bersiap untuk lompatan untuk kedua kalinya. Tapi berbeda dari sebelumnya, karena sekarang dia harus melompat di atas sebuah batang anak panah. Enthy melompat di atas anak panah, kedua tangannya langsung mencengkeram kain banner. Mencengkeram kain banner itu sangat erat. Seperti orang yang tidak mau mati, tapi justru wajahnya tidak menggambarkan orang yang tidak mau itu. Anak panahnya bergetar sangat kuat, kemudian terjatuh kebawah. Kemudian Enthy membuka apa yang berada dibalik kain banner itu sambil mencengkeram erat kain banner tersebut. Dibalik banner itu. Pada dinding itu. Terdapat lubang pada dinding itu. Dan didalam lubang itu. Ada kunci. Puluhan kunci yang di rangkai. Enthy (tangan kirinya mengambil rangkaian kunci itu sambil tersenyum puas, tangannya tetap kanannya tetap mencengkeram erat kain banner) : “Aku benar~” (Ia memegang rangkaian kunci itu yang kemudian memasukkan kedalam saku pakaiannya.) “Terus bagaimana caranya aku turun.” Enthy (menoleh ke bawah lalu kemudian menoleh ke atas, ke arah tiang besi yang menjaga banner itu tetap disana) : “...!” “Mungkin aku bisa turun menggunakan banner ini.” Enthy mengubah posisinya. Tangan kanannya mencengkeram kain spanduk lebih tinggi, lalu tangan kirinya ikut meraup lipatan kain di atasnya. Ia tidak sekadar manjat; ia menghimpit setengah kain spanduk itu di antara kedua kakinya, menggunakan gesekan kain untuk menahan berat badannya. ​Dengan sentakan kuat, Enthy menarik tubuhnya ke atas. Sedikit demi sedikit, ia merayap ke atas, hingga tangannya berhasil meraih tiang besi penyangga banner. ​Ia menarik badannya sekali lagi. Dengan satu reflek cepat, Enthy memutar tubuhnya dan berakhir duduk di atas tiang besi itu, kedua kakinya menggantung di udara. Enthy (menghembuskan napas pelan) : “Huh.” (Jeda pendek.) “Capek…” Enthy (kedua telapak tangannya memegang tali yang pengikat banner dan tiang) : “Dengan ini aku bisa turun dari sini.” Tali pengikat dilepas, banner turun perlahan-lahan sampai akhirnya menyentuh dan menyelimuti kursi dan meja. Enthy (menatap orang-orang di bawah, sangat jauh di bawah dan mungkin banner ini bagi para pembaca banner ini sangat kecil, nyatanya sangat panjang dan lebar) : “Bentangkan banner itu kemudian tangkap aku.” Enthy (menyadari sesuatu bahwa dia tidak bisa berteriak, akibat pernah di tusuk oleh Valeria menggunakan pisau di games sebelumnya) : “...!” “... Aku tidak bisa berteriak…” Alisa memegang banner itu. Alisa (mendongak ke atas, menatap Enthy yang sangat tinggi di atas sana yang suaranya saja tidak terdengar sampai bawah) : “Dia bicara apa?” Wacha (mendongak ke atas sambil mengeraskan suaranya) : “Kamu ngomong apasih?!” “Yang jelas dong!” Wacha (menyipitkan matanya, ia melihat bibir Enthy bergerak tapi suaranya tidak sampai pada dirinya dan yang lainnya) : “Apa?!” Wacha (menoleh ke arah Alisa) : “...?” Alisa (menyimpulkan sendiri) : “Hmmp.” “Sepertinya dia mau kita meninggalkannya.” Sunyi. Sebuah pita perlahan-lahan jatuh dari atas. Mendarat di dekat Neuro. Namun Neuro tidak menyadari ada sebuah pita yang terjatuh didekatnya. Rarasa (melihat pita yang terjatuh itu, ia berjalan ke arah pita itu) : “...” Rarasa (ia berjongkok kemudian mengambil pita itu) : “P-pita ini… milik Enthy?” (Ia berdiri lagi dan mendongak ke atas, melihat Enthy yang masih terjebak di atas.) Rarasa (terus menatap Enthy, ia melihat bibir Enthy bergerak mengatakan sesuatu namun tidak terdengar olehnya) : “...!” (Tapi ia merasa tahu apa yang akan dikatakan Enthy.) Rarasa (menatap semua orang, ia memaksakan untuk bicara padahal dia sendiri sebenarnya tidak mau mengatakan apa-apa karena sulit berbicara) : “Y-yang ingin… Enthy katakan…” “Geser meja.” (Kata-katanya hampir tidak dimengerti.) “L-lalu bentangkan… bannernya.” Alisa (mengucapkan kembali kata-kata Rarasa, agar lebih dimengerti olehnya) : “Yang ingin dikatakan Enthy adalah geser meja ini terlebih dahulu kemudian bentangkan banner ini?” “Apa itu yang kamu maksud?” Rarasa (menganggukkan kepalanya pelan) : “I-iya…” Alisa (tangan kirinya memegang dagunya sendiri sambil menatap meja yang diselimuti sepenuhnya oleh banner yang sangat besar) : “Ya, sepertinya itu memang benar.” “Memang seharusnya kita menggeser meja ini.” (Jeda.) “Kalau kita tidak menggeser meja ini, ya si Enthy bakalan mati terbentur meja ini.” “AI mana paham soal ini.” Rarasa (menatap Alisa sambil memiringkan kepalanya) : “Artificial… Intelligence?” “Assisten… Intelligence?” Alisa (mengangguk, alisnya berkerut tapi bibirnya tersenyum) : “Iya, dia yang merusak cerita novel milikku.” “Jadi cerita tidak jelas dan time loop yang tidak jelas.” Alisa (tersenyum tanpa sedikitpun alis yang berkerut dari wajahnya) : “Ya sudah ayo kita geser meja ini~” (Jeda.) “Kau juga jangan bengong terus Neuro~” Neuro (masih menatap Ilsa, sebelum akhirnya Alisa memanggil namanya) : “...” Ia tapi langsung mengalihkan pandangannya dari mayat Ilsa. Sekarang baginya ‘orang’ yang masih hidup adalah prioritas utama daripada Ilsa yang sudah mati. Akhirnya Alisa, Rarasa, Wacha, Toami, dan Neuro mendorong kembali meja itu. Menyingkirkannya dari area yang nantinya menjadi pendaratan bagi Enthy. Lalu Alisa memegang kain banner, Wacha, Toami, Rarasa, dan Neuro juga memegang kain banner. Mereka mulai membentangkan kain banner itu. Seperkian detik berlalu. Kain banner sudah terbentangkan. Enthy (menatap kain banner yang sudah terbentangkan dari atas tiang penyangga) : “... Mereka lama juga ya melakukannya.” “Sengaja ya membuatku menunggu lama disini.” Suara Alisa bergema sampai ke telinga Enthy “Dari hitungan satu sampai tiga, lalu kamu terjun!” ucap Alisa dari bawah. Enthy (langsung terjun sebelum hitungan dimulai, di situasi seperti ini ia malah tersenyum) : “Itu kelamaan~” Ia terjun ke bawah, padahal kain bannernya belum meregang sempurna. Alisa (menarik kain bannernya secepat mungkin yang ia bisa) : “Dia gila!” “Terlalu gila!” Neuro, Rarasa, Wacha, dan Toami juga melakukan hal yang sama. Banner hampir meregang sempurna, tapi sebelum itu terjadi– BRUGGKK–! Tubuh Enthy sudah terjatuh pada banner. Semua orang yang memegang kain banner itu tertarik ke arah pusat terjatuhnya Enthy. BREGGKK–! Kain banner itu robek akibat tekanan dari tubuh Enthy. BRUGGKK– Enthy terjatuh dilantai dan di atasnya sangat jelas robekan yang telah dia buat. Enthy (terbaring dilantai, wajahnya tersenyum lebar, tapi tangan kanannya memegang tangan kirinya erat, sangat erat) : “Akhirnya fase kedua bisa dibuka~” Enthy perlahan berdiri namun tidak bisa, ia hanya bisa terduduk. Semua orang mendekat ke arah Enthy. Enthy (terduduk, tangan kanannya terus memegang tangan kirinya, senyumnya masih terbuka lebar tapi kata-katanya terpotong) : “Di fase berikutnya kemungkinan selalu ada kematian –” PLAKKK–! Neuro menampar wajah Enthy. Cukup kencang tapi tidak begitu sakit, hanya saja… Neuro (alisnya berkerut, jelas sangat marah) : “b**o!!” Enthy (tangan kanannya melepaskan pegangan dari tangan kirinya, perlahan-lahan tangan kanannya memegang pipinya sendiri) : “Ini…?” Neuro (marah sekaligus khawatir disaat bersamaan pada orang yang sebenarnya sudah seperti bukan manusia lagi) : “Enthy b**o!!” “Apa kamu cuma mikir untuk menyelesaikan permainan ini!” Neuro (kedua tangannya memegang dadanya, jelas ingin keluar dari neraka ini tapi ia juga tidak mau keluar sendiri atau kehilangan orang lagi) : “Tanpa berpikir keluarga yang menunggumu dirumah!!” (Jeda sepersekian detik.) “Teman-temanmu yang kehilangan dirimu!!” “Orang yang dekat denganmu juga pasti sedih kalau kamu mati!!” Neuro (air mata keluar dari, kata-katanya semakin dalam dan sangat ingin keluar dari neraka ini) : “... Aku juga ingin bertemu dengan ayahku lagi…” (Jeda cukup lama.) “... Kalau kamu mati disini…” “... Lalu siapa yang bisa membawaku keluar dari sini…” Neuro (menoleh ke mayat Ilsa sepersekian detik, air mata keluar sekali lagi) : “... Kita sudah kehilangan Ilsa…” Enthy (mencoba mengelak dari kata-kata Neuro, namun Neuro langsung memotong kata-katanya) : “Tapi–” Neuro (mengembalikan kata-kata Enthy yang sebelumnya dilontarkan kepada Wacha) : “Lagi pula tidak akan ada jebakan kedua, kalau mereka ingin dua korban cepat… itu akan membosankan bagi mereka.” Neuro (suaranya semakin keras, sudah tidak ada tangis, hanya saja matanya memerah) : “Itukan yang mau kamu katakan!!” “Omong kosong!!” Neuro (menatap Enthy dengan wajahnya yang sangat marah sekaligus khawatir) : “Sebenarnya bisa saja ada dua atau bahkan seratus korban disaat bersamaan!!” “Benarkan!!” Enthy hanya diam dan tidak mencoba untuk menolak fakta itu. Neuro (menatap tangan kiri Enthy yang sejak tadi diam) : “Katakan… tangan kirimu itu pasti patah…” Enthy (menundukkan kepala, giginya menggigit bibirnya sendiri) : “Iya…” (Ia menatap lantai sangat lama.) []Batin Enthy[] “Keluarga yang menunggu… siapa? “Teman… apa dia Liana?” “Sayangnya Liana sudah mati.” (Jeda.) “... Orang terdekat… siapa?” “... Apa itu Xyola…?” “Aku rasa… bukan.” “Aku tidak mengerti, siapa yang dimaksud?” Rarasa berjalan pelan ke arah Enthy. Rarasa (tangannya menggenggam erat pita milik Enthy, mencoba mengembalikan pita itu ke Enthy) : “I-ini milik… mu.” Enthy (menatap pita miliknya yang berada ditangan Rarasa) : “Terima kasih.” (Tangan kirinya coba digerakkan namun tidak bisa.) “Maaf, bisa kamu pasangkan.” Rarasa (mengangguk pelan) : “B-bisa.” Rarasa memasangkan pita itu ke kepala Enthy. Hening muncul kembali, tapi tidak bertahan lama. Ada keheningan di dalam keheningan, tapi itu… bukan kosong. [Layar hitam] [To be continued]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD