Bibir Za bergetar, dia bahkan tidak sanggup mengucapkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan suaminya. Ya, diantara mereka memang tak pernah terucap kata cinta. Kata yang seolah tabu untuk diucapkan, padahal mereka saling membutuhkan. “Aku … mencintaimu, Mas,” ucap Za terbata. “Apa itu cukup untuk membuktikan bahwa aku ingin mempertahankan rumah tangga ini?” tanya Za dengan tatapan memelas . Hati Albany melambung tinggi, walaupun dia tidak ingin menunjukannya. Masih ada rasa nyeri atas sikap istrinya yang begitu jahat. “Cinta?” Albany tersenyum miring lalu mendekat pada meja yang berada tak jauh darinya. Menarik laci dan mengambil sesuatu dari sana. “Apa ini yang kau sebut dengan cinta?” ucapnya seraya melemparkan selembar kartu itu ke hadapan istrinya. Pupil mata Za bergerak s

