Za masih berusaha menguasai diri terutama detak jantungnya yang bertalu cepat. Tangannya menahan d**a, seolah takut jika jantungnya melompat ke luar. “Teteh? Kenapa?” tanya Ani dengan logat khasnya membuat Za terlonjak kaget. “Eh, Ani. Nggak apa-apa. Saya … saya mau beli sayuran dulu ya. Kamu tolong cucikan pakaian kotor Mas Al,” jawab Za tergagap dan hendak pergi. “Iya, Teh. Saya tadi beli dulu sabunnya. Soalnya sabun buat nyucinya habis.” Ani menunjukan bungkusan kecil berwarna hijau pink. Bungkus deterjen yang cukup terkenal. “Ah, maaf saya sampai lupa. Nanti saya ganti ya, Ni,” ujar Za. “Nggak apa-apa, Teh. Ani ikhlas kok kalau buat Aa. Eeh, maksudnya … Ani ikhlas kok, cuman beli Rinso segini aja,” ucapnya diralat. Wajahnya tampak memerah karena malu. Za tersenyum sekilas.

