Episode 1.5 End

3927 Words
[𝘗𝘳𝘰𝘭𝘰𝘨 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢] “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱-𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯𝘮𝘶?” “𝘈-𝘢𝘬𝘶…?” “𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘺𝘢𝘩.” “𝘓𝘢𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘩.” “... 𝘈𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪.” “𝘋𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩.” “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶… 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩.” “𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢… 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢.” “𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶…” “𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶… 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶.” “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯.” “𝘏𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯𝘢𝘯.” “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯.” “𝘒𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶.” “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.” “𝘛𝘦𝘨𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢.” “𝘉𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” “𝘕𝘦𝘶𝘳𝘰.” “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘱𝘭𝘪𝘯.” “𝘏𝘪𝘥𝘶𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.” “𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘪𝘤𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢𝘸𝘪.” “𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩?” “𝘐𝘺𝘢.” “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱-𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱…” “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴.” “𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” “𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴.” []𝐷𝑒𝑎𝑡ℎ 𝐺𝑎𝑚𝑒𝑠 - From One to One Thousand Survivals[] Episode 1.5: Rumah hantu - Games 40 End Genre :[[>ʜᴏʀᴏʀ ᴘsɪᴋᴏʟᴏɢɪ, ᴀᴄᴛɪᴏɴ, ᴍɪsᴛᴇʀʏ<]] [Fragmen 9/11] KRANG—!! Pintu gerbang terbuka. Neuro, Wacha, dan Toami berada tepat di pintu gerbang. Mereka bertiga melihat Enthy yang terduduk dihadapan Alisa yang sudah tidak bernyawa. Wachai (menoleh pada Enthy dan tubuh Alisa) : “Enthy, Alisa?” Neuro (pupil matanya bergetar menatap Alisa yang telah mati didepan Enthy) : “...Alisa…?!” Enthy menoleh ke Toami, Toami hanya menundukkan kepalanya. ° 𝙀𝙣𝙩𝙝𝙮 𝙨𝙚𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙏𝙤𝙖𝙢𝙞, 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙏𝙤𝙖𝙢𝙞. 𝙏𝙤𝙖𝙢𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞: “𝘈-𝘢𝘱𝘢 𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱… 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘫𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘴𝘪 𝘪𝘵𝘶…?” []Batin Enthy[] “Begitu ya, dia yang menginjak trap.” (Jeda.) “Dari awal tujuanku tetap sama, yaitu menyelesaikan permainan ini hingga seribu kali.” “Dan itu tidak akan berubah meskipun persentase kemungkinan hidup di tempat ini hanya lima persen.” Enthy bangkit perlahan. Enthy (ia hanya punya satu tujuan, dan tujuan itu tetap sama dan mungkin tidak bisa digantikan lagi meskipun melihat banyak mayat yang mati didepan matanya sendiri) : “Ayo kita berangkat dan selesaikan permainan ini.” Neuro (menatap mayat Alisa sambil menggigit bibirnya sendiri) : “... Tapi, Alisa… apa kamu yang…” Enthy (hanya melontarkan fakta lalu ia berjalan melewati mereka, keluar dari gerbang untuk mengakhiri permainan ini) : “Dia mati bunuh diri.” Mereka bertiga mengikuti Enthy dari belakang. Sampai akhirnya Enthy berhenti berjalan. Wacha (menatap Enthy yang tiba-tiba diam) : “Ada apa?” (Ia menoleh, menatap apa yang Enthy lihat.) “Sebuah Lift…?” Toami (menatap ke sebelah Lift itu, ada ruangan lain disana) : “Di pinggirnya…” “Ada… tempat sauna yang terlihat mengerikan…” Enthy (berjalan mendekat ke arah Lift lalu membaca panel yang tertera di atas Lift itu) : “Lift ini punya batasan 150 kg.” “Dan hanya bisa digunakan sekali saja.” Ia diam di depan Lift itu, melihat apakah ada perangkap atau tidak, kemudian ia berlari masuk. Dan diam didalam Lift untuk merasakan apakah ada jebakan atau tidak. Tidak ada yang terjadi apa-apa. Enthy (ia menoleh pada yang lain) : “Nah, Neuro coba masuk.” Neuro berlari masuk dan diam seketika setelah berada didalam Lift. Enthy (menatap Wacha dan Toami) : “Kalian juga.” Wacha dan Toami berlari masuk. Namun ketika mereka masuk– DRINS! DRINS! DRINS! Liftnya bersuara keras. Suara itu berulang-ulang. Enthy (menekan tombol Lift beberapa kali namun tidak ada yang terjadi) : “Mustahil, ya?” Mereka berjalan keluar. Lalu suara alarm dari Lift itu mati seketika itu juga. Enthy (memegang dagunya sendiri menggunakan telapak tangan kanannya, memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan permainannya) : “Sepertinya kita harus menaiki lift ini…” “Untuk melanjutkan permainan.” Hening. Hening cukup lama. Wacha (mengangkat tiga jari, mencoba berpikir rasional) : “Bagaimana kalau begini.” “Anggaplah masing-masing berat badan kita adalah 50kg.” “Total berat badan kita semua… sekitar 200kg.” “Kalau aturannya mengharuskan 150kg berarti…” (Jeda.) “Hanya tiga dari kita yang bisa melanjutkan.” Toami (menoleh ke ruangan sauna) : “Kalau begitu… itu artinya…” “Kita harus… meninggalkan salah satu dari kita.” “Apakah aku salah?” Sunyi seperkian milidetik. Pupil mata Neuro tiba-tiba melebar. Enthy (sebelum kata-katanya keluar semua, tiba-tiba saja ada kejadian yang tidak terduga) : “Jangan menyimpulkan seperti–” Tak. Tak. Tak. Suara langkah Neuro yang berlari ke tempat sauna. Enthy (mata terbelalak, menatap Neuro yang berlari ke tempat sauna) : “Eh?!” “Neuro?!” Neuro (berlari tanpa menoleh) : “Tinggalkan aku!!” Enthy (mengejar Neuro. Panik terdengar pada suaranya.) : “Tunggu! Neuro!” “Kamu ngapain?!” Neuro menekan tombol. JLEB– Pintu tertutup. Neuro (dibalik pintu yang tertutup) : “Kalian bertiga… pergilah dan tinggalkan aku!” (Bersandar pada pintu sauna itu.) “Ini salah ku…” “Fakta bahwa Rarasa…” (Matanya terpejam sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.) “Telah mati…” (Air mata jatuh perlahan. Ia mengingat kembali kematian Rarasa.) “Maka dari itu, aku harus mati…” “Uuuu…aaa…” “Aku harus membayarnya dengan hidup ku…” Bak! Bak! Bak! Enthy menggedor-gedor pintu sauna itu menggunakan tangan. Enthy (wajahnya menegang tidak seperti biasanya) : “Gawat.” “Pintunya terkunci dari dalam...” BAAAKK–!! Ia mengetuknya lebih keras dari sebelumnya. Enthy (emosinya mulai naik) : “Sial.” “Woi bocah cepat keluar!” (Ia menendang pintu. Mengatur napas, dan berpikir cepat.) “Percuma.” “Aku harus mencari sesuatu untuk memecahkan kacanya.” Tiba-tiba ada yang menyentuh tangannya dari belakang. Enthy (menoleh cepat, mencoba melihat siapa yang tiba-tiba memegang tangannya dari belakang) : “Toami?” Toami (menarik kembali tangannya, menunduk mencoba untuk tidak melihat wajah Enthy) : “Um… Yah…” “Jadi gini…” ° 𝙀𝙣𝙩𝙝𝙮 𝙨𝙚𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙏𝙤𝙖𝙢𝙞, 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙏𝙤𝙖𝙢𝙞. 