Seorang gadis berjalan sedikit cepat di koridor kampus, dengan tangan penuh dengan buku yang dia peluk di d**a. Kaca mata tebal membingkai matanya. Rambutnya yang sengaja dia gerai menutupi separuh wajah cantiknya dari tatapan orang-orang di sekitarnya.
Saat berjalan dia hanya akan menunduk dan menatap lantai. Bahkan untuk sekedar menatap orang yang berlalu lalang pun dia tak berani.
Dunianya hanya ada dirinya, bahkan meski suasana ramai dia hanya seorang diri dalam pikirannya.
Zenara Arunika mahasiswa akhir semester yang akan segera lulus. Tiga tahun lebih dia bertahan dalam lingkungan elit itu dengan gelar mahasiswi berprestasi hingga mendapatkan beasiswa dan kuliah tanpa mengeluarkan biaya.
"Hei cupu. Kamu gak minat apa ikutan pesta kelulusan?" Zena mendongak dan menemukan seorang teman kelasnya.
"Kalau mau kamu bisa ikutan tulis nama kamu disini." Zena menatap buku yang di pegang teman lainnya. "Tapi kalau kamu ikut, kamu punya gaun gak? Masa mau pake baju buluk ini lagi." Gadis itu tertawa, diikuti temannya yang lain. Tangannya mencubit baju Zena yang warnanya memudar.
Zena tahu mereka tak berniat untuk mengundangnya, jadi dia memilih menggeleng. "Aku gak ikut," cicitnya.
"Iya sih, lagian cewek miskin kayak kamu malah ngotorin tempat kita aja."
Zena melipat bibirnya erat. "Kalau gitu aku permisi." Zena kembali menunduk dan segera pergi. Namun karena tak memerhatikan sekitar Zena justru menabrak punggung seseorang hingga buku- buku di tangannya terjatuh.
"Maaf, maaf, maaf." Berkali-kali dia mengatakan maaf, hingga kepalanya semakin menunduk karena takut.
Zena berjongkok untuk mengambil semua bukunya hingga buku terakhir yang berada di dekat sepasang sepatu hitam mengkilat yang nampak mahal di depannya. Zena menaikan pandangannya ke arah celana bahan semi formal, lalu kemeja yang di balut jaket kulit hitam. Tangan Zena bergetar hingga buku- buku di tangannya kembali terjatuh. Tanpa melihat dan mendongak Zena tahu siapa pria di depannya.
Reynaldi Prananta.
Pria tampan nyaris tanpa cela. Idola kampus yang hampir setiap minggu ganti pendamping untuk berdiri di sebelahnya. Seolah hanya pelengkap, para gadis itu hanya diam tanpa di perbolehkan bicara.
"Kamu gak papa?" Suara berat yang sialnya terdengar seksi di telinga Zena bahkan membuatnya merinding.
Zena tak menyangka jika pria itu akan bicara padanya.
Zena memungut bukunya kembali dengan cepat, lalu berdiri. "Gak papa, maaf." Lagi, dia tak berani mendongak. Hingga Reynaldi pergi melewatinya diikuti teman- temannya, dan tak lupa gadis di sebelahnya.
Setelah gerombolan itu lewat, Zena baru berani mendongak menatap kagum pada punggung Rey di balik kaca mata tebalnya. Bibirnya tersenyum mengingat kembali Rey yang baru saja bicara padanya.
"Kamu gak papa?"
Suara itu seperti alunan musik merdu yang membuat Zena terlena.
Setelah kejadian itu Zena sering tersenyum sendiri dan memikirkan yang tidak- tidak. Berkhayal jika suatu hari Rey akan kembali menyapanya lalu hubungan mereka mendekat, dan semakin mendekat.
Zena menggigit ujung jarinya masih memikirkan hal yang tak seharusnya dia pikirkan.
Zena menggigit ujung bibirnya. Dia begitu mengagumi Rey sejak lama. Pria tampan berkarisma dan nyaris tanpa cela. Zena sadar diri siapa dirinya, saat para gadis berebut untuk menjadi kekasih Rey, Zena hanya bisa menatap diam- diam dan dari jauh.
Hingga hari itu tiba, hari yang tak pernah dia kira. Di depannya Rey berdiri dengan memasukan kedua tangannya di saku celananya.
Menatapnya lekat.
Entah apa yang pria itu pikirkan, tapi untuk pertama kalinya Zena menatapnya lekat dibalik kacamata besar dan tebalnya.
"Kamu, kamu mau jadi kekasihku." Mata Zena membulat, Nada suara itu bukan pertanyaan karena tak ada tanda tanya. Dan Zena pun tak menjawab sebab bibirnya terasa kelu. Seluruh tubuhnya tertegun kaku.
"Aku anggap kamu setuju." Rey menyeringai lalu pergi.
Setelah kepergian Rey, Zena masih tak bergerak hingga beberapa detik kemudian barulah matanya berkedip.
"Apa katanya?" Zena menggeleng pelan, "Aku pasti salah dengar." Zena memukul kepalanya. "Apa ini karena Aku terlalu memikirkannya? Otak gila!" makinya pada diri sendiri. Zena bangkit dari duduknya lalu memutuskan pulang.
Zena menjalani harinya seperti biasa, kampus, rumah kecilnya, lalu bekerja. Tak ada yang aneh seperti biasa menjalani hidupnya dengan tertutup dan jauh dari orang-orang.
Hanya sendiri.
Beberapa hari ini dia pun tak melihat Rey, entah kemana pria itu. Dari yang dia dengar pria itu tengah pergi ke luar Negeri.
Zena menatap jam di pergelangan tangannya, sebelah tangannya menyuapkan roti ke dalam mulut menunggu bis datang yang akan membawanya pulang.
Dia tak sempat makan sejak pagi, dan baru menyuapkan roti yang dia beli di pedagang asongan saat keluar dari kampus. Tentu saja karena dia tak bisa makan di kantin. Kampus elit dan tentu saja kantinpun setara makanan restoran yang pastinya mahal. Dan bagi Zena yang masuk melalui jalur beasiswa, dia tak memiliki uang sebanyak itu untuk dia hamburkan hanya untuk makan.
Zena hanya berharap setengah tahun ini akan segera berlalu agar dia bisa segera lulus, dan berharap akan mendapat pekerjaan yang layak dengan nama lulusan terbaik universitas ternama.
Sebuah mobil berhenti di depannya membuatnya mendongak. Mata Zena tertegun saat melihat siapa yang keluar dari dalamnya.
Rey?
"Ayo masuk!" ucapnya dengan membuka pintu mobilnya.
Zena masih terdiam hingga beberapa saat dia baru menunjuk dirinya. "Aku?" cicitnya dengan nada tak yakin.
"Hm."
Tidak percaya jika pria idamannya membukakan pintu untuknya bahkan memintanya masuk ke dalam mobil mewahnya.
Zena yang hanya diam merasakan tarikan di tangannya lalu tubuhnya di dorong masuk duduk di kursi sebelah kemudi.
Sementara Rey menunduk dengan menahan tangannya di badan mobil. "Aku gak suka menunggu. Jadi jangan buat aku bicara dua kali. Mengerti?!"
Zena mengangguk kaku, hingga merasakan cubitan di hidungnya. "Bagus."
Wajah Zena terasa panas dengan debaran jantung yang menggila seolah akan meloncat dari rongganya.
Zena menyentuh pipinya yang terasa semakin panas hingga dia merasakan mobil mulai melaju.
Zena yang tersadar menoleh. "Kita akan kemana?" tanya masih dengan suara pelan.
"Pulang, tapi kita akan makan dulu." Zena tak percaya dengan apa yang terjadi. Dia masih setengah sadar, hingga mobil berhenti di depan sebuah restoran, lalu pintu kembali terbuka dengan Rey yang membukanya.
"Ayo!" Rey berjalan lebih dulu dan dengan langkah yang masih menunduk Zena mengikuti Rey memasuki restoran yang dia rasa terlalu sepi.
Zena menghentikan langkahnya saat di depannya Rey pun berhenti. Pria itu menarik sebuah kursi, "Duduklah!" katanya.
Zena melangkah mendekat lalu duduk.
"Ambilkan makanan yang paling enak." Seorang pelayan mengangguk, hingga tak lama meja di depannya di penuhi makanan.
"Makanlah!" Zena menatap makanan di depannya, lalu mendongak menatap Rey yang hanya menatapnya.
Pria itu tak bermaksud makan? Lalu untuk apa makanan sebanyak ini? Lamunan Zena terhempas saat suara Rey kembali terdengar.
"Kenapa, mau aku suapi?"