“Mark.” Vita memanggil dengan suara pelan dengan tatapan tak percaya tercetak di wajahnya. Selama ini diyakininya Mark telah tewas karena menjadi santapan para Vegter di dalam ruangan berisi mayat kala itu. Tapi rupanya pemikirannya salah, Mark masih hidup dan tampak baik-baik saja. Air mata semakin deras mengalir dari pelupuk mata Vita. Bukan tangisan ketakutan melainkan tangisan bahagia karena melihat Mark telah kembali. Vita beranjak bangun dan melangkahkan kakinya mendekati Mark yang masih berdiri dalam diam dengan kepalanya yang tertunduk ke bawah. Tapi hanya dengan melihatnya sekilas, Vita tahu persis memang Mark-lah yang berdiri di hadapannya kini. Rambut hitam yang menutupi telinganya berkibar tertiup angin. Tubuh tingginya yang atletis karena sering ditempa dalam permainan bas

