[]𝘗𝘳𝘰𝘭𝘰𝘨 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢[]
“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵!”
“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵!”
“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵…”
“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵…”
“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪…”
“𝘒𝘶𝘯𝘤𝘪𝘯𝘺𝘢…”
“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩—”
“…𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩?”
“𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬…?”
“𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯…”
“𝘒𝘶𝘯𝘤𝘪𝘯𝘺𝘢…”
“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢…”
“…𝘕𝘦𝘶𝘳𝘰… 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪… 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯.”
“... 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯…”
“....”
“𝘈𝘬𝘶…!”
“...Ak𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯—”
“…..!”
“𝘈𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢!!”
“𝘈𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢—!!”
“𝘈𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢—!!”
“𝘈𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢—!!”
“𝘈𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢—!!”
“𝘈𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢—!!”
“𝘈𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢—!!”
“...-!”
[]𝐷𝑒𝑎𝑡ℎ 𝐺𝑎𝑚𝑒𝑠 - From One to One Thousand Survivals[]
Episode 1.3: Rumah hantu - Games 40
Genre :[[>Psychological Horor, Mystery, Fantasy<]]
[Fragmen 6/11]
Ruangan di dalam gerbang itu bulat. Besar. Tapi tidak terlalu besar.
Ada 6 tuas di ruangan itu.
Ketika mereka semua sudah masuk.
KRANG—!!
Gerbang itu menutup kembali. Dengan dentuman suara yang keras.
Lalu hening kembali muncul.
Beberapa saat kemudian, suara-suara kembali muncul.
“... 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳…”
“... 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪…”
“... 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢… 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪…?”
Suara-suara barusan adalah suara kegelisahan para pemain.
Lalu.
Neuro (menatap tuas terlalu lama, tangannya mengepal untuk membuat dirinya sendiri agar tidak terlihat gemetar) :
“Kalau kita tidak berhasil keluar dari sini.”
Neuro (menelan ludah) :
“kita tidak dapat uangnya.”
(Jeda.)
“Dan kita tidak kembali ke rumah.”
Ia berjalan ke arah Enthy. Lalu memeluk Enthy terlalu kuat seperti takut ia menghilang.
Neuro (Tangannya gemetar. Bukan dramatis. Refleks. Refleks manusia) :
“Aku juga akan membantumu menyelesaikan permainan ini…!”
(Jeda.)
“Aku pasti berguna!”
Neuro (memeluk tubuh Enthy lebih kuat, ia bicara janji bukan ke orang yang ia peluk tapi dirinya sendiri, janji untuk bisa bertahan hidup) :
“Aku akan memenangkan uangnya… kembali ke rumah…”
(Jeda.)
“Untuk menemui Ayahku…”
Neuro melepaskan pelukannya dari Enthy.
Enthy menoleh ke Alisa kemudian menoleh ke Wacha dan Toami.
Lalu ke Rarasa.
Rarasa (menunduk, jari-jarinya memegang kain bajunya erat. Terlalu erat) :
“... Bagaimana ini…?”
Rarasa (napasnya tidak stabil, tangannya tetap gemetar meski sudah memegang kain bajunya erat) :
“…Neuro lebih muda dariku…”
“Tapi dia… dia lebih bisa di andalkan.”
(Jeda.)
“Dibandingkan dengannya… aku…”
Neuro berjalan mendekat ke arah Rarasa.
Neuro (berhenti didepan Rarasa, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh) :
“Rarasa.”
Rarasa (tersentak kecil, wajahnya yang dari tadi menunduk akhirnya mendongak) :
“Ehh?”
Neuro kini tepat di depannya.
Neuro (reflek memegang tangan Rarasa; genggamannya hangat tapi sama-sama gemetar) :
“Kamu…”
“Apa yang akan kamu lakukan?”
Rarasa (merasakan getaran tangan Neuro pada tangannya sendiri) :
“...”
[]Batin Rarasa[]
“Neuro…”
“Tangannya gemetar.”
(Jeda.)
“Aku bukan satu-satunya yang takut…”
Rarasa (menatap mata Neuro) :
“Aku juga ingin melakukan yang terbaik…”
(Jeda.)
“Sepertimu, Neuro.”
Hening.
Bukan hening nyaman.
Hening keputus-asaan.
Alisa mendekati Enthy.
Alisa (memegang dagunya sendiri) :
“Jadi?”
Enthy (tidak langsung menjawab) :
“.....”
Ia menatap ruangannya.
Enthy (menghitung jarak, tinggi, sudut, dan mengingat kembali apakah ia pernah memainkan permainan yang serupa sebelumnya) :
“Kita terkunci~”
“Tidak bisa keluar~”
(Jeda.)
“Dan ini kali pertama aku berada dipermain baru, yang disebut Rumah Hantu~”
“Aku kira kita hanya perlu melarikan diri, ternyata aku salah~”
Enthy (menoleh ke semua orang yang berada diruangan itu) :
“Kita harus menyelesaikan ini, kalau tidak kita bisa mati kelaparan disini.”
Wacha (menggaruk belakang leher) :
“Mati kelaparan?”
“Apa hal seperti itu mungkin pada tubuh palsu ini?”
Enthy (menghela napas, malas menjelaskan tapi kalau tidak dijelaskan maka semua orang bisa linglung) :
“Hmmp.”
“Jadi… konsep Avatar ini, atau tubuh palsu ini…”
Enthy menjelaskan banyak hal seperti:
“Pertama, bahan-bahan pembuatan ini Avatar berasal dari… makhluk-makhluk dari dunia luar.”
“Yaitu makhluk hidup yang berada pada dalam portal.”
“Kalian pasti tahu itu, karena makhluk-makhluk itu terus menyerang dunia kita.”
“Mereka itu memiliki berbagai spesies.”
“Naga, Goblin, Skeleton.
“Dan di antaranya adalah Preservative.”
“Spesies itulah yang menjadi bahan baku utamanya.”
“Kalian tahu~”
“Makhluk Preservative itu tidak memiliki darah… dan kapas sebagai pengganti darah tersebut.”
“Tapi… didalam makhluk Preservative itu juga tetap memiliki organ-organ seperti manusia.”
“Jika kita mengeluarkan usus manusia… pasti manusia itu akan mengeluarkan banyak darah.”
“Makhluk Preservative juga sama, jika kita mengeluarkan usus nya… makhluk Preservative itu akan mengeluarkan banyak kapas.”
Seseorang berkata :
“... 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘫𝘦𝘳𝘰𝘢𝘯?”
Lalu Enthy melanjutkan penjelasannya dan kenapa dia tiba-tiba mengatakan usus atau jeroan manusia maupun Preservative :
“Karena pada setiap permainan, ada saja orang gila yang menyiksa lawannya.”
“Bahkan sampai mengeluarkan jeroannya hingga tidak ada yang tersisa didalamnya.”
“Aku pernah berjumpa dengan orang semacam itu.”
“Itu tidak efisiensi, lebih baik bunuh langsung daripada menyiksa lawan dengan cara seperti itu.”
“Kedua.”
“Para Arsitek akan mengalahkan makhluk Preservative tanpa merusaknya.”
“Menyimpan Preservative yang tanpa nyawa itu.”
“Lalu para agensi nya para Arsitek mencari orang-orang seperti kita atau aku.”
“Para agen itu menawarkan permainan untuk kita, kalau kita menyetujui itu.”
“Kita akan diberi pil tidur lalu kita menelan pil tidur itu dan akhirnya kita tertidur.”
“Saat kita tertidur itulah, tubuh kita dipindai untuk membentuk Preservative yang seratus persen mirip dengan tubuh asli kita.”
“Dan diwaktu bersamaan, jiwa kita dimasukkan kedalam tubuh Preservative itu.”
“Dan akhirnya kita terbangun ditubuh Preservative itu.”
“Namun karena sebutan Preservative terlalu sulit dikatakan, maka sebutan Avatar lebih banyak dikatakan dari pada Preservative.”
“Ketiga, ini soal aturan permainan.”
“Tidak semua aturan permainan itu sama, bahkan jika kamu masuk kedalam permainan yang serupa.”
“Misalnya rumah hantu ini, kupikir kita hanya perlu melarikan diri sama seperti permainan gedung tua yang pernah aku mainkan.”
“Keempat dan yang terakhir.”
“Avatar bisa kelaparan, merasakan sakit, terluka, menangis, bahkan mati.
Enthy (menghela napas) :
“Jadi seperti itu.”
Wacha (menoleh ke 6 tuas yang jaraknya jauh dari masing-masing tuas) :
“Kalau ini?”
(Melihat tuas.)
“Maksudnya gimana?”
Enthy (menatap tuas satu per satu) :
“Mungkin.”
“Jika kita tarik tuas itu bersamaan… permainannya akan lanjut~”
Enthy melangkah ke salah satu tuas.
Enthy menatap tuas lagi. Kali ini lebih dekat.
Tangannya menyentuh saku pakaiannya.
Kuncinya masih ada pada saku pakaiannya. Tapi untuk apa?
Enthy (menarik napas pendek, tersenyum seperti orang yang ingin mencoba hal baru):
“Ayo kita coba~”
Hening. Semua tidak berkata apa-apa.
Tidak lama kemudian setelah hening tercipta.
Neuro (berdiri diam tidak bergerak) :
“Enthy.”
Enthy meliriknya.
Neuro (menatap Enthy, alisnya sedikit berkerut) :
“Sebelum kita lakukan itu…”
“Katakan padaku.”
(Jeda.)
“Menurutmu apa yang terjadi kalau kita tarik?”
Enthy (diam satu detik) :
“Bisa jadi minigame.”
“Seperti ruangan yang banjir, lalu pecahkan puzzle sebelum tenggelam.”
Enthy (tatapannya turun ke bawah lantai) :
“Atau lantai terbuka.”
“Dan kita harus bergantung pada tuas ini agar tidak jatuh.”
Enthy (menatap mereka semua satu per satu lalu menggerakkan tangan kirinya yang telah baikan tapi masih sakit) :
“Kalau benar… kita hidup.”
“Kalau salah… salah satu di antara kita akan mati.”
(Jeda.)
“Itu sudah biasa disini~”
Alisa berjalan perlahan ke tuas satu didekatnya.
Diikuti dengan Neuro, Rarasa, Wacha, dan Toami.
Mereka semua sudah berdiri didepan tuas masing-masing.
Enthy (menoleh ke semua orang, apakah semua sudah berada didepan tuas atau tidak… dan apakah mereka siap untuk melakukannya atau tidak) :
“Kalian siap?”
Semuanya mengangguk pelan bukan berkata.
Tangan kiri Enthy yang mulai baikan memegang tuas itu.
Enthy (mulai akan menarik tuas) :
“Mari kita mulai~”
“Satu~”
(Semua orang bersuara, bukan hanya Enthy yang menghitung.)
“Satu.”
“Dua.”
“Tiga.”
Tuas sudah ditarik kebawah.
SLEECK—!!
Borgol logam muncul dari bawah lantai. Cepat.
Langsung menjepit satu tangan semua orang yang memegang tuas itu.
Enthy (mata melebar sepersekian detik. Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya) :
“…Eh?”
“Borgol?”
SLEEB—!!
Tembok tebal naik dari lantai, memisahkan mereka. Dan sedikit bisa melihat bayangan orang lain dibelakang tembok itu.
Enthy (sedikit menarik tangannya lalu menoleh ke belakang untuk melihat semua orang, namun kini telah terhalang oleh tembok tebal) :
“Tembok ini muncul dari lantai.”
“Apa ruangan ini sengaja di pisah?”
GEEEERRR—!!
Enthy mendongak ke atas. Enam pemotong raksasa turun dari langit-langit.
Berputar perlahan.
Bukan cepat.
Perlahan.
[Fragmen 7/11]
Semua bersuara namun tembok-tembok iidibalik tembok-tembok itu.
“𝘼—𝙖𝙝—!”
“𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪!”
“𝙀𝙠𝙨𝙚𝙠𝙪𝙨𝙞…”
“𝘼𝙥𝙖-𝙖𝙥𝙖𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞!?”
“𝙂𝙖𝙬𝙖𝙩!”
“𝙂𝙖𝙬𝙖𝙩!”
“𝙂𝙖𝙬𝙖𝙩!”
“𝙀𝙣𝙩𝙝𝙮—!”
“𝘿𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙨!”
“𝙄𝙩𝙪 𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩!”
“𝘾𝙚𝙥𝙖𝙩—𝙘𝙚𝙥𝙖𝙩 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪!”
Enthy (menatap mesin di atasnya tanpa berkedip, pupil matanya bergerak cepat menghitung jarak turun bilah itu) :
“Iya aku tahu.”
Pupil mata Enthy bergerak sangat cepat dan pikirannya juga bergerak sangat cepat. Seolah dunia melambat. Tapi dunia tetap tidak pernah melambat.
Enthy (sesaat matanya tertuju pada tuas) :
“Tuas ini…”
Enthy sedikit menarik tuas itu ke atas; borgol pada lengan kirinya mengencang.
Enthy (tangan kiri yang sebelumnya pernah patah tidak sanggup menahan borgol itu yang sedikit mengencang dari sebelumnya) :
“Aaa.”
Enthy (terduduk menahan sakit, tangan kanannya memegang tangan kiri yang diborgol itu) :
“Borgol ini akan semakin mengencang ketika tuas ini ditarik ke atas…”
Enthy berdiri kemudian tangan kanannya memegang tuas itu. Mendorong tuas itu kebawah.
Enthy (sedikit lega karena tangan kirinya tidak hancur) :
“Kalau aku tarik ke bawah… borgolnya melonggar.”
Enthy mengangkat wajahnya. Menatap bilah yang cukup jauh… tapi bagi semua orang yang melihatnya. Mesin itu akan menjadi alat p********n yang super menyiksa.
Enthy (napas pendek, bahunya akhirnya sedikit tegang) :
“Kalau ditarik maksimal ke atas…Tanganku terpotong.”
(Menatap ke atas meski suara tetap stabil, tapi tidak dengan yang lainnya.)
“Kalau tidak melakukan itu… maka seluruh tubuhku yang terpotong.”
(Mengangkat dagu sedikit.)
“Serendah apa pun aku dorong tuas ini kebawah… tetap saja borgolnya tidak akan terlepas.”
Enthy (berhenti memainkan tuas itu) :
“Mesin pemotong di atas ku, dia tidak terburu-buru.”
“Dia hanya sedang menggertak, membuat kita panik...”
(Jeda.)
“... Dan ketika dia berhasil membuat kita semua panik… di akhir dia akan memotong kita semua menjadi bagian-bagian kecil.”
Enthy (menatap borgol ditangannya) :
“... Lalu mati.”
Enthy (membalik telapak tangan perlahan, diam sepersekian detik karena melihat lubang kunci pada borgol itu) :
“.....”
“Lubang kunci?”
Enthy (tersenyum kecil, tangan kanannya merogoh saku pakaiannya) :
“Aku membawa kunci ini~”
(Mengeluarkan kunci itu dari pakaiannya.)
“Jadi memang untuk ini~”
Enthy (menatap rangkaian kunci pada tangannya) :
“Masalahnya ini… terlalu banyak kunci.”
Ia mencoba satu.
Gagal.
Satu lagi.
Gagal.
Mesin semakin dekat.
Enthy (masih mencari-cari yang mana kunci yang bisa membuka borgol itu) :
“Ini hanya masalah waktu untuk mencari kunci yang tepat.”
KLIK—
Mesin di atasnya berhenti.
Enthy (mengangkat wajah perlahan, serpihan debu logam jatuh ke rambutnya) :
“Aku bebas.”
(Menatap ke atas.)
“Itu artinya bukan waktu yang jadi kuncinya.”
Enthy (Ia tidak lega. Ia hanya memastikan dirinya masih unggul. Dari permainan ini.) :
“Jadi begitu cara kerjanya~”
Enthy (melihat sebuah celah dibawah tembok itu) :
“Buka borgol, mesinnya berhenti, permainan selesai.”
Enthy (berjalan mendekat ke celah itu) :
“Dengar baik-baik.”
(Ia tidak berteriak, bukan karena tidak mau. Tapi tidak bisa.)
“Kalau kalian ingin hidup, ikuti instruksiku.”
(Jeda.)
“Di tengah ruangan ini…”
Enthy (membungkuk sedikit agar suaranya masuk ke setiap ruang) :
“Ada celah kecil ditengah tembok ini, didekat lantai.”
“Aku akan memberikan kalian kunci dari situ.”
“Gunakan kunci itu untuk membuka borgol kalian.”
“Maka mesin pemotong akan berhenti.”
Enthy menaruh kunci itu di celah kecil.
Enthy (tersentak kaget, banyak tangan yang menyentuh tangannya untuk mengambil kunci. Tangan-tangan itu mengambil secara paksa dari tangan Enthy) :
“!?”
“Apa-apaan—?”
[]Batin Enthy Games ke-43[]
“Keserakahan.”
(Jeda.)
“Manusia akan lebih serakah ketika memasuki akhir hidup mereka.”
“Bahkan itu bagi orang baik sekalipun…”
Refleks Enthy langsung melepaskan kunci dari pegangan tangan kanannya itu.
KRING—KRING
Suara rangkaian kunci yang terjatuh dari tangan Enthy.
Enthy (menatap tangan-tangan yang saling berebutan kunci yang terjatuh itu) :
“Jangan saling berebut seperti itu!”
(Untuk pertama kalinya ia berteriak, reflek ia memegang dadanya karena luka lama yang tidak pernah sembuh. Luka lama akibat tusukan pisau Valeria.)
“Tenangkan diri kalian!”
“Dan berkerja samalah!”
“Kalian bisa selesaikan ini bersama tepat waktu!”
“Jadi berhenti berebut kunci seperti itu!”
Enthy menatap tangan yang berhasil meraih kunci itu.
[]Batin Enthy[]
“Tangan itu… tangan Wacha.”
Tangan Wacha mengambil rangkaian kunci itu, namun tangan lain mengambil kunci itu secara paksa dari tangan Wacha. Tangan yang mengambil kunci itu secara paksa dari pegangan tangan Wacha adalah Alisa.
Alisa (langsung menempelkan kunci-kunci itu ke borgol) :
“Maaf.”
(Kata maaf itu bukan menyesal. Tapi fokus ke kunci.)
Dalam hitungan detik.
Satu.
Dua.
Alisa (borgolnya telah terbuka) :
“Sudah selesai~”
Dua mesin berhenti.
Enthy (dibalik tembok) :
“Cepat berikan ke yang lain.”
Alisa berjalan ke tembok kemudian berjongkok dan memberikan kunci itu ke celah.
Ada masih banyak tangan yang masih mencari kunci itu.
Alisa (tangannya ditarik oleh Wacha, kemudian meraup kunci itu secara paksa dari tangannya) :
“Ini–”
Wacha seperti membalas perlakuan Alisa padanya sebelumnya.
Kini kunci itu berada di pegangan Wacha.
Wacha (pupil matanya bergetar) :
“Dapat.”
(Napasnya bergetar.)
Wacha (mencoba-coba seluruh kunci) :
“Aku harus cepat…”
“…Aku harus kasih ke orang yang berikutnya…”
Satu detik.
Dua detik.
Tujuh detik.
Sepuluh detik.
Tiga mesin pemotong berhenti.
Wacha (akhirnya borgol pada pergelangan tangannya terbuka) :
“Terbuka!”
(Napasnya seperti baru muncul ke permukaan air.)
Wacha tidak langsung memberikan kunci itu pada orang lain.
Dua puluh detik.
Tiga puluh detik.
Ia menatap terlebih dahulu kunci itu pada tangannya terlalu lama. Terlalu lama untuk waktu yang seharusnya bisa lebih cepat.
Toami (terdengar dari balik tembok) :
“Hiks…”
“Uwaaa…”
Wacha (matanya berkedip cepat) :
“Toami…”
Wacha (Ia berjalan ke celah itu. Ia tidak langsung menaruh kunci itu.) :
“Toami sedang menangis…”
(Jeda.)
“Dia dibawa ke sini tanpa persetujuannya.”
Wacha (Ia menutup mata sepersekian) :
“Tentu saja dia ketakutan.”
(Menelan ludah.)
“Gadis yang malang…”
“Tapi karena saat ini kita terpisah…”
Wacha (menatap kunci sangat lama) :
“Tunggu sebentar.”
Alisa (dibalik tembok, mengetuk keras tembok itu) :
“Woy cepat!”
“Orang-orang butuh itu juga!”
Enthy (dibalik tembok yang lain, berteriak meskipun sebenarnya ia tidak ingin berteriak) :
“Wacha!”
“Kenapa lama sekali!”
Wacha tidak mendengarkan kata-kata Enthy dan Alisa.
Wacha (tatapannya tetap tertuju pada kunci itu, tersenyum kecil) :
“Ada yang bisa aku lakukan untuknya.”
(Jeda.)
“Aku punya kuncinya…”
“Seharusnya aku bisa memberikannya langsung kepadanya…”
Ia berjongkok dan tangannya mencari-cari tangan Toami.
Enthy (menatap celah, yang seharusnya Wacha hanya menaruhnya. Namun dia malah mencari-cari tanggan Toami) :
“...?”
“Oh, begitu ya…”
“Dia pilih kasih.”
Enthy bersandar pada tembok itu lalu terduduk.
[]Batin Enthy[]
“Sudahlah…”
(Jeda.)
“Mereka sudah kehilangan waktu akibat pertikaian sebelumnya.”
“Kemungkinan semua orang selamat sudah tidak ada.”
(Jeda sepersekian detik.)
“Pertanyaannya siapa yang akan mati?”
“Rarasa atau Neuro.”
“Atau keduanya…?”
4 mesin berhenti.
Toami menaruh kuncinya di celah.
Neuro (berlutut hampir merangkak tapi borgolnya menarik lengannya ke atas paksa.) :
“Kuncinya terlalu jauh!”
(Ia mencoba meraih dengan ujung jari. Hanya menyentuh debu. air mata keluar tanpa suara.)
“Aku tidak bisa menggapainya…”
Neuro (ia tetap menjangkau kunci itu, namun tubuh kecil, lengan pendek, dan satu tangan terikat) :
“…Aku terlalu kecil.”
(Suaranya tidak marah. Hanya fakta yang menyakitkan.)
Neuro (mendongak; mesin itu semakin dekat) :
“Mesinnya akan segera mengenaiku…”
(Bibirnya bergetar, tapi ia tidak menutup mata.)
Neuro (menekan tuas sepersekian detik) :
“Aku harus mengambil kuncinya…”
(Jeda.)
“…sebelum aku terpotong-potong.”
Neuro (kepalanya menggeleng cepat, air mata terlempar dari sudut matanya) :
“Aku akan mati…!”
“Aku benar-benar akan mati!”
Neuro (menatap tuas terlalu lama, sangat lama) :
“Bagaimana caranya…”
“Aku bisa sampai ke sana…?”
Ia menatap tangannya kanannya yang diborgol.
Neuro (mata membesar tiba-tiba; napasnya terhenti satu detik):
“Oh—”
“Aku tahu—!”
Neuro (menatap tuas lagi, seperti membuat keputusan) :
“Kalau aku pakai tuas ini…!”
(Ia kembali merenungkan apakah cara ini bisa atau tidak.)
“Tapi…”
Neuro (menatap tuas, napasnya tidak stabil; air mata menetes tanpa ia sadari) :
“Kalau mengambil kunci itu adalah aku…”
(Ia menelan ludah. mata membesar.)
“Seseorang akan berakhir...”
Ia mendongak ke atas, Mesinnya sudah sangat dekat, bahkan terlalu dekat.
Neuro (menatap tuas, pupil bergetar):
“…!”
“Aku tidak mau…!”
(Jeda sangat pendek.)
“Aku takut!”
“Aku takut!”
Neuro (suara pecah, napas tersendat):
“Aku takut…”
“Aku takut…”
“Aku tidak ingin mati…”
Ia menarik tuas ke atas. Pergelangan tangannya kanannya mengencang. Sangat mengencang.
Kemudian.
CRAK—
Pergelangan tangan kanannya terlepas.
Rarasa (menatap celah, tangan gemetar, masih mencoba untuk meraih kunci itu) :
“Kuncinya…”
“Aku masih—”
Rarasa (mata berkedip cepat, tangan kanannya terus menarik-narik borgol pada pergelangan tangan kanannya itu) :
“…Butuh?”
Tangan Neuro mengambil kunci itu.
Rarasa (menatap celah kosong, tanpa kunci) :
“Nggak…?”
“Nggak mungkin…”
“Kuncinya…”
Rarasa (terus menerus menarik lengannya mencoba untuk terlepas dari borgolnya yang mengekang tangannya itu) :
“Aku masih membutuhkannya…”
“…Neuro… pasti… akan memberikan.”
(Jeda.)
“... Mungkin…”
5 mesin berhenti.
Neuro menaruh kuncinya di celah.
Rarasa (mencoba meraih kunci itu, namun tangannya tidak kunjung sampai) :
“...”
“Aku…!”
Tangan Enthy mengambil kunci itu.
Rarasa (kedua matanya bergetar, mencoba mengejar kunci itu… namun tidak bisa karena tangannya dirantai) :
“... Aku nggak kebagian—”
“.....!”
Rarasa (pergelangan tangan kanannya terkena bilah itu, lalu mesin itu bergerak pelan memblender sedikit demi sedikit tangan kanannya itu) :
“Aaaaaaa!!”
(Tangan kirinya mencakar udara kosong.)
Rarasa (tertarik mundur, tangannya itu terus menerus diputar dan dimakan oleh mesin itu) :
“Aaaaaaa—!!”
“Aaaaaaa—!!”
[]Batin Rarasa[]
“Ini bukan seperti di imajinasi.”
“Ini sakit.”
“Ini benar-benar sakit.”
Rarasa (mesin itu terus menerus memblender dirinya) :
“Aaaaaaa—!!”
“Aaaaaaa—!!”
“Aaaaaaa—!!”
“Aaaaaaa—!!”
Suara teriak bergema.
“...!”
Hening seketika…
Bahkan terlalu hening.
Tembok-tembok yang sebelumnya menghalangi turun seketika itu juga.
Enthy (menatap lantai, memasukkan kuncinya ke saku pakaian lagi) :
“.....”
Enthy melihat Neuro.
Neuro (bersandar di sudut ruangan, tangan kirinya memegang lengan kanannya yang telah kehilangan pergelangan) :
“Maaf-maaf-maaf-maaf…”
Enthy (menatap Neuro terlalu lama) :
“…Neuro.”
Ia tidak melanjutkan kata-katanya.
Ia hanya menatap Neuro yang telah kehilangan pergelangan tangan kanannya.
[]Batin Enthy[]
“Neuro.”
“Pergelangan tangannya kanannya tidak ada.”
(Jeda.)
“Dia pasti memotong pergelangan tangannya sendiri…”
“Dengan cara menarik tuas ke atas.”
Wacha (menatap tubuh Rarasa, suaranya kecil sekali):
“…Kenapa…”
Mereka menatap mayat Rarasa yang dipenuhi serat kapas, tubuhnya terpotong-potong.
Alisa berlari ke arah Wacha, napas Alisa tidak stabil.
Enthy (melangkah menghadang Alisa, menatap mata Alisa yang dipenuhi amarah) :
“Berhenti.”
(Jeda. Sepersekian detik.)
“Kalau kau menyerang orang di sini…”
(Jeda cukup lama.)
“Kita kehilangan satu lagi.”
“Dan itu akan memburuk keadaan sekarang.”
Hening kembali muncul.
[Layar hitam]
[To be continued]