Persiapan

1188 Words
Sesuai rencananya, sesudah membersihkan badannya yang penuh keringat akibat bekerja, Leonathan kembali bekerja sama dengan mobil kesayangan untuk mencari wanita incaran yang kabur saat ia tertidur. Bahkan belum sempat mengatakan maaf atau menyapa di pagi hari, Brielle sudah menghilang. Sungguh, perasaan kesalnya meledak hingga sekarang. Hanya saja Leonathan harus bisa tenang agar dapat menemukan alamat di KTP Brielle, ada di daerah Kuta Selatan. Cukup jauh jaraknya, karena posisi rumah Leonathan ada di Seminyak, jarak yang ditempuh kurang lebih 12 kilometer, atau dua puluh menit kalau dia mengebut dan jalan tidak macet. Hingga akhirnya Leonathan tiba di depan rumah yang terlihat sangat bagus dan terawat. Dari depan, Leonathan bisa menebak jika harga rumah tersebut tidaklah murah. Keluar dari mobilnya, ia pun tak melepas kacamata dan menuju ke pagar putih yang tingginya tidak sampai tiga meter. Belum sempat menghampiri pembuka pagar, bahu Leonathan ditepuk seseorang dari belakang. “Selamat malam,” ucapnya setelah Leonathan menoleh padanya. “Kalau boleh tahu cari siapa, Bli?” Dengan jantung yang agak terkejut, Leonathan merogoh kantong celana jeans hitam yang ia pakai, mengeluarkan dompet warna senada pula dan menyodorkan kartu identitas diri Brielle yang tak lupa ia bawa. “Saya mencari teman lama, kebetulan KTP Elle tertinggal. Ingin saya kembalikan padanya,” ucap Leonathan yang tentu saja berbohong. Beruntung dia bisa menemukan jawaban yang bisa dinalar. Karena jika tidak, alasan apa yang harus dia pakai kalau perempuan di hadapannya ini menanyakan KTP Brielle yang ada padanya? “Wah, Putri sudah tidak tinggal di sini selama satu tahun lebih.” Leonathan yang tadinya merasa sedikit lega karena menemukan alamat Brielle, kembali lesu sampai mengeluarkan napas panjang menahan emosi. “Setahu saya Putri diusir karena masalah harta di keluarga besarnya, Bli.” Sembari menyodorkan kembali KTP Brielle, ia sedikit menepi. “Karena saya asisten rumah tangga, saya sering mendengar berita dari orang-orang di sini waktu berkumpul.” “Elle diusir?” “Saya dengar, dulu ketika nenek dan ayahnya Putri atau Elle ini meninggal ... ada perebutan harta, kemungkinan rumah ini juga sudah dihak milik oleh salah satu keluarga tertua dari neneknya. Putri pergi mungkin karena mengalah. Dia juga jarang keluar juga waktu sekolah dulu, jarang mengobrol sama orang-orang.” “Matur suksma,” jawab Leonathan berterima kasih dengan Bahasa Bali sembari meletakkan dua tangannya di depan d**a seperti salam namaste. “Saya akan cari informasi Elle melalui teman saya saja, sekali lagi terima kasih banyak,” imbuhnya sebelum menghampiri pintu mobil dan masuk ke BMW Z4 hitamnya. Begitu ia masuk, orang yang memberikan informasi itu juga melanjutkan jalannya. Sampai perempuan itu masuk ke rumah besar, selisih tiga rumah dari rumah keluarga Brielle di hadapannya. “Aku harus mencarimu ke mana jika masalahnya semakin rumit seperti ini?!” Mengacak rambutnya karena bingung, gusar, dan marah, Leonathan memukul setir berkali-kali hingga akhirnya memilih untuk pulang saja. Tujuannya setelah sampai di ruang tengah adalah mengabari Alice. Melakukan panggilan telepon, tak ingin basa-basi dengan mengirimkan pesan yang kemungkinan akan lama dibalas oleh sahabat yang pernah ia cintai. Hingga dugaannya benar, Alice mengangkat panggilannya. “Aku ingin data atau informasi tentang Naomi.” “Mengapa suaramu harus terdengar serius seperti ini?” sahut sang penerima telepon dari seberang. “Ada apa denganmu, Nath? Santailah,” tambah Alice yang merasa kesal karena pria berumur dua puluh lima tahun itu mulai mengaturnya dan terdengar berbeda dari biasanya. Menarik dan mendorong udara melalui lubang hidungnya sebelum menerangkan, “KTP milik Elle ada padaku, dan aku sudah mendatangi alamat rumahnya. Sayang sekali, rumah itu sudah tidak ditempatinya selama satu tahun lebih.” Meski penjelasan singkat, pasti Alice bisa mencerna dan memahami secara cepat. “Karena itulah aku meminta informasi tentang sahabatmu, Naomi. Dia pasti mengenal Elle dengan baik, jadi aku bisa menemukan Elle dari sahabatmu itu.” “Baiklah, besok aku akan menemanimu ke rumah orang tua Naomi atau ke toko bunga keluarganya. Selama duduk di bangku sekolah dulu aku sering mampir ke sana dan menjadi pelanggan setia mereka.” “Aku membutuhkannya hari ini, Alice! Mengertilah, masalah ini sangat genting. Aku tidak mungkin membiarkan Elle melakukan hal yang tidak-tidak setelah kita b******a. Kau pasti mengerti perasaan bersalahku padanya. Aku tidak bermaksud menyakitinya.” “Kau? Kau benar-benar sudah melakukan kesalahan besar, Nath!” teriak Alice yang hampir saja memecahkan gelas di genggaman tangannya. “Kau sampai tidur dengan sahabat Naomi?!” “Sudahlah, aku tidak butuh bentakan atau omelanmu,” putus Leonathan sambil menekan tombol di remot yang ia genggam, membuat televisi LED menghitam, mati. Ia bangkit dan mengayunkan kaki ke kamar tidur sembari melanjutkan, “yang aku inginkan hanya informasi Naomi. Aku yakin, dia pasti tahu kediaman Elle. Kali ini, bantulah aku. Bukan aku saja yang selalu membantumu dengan mendengarkan curahan hati tidak mutu tentang mantan-mantan berengsekmu.” “Malam ini aku sibuk. Tunggu besok pagi, aku janji, besok pagi aku akan mengajakmu ke toko bunga orang tua Naomi. Selamat malam, Nath. Sampai jumpa besok pagi.” Panggilan pun ditutup sepihak oleh wanita berkulit putih sepertinya. “Sialan,” umpat Leonathan sebelum melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Pria itu menggeledah lemari pakaian dan mengganti celana jeans-nya dengan celana tidur. Sedangkan kaos polos hitam dibiarkannya melekat di tubuh. Sesudah itu membanting tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang dan menatap langit-langit kamar. “Akan kucari dirimu sampai dapat, Elle.” Leonathan yang lelah hati dan pikiran kini membiarkan matanya tertutup. Mengesampingkan sifat keras kepala dan semena-mena dari Alice, ia memilih mencari wajah Elle dan berakhir membawanya ke alam mimpi. Meski cuma mimpi, setidaknya dia bisa menyampaikan kalimat maaf, perasaan menyesal yang benar-benar berasal dari lubuk hatinya jika mengetahui keputusan Elle itu. “Kabur adalah keputusan terburuk, Elle ,” gumamnya sebelum benar-benar masuk ke dunia mimpi. Tidak sendirian lagi, pagi ini Leonathan mencari Brielle bersama Alice. Pria yang tampak gagah dengan kaos hitam polos lengan pendek, menampilkan otot-otot kencangnya tengah menyetir. Duduk di balik kemudi, Leonathan masih memakai kacamata hitamnya dengan tatapan fokus ke depan dengan sesekali melirik wanita yang ada di sebelah kiri. “Jika kau tidak mengesampingkan tugas dariku, kita pasti sudah menemukan Elle sejak kemarin.” “Mana sempat aku mengecek data-data karyawan yang tidak penting?” tanya perempuan yang duduk malas-malasan di kursi penumpang. “Selama ini kau juga tidak pernah mempermasalahkan apa yang aku kerjakan di kafemu, kenapa sekarang kau lebih heboh?” Menyilangkan tangan di depan d**a, Alice melirik Leonathan dengan tatapan tajam. “Karena wanita itu?” tanyanya yang terdengar kesal di telinga sang pengemudi mobil. “Ya, jika tidak karena cinta pertamaku itu, aku tidak akan segila ini.” “Cinta pertama?!" Hampir tertawa, tetapi Alice menahannya. Setahuku, akulah cinta pertamamu. Dia bukan cinta pertamamu, Nath." Sontak saja tawanya yang ditahan akhirnya pecah, dan memekik, "lucu sekali!” Leonathan menghentikan kendaraan roda empat yang ia kemudikan ini sesuai perintah lampu merah yang ada di depan sana. “Bagaimana juga, hanya dia yang pernah tidur denganku.” Menoleh dan menatap lekat-lekat perempuan berambut pirang di sebelah kirinya, Leonathan tersenyum miring. “Baru kali ini juga, aku mencintai seseorang dari pandangan pertama, bukankah itu juga yang dinamakan cinta pertama?” tanyanya dengan satu alis terangkat, membuat wajah tampan itu terlihat semakin tampan dan keren di mata Alice.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD