"Memangnya kalau kakak ikut, Li mau kasih apa?" godaku pada gadis cantik di ujung telepon, yang akhir-akhir ini selalu bersikap manja. "Em, apa ya ....? Kakak mau apa? Bakso?" "Gak lah. Bosen. Mau yang lebih dari itu ...." "Apa ya? Semuanya udah aku kasih ke Kakak lho. Sampe bingung mau kasih apa lagi?" "Masa? Kakak ngerasa belum semua, deh. Kakak maunya yang lebih lho." "Hem. Mulai deh .... tolong dikondisikan ya pikirannya. Tidak ada kemesuman di antara kita." Li seolah tahu apa yang kupikirkan. Ini gara-gara Doddy yang manas-manasin tempo hari. "Cewek ... sebelum lo tiduri, dia bakal campakkan lo setelah dapat pria yang lebih baik!" ucapnya meremehkan. Pemuda itu jauh lebih muda dariku, tapi otaknya ngeres luar biasa. Gara-gara itu aku jadi sering iseng godain Li untuk diajak

