Profesor's Daughter

1799 Words
Dua hari telah berlalu semenjak hari kejadian di mana hampir menewaskan Profesor Martin. Pagar pembatas telah di perbaiki, pot-pot bunga juga tidak ada lagi di atas sana. Tak hanya gedung itu, semua gedung mendapat perlakuan sama. Hanya saja, tim kepolisian tetap tidak bisa menemukan jejak pelaku. Seakan itu semua dilakukan oleh makhluk tak kasat mata. Semuanya bersih, tak ada sidik jari, barang bukti maupun rekaman CCTV. CCTV menyala waktu itu, tidak ada yang rusak. Hanya saja, di detik kejadian, semua CCTV mengarah ke bawah, tepat pada Profesor Martin. Tidak ada satupun CCTV yang menampakkan kejadian di lantai atas sana. Dan setelah kejadian itu selesai, CCTV kembali beroperasi dengan normal. Itu aneh, sangat. Dan polisi menyimpulkan ini adalah tindakan di sengaja, dalam artian ini sudah direncanakan. Dan pelakunya tidak mungkin hanya satu orang. "Kenapa orang-orang suka sekali menggosip." komentar Erden saat berjalan menuju parkiran bersama Steven. "Tentu saja. Kejadian ini masih menjadi hot news." jawab Steven acuh. Erden membuka pintu mobil dan masuk ke dalam begitupun Steven. Mereka berencana akan menemui teman-teman Steven di Café tempat mereka pernah bertemu dulu. Dengan di bumbui paksaan dari Steven tentunya. "Lagipula yang menjadi korban adalah dosen terpopuler, bagaimana mereka tidak heboh." lanjut Steven. "Ck. Mereka saja yang terlalu berlebihan." ucap Erden. Baginya itu adalah perbuatan membuang-buang waktu. Tidak ada gunanya membahas kejadian yang telah lalu berulang-ulang kali. Tidak akan ada yang berubah meski sampai ratusan kali mereka ulang. "Aku pikir kau banyak tidak menyukai sifat manusia pada umumnya. Aku sarankan kau membuat rumah di tengah hutan saja." ucap Steven berucap sinis. "Aku sudah mempunyainya." gumam Erden pelan. Steven menoleh padanya. "Kau mengatakan sesuatu?" tanya Steven dan Erden menggeleng pelan. Merasa bosan karena tidak ada percakapan. Steven dengan lancangnya mengobrak abrik isi mobil Erden. "Jangan menghancurkan isi mobilku." tegas Erden memperingati. Namun Steven tetaplah Steven, pria satu itu 'kan sudah kebal dengan segala bentuk peringatan dan ancaman Erden. "Berhenti atau kau kuturunkan di sini." Erden mengancam kali ini. Erden sesekali menoleh dan mencegah tangan Steven untuk mengambil apapun yang sudah dia tata rapi di sana. "Buku?" tanya Steven menatap sebuah buku kuno di kursi belakang. "Itu buku keluargaku. Jangan kau sentuh!" larang Erden terlebih dahulu. "Apakah sangat rahasia? Aku ingin melihatnya sebentar saja." ucap Steven meminta izin. "Kembali duduk dengan tenang. Buku itu tidak untuk kau baca." balas Erden membuat Steven merenggut kesal. "Tapi omong-omong, aku baru tau kau suka membaca buku klasik seperti itu. Memang apa isinya?" Erden menoleh ke samping. Lihatlah, Steven tidak akan berhenti bertanya mulai sekarang. Lagi pula kenapa dia sampai lupa menyimpan buku itu di tempat asalnya. "Kau tak perlu tau." ketus Erden. Steven berdecak kesal dan sekali lagi menoleh pada buku di belakang sana. Buku itu terlihat sudah sangat tua. Bahkan dengan melihatnya saja Steven tau kalau itu bukanlah kertas melainkan kulit hewan, mungkin? Erden menepikan mobilnya, memarkirkannya di tempat yang tersedia di sana. "Turunlah. Aku harus memastikan kau keluar lebih dulu." ucap Erden membuat Steven menoleh dengan tatapan sinis. "Memangnya aku akan mencuri? Sembarang sekali kau." ketusnya. Blam! Bantingan itu sebagai bentuk rasa kesal Steven. Erden mengambil buku itu dan memasukkannya ke dalam tas punggung miliknya. Tampaknya lebih aman jika buku itu terus bersamanya. Selesai, Erden turun dan berjalan masuk menuju meja yang sudah di duduki oleh Steven dan yang lainnya. Saat akan sampai, Erden kembali menangkap frekuensi nyaring dari bangsanya. Erden mengedarkan matanya ke seluruh penjuru Café. Dia tidak dapat mencium baunya, hanya bunyi nyaring itu yang dia tangkap. "Erden!" panggil Zivan melambaikan tangan pada Erden. Erden menatapnya. Suara frekuensi itu sudah hilang. Tak ada lagi bunyi nyaring di telinganya. Sekali lagi, Erden harus waspada di tempat ini, terlebih pada Steven dan teman-temannya itu. "Kenapa berhenti di sana?" tanya Alta setelah Erden duduk di sampingnya. "Tidak. Hanya memastikan sesuatu." jawabnya dan mereka hanya mengangguk tak ingin bertanya lebih jauh. "Mereka kenapa?" tanya Erden menatap Steven dan Kris. "Ah, itu. Tadi pelayan tidak sengaja memecahkan gelas, jadi mereka menolongnya. Dan ya, akhirnya terluka." jawab Zivan. Erden hanya diam menatap jari Steven dan Kris yang di balut handsaplast. "Begitu ya." gumam Erden mengangguk-angguk kecil. • • • • "Bagaimana soal yang kemarin?" tanya Kaza pada Erden. Mereka sedang bersantai saat ini, di temani secangkir kopi di halaman belakang rumah mewah itu. "Aku masih belum menemukan petunjuk." ucap Erden. "Ada yang kau curigai?" Erden menatapnya sebentar lalu mengangguk. "Beberapa orang di dekatku." jawabnya. "Aku tidak menyangka jika ada vampire lain di sini. Kau juga mengatakan kalau kau yang terakhir waktu itu." ucap Kaza meminum kopi di cangkirnya. Mengenai itu, Erden tidak menceritakan yang sebenarnya. Dia hanya masih ragu, karena itulah dia tidak pernah menceritakannya. "Mengenai adikmu, bagaimana?" tanya Erden mengalihkan pembicaraan. Kaza terdiam mendengarnya. Dia sedikit merasa putus asa mencari keberadaan sang adik yang tidak kunjung dia temukan. "Aku belum melanjutkan pencariannya." jawab Kaza menatap kosong ke depan. "Kenapa? Kau bisa memakai fasilitas yang aku beri untuk mencarinya." ucap Erden dan Kaza hanya tersenyum tipis. "Itu tidak akan mudah. Hanya berbekal nama kecilnya, mana mungkin aku menemukannya. Jika dia masih ada sekarang, namanya pasti sudah berganti. Wajahnya juga sudah pasti berubah." ucap Kaza. Menghela nafas sebentar lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Dia berumur dua tahun waktu itu, dia mungkin sudah tidak ingat mempunyai seorang kakak." lanjutnya tersenyum sendu. Sedih rasanya jika itu memang terjadi. Tapi itu tidak masalah baginya, yang terpenting dia menemukan adiknya dalam keadaan yang baik-baik saja. "Teo juga belum mendapatkan apa-apa?" tanya Erden lagi. Dan Kaza menggeleng. "Sepertinya itu adalah misi paling sulit baginya." ucap Kaza terkekeh. Erden menyetujuinya. Hacker yang satu itu tidak pernah mengerjakan misi lebih dari 3 hari. Dan pencarian adik Kaza sudah bertahun-tahun lamanya. "Kita pasti menemukannya. Dan aku yakin dia pasti baik-baik saja." Kaza menoleh pada Erden dan tersenyum hangat. "Bagaimana rencanamu itu?" tanya Kaza. "Aku?" Erden menunjuk dirinya sendiri. Tersenyum miring terlebih dahulu lalu menatap lurus ke depan. "Tetap berlanjut. Aku akan memerlukan bantuanmu lagi nanti." ucapnya. • • • • Hari ini, pagi ini tepatnya, satu universitas kembali geger dengan berita buruk. Yang berbeda adalah, kali ini kejadiannya lebih parah. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya seorang gadis pada dokter yang baru saja keluar setelah memeriksa sang pasien. "Keadaannya lumayan parah. Apalagi tangannya mengalami patah tulang. Tapi Anda tidak perlu khawatir, pasien sudah kami tangani dan dia sudah lebih baik. Tunggulah beberapa jam lagi hingga pasien siuman." jelas dokter muda itu. Vera__Zavera Grandelo, sahabat Leora__hanya bisa menenangkannya dengan memeluknya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, tentu saja Leora sangat mengkhawatirkan keadaan orang di dalam sana. "Terimakasih dokter." ucap Vera. Dokter itu mengangguk. "Pasien akan kami pindahkan di ruang inap. Kalian bisa menjenguknya di sana nanti." ucap dokter itu lagi. Mereka berdua hanya mengangguk kembali mengucapkan terimakasih setelah dokter itu pergi dari sana. "Vera, kenapa mereka begitu jahat padanya?" ucap Leora masih menangis di pelukan Vera. "Ini hanya kecelakaan Le, tidak ada yang jahat pada orang baik seperti Profesor. Kau tenanglah, semuanya baik-baik saja." Vera masih sibuk memeluk dan mengelus rambut Leora untuk menenangkannya. "Ini semuanya di sengaja, Ver. Ini sama seperti kejadian sebelumnya. Kau dengar tadi penjelasan polisi tentang ini? Kalau saja aku tidak ada di sana, mungkin dia sudah tiada, hiks.." Vera semakin erat memeluknya. Sudah lama Leora tidak pernah menangis seperti ini lagi. Dan ini membuatnya ikut sedih. Vera juga tidak mau ini terjadi pada orang baik seperti Profesor Martin. "Jangan berkata seperti itu. Yang terpenting sekarang Profesor sudah baik-baik saja. Kau seharusnya senang." ucap Vera lagi seraya mengusap air mata Leora. "Lihat, Profesor akan dipindahkan. Ayo." Leora hanya mengangguk dan berjalan di samping Vera. "Hah. Apa aku harus membunuh gadis itu terlebih dahulu?" gumam seseorang di balik tembok sana. Orang itu berbalik dan membuka restleting jaketnya, memperbaiki letak topi juga maskernya. "Gadis itu sungguh pengganggu." ucapnya lagi seraya terus berjalan. Orang itu membuka pintu mobilnya dan duduk di depan kemudi. Menatap sekali lagi ke arah rumah sakit baru setelah itu pergi melajukan kendaraannya. • • • • "Ayolah, ini hanya sebentar." Erden menatap jengah pada Steven yang masih setia menarik-narik lengannya. "Kenapa kau sangat pemaksa?" ketus Erden melepaskan tangannya dari Steven. "Karena kau yang minta di paksa. Ayolah, kita hanya menjenguknya sebentar lalu kembali ke sini lagi." lagi Steven memohon. "Lagipula kau adalah murid kesayangannya. Jika kau menjenguknya dia akan sangat senang. Kau tidak ingin nilaimu naik ya?" ujar Steven lagi merayu Erden. Erden berdecak malas. Dia punya otak yang cemerlang jika hanya untuk mendapatkan nilai paling tinggi, tidak harus mencari muka seperti itu. Dan juga, Erden bukannya tidak mau menjenguk sang profesor, hanya saja dia sedang berjaga-jaga. Rumah sakit bukan tempat yang cocok untuknya. Walaupun selama ini dia sangat baik dalam menahan hasratnya, tapi dia juga tidak bisa memprediksi masa depan. Dan juga, sang profesor adalah musuhnya, untuk apa Erden menjenguknya? "Ck. Hanya sebentar." ucap Erden akhirnya membuat Steven tersenyum senang. Usahanya memang tidak pernah sia-sia. "Iya, hanya sebentar. Ayo, teman-temanku juga ingin pergi bersama." Steven lebih dulu menarik tangan Erden sebelum Erden bisa protes. "Dasar manusia licik." ketus Erden dan Steven hanya terkekeh mendengarnya. Steven tau kalau Erden masih belum bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Pergi bersama kemarin saja Steven harus mengancam Erden dulu baru Erden mau ikut. Padahal maksud Steven itu baik agar Erden bisa bergaul dengan orang-orang, agar hidupnya tidak terasa monoton. Dalam perjalanan, Erden terus diam. Setelah sampai nanti, Erden berjanji akan menendang tulang kering Steven sekeras mungkin. Manusia yang mulai dia anggap sebagai teman itu malah menyuruhnya satu mobil dengan dua orang temannya. Sudah beberapa kali Erden katakan, kalau dia bukanlah orang yang tepat untuk di ajak akrab dengan orang baru. "Erden." panggil Kris dan Erden menoleh. "Kau__benar-benar trauma darah?" tanyanya sedikit pelan. Erden mendengus kesal. Steven memang tidak bisa memegang ucapannya. "Steven yang mengatakannya?" tanya Erden dan Kris hanya mengangguk. "Ck. Manusia satu itu." gumam Erden pelan. "Jangan tersinggung. Dia hanya berjaga-jaga. Kau ingat kemarin aku terluka, dia mengatakannya agar kau tidak melihatnya." jelas Kris yang sepertinya mengerti kekesalan Erden. Begitu ya? "Dan juga, aku memiliki kenalan psikiater, mungkin kau bisa bertemu untuk konsultasi. Temanku juga memiliki trauma yang sama denganmu, tapi dia sekarang sudah sembuh semenjak berkonsultasi dengan psikiater. Kusarankan, kau juga mencobanya." ucap Kris panjang lebar. Erden hanya mendengarkannya. Tersenyum tipis setelahnya. "Sampai psikiater itu gila, itu tidak akan menyembuhkanku." batin Erden. "Akan ku coba nanti. Terimakasih." ucapnya dan Kris mengangguk sambil tersenyum. Kemajuan besar saat Erden mengucapkan terimakasih. Dua mobil mewah itu sampai di depan sebuah rumah sakit, di mana sang profesor di rawat. Mereka langsung masuk dan mencari kamar inap profesor berkat informasi dari resepsionis. Tak lama mereka berkeliling, karena di depan sana mereka melihat Leora dan dua orang lagi duduk di kursi tunggu. Leora tampak seperti baru selesai menangis. "Dia di sini?" tanyanya entah pada siapa. Steven menoleh pada Erden yang menatap lurus pada Leora yang duduk sambil menunduk. "Tentu, dia anaknya." ucap Steven membuat Erden berhenti dan menatapnya. • • • •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD