“Ja—Jalu?” panggilnya saat sosok itu berbalik untuk menampakkan wajahnya. Kusuma membatu, berapa lama dia tak melihatnya dan rasanya masih saja sama. Air mata yang sengaja dia bendung tetap saja mampu membobol tembok yang dibangun oleh keegoisannya sendiri. Kusuma melangkah sekali lagi agar lebih dekat, mengukurkan tangannya lagi tapi tak sampai di wajah itu. Tetap mengambang di udara karena merasa tak mampu menyentuh wajah itu. Jalu melempar senyumnya. Pertemuan ini bukan keinginannya, dia mencari sesuatu yang ingin dia bawa ke vila, dan pertemuan ini membuatnya tertangkap basah, “apa ... aku boleh ... memelukmu?” Jalu bertanya selirih mungkin, takut Kusuma akan pergi lagi dan membuat perasaan Kusuma tidak nyaman. Sungguh dia pun rindu, tapi jika Kusuma masih enggan untuk bersama, Jalu a