𝙏𝙤𝙖𝙢𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞: “𝑵𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒏?” “𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒅𝒊𝒂 𝒎𝒂𝒖 𝒎𝒂𝒕𝒊, 𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒂𝒓𝒊𝒏 𝒂𝒋𝒂.” Kemudian Enthy menoleh ke Wacha. ° 𝙀𝙣𝙩𝙝𝙮 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙨𝙚𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙒𝙖𝙘𝙝𝙖, 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙘𝙝𝙖. 𝙒𝙖𝙘𝙝𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞: “𝑵𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒂𝒑𝒂-𝒂𝒑𝒂, 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏.” “𝑫𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒈𝒊𝒏𝒊 𝒌𝒂𝒏, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒊𝒈𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓.” []Batin Enthy[] “Jadi itu yang mereka pikirkan.” Enthy (memegang tangan Toami, senyum tipis terukir pada wajahnya) : “𝐘𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫… 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢…” Toami (kaget, refleks menarik tangannya dari genggaman Enthy, namun Enthy mencengkeram tangannya erat) : “HYAH!?” Enthy (cengkramannya menguat, mendekat perlahan) : “𝐁𝐞𝐭𝐚𝐩𝐚 𝐢𝐦𝐮𝐭𝐧𝐲𝐚.” Reaksi Toami bingung, wajahnya memerah bercampur dengan takut. Wajah Enthy mendekati telinga Toami. Toami menahan napas. Enthy (berbisik suaranya lembut namun seperti racun) : “𝐓𝐨𝐚𝐦𝐢, 𝐜𝐨𝐛𝐚 𝐝𝐞𝐡 𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐢𝐧 𝐥𝐚𝐠𝐢.” “𝐀𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚, 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐍𝐞𝐮𝐫𝐨 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢…” (Jeda.) “𝐍𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐲𝐚?” “𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐍𝐞𝐮𝐫𝐨 𝐦𝐚𝐭𝐢, 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢.” (Suaranya semakin dekat dan semakin menusuk.) “𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐣𝐚𝐤 𝐣𝐞𝐛𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐛𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐚𝐭𝐢.” Enthy melepaskan cengkraman tangannya dari Toami. Hening. Keheningan ini menyebabkan udara terasa lebih berat dari sebelumnya. [Fragmen 10/11] Enthy berjalan ke sudut ruangan. Ia berjalan ke arah pot. Mengambil pot itu. Tanpa ragu— Ia melemparkannya ke arah kaca jendela sauna. BCRINGK—!! Kaca jendela sauna pecah berhamburan. Neuro (tersentak kaget) : “Apa—!?” Neuro berdiri di dekat dinding yang dipenuhi deretan s*****a tajam. Bahunya naik turun cepat, rambutnya berantakan menempel di wajahnya oleh keringat dan air mata. Neuro melihat Enthy masuk lewat kaca jendela yang pecah barusan. Refleks ia langsung meraih sebuah kotak di lantai lalu melemparkannya ke arah Enthy. Enthy dengan mudah menghindarinya. TRAK—!! Kotak itu hanya menghantam dinding, meleset jauh. Enthy (menatap kotak yang dilempar itu sepersekian detik) : “Wah.” Neuro (mengangkat pisau dan menempelkannya ke lehernya sendiri) : “Ngapain kamu?!” “Kan sudah kubilang pergi!” Enthy (ia bergerak ke kotak yang Neuro lempar barusan) : “Gawat!” Neuro (menekan pisau yang ia pegang, kapas keluar dari kulitnya yang tegesek pisau yang ia gesekan sendiri) : “Aku nggak apa-apa!” “Aku nggak peduli aku mati!” “Tinggalkan saja aku sendiri!” Enthy telah mengambil kotak yang tadi. Tanpa aba-aba— Ia langsung melemparkannya kembali ke Neuro. TAKKK—! Kotak itu menghantam pergelangan tangan Neuro yang sedang memegang pisau. Pisaunya langsung terlepas dan terpental menjauh. Enthy (langsung berlari ke Neuro) : “Neuro!” Enthy memeluk Neuro erat. Neuro membeku. Ia tidak mengerti, kenapa bisa orang yang tidak mengerti keluar bahkan teman tiba-tiba memeluknya. Enthy (suaranya lebih lembut dari sebelumnya, seperti bukan dirinya) : “Aku di sini untukmu.” Neuro (napasnya tersendat, jari-jarinya tiba-tiba mencengkeram pakaian Enthy cukup erat) : “Kenapa…?” “Kenapa kamu masih narik aku keluar…?” (Ia menangis.) “Aku sudah siap mati supaya kalian ringan…” “Tolong… jangan rusak tekadku…” Enthy (mengangkat tubuh Neuro. Menggendongnya. Hampir seperti menggendong bayi.) : “Tidak bisa begitu.” “Lihat. Kamu itu ringan.” “Karena itulah, kapasitasnya masih berlebih.” Ia menurunkan Neuro perlahan pada kursi yang berada disana. Enthy (menoleh pada Wacha dan Toami yang berjalan ke arah mereka) : “Wacha dan Toami lebih besar.” “Kami bertiga pun, masih harus menurunkan berat.” (Jeda.) “Jadi, masih butuh ruang saunanya.” Sunyi. Tapi sunyi itu hanya datang sesaat. Neuro menunduk. Neuro (menggenggam pakaian erat, terlalu erat) : “A-aku…” Enthy (ia berjalan-jalan diruang sauna itu,mencari sesuatu) : “Kurasa tidak perlu mati.” “Hanya karena rasa bersalah dan tanggung jawab.” (Ia berhenti jalan sejenak.) “Neuro.” Neuro (menoleh pada Enthy) : “Huh…?” Enthy (ia mengetuk-mengetuk gagang tongkat) : “Kamu sanggup ikut sampai akhir?” Neuro (menatap Enthy cukup lama, sampai akhirnya ia berbicara) : “Iya.” Enthy (ia mencoba meraih pedang) : “Yah, tentu saja.” “Neuro, sebaiknya kamu belajar jadi lebih pengecut.” Dan akhirnya ia mengambil pedang itu. Enthy (langsung membuka sarung pedang itu) : “Kita akan gunakan ini, untuk mengamputasi tubuh kita.” Neuro, Wacha, Toami (mundur setengah langkah, wajah pucat, mata melebar) : “HAAAAH!?!?!?” Enthy (mengangkat pedang perlahan sambil menjelaskan) : “Batas berat badan maksimal lift adalah 150kg.” “Meskipun kita kecualikan Neuro.” “Berat badan kita tetap melebihi 50kg.” (Jeda.) “Justru… kalian berdua masih terlalu berat.” Enthy (menatap kaki Wacha, perlahan naik ke tubuh dan akhirnya wajah Wacha. Mengukur seberapa tinggi tubuh Wacha) : “Wacha.” “Tinggi badanmu 180 cm.” “Tubuhmu efisien untuk bertahan.” (Jeda.) “Tapi sekarang justru menjadi beban.” Enthy (menoleh pada Toami) : “Dan Toami…” “Tubuhmu menyimpan massa yang tidak bisa kita abaikan.” “Bahkan jika tidak ada Neuro…” (Jeda.) “Kita tetap gagal.” “Kita tidak akan bisa lewat.” Enthy (menghela napas pendek) : “Satu-satunya cara untuk keluar dari sini adalah menurunkan berat badan kalian.” “Dengan memotong kaki. “Itu akan menurunkan berat badan kita dan akan berkurang dua puluh persen.” “Lalu dengan sauna ini… mengeluarkan keringat.” “Jadi kita bisa ambil lima persen lagi.” Enthy (mengangkat pedang dan berjalan sambil membawa pedang itu) : “Totalnya dua puluh lima persen.” (jeda.) “Itu harga untuk keluar hidup-hidup.” “Angka tidak berbohong.” “Tubuh bisa dikurangi.” “Peluang tidak.” Enthy (menoleh ke semua orang yang berada diruangan sauna itu) : “Kalian setuju?” Toami (mundur perlahan seperti orang yang mau melarikan diri) : “Nggaklah!” Enthy (menatap Toami, menghitung tubuhnya, beratnya, tingginya) : “167 cm. Estimasi 72 kg.” “Dikurangi 20% jadi 57,6.” “Dehidrasi 5% jadi 54.” (Jeda.) “Lalu potong rambut panjangmu itu.” “Jadi cukup-cukup.” Toami (mundur satu langkah lagi, napasnya tercekat, matanya mulai berkaca-kaca): “Kamu lagi bercandakan?” “Kamu pasti bercandakan?” (Suaranya semakin pelan.) “Katakan itu bercanda…” Enthy (menancapkan ujung pedang ke lantai) : “Aku tahu yang sedang kulakukan.” “Aku janji bakalan memotong bagian tubuh kalian dalam sekali tebasan.” Toami (semakin menjauh dari Enthy) : “Nggak!” “Pokoknya nggak mau!” (Menoleh pada Wacha.) “Tolong aku, Wacha!” Enthy (menatap kaki yang akan dipotong, bukan wajah Toami) : “Tenang saja. Kita hanya Avatar di sini.” “Ini hanya Avatar.” (suaranya lebih rendah.) “Makanya sakitnya terasa.” “Tapi kematiannya belum tentu.” (Jeda.) “Karena aku sudah beberapa kali kehilangan tangan dan kakiku.” “Lihat aku masih utuh, karena Avatar ini bisa diperbaiki.” “Sekarang jangan melawan.” (Jeda sepersekian detik. Nadanya naik.) “Nurut!” Toami (menggeleng-geleng kepalanya cepat) : “Aku nggak mau jadi rusak!” Hening muncul kembali, tapi tidak bertahan lama. Ada keheningan di dalam keheningan, tapi itu… bukan kosong. [Fragmen 11/11] Beberapa saat kemudian. Toami (memegang pedang yang sebelumnya dipegang oleh Enthy, ia memegangnya dengan dua tangan, napasnya patah-patah) : “K-kenapa harus aku?!” Tangan Toami gemetar sampai bilah pedang berdenting kecil. Enthy (melepas satu napas pendek, bukan lelah — keputusan): “Aku nggak bisa motong kakiku sendiri.” (menatap lurus pada wajah Toami.) “Ayo lakukan.” Toami menggigit bibirnya sendiri. []Batin Toami[] “Enthy.” (Jeda sepersekian detik.) “Dia ingin memotong kaki kita dengan menggunakan pedang. Lalu menyuruh kami untuk mengeluarkan keringat di sauna.” (Jeda pendek.) “Itulah alasan dia memaksa Neuro keluar sebelumnya.” “Tapi dia justru bertingkah seperti pahlawan.” (Jeda terakhir.) “Jahat!” “Dasar biadab!” “Dasar kejam!” “Nggak waras!” Toami (menahan napas, pedang terangkat, suaranya patah-patah) : “Enthy!” “… kalau kamu mati… aku nggak mau disalahin.” Enthy (menatap pedang yang terangkat, ia tidak berkedip): “Cepat.” CRAK— Bukan suara keras. Kaki kiri Enthy terputus. Ada jeritan, tapi jeritan itu hanya sekali. Tidak ada darah. Hanya serat putih menyembur keluar seperti isi boneka robek. Tapi perlahan-lahan luka itu menutup, lebih cepat menutup dari pada manusia. Benar, luka itu menutup akibat uap dari sauna ini. Itu bukan uap biasa, uap itu bisa menyembuhkan Avatar dengan cepat. Uap yang sama dengan asap yang menyembuhkan luka pada tangan kiri, perut, dan wajah Enthy sebelumnya. Meskipun lukanya menutup, tubuhnya tetap tidak bisa menumbuhkan bagian yang terbuang. Kemudian Enthy mengambil pedang itu, memotong kaki kiri Neuro. Neuro menjerit karena kesakitan. Kemudian Wacha dengan kaki kirinya dan yang terakhir Toami dengan kaki kirinya. Mereka menunggu sampai sembuh. Satu menit. Sepuluh menit. Akhirnya luka mereka sembuh. Neuro di gendong oleh Enthy. Untuk menuju Lift. Mereka berjalan menggunakan satu tongkat. Sampai akhirnya mereka masuk ke dalam Lift. Dan Lift itu tidak bersuara. Tanda mereka berhasil. Suara-suara kata keberhasilan mereka keluar, meski seperti orang yang dipaksa tertawa: “𝘓𝘪𝘧𝘵-𝘯𝘺𝘢…” Getaran kecil terasa pada Lift. Tanda Lift itu bergerak. “𝘉𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬…” “𝘏𝘢…” “𝘈𝘩𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢…” “𝘒𝘪𝘵𝘢… 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱…” “…𝘬𝘢𝘯?” Neuro tidak tertawa. Ia menekan dahinya pada pundak Enthy. Enthy (menyandarkan kepala ke dinding lift, Neuro tetap berada digendongannya) : “Kalau pulang hidup-hidup, apa yang pertama kamu lakukan?” Neuro (kata-kata yang dilontarkan Enthy seperti orang yang tidak yakin bahwa mereka semua bisa keluar) : “Bukankah yang bicara seperti itu biasanya mati duluan?” Enthy (kepalanya menggeleng pelan) : “𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶..” (Ia menatap pantulan dirinya sendiri pada dinding logam lift.) “𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯.” (Ia memejamkan kedua matanya sepersekian detik lalu membukanya lagi.) “𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘪𝘩… 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘷𝘪𝘭𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘓𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘚𝘵𝘢𝘳𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘤𝘦 𝘪𝘵𝘶.” Neuro (menatapnya rambut Enthy dari belakang) : “Kamu terlalu santai.” (Jeda.) “Tapi aku tidak mengira itu, kamu ternyata suka pada villain Lumen Stars juga.” Pintu Lift terbuka, mereka terdiam sebentar. Menatap anak tangga yang terlalu panjang untuk diturunin. Kalau mereka terpeleset tangga, mereka akan langsung mati. Tapi mereka tetap melanjutkannya, Toami dan Wacha berada didepan. Enthy (menuruni beberapa anak tangga sambil menggendong Neuro) : “𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘢𝘧𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘬𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘤𝘢𝘶.” (Ia menanyakan hari ditempat yang tidak diketahui siang atau malam hari.) “𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶, 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬?” Neuro (menatap anak tangga) : “Aku bahkan tidak tahu ini hari apa.” Wacha dan Toami berjalan jauh di depan Enthy dan Neuro. Enthy (bersendar pada dinding. Ia tetap menggendong Neuro erat. Tersenyum tipis) : “𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢.” Neuro (melihat tangan Enthy yang menggenggam dirinya, ia bicara pelan) : “Kamu baik-baik saja?” Enthy (menatap ke depan, tapi genggamannya pada tangan Neuro sedikit menguat tanpa sadar) : “𝘐𝘺𝘢.” “𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬.” Enthy (menatap Wacha dan Toami yang sudah jauh) : “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱-𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯𝘮𝘶?” Neuro tidak langsung berbicara. Neuro (menunduk wajahnya pada pundak Enthy) : “𝘈-𝘢𝘬𝘶…?” Enthy mengangguk pelan. Neuro (jari-jarinya meremas kain pakaian Enthy) : “𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘺𝘢𝘩.” “𝘓𝘢𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘩.” “... 𝘈𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪.” Neuro (tertawa kecil, getir) : “𝘋𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩.” Enthy (menggenggamnya lebih kuat agar tidak terjatuh dari gendongannya) : “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” Neuro (Tertawa kecil. Senang. Lega. Sedih. Takut. Menyatu menjadi satu) : “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶… 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩.” “𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢… 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢.” “𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶…” “𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶… 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶.” Enthy menatap kebawah. Menggenggam tangan Neuro erat. Tanpa berbicara. Enthy (menatap tangga yang gelap seperti jurang tanpa dasar) : “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯.” “𝘏𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯𝘢𝘯.” “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯.” (Ia menggeser tongkatnya sedikit, seperti mengatur ulang keseimbangan tubuhnya yang pincang.) “𝘒𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶.” “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.” “𝘛𝘦𝘨𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢.” “𝘉𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” (Menoleh tipis.) “𝘕𝘦𝘶𝘳𝘰.” “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘱𝘭𝘪𝘯.” (Ia menatap tangga gelap di bawah, suaranya pelan tapi mantap.) “𝘏𝘪𝘥𝘶𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.” “𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘪𝘤𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢𝘸𝘪.” Neuro (masih takut, tapi ada cahaya kecil pada kedua matanya): “𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩?” Enthy (mengangguk pelan) : “𝘐𝘺𝘢.” Neuro (menegakkan badannya meskipun masih gemetar) : “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱-𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱…” “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴.” “𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” Enthy (lanjut menuruni tangga sambil menggendong Neuro dan memegang satu tangan Neuro erat) : “𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴.” Mereka semua akhirnya berhasil menuruni tangga. Tapi suara alarm berbunyi. SIREN— SIREN— SIREN— Alarm hanya berbunyi. Tapi bunyi itu terlalu bising. Bunyi alarm kebakaran. Tapi mereka juga sudah berada di depan pintu keluar, namun pintu keluarnya tidak bisa dibuka. Disana juga alarm kebakaran terus menerus bersuara di susul dengan asap yang mulai turun dari langit-langit seperti kabut hitam yang bisa membakar mereka kapan saja. Toami (menarik rambutnya sendiri, napasnya tersengal tidak teratur) : “Ini nggak masuk akal!” “Kita sudah bayar lebih, kan?!” Mereka menatap tiga logo di atas pintu. Toami (menatap logo itu) : “Ini bukan simbol!” “Ini hitungan!” “Atau apa?!” Wacha (ia menghitung fase-fase yang mereka lewati selama permainan) : “Mungkin itu jumlah rintangannya…” “Manjat Banner. Mesin blender.” “Sauna dan Elevator tadi dihitung dua rintangan…” “Itu sudah lewat!” Enthy tetap terus memegang tangan Neuro erat. Toami (menggigit kukunya sampai hampir berdarah kapas, suaranya terputus-putus) : “Mungkin… kita harus utuh!” “Ayo kembali dan—” Wacha (tertawa kecil, tapi suaranya retak) : “Elevatornya cuma bisa sekali pakai!” Toami (menatap asap yang sudah mulai mendekat) : “Sudah terlambat…” Toami (menatap api yang muncul dari atas) : “Kita… kita nggak mungkin mati di depan pintu, kan?” Kayu, besi, dan batu berjatuhan dari atas. Wacha (berteriak panik pada Enthy) : “Pasti ada celah! Pasti ada iyakan!” “Enthy!” “Apa kamu tahu sesuatu!?” Enthy terdiam lama, sangat lama. Ia hanya menatap tiga logo itu. Enthy mengendurkan genggaman tangannya yang memegang tangan kiri Neuro. Enthy melepaskan pegangannya. Neuro terjatuh dari gendongannya. Tangannya mencoba meraih udara kosong. Ia tergeletak di lantai. Neuro (mencoba mengangkat wajahnya perlahan namun tidak bisa, menatap punggung Enthy) : “…?” Enthy berbalik, menghadap Neuro. Enthy mengacungkan tongkat miliknya di atas kepala Neuro. Pupil mata Neuro bergetar, mulutnya terbuka. Namun Enthy langsung mendorong tongkat miliknya. KRAKK—! Ia menghancurkan kepala Neuro. Tanpa memberi kata-kata terakhir. Alarm tetap berbunyi. KLIK. Namun pintu keluar terbuka. []Batin Enthy[] “𝐏𝐢𝐧𝐭𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚.” (Ia menarik tongkat miliknya, kapas dari kepala Neuro menempel pada tongkatnya.) “𝐒𝐞𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐢𝐜𝐮 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮.” “𝐒𝐞𝐥𝐢𝐬𝐢𝐡 𝐭𝐞𝐤𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚, 𝐚𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐠𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐢𝐮𝐩 𝐥𝐞𝐦𝐛𝐮𝐭.” (Ia berjalan keluar pintu memakai tongkat miliknya. Meninggalkan Wacha dan Toami yang terdiam.) “𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐛𝐢𝐫𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐣𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐢𝐚𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐩𝐨𝐡𝐨𝐧𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐣𝐚𝐮. 𝐌𝐮𝐧𝐜𝐮𝐥 𝐝𝐢𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐚.” “𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐮𝐧𝐭𝐚𝐬.” “𝐒𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐞𝐬𝐚𝐢, 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐜𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.” “𝐈𝐭𝐮𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.” “𝐒𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐝𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐥𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚𝐩 𝐍𝐞𝐮𝐫𝐨.” “𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚…” Enthy (menurunkan tongkat, menoleh pada Wacha dan Toami tanpa ekpresi) : “Maaf, ya.” Keesokan harinya. Enthy perlahan membuka matanya. Ia terbangun dirumahnya. Dikamarnya sendiri. Sendirian. []Batin Enthy games ke-43[] “Ujung-ujung bagi Enthy, hari buang sampah terlewatkan lagi.” (Berjalan, mengambil makanan menyalahkan TV.) “Enthy berada di tubuh aslinya, setelah kehilangan kesadaran.” (Ia menonton TV, melihat berita villain Lumen Stars.) “Setelah sadar, Enthy sudah ada dirumahnya.” (Ia memakan makannya.) “Setelah menyelesaikan permainan, orang-orang selalu melakukan ritual. Yaitu berdoa.” “Enthy Valeska sebagai gadis yang tidak mengenal agama, dia pakai caranya sendiri.” (Ia mematikan TV, bangkit dan berjalan normal.) “Bahkan, mungkin berdoa bukan kata yang tepat.” “Demi mereka yang gugur di permainan kali ini, Enthy tidak meminta maaf maupun berduka.” “Melainkan, menyisakan waktu.” “Untuk mengenang mereka dalam pikiran.” “Selama tiga menit.” Jam dinding berdetak. Detik pertama. Detik kedua. Detik ketiga. Enthy tidak berkedip. Di detik ke-47, jari telunjuknya bergerak sedikit. Seperti mencatat. Ia hanya menatap kosong. Karena ini bukan doa. Ini audit. “Enthy mengingat kesalahan perhitungan, dan wajah-wajah yang gugur.” “Enthy tidak menipu mereka.” “Enthy benar-benar berniat menyelesaikan permainan.” “Dengan penyintas sebanyak mungkin.” “Sulit mengatakan bahwa upayanya berhasil.” “Tapi, dilubuk hati terdalam, dia tulus berniat demikian.” “Angkanya tepat.” “Itu saja.” “Bukan karena mudah dibunuh, tapi Neuro terpilih karena, di orang yang paling dekat.” “Enthy memberi kekuatan padanya.” “Bahkan memberi keberanian untuk mengakhiri hidup.” “Yang kita tolong dan semangati dengan kedua tangan kita sendiri.” “Mungkin terdengar konyol.” “Mendoakan orang-orang yang telah kita bunuh.” “Tapi setidaknya, bagi Enthy semuanya sempurna tanpa kontradiksi.” Enthy tertidur di kasurnya sendiri. Xyola (suara seperti berlapis, tidak jelas berasal dari mana): “Dengan begini, jadi berapa kali?” Enthy (menjawabnya langsung, dia seperti orang yang Enthy hormati selama hidupnya) : “Empat puluh.” (Jeda lebih panjang.) “Aku akan menyelesaikan permainan ini.” “Seribu kali.” [Layar hitam] [To be continued]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD