Tidak Beres

1071 Words
Hari ini, setelah sekian lama tidak berdiri di belakang bar karena demi mencari Brielle, pria penyuka aroma maupun rasa kopi ini sudah mulai pelan-pelan membuatnya. Tanaman kopi yang pertama kali ditemukan di Afrika ini kembali mengajak Leonathan, seakan-akan memanggil pria itu untuk bergelut di belakang bar dan mesin pembuat minuman berkafein itu. Aroma pekat dan sedap dari kopi menyeruak dan mengelilingi Leonathan. Dengan begitu ketenangan mulai hadir dalam jiwa rapuhnya. Ya, sekarang terlalu lemah lelaki berumur dua puluh lima tahun itu. Jauh di dalam hati Leonathan, jatuh cinta dengan seorang gadis bukanlah perkara mudah. Begitu sulit menemukan wanita tulus, bukan hanya melihat tampang atau uangnya saja. Namun, yang Leonathan cari adalah kesetiaan dari wanita yang mampu membuatnya nyaman. Bicara tentang fisik? Leonathan lebih suka wanita yang sama seperti ibunya, memiliki kulit sedikit gelap layaknya wanita Indonesia. Sayangnya, hingga detik ini wanita itu belum bisa dilihat lagi. “Pesanan kopi Espresso dua gelas, Tuan Leo,” ujar barista yang berada di samping kanan tubuh Leonathan. Sedangkan sang bos yang termenung sembari memegang cangkir hitam kosong masih belum tersadar. “Tuan, kopi Espresso dua gelas,” ucapnya lagi sedikit lebih keras dan dekat dari telinga Leonathan. Bagai pikirannya tengah tersesat, pria yang setia melamun itu tak kunjung menoleh. Ditepuknya pundak kanan Leonathan sembari mengatakan sekali lagi, “Tuan Leo ... pesanan dua gelas kopi Espresso ditunggu.” “O-oh, akan kubuat.” Menggulung kaos lengan panjang warna hitamnya sampai melebihi siku, Leonathan mengambil satu cangkir hitam satu lagi, dan berdiri tegap dengan berkali-kali mengerjapkan mata. Mengembalikan fokus, pria berambut lurus kecokelatan itu berdeham dan mengarahkan tatapannya pada bubuk kopi yang sudah ia tuang pada poltafilter. Kemudian memadatkan bubuk kopi itu. “Double shot Espresso?” tanya Leonathan memastikan, bisa kena komplain jika dia salah membuat. “Benar, Tuan Leo,” balasnya tanpa melirik karena dia sendiri takut memberikan yang terbaik untuk pelanggan. Tidak lebih dari satu menit, dua kopi Espresso buatan Leonathan pun jadi, dan siap dihantarkan pada pemesannya untuk dinikmati. Melihat kopi buatannya dihirup dan diseduh, Leonathan tersenyum. Ia baru bisa bernapas lega ketika melihat ekspresi penikmatnya baik-baik saja, itu tandanya kopi buatannya tidak buruk. “Tuan Leo bisa istirahat jika lelah. Jam makan siang juga lewat, Tuan.” “Ya, sepertinya aku harus makan siang. Aku masuk ke ruanganku.” Sang karyawan mundur sedikit dan mengangguk setuju. “Silakan, Tuan,” singkat barista tersebut dan membiarkan Leonathan melewatinya. Bukan hanya dia, barista yang lain juga memberi jalan Leonathan untuk lewat. Sebelum naik ke lantai dua, di mana ruangan pribadi Leonathan berada serta beristirahat di sana, Leonathan memilih berbelok ke etalase makanan. Dia memilih beberapa roti di sana, seperti kroisan yang bentuknya seperti bulan sabit, juga memilih roti lainnya, yaitu bagel. Kedua roti itulah yang akan mengisi kekosongan dari perut kotak-kotak pemilik kafe tersebut. Siang ini Leonathan hanya menghirup aroma kopi saja, karena pagi tadi dia sudah menyeduh dan akan menikmati minuman favoritnya itu ketika makan malam saja. Untuk siang ini ia hanya ditemani dengan air mineral dingin. Karena di sudut ruangannya terdapat kulkas mini, ia tak perlu turun ke bawah demi menyegarkan tenggorokan. Di tengah waktu makan siangnya berlangsung, pintu ruangan tertutup itu diketuk dari luar. Leonathan yang tidak tahu siapa pelakunya pun bertanya, usai menelan roti kroisan. “Iya? Siapa?” tanyanya tanpa berdiri, masih setia duduk di sofa dengan tangan kiri memegangi KTP Brielle. “Aku, Nath. Bisakah aku masuk?” “Alice?” bisiknya bingung. Bukankah jam segini seharusnya wanita itu ada di kafe? Untuk apa dia datang ke sini tanpa mengabarinya lebih dulu. Mengesampingkan rasa penasarannya, Leonathan memberikan izin untuk Alice masuk ke ruangannya. Wanita berambut pirang nan bergelombang yang tampil memesona dengan gaun panjang sebetis itu lantas duduk di samping Leonathan usai sang penghuni ruangan mengizinkannya pula untuk memosisikan diri di sebelahnya. Meletakkan tas merah yang sewarna dengan gaun di pangkuannya, Alice menarik napas dalam-dalam sebelum menyampaikan maksud kedatangannya ke hadapan Leonathan. “Apa kau baik-baik saja?” “Seperti yang kau lihat sekarang, aku sedang makan.” Alice menelan ludahnya dan mengangguk-anggukkan kepala. Pergerakan dan pertanyaan itu malah membuat Leonathan semakin bertanya-tanya dengan maksud dan kedatangan  Alice. “Ada apa? Kau datang ke sini hanya untuk bertanya tentang kabarku?” Alice melirik benda yang dipegang Leonathan di tangan kiri pria itu. “Kau masih memerhatikannya, Nath? Bahkan saat kau makan?” bukannya menjawab, ia justru mengajukan pertanyaan yang diangguki Leonathan dengan santai. “Sejak kapan kau mulai mengabaikan sahabatmu sendiri? Kau bahkan jarang membalas pesanku akhir-akhir ini. Sekarang ini apa aku tidak berarti lagi bagimu, Nath? Posisiku tergantikan hanya karena kau mencintai wanita itu?” “Apa maksud ucapanmu itu?” Leonathan yang ingin memasukkan roti bagel ke dalam mulutnya dan menggigit roti itu sampai membatalkan niatnya setelah mendengar pertanyaan aneh Alice. Ya, menurutnya itu aneh karena Alice terdengar tidak suka jika dia memerhatikan Brielle. “Ada yang tidak beres dengan otakmu, kurasa kau cemburu dengan Brielle.” “Ya, memang! Benar dugaanmu itu, aku cemburu! Kenapa kau berubah? Kenapa kau lebih mementingkan Brielle daripada aku, sahabatmu sendiri?” tanya Alice yang mulai menggebu-gebu dan matanya mulai berkabut. “Mana janjimu yang selalu ingin menjaga dan memerhatikanku? Kau lupa akan semuanya itu, Nath! Sejak malam itu, kau berubah! Apa yang sudah wanita itu lakukan sampai sahabatku yang selalu peduli ini berubah cuek dan menganggapku tidak ada?!” “Kau ini kenapa?” Leonathan kembali meletakkan roti bagel ke atas piringnya lagi dan mengalihkan perhatiannya pada Alice sepenuhnya. Tubuhnya bahkan sudah mengarah ke wanita yang tampak ingin menangis itu. “Bukankah selama ini kau sendiri yang ingin aku bahagia bersama wanita yang aku cintai dan berhenti mengganggumu berpacaran?” tanya Leonathan dengan tatapan tak percaya sekaligus pusing. “Kau yang menyuruhku untuk mencari wanita pujaanku, dan aku sudah menemukannya malam itu. Tetapi sekarang apa?” “Aku tidak suka kalau kau terlalu jauh dariku, Nath!” “Kau tidak bisa egois, dan berhenti memerintahku atau memaksaku lagi. Jika kau kekasihku, mungkin aku akan menerimanya. Tetapi nyatanya, kita hanya sebatas teman, sahabat saja.” “Aku hamil, apa kau tahu itu?!” “Ka-kau ham-hamil?!” “Kau sampai terkejut ‘kan?” Alice tersenyum miris dan berusaha mengusap air matanya sendiri. “Apa kau pernah menanyakan kabarku lagi? Atau sedikit saja menyinggung hubunganku dengan mantanku. Tapi, kau tidak melakukannya, kau selalu fokus dengan Brielle!” teriak Alice yang tangisnya tak bisa dibendung lagi, Leonathan yang iba pun memberikan pelukan untuknya. “Kau sudah berubah, Nath!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD