Hukuman

1742 Words

Entah kenapa suasana ini jadi sangat tak menyenangkan? Ada sesuatu yang terasa ganjal. Abah terlihat aneh. Pria yang biasanya selalu bijaksana kini menampakkan wajah tak sukanya padaku. "Ingat, Bed! Kamu harus adil!" Suara itu meninggi seiring pintu yang dibanting sebelum kepergiannya. Aku terhentak kaget. "Bapak Ubaidillah." Suara seseorang membangunkan. Hanya mimpi rupanya. Aku tertidur sambil duduk di depan dipan Liana. Memang tak mungkin Abah memperlihatkan perangai buruk, lebih padaku. Abah juga menyinggung nama Raudah, yang aku sendiri sama sekali tak memikirkannya ke sana. Kecuali, jika selama ini Abah memendam kekesalannya selama bertahun-tahun atas sikapku pada Raudah. Calon mantu yang sering mendapat pujian Umi di hadapan Abah. Ini sangat mengganggu. Saat aku berusaha menep

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD