"Keisha...!"
Tapi Keisha sudah berhambur keluar. Utari mengejarnya, ia membalikkan tubuh Keisha. "Dengar aku... Aku bersumpah baru mengetahuinya tadi malam...! Kufikir itu adalah Dosen Mus...!"
"Hah?!" Keisha mendengus geli. Tapi, ia bingung, ia sendiri tak tahu apa yang harus dijelaskannya pada Utari. Ia melengos tanpa bicara apa-apa menuju mobil. Utari memencet alarm kunci, mobil itu terdengar berdenyit sekali dengan keras. Keisha masuk tanpa menunggu lagi.
Utari membuka pintu, lalu duduk di kursinya memegang setir. Mesin mobil dinyalakan. Setelah menutup semua pintu, ia tak langsung melajukan mobilnya. Ia menunjuk dengan tangannya pada Keisha, lalu berkata, "kufikir klakson tadi itu untukmu!"
Keisha menghembuskan nafas kesal. "Aku belum mau membicarakannya..."
Ucapan Keisha tersebut sudah sangat jelas bagi Utari, ia pun memaklumi temannya dan melajukan mobil itu segera.
0000
Keisha duduk di atas bibir jendela. Lama Jericho berdiri memandangi Keisha menelungkupkan wajahnya.
Hingga Keisha mengangkat wajahnya dan berkata. "Oke, aku akui... Kita memang putus karena alasan masalah lain... Kau tahu itu, aku terlalu pesimis dengan masa depanku...!"
"Itu kesalahanmu! Kau melupakan banyak hal!"
"Hal apa?!"
"Kehidupan mengajarkan untuk bekerja keras! Kenapa kau selalu menyalahkan sikap keluargamu yang tercerai berai itu?! Lihat dirimu sekarang?! Apa yang kau telah persiapkan untuk masa depan selain menghambur-hamburkan uang gajimu yang besar itu setiap bulan? Kamu tidak ubahnya saja dengan Tante-tantemu itu yang materialistik! Kau pikir aku mau menikahi wanita sepertimu?!"
Keisha makin terisak menangis, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau salah! Aku tidak seperti yang kau kira!"
"Kalau begitu katakan, apa saja yang kau ingat dariku?!" kata Jericho bertanya mendekatinya sambil menopangkan tangannya dari mulai sikut tinggi-tinggi ke dinding jendela. Gesture badannya yang melintir dengan coy.
"Aku sudah banyak yang lupa...", kata Keisha meringis.
Jericho menggeleng, mencari-cari wajah Keisha yang tertunduk di atas lekukan lututnya.
"Aku tak menanyakan bagaimana kau mengingat aku, tapi yang sering terlintas saja... Apa yang kau ingat dariku?!" tanya Jericho sekali lagi lembut, sambil mengangkat dagu Keisha, tapi Keisha menepisnya. Iapun bersandar di dinding jendela.
Keisha menghela nafas dalam-dalam dari hidungnya yang basah, ia merasakan pipinya dialiri rembesan hangat. "Kau perhatian..."
"Ini indah sekali!"
"Sudah aku bilang padamu!" teriak Jericho.
"Darimana kau tahu tempat ini?"
"Dari orang-orang kampung! Mereka menamainya Bukit Jingga!"
Motor mereka meliuk-liuk di sepanjang jalan berliku. Keisha mencolek pinggang Jericho lalu mengacungkan tangannya jauh ke seberang jalan. Matahari muncul di cakrawala dengan warna jingga keemasan yang mencolok begitu terangnya. Jericho menekankan pahanya untuk menahan motor selagi ia menoleh ke arah yang ditunjuk Keisha. Angin dingin menerpa hingga keduanya meringis saling merapatkan badan. Jericho lalu menunjuk ke depan, dataran berundak berwarna jingga dengan lembah yang landai indah.
"Aku ingin kita duduk-duduk di sana, hingga terbenam matahari..."
Keisha menjerit senang sambil memeluk lehernya. "Ya! Ya!!"
Jericho mengangkat dagunya tinggi sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Ia punya kebiasaan sering mengempiskan hidungnya, seperti menarik nafas di udara yang dingin. Dengan bibir menaut dan dagu terangkat manis. Dan lesung pipit yang melekuk lebih dalam. Saat Jericho mengangguk, ia akan tersenyum sambil menelan ludahnya lalu diiringi tertawa masih dengan raut muka yang sama. Kadang dengan berkedip-kedip seakan membersihkan bola matanya yang bening. Keisha suka sekali memperhatikannya seperti itu.
Ketika motor yang mereka tumpangi tiba di puncak bebukitan, mesin motor itu dihentikan. Matahari menyemburat jingga ke pelipis mereka. Keduanya bercengkrama menuruni undakan berpasir oranye itu, hingga jatuh bergulingan. Jericho dengan sigap merengkuhnya dan membantunya berdiri. Mereka terus saling memapah hingga tiba di puncak yang undakan yang lebih rendah. Pemandangan yang indah dari pepohonan hijau di lembah.
"Sekarang buka perbekalanmu!" Kata Jericho tak sabar. Padahal ia sendiri yang membuat perbekalan itu.
"Tapi, aku belum lapar...," kata Keisha merengek, malas.
"Kamu harus makan sekarang! Aku tak ingin kau merengek lagi soal asam lambungmu!"
Keisha akhirnya mengangguk menurut. "Kau bikin sendiri nasi goreng dengan telur dadar buatku?" kata Keisha sambil manyun dengan kelu.
"Makan saja... Itu enak, koq! Hadiah ulang tahunmu dariku!" Kata Jericho sambil mengangguk-angguk melihat Keisha membuka perbekalannya, menelan air liurnya.
Bhea menghela nafas panjang. Nasi itu digoreng hanya dengan mentega, bawang daun, telur dan garam. Dan memang enak, Bhea memakannya sampai habis. Mereka saling menyuapi sambil bergantian mengambil potret pemandangan dan mereka berdua. Jericho menyelipkan sebuah cincin perak di jari manisnya. "Aku membuatnya sendiri dari koin perak kakekku warisan dari Majapahit. Aku sendiri yang bekerja keras di Peternakan Ayam untuk mendapatkannya. Dia bilang, akulah yang Titisan Raden Wijaya, bukan Titisan Hayam Wuruk puteranya. Kalau kau bukan Dara Petak istri Raden Wijaya, maka kau adalah Dara Jingga, yang artinya Ibu Kandung dalam bahasa Minahasa. Kau adalah Ibu Kandung dari anak-anakku kelak!"
"Tapi, itu dulu tidak ada artinya bagimu, kan?"
Keisha mengangkat bahu tak berdaya, ia tak tahu perasaannya sendiri.
"Aku tak pernah benar-benar mengenalmu, oke?! Dan aku sudah melupakanmu... Sekarang kau mau apa?!" Kata Keisha, menatap putus asa, lalu membuang wajahnya dingin. Mata itu mengilat seakan membidikkan pandangan ke seluruh kota di luar jendela di ujung mata mereka.
Jericho tercekat, seakan tak mengira ucapan Keisha, matanya berkaca-kaca, ia mundur beberapa inci sambil meremas mulutnya, dahinya berkerut.
"Aku telah merindukanmu selama bertahun-tahun, dan kini kau ada di hadapan. Aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kali! Aku menginginkanmu di sisiku! Tapi, malah kau ciptakan batasan di antara kita!"
"Karena itulah, kau tidak bisa melakukannya!"
"Kenapa? Kau tak lagi mencintaiku?! Katakan?! Kau menangis di sini semalaman, karena kau masih mencintaiku!" bentak Jericho kesal.
"Aku tak tahu kenapa aku melakukannya!" kata Keisha mendengus.
"Biar aku yang menentukan! Kau masih ingat ucapan kita dulu?!" tantang Jericho.
"Apa?!" tanya Keisha mengalah, sejujurnya ia merasa lemas dengan pertengkaran mereka sampai seharian ini. Sambil ia mengangkat wajahnya, matanya ia tundukkan melihat ke bawah.
"Kita naik kehujanan dari bukit jingga itu. Tapi, kau tak mau pulang. Kau bilang, biarlah saat itu kita berdua dalam hujan, agar kau tak usah lagi merasa sendiri jika kutinggalkan dalam hujan. Sekarang kau bisa menyadari, selama ini aku sebenarnya masih menemani hatimu. Aku tidak pernah sendiri tanpa mengingatmu!" kata Jericho tercekat. Ia harus menelan kegetirannya selama ini, demi menguatkan diri di hadapan wanita yang dicintainya.
"Oh...," Keisha meringis, ia membuang wajahnya teringat akan ucapannya tersebut saat itu. Ia malu oleh kejujurannya, tapi andai saja ia tak menjadi bimbang seperti ini sekarang, tentu ia takkan merasa malu akan kenaifan dirinya saat itu.
"Lalu kita berdua pergi ke Bumper Mashudi dengan basah kuyup. Kau sangat kegirangan saat aku ajak berfoto di bawah tugu tunas kelapa itu karena kau mengaku pernah jadi anak Pramuka."
Keisha mendelik, mengamati wajah Jericho yang serius itu mengeras hingga mata dan mulut laki-laki itu mengerut. Ia tentu saja mengingat bagian cerita itu.
"Kau memikirkan sesuatu yang lain!" kata Keisha menuduh.
"Aku memikirkan sesuatu yang sama!" kata Jericho tegas. "Kau memeluk leherku sambil loncat-loncat menciumi pipiku!"
"Oh, itu bukan hanya yang kau ingat!"
"Aku ingat kau menciumku di mulut lama sekali sambil tertawa-tawa, hingga kau melepaskannya sendiri. Kau bertanya, kenapa aku tak membalas ciumanmu. Lalu kukatakan padamu sesuatu..."
"Apa?"
"Kau tak ingat itu?"
"Aku lupa..." kata Keisha menyerah tak berdaya.
"Ku katakan, bahwa tunas kelapa ini adalah sebagai pembatas di antara kita. Siapa saja di antara kita yang melewati batas itu dengan kebaikan, maka ia boleh mendapatkan bounty buah kelapa itu. Lalu kau menatapku dengan terpana lama sekali..., aku takkan melupakan kelipan indah di matamu." Kata Jericho dengan suara tercekat.
"Oh, ya, baik. Aku ingat sekarang... Kemudian, aku bilang, aku akan mencintaimu selamanya. Itukah mengapa kamu menceritakannya padaku saat ini?" Kata Keisha mendongak dengan tatapan dingin yang menantang.
"Kukatakan padamu saat itu, aku akan selalu jujur padamu dan melindungimu. Ini yang sedang aku lakukan padamu. Aku mencintaimu selama ini. Dan aku bisa mengatakan bahwa kau pun begitu padaku."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" Tanya Bhea meringis sambil mendengus kecil.
"Karena aku selalu merasa yakin. Aku selalu menemukan kedamaianku dari mengingatmu. Aku sangat kehilanganmu, tapi aku tahu kau akan menjalani hidupmu dengan baik. Dan aku percaya aku bisa dipertemukan kembali denganmu."
"Ach! Setelah kejadian itu!"
"Kejadian apa?"
"Apa yang dikatakan Kike padaku!"
"Apa yang dikatakan Kike??" Jericho meremas rambutnya. "Ohhh... Itu karena aku sedang marah padamu!"
"Marah padaku??! Kau pikir, aku tidak marah padamu??! Aku bisa saja pergi dengan alumni terbaik yang kini jadi ilmuwan terkenal! Kau pikir, aku pernah berkencan dengan seseorang sampai saat ini? Tapi, lihat dirimu sendiri sekarang? Kau akan menikahi gadis paling cantik seantero kota metropolitan! Anak dari partner bisnismu? How exciting that is."
"Siapa maksudmu? Si Harry Potter itu?! Hah?? Kau terlalu membesar-besarkan! Dia mirip gay!!" kata Jericho tertawa. Ia melakukannya sambil menengadah menutup mulutnya.
"That's not the point! And by the way, dia memang nerdy, tapi sama sekali tidak jelek!"
"Oke... Jadi, kenapa kau belum pernah berkencan dengan siapapun sampai sekarang ini?? Karena kau benar-benar masih mencintaiku! See?!"
Keisha merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
"My point is... My point is..." kata Keisha sambil berpikir keras, seperti merenung.
Jericho menggerak-gerakkan kepalanya ke kedua sisi beberapa kali menanti jawaban Keisha dengan tak sabar. "Ya?"
"Aku tidak pernah mengkhianati perasaanku sendiri. Aku selalu tahu apa yang kulakukan."
"Tapi, kamu juga terkadang melakukan kesalahan..."
"Itu wajar! Aku selalu mengalami perubahan, perbaikan!"
"Itu benar! Dan aku menemukanmu dalam keadaan yang lebih baik... Kau bisa mengakui, bahwa kau membenciku oleh sebab ucapanku pada Kike itu. Dan aku ingin membayar kesalahanku." Jericho membungkuk sambil membuka wajahnya sambil di depan muka Keisha, seperti gayanya yang sudah-sudah dulu.
"So, jadi kau tahu, kan?! Hah!! Membayar kesalahan! Dengan cara apa?! Menggagalkan semua kontrak bisnis dengan partner? Yang benar saja! Dalam waktu 3 minggu ini, kau akan menikah dengannya! Dan aku akan memastikan kau berada di sana, aku akan menghadiri pernikahanmu!"
"Kau tak bisa melakukannya padaku!" Kata Jericho sambil mengangkat kedua tangannya. "Aku pun tak akan melakukannya pada diriku sendiri!" Kali ini ia menurunkan keduanya sambil mencondongkan badannya ke arah Keisha dengan marah. "Aku akan menggagalkan kontrak-kontrak itu, kau pikir bisnisku bergantung padanya?!" Kata Jericho melanjutkan dengan nada suara rendah, masih dalam rasa marah, sebelah tangannya menunjuk ke luar. Kakinya kemudian ia selonjorkan santai, sambil melipat kedua tangan di d**a, ia menurunkan wajahnya melihat wajah Keisha.
"Aku tak tahu apa aku ingin kau melakukannya! Heh...," kata Keisha melirik santai pada Jericho dengan pandangan meleceh. "Aku membangun masa depanku dengan hati-hati. Mengapa kau pikir aku akan menghancurkan masa depan hidup orang lain?"
"Kau takkan menghancurkan kehidupan siapapun!" Kata Jericho sambil menunjuk dengan sebelah tangannya yang menopang di dagu, masih dalam keadaan kedua lengan melipat di d**a. "Semuanya belum terlambat!" Ia semakin merapatkan lipatan tangannya dan usapan tangannya di mulutnya.
"Heh? Itu saja sudah dengan mudah kau ucapkan! Aku tak tahu, berapa wanita yang telah dan akan kau hancurkan di masa depan! Aku pun tidak peduli! Karena aku bukan salah satunya!"
Demi mendengar ucapan itu, Jericho terdiam. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang wanita bisa memiliki kekerasan hati seperti itu, yang ia tak merasa berdaya menembus hatinya.
"Keisha...," kata Jericho dengan suara membujuk.
"Aku ingin pulang. Kalau kau peduli, kau akan mau mengantarku saat ini juga."
"Baiklah...," kata Jericho mengalah dengan cepat. Dadanya tertahan dengan berat, namun ia tetap menekan nafasnya lebih dalam. Keisha bisa merasakan hembusan nafas halus keluar dari hidungnya saat ia mengulurkan tangan untuk membantu Keisha turun.
Perlahan Keisha turun hingga menjejakkan kedua kakinya di lantai. Ia mengenakan jas yang sedari tadi diremas dalam pelukannya. Lalu berjalan mendahului. Jericho mengikutnya, ia masih berusaha mengatakan sesuatu hingga mereka menuruni tangga dan berbelok masuk ke dalam lift. Tak seucap kata pun berhasil keluar dari mulutnya.
Selama di perjalanan mobil mereka terdiam. Tiba di rumah, barulah Jericho angkat bicara.
"Keish..."
"Kau benar-benar tak perlu mengucapkan apa-apa... Aku tidak ingin mendengarnya. Kupikir, kita bisa berteman baik, aku tak ingin lebih dari itu," kata Keisha memotong.
"Aku ingin kau jujur padaku akan satu hal..."
Keisha menoleh.
Jericho mengulurkan sebelah tangannya yang memegang setir, dengan menekuk tangan lainnya di sandaran jok. Tapi Keisha tak punya selera apapun untuk membalas ulurannya.
"Katakan apa... Dan aku akan mengatakan padanya." Ia hanya cukup dengan membalas permohonan di wajah Jericho dengan menoleh kepalanya sebentar. Lalu, pandangan ia lemparkan ke balik jendela kaca.
"Waktu aku pulang, lama tak kembali karena kondisi finansial keluargaku. Kau masih ingat?!"
Keisha menjawab dengan anggukan.
"Kau memaksaku untuk datang, padahal aku sebenarnya sudah drop out dari kampus."
Keisha tersentak. "Aku tak pernah tahu kau berbohong padaku."
"Aku berbohong padamu, dan kau bisa jadi sudah menyadarinya. Itulah sebabnya kau tak mempercayaiku lagi sejak urusan Kike itu. Kita pernah menjadi sahabat yang paling baik, Keisha."
Keisha mengedikkan bahu. "Mungkin saja..."
Jericho masih ingin mendengar lebih banyak suara Keisha, tapi Keisha rupanya tidak ingin lagi ditahan dalam udara malam yang dingin. Wanita itu telah meninggalkannya termenung di dalam mobil. Tapi ini aku, Keisha...
"Apa lagi?!" Kata Keisha sambil membuka air botol, dengan tangan terbuka, langsung meneguknya. "Dia juga yang mengatakannya!" Katanya sambil melemparkan tutup botol ke tempat sampah.
Ia melengos ke koridor sambil meneguk air itu beberapa kali hingga habis. Lalu dilemparkannya botol itu ke tempat sampah di bawah meja karyawan.
Di belakangnya Utari mengikuti. "Biar kuduga! Dia ingin meminta maaf darimu... Sejak, kau sendiri menyadari, karena ucapan Kikelah kau mau putus dengannya!"
Keisha membuat gerakan tangan putus, lalu menggoyangkan jarinya sambil menunjuk ke muka lalu menggeleng.
"Oke, putus. Bukan mau putus."
Keisha mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi sementara membungkuk ke lemari mejanya.
Utari mengadu-adukan jari jemari kedua tangan, "aku bisa mengerti, kenapa kau begitu terpuruk dengan kehilangan dirinya."
"Aku tidak terpuruk!" Elak Keisha. Ia meringis wajahnya dengan ekspresi keanehan.
"Kau kehilangan kekasihmu. Dan kau kehilangan sahabatmu saat itu juga."
"Dia bukan benar-benar sahabatku, aku sudah menyadarinya sejak lama, aku mengenalnya sejak bangku kuliah saja. Aku masih di bangku tingkat tiga, kau tahu?! Karena itulah aku memutuskan pindah kostan. Kalau mau, aku bisa saja pindah kuliah ke Jakarta. Tapi, aku tidak merasa memerlukannya!"
"Aku tahu dirimu! Kau teman yang paling solider yang aku pernah kenal. Tapi, kamu tidak bisa mentoleransi kecurangan dalam permainan apa saja."
"Bukankah itu aturan main hidup di dunia? Kill somebody and a part of your soul will die."
"Tapi, itu tidak harus selalu dengan tanganmu, dear..."
Keisha terhenyak, ia tak jadi menulis. Ia memutar-mutar penanya di udara, "you could be right...!"
"Not only right... But, has to be heard..." Kata Utari sambil mendekati mejanya, dan mengambil kursi duduk di depan meja. Ia menarik tangan Keisha. "Di suatu tempat lain, mungkin saja jauh sebelum kesalahan itu terjadi, balasan sudah mengintainya."
"I think that is why you so like precaution!" Kata Keisha sambil meledek. "Do you realize that Erlan doesn't like that much from you?!"
"Aku serius. Aku mempercayai hal itu, karena itu akan harus akui kamu benar."
Kali ini Keisha merasa ucapan Utari menarik perhatian, "hey, aku selalu bilang, kau tak selalu di belakangku. Kau benar-benar melewati kemampuanku. Aku heran, kenapa kau tak ajak kencan saja Erlan yang jelas-jelas naksir padamu?"
"Erlan ?! Ini bukan topik tentang Erlan !"
"Yea! Aku merasa dia sangat terikat padamu, setiap kau pergi ke luar, dia akan ikut serta bersamamu. Aku suka kau dekat dengannya! Aku juga suka punya teman nongkrong laki-laki sepertinya! So, dia pasangan yang cocok untukmu!"
"Aku tidak tertarik pada Erlan !" Kata Utari mengerutkan wajahnya heran.
"Aku tidak mengatakannya, tapi kau cemburu! Kau tahu maksudku?!"
"Keisha, kau tahu, itulah yang terjadi padamu! Kau mencemburui sahabatmu sendiri!"
"Na'a! Aku jelas-jelas merasakan kecemburuan sedikit darimu saat kusebut nama Erlan . Apakah kau akan meninggalkanku?! Tidak! Maka jelas, aku bukan orang yang cemburu pada siapapun!"
"You made you point! Kau tidak mencemburui Kike, karenanya kau tidak merasa salah meninggalkan Jericho! Justeru Kikelah yang seharusnya mempertahankanmu dalam persahabatanmu! Mungkin aku harus mengatakannya bahwa kau tak sudi kalau Kike mempergunakan ketakutanmu, bahwa dialah yang cemburu padamu, iri dengan hubunganmu dengan Jericho yang indah!"
"You're really mature and that is why you are my best friend."
"Good! Then what are you waiting for?! She is out of your life. You see, he realizes that too! Jangan tunggu sampai semuanya terlambat!"
"I told you, you are too much of precaution to yourself! You're not too old for a second chance! Go out with Erlan ! And don't worry about me! I have never been so grateful in my life like this very time. Even without a spouse... You know, I don't mean to offend you, Utari?"
Utari meluruskan badannya dengan tarikan nafas berat. Rahangnya mengeras kesal memandangi wajah Keisha yang tenggelam ke dalam pekerjaannya. Utari mengusapi tangan lembutnya dengan tissue sambil menunduk memutar otaknya dengan bimbang. Tapi, ia kemudian mengalah, ia menarik nafas berat sekali lagi sambil berdecak kecewa meninggalkan tissue itu di meja Keisha.
Keisha hanya melambaikan tangan tanpa mendongakkan kepala.
-----
Pagi Keisha datang dengan baju hangat yang lusuh. Mengetuk pintu rumah Jericho.
Jericho yang sudah segar kaget, tanpa bertanya apa-apa lagi menyambutnya, "hey! Ayo, masuk...!"
"Aku datang ke sini untuk menanyakan satu hal, yang membuatku tak bisa tidur semalaman... Aku tak bisa menemukan jawabannya sendiri... Oh, seandainya saja itu tak menyakitkan..."
"Kau sudah sarapan?" Tanya Jericho tak menggubris ucapan Keisha, ia merengkuh Keisha yang berdiri di ruang tamu dengan perasaan tak enak. Keisha manut, lalu duduk di salah satu kursi bar rendah yang berfungsi menjadi meja makan sederhana.
"Kau mau minum apa, teh krim minuman wajibmu? Atau coklat s**u yang suka kau rebut dariku?" Tanya Jericho menopangkan dagu di bar dengan wajah menggoda.
Keisha yang wajahnya pucat itu menatapnya dengan mata berkedip beberapa kali seakan hendak menjernihkan pikirannya atas alasan ia datang ke mari.
Jericho menatapnya dengan datar sambil tersenyum dan menghembuskan nafas halus. Keisha bisa mencium harum wanginya, dan aroma fresh dari nafasnya. Seketika rasa pusing dari sisa kantuk yang menderanya hilang. Ia pun menjawab, "orange jus, kalau kau punya..."
"Tentu saja! Tapi, sebaiknya kamu minum air putih dulu," Kata Jericho. Ia memutar badannya membuka lemari dan mengambil gelas, lalu memencet dispenser menuangkan air putih. "Biar perut kamu gak shock..."
"Aku ingin tahu, kenapa kau tak jadian dengan Kike...? Dia menyukaimu... Dan kau menyukainya... Aku tahu itu. Jangan kamu bohong soal kejadian di Kiara Payung itu."
"Aku tak suka cewek yang suka memuji diri sendiri," kata Jericho sambil mengambil botol fresh orange dari lemari es, lalu menuangkannya ke dalam gelas Keisha. "Aku hanya merasa kasihan padanya saat di Kiara Payung. Berapa kali kau mempertemukan aku dengannya? 4 atau 5 kali? Tapi, kau sampai punya punya khayalan-khayalan seperti itu yang begitu gamblang tampak keluar dari kepalamu. Aku sampai kau buat jatuh dari memikirkannya! Apakah kau sempat melihat belahan hatiku yang lain sebagaimana memalukannya melihat diriku di depan pacar yang menjadi obsesiku dalam keadaan seperti itu? Aku hanya merasa ingin membantu Kike yang terjatuh di belakangku! Kau sudah jauh turun ke depan. Aku hanya menenangkan emosiku, bukan bermaksud berlembut-lembut padanya!!"
"Itu adalah tempat kita yang paling indah! Kau harusnya bisa mempertaruhkan apapun untuk mempertahankannya!" Kata Keisha keras sambil menangis. "Aku yang melakukannya!"
"Hey, hey, hey...!" Kata Jericho mendekati. Ia memeluk kepala Keisha dari belakang. "Tidak jadi masalah... Kau boleh mengeluarkannya... Marahlah pada aku..."
"Dia katakan, kau mengambil kegadisanku! Bagaimana bisa ia mengatakannya?! Kau tentu yang bilang semua hanya untuk menyakitiku!"
"Itulah masalahnya, Keisha...," kata Jericho sambil memutar kursi Keisha. Keisha menatapnya dengan lugu.
"Kau membuatku seperti pecundang, bukan sebaliknya..."
"Jadi, kau jujur oleh karenanya, kau ingin memenangkan hati Kike," kata Keisha dengan pandangan dingin menembus mata Jericho.
Jericho tercekat. "Aku menunggumu selama 2 tahun... Kau tak pernah berhasil aku hubungi... Aku secara kebetulan pulang dari nonton bareng Final Piala Dunia, dan jagoan kita menang, kita merayakannya. Kami semua mabuk... Secara tak sengaja berpapasan dengan penonton malam yang keluar dari teater... Itu adalah kali pertama aku bertemu lagi dengannya sejak di Kiara Payung itu! Jangan katakan itu old flame! Kau yang menciptakannya sendiri! Aku tak pernah menemuinya lagi barang sekalipun setelah kejadian konyol di depan Theater Jatos itu! Ayolah, itu hanya sebuah obrolan pendek di pinggir jalan raya!!"
"Tapi, kau tahu dia sudah mencemburui hubungan kita! Dia bahkan sudah berani menarik perhatianmu di hadapanku! Kau tahu itu artinya bagiku?? Bahwa dia sudah bukan untuk menjadi sahabatku lagi!!" Kata Keisha tajam.
"Itu wajar! Dia selalu jatuh ke ciuman laki-laki satu dan yang lain!"
"Dan itu membuatmu teriris dan ingin menyembuhkan lukanya, kan?!" Kata Keisha membentak lebih kasar.
Jericho tiba-tiba merengkuh wajah Keisha dan menciumnya di mulut, sehingga Keisha tersedak. Kemudian melepaskannya.
"Apa yang kamu lakukan??!" Tanya Keisha kaget sambil masih memukuli Jericho, dengan wajah menengadah pada wajah Jericho tak percaya.
"Ini...!!! Ini yang aku inginkan darimu!! Bibir dengan bibir, mata dengan mata!! Aku ingin tahu di mana kau menyimpan hatiku!! Aku ingin berdua bersamamu, b******u di tempat terindah yang sering kita nikmati hanya berdua, merasakan kelembutan yang selalu kau rasakan dariku!! Tapi, kau malah apa? Mengikuti temanmu yang bernama Kike itu kemanapun dia pergi!! Kau ajak dia ke tempat indah kita itu, dan aku hanya berjalan mengikuti kemana kalian pergi! Seharusnya aku tidak membuntuti kalian berdua kemanapun kalian mau pergi! Aku hanya jadi pecundang atau cecunguk yang menurut dan mengiyakan semua kelakuan dan gaya norak kalian saat berdua! Apakah kau peduli perasaan aku, senang atau tidak, atau tahu bagaimana aku menikmatinya? Itu seharusnya sudah cukup untuk membuat kamu menyadari aku tak ingin dia berada di antara kita!! Tidak untuk diriku, tidak untuk dirimu sendiri! Tidakkah kamu sempat berpikir, aku merasa ada hal yang aneh dengan hubungan pertemanan kalian?! Kalian punya satu genk hanya perempuan tapi berbaur dengan genk-genk laki-laki lain, angkatan atas yang lesbi! Aku tak tahu bagaimana kau menempatkan aku di hatimu??!" Kata Jericho membentak di hadapan muka Keisha. "Kau tak tahu apa dengan perasaan aku saat kau meninggalkan langkahku dan lebih senang menyapu bekas langkah temanmu itu?! Bahkan setelah dia menyeruakku dengan ekspresi menjijikkannya! Kau pikir aku tak kecewa dan terseok-seok melihatmu ikut berputar arah hanya oleh sebuah pohon di antara sekian dalam kerimbaan??! Aku pikir kalian bisa saja jadi lesbian! Rambut kalian sama pendeknya!! Hah!!?! Itu mengerikan sekali bagiku!! Apakah sekarang kau bisa mengerti!!?!"
"Aku mempercayaimu!!" Kata Keisha tercekat, seakan tersadar dengan bayangan yang terjadi.
"Aku tahu, dan aku membebaskanmu... Karenanya aku senang ketika kau berlari-lari dengan membentangkan tangan, seakan kau melayang-layang terbang di bukit itu... Aku menikmati pemandangan itu... Kau tak tahu bagaimana aku rela melepaskan nyawaku untuk menopangmu agar kau bisa merasa sungguh-sungguh terbang..."
"Oohhh...," kata Keisha sambil menutup wajahnya. Air matanya tumpah bercucuran, namun tak ada suara tak ada gerakan, kecuali suara gemericik basah di antara kedua tangannya. Ia lalu membuka tangannya, dengan wajah merah dan basah. "Aku selalu bermimpi terbang di sana...," kata Keisha dengan suara merintih.
"Benarkah...??" Kata Jericho sambil terpaku penuh harap.
Keisha meringis sambil mengangguk, "aku hampir selalu lupa di mana tempat itu...! Tapi, bukti itu selalu jingga... Aku kadang menyadari di mana itu, tapi aku selalu mengenyahkan perasaan itu..."
Jericho menarik dengan cepat kepala Keisha dalam pelukannya, memeluknya erat-etat sambil menciumi kepala Keisha. "You're my good girl..."
"Aku selalu ceritakan mimpi itu pada rekan-rekanku..."
"Aku mempercayaimu... Kau bisa lihat kita punya ikatan itu, kan?"
"Aku sudah menganggapmu sebagai angan-angan..."
"Karena kau takut aku mengkhianatimu..."
Keisha menjatuhkan wajahnya ke pelukan d**a Jericho.
Jericho membenamkannya ke dalam ciumannya. Ia mendengar denging halus dan isak sedu Keisha.
"Ceritakan lebih tentang dirimu...," kata Keisha meminta.
"Aku akan menceritakannya, tapi kau harus minum dulu..." Jericho membuka wajah Keisha dari pelukannya. Wajah pucat yang sembab itu hanya meredupkan matanya mengangguk. Jericho tersenyum, merangkulkan sebelah tangannya dan menarik kursi beroda itu mendekat ke lemari es. Keisha hanya diam terpaku di kursi dengan wajah bersandar pada d**a Jericho yang tertawa senang sambil menuangkan kotak s**u yang diambilnya dari lemari es.
Keisha tertegun mengenang kedekatan mereka dulu. Jericho selalu begitu, memperlakukannya seperti anak kecil.
Ia mengangkat tangannya, mengusulkan untuk membuat coklat panas. "Kau masih suka Milo?"
"Yeah..."
"Mungkin kau sudah buat s**u coklat favoritmu sendiri...?"
Keisha menggeleng.
Sambil tetap mempertahankan kepala Keisha di dadanya, ia menuangkan s**u ke dalam panci kecil. Lalu memeluk kepala Keisha dengan hangat tanpa mengatakan apa-apa, hanya mulutnya yang tertumpu di rambut Bhea. Sejenak hening.
Dengan cekatan ia mengambil dua cangkir dan menuangkan s**u panas ke dalamnya. Menaruh teh celup dan bubuk coklat Milo dari bungkus. Ditariknya baki dari dalam laci dan mengalasi kedua cangkir itu dengannya.