Episode 1.4

2079 Words
[]๐ท๐‘’๐‘Ž๐‘กโ„Ž ๐บ๐‘Ž๐‘š๐‘’๐‘  - From One to One Thousand Survivals[] Episode 1.4: Rumah hantu - Games 40 Genre :[[>Psychological Horor, Mystery, Fantasy<]] [Fragmen 8/11] Tembok-tembok yang sebelumnya menghalangi turun seketika itu juga. Enthy (menatap lantai, memasukkan kuncinya ke saku pakaian lagi) : โ€œ.....โ€ Enthy melihat Neuro. Neuro (bersandar di sudut ruangan, tangan kirinya memegang lengan kanannya yang telah kehilangan pergelangan) : โ€œMaaf-maaf-maaf-maafโ€ฆโ€ Enthy (menatap Neuro terlalu lama) : โ€œโ€ฆNeuro.โ€ Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menatap Neuro yang telah kehilangan pergelangan tangan kanannya. []Batin Enthy[] โ€œNeuro.โ€ โ€œPergelangan tangannya kanannya tidak ada.โ€ (Jeda.) โ€œDia pasti memotong pergelangan tangannya sendiriโ€ฆโ€ โ€œDengan cara menarik tuas ke atas.โ€ Wacha (menatap tubuh Rarasa, suaranya kecil sekali): โ€œโ€ฆKenapaโ€ฆโ€ Mereka menatap mayat Rarasa yang dipenuhi serat kapas, tubuhnya terpotong-potong. Alisa berlari ke arah Wacha, napas Alisa tidak stabil. Enthy (melangkah menghadang Alisa, menatap mata Alisa yang dipenuhi amarah) : โ€œBerhenti.โ€ (Jeda. Sepersekian detik.) โ€œKalau kau menyerang orang di siniโ€ฆโ€ (Jeda cukup lama.) โ€œKita kehilangan satu lagi.โ€ โ€œDan itu akan memburuk keadaan sekarang.โ€ Hening muncul. SEEEKKโ€”! Pintu ruangan ini terbuka. Enthy (menoleh ke semua orang yang berada dalam ruangan ini) : โ€œHmmmโ€ฆโ€ []Batin Enthy[] โ€œKayaknya ini sudah terlalu berlebihan bagi mereka.โ€ (Jeda.) โ€œ40 kemenangan berturut-turut.โ€ โ€œAku harap bisa meraihnya.โ€ Alisa (ia tertawa, tapi tawanya ini seperti ia paksakan sendiri) : โ€œ๐‡๐šโ€ฆ ๐ก๐šโ€ฆ ๐ก๐šโ€ฆโ€ Enthy terdiam sepersekian detik, kemudian ia menoleh ke Alisa. Alisa (menutup mata kanannya dengan telapak tangan, senyumnya miringโ€”aneh, tidak cocok dengan situasi) : โ€œ๐‡๐š๐ก๐š๐ก๐š~โ€ โ€œ๐ƒ๐š๐ซ๐ข ๐ฉ๐š๐๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ค๐š๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข๐ค๐ฎ, ๐›๐š๐ ๐š๐ข๐ฆ๐š๐ง๐š ๐ค๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ซ๐ฎ๐ง๐ ~โ€ (Ia menatap Enthy sangat tajam.) โ€œ๐€๐ฒ๐จ ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ซ๐ฎ๐ง๐ ~โ€ โ€œ๐€๐ค๐ฎ ๐ข๐ง๐ ๐ข๐ง ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ฆ๐ฉ๐ข๐š๐ฌ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฌ๐ฎ๐š๐ญ๐ฎ~โ€ Enthy (alisnya berkerut, kata-kata itu tidak pernah ia dengar sebelumnya) : โ€œHah?โ€ (Jeda.) โ€œApa maksud perkataanmu itu?โ€ โ€œPara penonton tidak akan suka dengan halโ€“โ€ BRUKKโ€“ Sebelum seluruh kata-katanya keluar semua, Alisa telah mendaratkan pukulan pada wajah Enthy. Tubuh Enthy sampai terpental ke samping dan tubuhnya membentur lantai cukup keras. Neuro, Wacha, dan Toami tersentak kaget. Tapi mereka tidak bisa ikut campur bahkan menghentikannya. Alisa (menatap Enthy yang baru saja terpental dan membentur lantai cukup keras) : โ€œ๐€๐ค๐ฎ ๐ฌ๐ž๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ซ๐ฎ๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ฐ๐š๐ง ๐ฆ๐จ๐ง๐ฌ๐ญ๐ž๐ซ ๐๐ข ๐๐ฎ๐ง๐ ๐ž๐จ๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ฆ๐ฉ๐ข๐š๐ฌ๐ค๐š๐ง ๐ž๐ฆ๐จ๐ฌ๐ข๐ค๐ฎ.โ€ โ€œ๐“๐š๐ฉ๐ข ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ง๐ข ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐š๐๐š ๐๐ฎ๐ง๐ ๐ž๐จ๐ง ๐ฆ๐š๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฆ๐จ๐ง๐ฌ๐ญ๐ž๐ซ.โ€ โ€œ๐’๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐ ๐š๐ง๐ญ๐ข๐ง๐ฒ๐š ๐š๐ค๐ฎ ๐ข๐ง๐ ๐ข๐ง ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ฐ๐š๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข๐ฆ๐ฎ.โ€ Alisa (mengangkat kedua tangannya) : โ€œ๐‡๐ž๐ข, ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ฌ๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ข๐ฅ๐š๐ง๐  ๐›๐š๐ก๐ฐ๐š ๐ข๐ง๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฆ๐š๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐š๐ซ๐ฎ~โ€ โ€œ๐‰๐š๐๐ข ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐š๐๐š ๐ค๐ž๐ฆ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง๐š๐ง ๐›๐š๐ก๐ฐ๐š ๐ฉ๐š๐ซ๐š ๐ฉ๐ž๐ง๐จ๐ง๐ญ๐จ๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐›๐ข๐œ๐š๐ซ๐š๐ค๐š๐ง ๐ข๐ญ๐ฎ ๐š๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ฎ๐ค๐š๐ข ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ค๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ข๐ง๐ข~โ€ Alisa (menoleh ke arah yang lain tanpa benar-benar melihat mereka; suaranya turun setengah nada, tapi terasa lebih gelap) : โ€œDan tidak apa-apa kalau kalian semua keluar.โ€ (Jeda.) โ€œTapi kalau kalau tetap ngeyel.โ€ โ€œ๐€๐ค๐š๐ง ๐ค๐ฎ๐›๐ฎ๐ง๐ฎ๐ก!โ€ Enthy (menoleh dengan cepat ke Wacha, Toami, dan Neuro sangat cepat sambil berdiri perlahan) : โ€œKalian?โ€ โ€œApa kalian serius akan membiarkan kita berdua lagi bertarung?โ€ Hening. Tidak ada yang menjawab perkataan Enthy. Beberapa saat kemudian. Wacha, Toami, dan Neuro keluar. Bukan karena mereka ingin. Tapi terpaksa meninggalkan mereka berdua. Alisa berjalan perlahan ke arah Enthy lalu berlari sangat kencang. Ia melompat mengarahkan satu sikut kanannya ke wajah Enthy. BAGKโ€” Tapi Enthy berhasil menahannya dengan kedua tangannya. Tubuhnya sedikit mundur akibat dorongan. Namun akibat itu, tangan kiri Enthy merasakan ras sakit begitu hebat. Ia meringis menahan sakit pada tangan kirinya meski tidak bersuara. Tak. Kaki Alisa sudah mendarat kembali pada lantai. Kemudian kaki kanannya mengarah lurus ke kepala Enthy. Sementara itu, di luar ruangan itu. Toami (menarik napas pendek-pendek, kedua tangannya mencengkeram pakaian Maid nya terlalu kencang) : โ€œBagaimana iniโ€ฆ?!โ€ โ€œBagaimana iniโ€ฆ?!โ€ Toami (menoleh ke pintu gerbang, disitulah Enthy dan Alisa bertarung) : โ€œKita harus keluar dari siniโ€ฆโ€ โ€œTapi mereka malah berkelahiโ€ฆโ€ Ia melangkah tanpa melihat. KRANGโ€”!! Kakinya menginjak pelat logam tipis. Toami (menatap ke bawah, napasnya berhenti setengah detik) : โ€œโ€ฆEh?โ€ Hening. Tidak ada yang terjadi padanya. Memang tidak ada yang terjadi apa-apa disana. Namun ada yang mulai terjadi didalam ruangan tadi. Lantai bergetar. Kemudian pintu keluar ditutup kembali, yang padahal Enthy dan Alisa masih berada dalam ruangan itu. Enthy (bangkit perlahan sambil menatap pintu keluar yang tiba-tiba tertutup) : โ€œ.....?โ€ KRANGโ€“ TRANGโ€“ Empat pisau terjatuh dari atas ruangan. Dan tiba-tiba ada layar muncul dari atas. Layar itu menampilkan gambar pintu yang terbuka dan satu orang. Alisa berjalan ke arah pisau-pisau itu. Alisa (membungkuk untuk mengambil satu pisau lalu tegak kembali. Ia memegang pisau itu menggunakan telapak tangan kanannya) : โ€œJadi begitu ya.โ€ (Mengacungkan pisau yang ia pegang pada Enthy.) โ€œ๐Š๐ข๐ญ๐š ๐ฆ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐  ๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ฌ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐ง๐ฎ๐ก, ๐ค๐ž๐ฆ๐ฎ๐๐ข๐š๐ง ๐ฉ๐ข๐ง๐ญ๐ฎ ๐ค๐ž๐ฅ๐ฎ๐š๐ซ๐ง๐ฒ๐š ๐š๐ค๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐š.โ€ Ia berlari ke arah. Enthy juga berlari, menjauh dari Alisa. BRUGKโ€“ Kaki Enthy tersandung lalu terjatuh, akibat kakinya membentur tubuh Rarasa yang sudah mati. Kapas-kapas dari tubuh Rarasa bertebaran. Alisa langsung mencengkeram rambut Enthy, sebelum Enthy berdiri. Kemudian Alisa mengangkat rambut Enthy, tubuh Enthy juga ikut terangkat. Kemudianโ€“ ๐˜ฝ๐™€๐™๐™๐™€๐™‰๐™‚๐™†โ€“!! Alisa membenturkan wajah Enthy ke dinding. Alisa (ia memegang kepala Enthy yang membentur dinding itu, dan pisau pada tangan kanannya berada sangat dekat pada leher Enthy) : โ€œ๐’๐ž๐ซ๐ข๐ฎ๐ฌ, ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ข๐ญ๐ฎ ๐ง๐ข๐ฉ๐ฎ ๐ค๐š๐ฆ๐ข ๐ฒ๐š?โ€ โ€œ๐Œ๐š๐ฌ๐š ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ฅ๐ž๐ฌ๐š๐ข๐ค๐š๐ง ๐ญ๐ข๐ ๐š ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ก ๐ฌ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ฅ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฆ๐š๐ข๐ง๐š๐ง, ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ค๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐๐š๐ก ๐ข๐ญ๐ฎ ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐š๐ซ๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐š๐ข๐ง๐ค๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฆ๐š๐ข๐ง๐š๐ง ๐ข๐ง๐ข!โ€ Alisa melepaskan cengkraman tangannya dari kepala Enthy. Tubuh Enthy terduduk seketika sambil memegang dinding itu. Ia mencoba menahan rasa sakit pada wajahnya itu. Alisa berjalan ke arah pisau-pisau, ia mengambil satu pisau. KRANGโ€“ Alisa melempar pisau itu kedekat Enthy. Memberikan pisau itu pada Enthy. Alisa (menatap Enthy yang masih terduduk) : โ€œ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐ฌ๐ž๐ซ๐ฎ ๐ค๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ฌ๐ฎ๐ง๐  ๐ฆ๐š๐ญ๐ข.โ€ โ€œ๐‰๐š๐๐ข ๐ ๐ฎ๐ง๐š๐ค๐š๐ง๐ฅ๐š๐ก ๐ฉ๐ข๐ฌ๐š๐ฎ ๐ข๐ญ๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ฐ๐š๐ง๐ค๐ฎ.โ€ Enthy menatap Alisa, kemudian ia mengambil pisau itu lalu berdiri. Kemudian Enthy berlari ke arah Alisa. Mereka berdua saling menghantam. []Narator - Enthy[] โ€œApa pun yang terjadiโ€ฆ aku akan tetap menjadi diriku sendiri.โ€ โ€œSeperti pasang surutโ€ฆ itulah satu-satunya cara diriku untuk bernapas dan membebaskan diri dari dunia yang mengerikan ini.โ€ โ€œTapiโ€ฆ kenapa aku malah masuk ke dalam dunia yang mengerikan itu?โ€ โ€œTidak ada yang akan pernah mengertiโ€ฆ bahkan diriku sendiri saja tidak mengerti.โ€ โ€œMatanya dingin dan tak lagi memantulkan cahaya.โ€ โ€œTapi aku bukan membicarakan orang lain.โ€ โ€œBerdiri di garis yang ambigu dan rapuhโ€ฆโ€ โ€œJika aku bisa tertidur lagi tanpa berubahโ€ฆ apa pun yang terjadi, saat aku terbangunโ€ฆโ€ โ€œAku akan tetap menjadi diriku.โ€ BREGKโ€” Alisa menendang perut Enthy. SRETTโ€” Enthy menebas tangan kanan Alisa. BREGKโ€” Alisa memukul tubuh Enthy. SRETTโ€” Pisau milik Enthy menggores wajah Alisa. Tebasan demi tebasan, pukulan demi pukulan. Kapas-kapas keluar dari tubuh mereka berdua. Tapi anehnya. Alisa tidak pernah menggunakan pisau miliknya, pisau yang ia pegang sudah seperti pajangan saja. Sampai akhirnya Alisa menggunakan pisau miliknya, kemudian ia menusuk tangan kiri Enthy. Enthy (berteriak kesakitan dan melepaskan pisau miliknya) : โ€œEEโ€”!!โ€ Sebelum pisau Enthy terjatuh, Alisa mengambilnya. Laluโ€“ CROTTโ€”!! Alisa menusuk perut Enthy. Enthy (pupil matanya bergetar hebat, sedikit kapas keluar dari mulutnya) : โ€œ.....?!โ€ Hening. Alisa menarik kembali pisau itu keluar dari perut Enthy. Banyak kapas keluar dari perut Enthy. Enthy berjalan mundur tidak stabil sambil memegang perutnya lalu terjatuh. Alisa (menatap Enthy yang baru saja terjatuh, tapi Enthy masih hidup) : โ€œ๐€๐ค๐ฎ ๐ฌ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฃ๐š ๐ง๐ ๐ ๐š๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ฌ๐š๐ซ ๐ค๐ž ๐ญ๐ข๐ญ๐ข๐ค ๐ฉ๐ข๐ญ๐š๐ฅ.โ€ โ€œ๐๐ข๐š๐ซ ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ฌ๐š๐๐š๐ซ ๐›๐š๐ก๐ฐ๐š ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ญ๐š๐ง๐๐ข๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข๐ค๐ฎ.โ€ (Jeda.) โ€œ๐Œ๐š๐ฌ๐š ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ข๐ง๐ข ๐ฆ๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐š๐ฌ๐ฎ๐ค ๐ค๐ž๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐ฎ๐ง๐ข๐š ๐ฌ๐ž๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐ข๐ง๐ข, ๐ฆ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐  ๐›๐จ๐๐จ๐ก.โ€ โ€œ๐‡๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ง๐ฒ๐š ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ข๐ญ๐ฎ ๐œ๐ฎ๐ฆ๐š ๐๐ข๐ซ๐ฎ๐ฆ๐š๐ก, ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐ฉ๐ž๐ซ๐ ๐ข ๐ฌ๐ž๐ค๐จ๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐š๐ฃ๐š ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š ๐ฆ๐ž๐ฆ๐š๐ข๐ง๐ค๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฆ๐š๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐ข๐ง๐ข.โ€ Enthy berdiri perlahan-lahan. Ia melepaskan pisau yang masih menempel pada tangan kirinya. Enthy (matanya tajam dan tertuju pada Alisa, tangan kirinya bergetar begitu juga kedua kalinya) : โ€œAkuโ€ฆ aku adalah muridnya Xyola!โ€ (Nadanya naik.) โ€œAku akan mencapai tujuannya itu!โ€ โ€œTujuan untuk menyelesaikan 99 permainan!!โ€ โ€œDan aku akan melewati expetasinya itu sampai ke seribu permainan!โ€ Enthy (berteriak sangat keras sambil memegang perutnya) : โ€œUNTUK MELEWATI SERIBU PERMAINAN!!โ€ Alisa menatap Enthy yang berjalan perlahan ke arahnya. Seperti orang yang sudah berniat untuk bunuh diri. Tiba-tiba di ada suara di benak Alisa. Orang yang tiba-tiba menggunakan sihir telepati pada Alisa. Orang itu berkata: โ€œ๐˜›๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.โ€ Alisa (tiba-tiba seperti robot yang tunduk pada suara itu, ia memegang satu pisau dengan kedua tangannya dan pisau itu di arahkan ke dirinya sendiri bukan pada orang lain yang berjalan ke arahnya) : โ€œAku mengerti.โ€ ๐‘ช๐‘น๐‘ถ๐‘ป๐‘ป๐‘ปโ€“!! Ia menusuk lehernya sendiri. Serat kapas dari lehernya keluar sangat banyak. Kemudian tubuhnya terjatuh. Enthy yang melihat itu tiba-tiba terduduk. Enthy (matanya tertuju pada mayat Alisa, kata-katanya keluar sangat pelan, terlalu pelan seolah tidak percaya) : โ€œHuh?โ€ โ€œKenapaโ€ฆ kenapa seperti ini?โ€ (Jeda.) โ€œPadahal sedikit lagiโ€ฆ sedikit lagi kamu bisa membunuhkuโ€ฆโ€ (Jeda sepersekian detik lebih lama.) โ€œ... Kenapa kamu malah menusuk dirimu sendiriโ€ฆ?โ€ CEASS. Asap muncul di ruangan itu. Luka-luka Enthy yang didapatkan Enthy barusan sembuh seketika setelah bersentuhan dengan asap itu. Tapi kedua tangan Enthy tiba-tiba memegang kepalanya sendiri. Ia seperti masuk ke dalam seseorang. Seseorang yang pernah ia bunuh. Seseorang yang bernama Stella. Yang sama-sama melihat rekannya yang bunuh diri, padahal seharusnya dia bisa membunuh Stella pada saat itu, namun ia malah bunuh diri. KEEKKKโ€” Pintu besi terbuka setengah tersendat. Stella dan Airin berdiri di ambang pintu. Debu luar ikut masuk bersama mereka. Gadis Rambut biru gelap (tidak berani menatap mereka, bahunya kaku seperti akan dihukum) : โ€œI-ini tidak seperti yang kamu pikirkan.โ€ โ€œSemua teman kita terbunuh.โ€ (Jeda.) โ€œJadi kitaโ€ฆโ€ โ€œAku tidak punya pilihan.โ€ Gadis Rambut biru gelap (menggeleng cepat, hampir panik) : โ€œAku bukan kabur!โ€ โ€œAku tidakโ€”โ€ Ia menunduk menundukkan wajahnya, tidak mau wajahnya terlihat oleh orang lain. Stella (melepas pistolnya perlahan, menjatuhkannya ke meja tanpa suara keras) : โ€œTidak apa-apa.โ€ (jeda.) โ€œAku juga tadi kabur.โ€ Gadis Rambut biru gelap (wajahnya ter-angkat cukup cepat) : โ€œApa?!โ€ โ€œKamu kabur?โ€ โ€œApa maksudmu?โ€ Airin menghampiri gadis yang menangis, menenangkannya. Airin (berlutut perlahan) : โ€œApa kamu terluka?โ€ (Ia tidak langsung menyentuh. Tangannya menggantung di udara beberapa detikโ€”seolah takut kalau sentuhan saja bisa membuat semuanya pecah.) โ€œLihat aku, tidak.โ€ (Akhirnya menyentuh bahu gadis itu, genggamannya hangat tapi sedikit gemetar): โ€œLihat kita masih di sini.โ€ (Ia tidak mengatakan โ€œamanโ€. Hanya โ€œmasih di sini.โ€) โ€œTarik napas.โ€ โ€œPelan.โ€ Gadis rambut cyan duduk bersandar di dinding. Matanya kosong. Pisau masih di tangannya. Ia tidak menangis. Dan itu lebih mengkhawatirkan. Stella (duduk perlahan di lantai, punggungnya bersandar ke dinding dingin) : โ€œBerapa yang tersisa?โ€ Airin (menatap pintu yang masih sedikit terbuka) : โ€œAku tidak tahu.โ€ Stella (menutup mata sepersekian detik lalu membukanya kembali) : โ€œApa yang akan terjadi pada kita?โ€ Airin (menggeleng pelan) : โ€œAku tidak tahu.โ€ Dan itu adalah jawaban paling jujur di ruangan itu. Stella hanya terduduk diam, terlalu diam. Terlalu kosong. Gadis rambut ungu berdiri perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Ia berjalan melewati yang lain tanpa suara. Sepatunya menggesek lantai yang masih berdebu. Semua mata mengikutiโ€”tapi tidak ada yang menghentikan. Gadis rambut ungu berhenti tepat di depan Stella. Stella mengangkat wajahnya. Gadis rambut ungu (menatap Stella tajam, tapi matanya itu sangat kosong) : โ€œTutorial sudah selesai.โ€ (Suaranya tidak patah. Tidak tinggi. Tidak rendah. Hanyaโ€ฆ rata.) โ€œSilakan pikirkan sisanya sendiri.โ€ (Ia mengangkat pistol yang ia pegang di tangan tangannya, dan pistol itu mengarah tepat ke kepala Stella.) Stella hanya menatap pistol yang mengarah pada dirinya. Tidak bergerak, seperti sudah menerima bahwa dirinya akan di tembak. Tiba-tiba ia mengarahkan pistol miliknya ke kepalanya sendiri. Laluโ€“ DOOORRRโ€”! Gadis rambut ungu menembak kepalanya sendiri. Kepalanya tersentak ke samping. Serat putih meledak keluar dari sisi kepalanya. Tubuhnya tetap berdiri sepersekian detik. Lalu jatuh. Serat putih masih mengambang di udara. Ringan. Tidak masuk akal bersihnya. [Layar hitam] [To be continued]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD