Harus diselesaikan

989 Words
  Aisyah melakukan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga, menyiapkan segala kebutuhan Farhan sebelum berangkat kerja. Urusan meja makan semua sudah selesai, Aisyah segera berpindah ke kamar untuk membereskan tempat tidur. Ponsel Farhan tergeletak begitu saja di atas bantal, Aisyah segera memindahkannya ke atas meja di sebelah tempat tidur. Drrttdrrtdrrrt Sudut mata Aisyah sedikit melirik ke arah ponsel yang berdering, terlihat sebuah panggilan dengan nama Amelia. Aisyah mengerenyitkan dahinya, lantas timbul pertanyaan, untuk apa Amelia menelfon Farhan sepagi ini? Ponselnya terus saja berbunyi, Aisyah tidak berani mengangkat atau membaca isi pesan yang masuk karena itu akan menganggu privasi suaminya sendiri. Aisyah menghela napas berat dan memejamkan mata untuk beberapa detik. Kegelisahan dan ketakutan mulai merasuki pikiran Aisyah, namun ia meyakinkan hatinya jika Farhan tidak mungkin berbuat macam-macam. "Ada apa, Aisyah? kenapa tidak di angkat?" Farhan mengambil ponsel itu dan segera melihat panggilan yang masuk. "heuuhhhh." Dia tersenyum sinis, lalu duduk di atas tempat tidurnya dibarengi menatap isi pesan dan menjatuhkan ponselnya di atas tempat tidur. "Aku sudah sangat lelah menerima pesan dari Amelia," ucap Farhan sambil menggosok rambutnya yang basah, karena dia baru saja selesai mandi. Aisyah hanya terdiam dan mencerna semua kata-kata Farhan. Ternyata yang di pikirkan Aisyah tentang Fahri dan Amelia itu salah. Aisyah berpikir sejenak, ia merasa harus melakukan sesuatu agar semuannya kembali baik-baik saja. "Mas, aku boleh minta nomor ponsel Amelia?" pinta Aisyah "Untuk apa?" "Aku ingin menyelesaikan kesalah pahaman ini. Aku takut!" Aisyah tertunduk lesu, niatnya dalam hati sudah bulat untuk mengajak Amelia bertemu. Terlebih Aisyah tak tega melihat Farhan yang selalu di ganggu oleh pesan Amelia yang tidak sewajarnya dilakukan oleh seorang perempuan. "Boleh, tapi kamu takut kenapa, Aisyah?" Fahri mulai menggoda Aisyah dengan menatap istrinya itu penuh dengan keseriusan. "Cemburu?" "Emm...emm, bukan begitu." Aisyah mulai terlihat gelagapan dengan pertanyaan Farhan. Aisyah mulai meremas-remas ujung jilbabnya dan itu membuat suaminya terkekeh geli. "Aisyah, kamu takut suamimu ini selingkuh, ya?" Farhan menghampiri wanita itu yang mulai menunjukan ekspresi lucu dengan memainkan bibirnya, ia melebarkan kedua tangannya dan memberi senyuman manis ke arah Aisyah. Aisyah mengerti, dia mengangguk kecil dan mulai memeluk tubuh Farhan dengan sangat erat. Farhan menciumi pucuk kepala Aisyah yang tertutup jilbab berwarna peach dengan motif kupu-kupu, jilbab itu membuat Aisyah terlihat sangat cantik. "Aisyah, aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita. Ijab kabulku di depan almarhum Ayahmu sudah menjadi janji yang tidak bisa di langgar, apapun itu alasannya." Aisyah tersenyum kecil dan menutup matanya, mempererat pelukannya kepada Farhan. "Bukankah laki-laki itu bisa mempunyai istri lebih dari satu?" Aisyah bertanya iseng kepada Farhan, tentunya ingin mengetahui jawaban Farhan sebagai laki-laki yang normal. "Iya. Tapi tidak ada di kamus hidupku, Aisyah."  "Jika aku yang meminta?" "Aku akan marah kepadamu." Farhan melepaskan pelukannya, dan mengusap kepala Aisyah dengan lembut. Mereka segera menuju ruang makan untuk sarapan, karena beberapa menit lagi Farhan harus melaksanakan rutinitasnya sebagai karyawan di sebuah perusahaan. °°° Aisyah menunggu di sebuah cafe. Siang ini dia sudah janji bertemu dengan Amelia. Seperti niatnya dari awal, Aisyah ingin menyelesaikan kesalah pahaman Amelia terhadap hubungannya dengan Fahri. "Bismillah. Ya Allah, semoga Amelia bisa menerima kenyataan yang  sebenarnya." Aisyah tak pernah lepas dari doanya, dia menguatkan hati dan berharap tak akan ada yang terluka. Entah kenapa dia sangat yakin jika Amelia menaruh hati pada suaminya, Farhan.  Sembari menunggu Amelia, Aisyah memesan secangkir teh hangat. Teh hangat di rasa cukup untuk menenangkan tubuh Aisyah yang sedikit gugup. Gadis cantik dengan Hijab berwarna merah menyala mulai memasuki cafe, langkahnya anggun dengan senyum yang menghiasi parasnya yang cantik. "Assalamualikum, Aisyah." Aisyah yang sedang memainkan ponselnya langsung mengarahkan wajahnya ke sumber suara. Betapa terkejutnya Aisyah melihat gadis yang sangat cantik ada di hadapannya dengan tersenyum sumbringah, seolah ingin menunjukan jati dirinya yang baru. "Masya Allah, Amelia. Kamu cantik sekali." Puji Aisyah. Amelia tersenyum malu  pipinya berubah menjadi kemerah-merahan, dia mulai duduk di hadapan Aisyah. "Sejak kapan berjilbab, Amelia?" "Seminggu yang lalu. Menurut kamu aku cocok gak pake jilbab?" tanya Amelia dengan sangat antusias. "Tentu saja, Amelia. Kamu terlihat sangat cantik. Apalagi kamu memang sudah cantik." Ameliapun begitu senang mendengarkan jawaban Aisyah, ia berharap kakak dari Aisyah berucap sama tentang dirinya. "Aku berharap Farhan berkata sama tentang aku, Aisyah." Senyum Aisyah yang tadi ringan berubah menjadi sangat berat, dia sudah bisa menduga jika Amelia benar-benar menaruh hati kepada suaminya. "Amelia," panggil Aisyah dengan nada yang sangat pelan. Tatapan Aisyah terhadap Amelia berubah menjadi lebih serius kali ini, Ameliapun berusaha mengimbangi sikap Aisyah. "Ada yang ingin aku katakan. Aku harap kamu bisa mencerna dengan baik maksud dari penjelasan aku ini." Aisyah berusaha mengatur napasnya, mencoba berucap dengan sangat hati-hati. Wanita itu memejamkan mata untuk beberapa detik dan mulai menjelaskan maksud dan tujuannya. Bismillah. Ucapnya dalam hati. "Amelia, Farhan sudah menikah!" Amelia terdiam beberapa saat, menatap mata Aisyah dengan seksama. Tak berapalama berselang dia mengerenyitkan dahinya dengan sikapnya yang tetap bungkam. "Kamu baik-baik sajakan, Amelia?" Tanya Aisyah dengan gugup melihat sikap Amelia yang tak berkutik sedikitpun. "Kenapa kamu menyebar berita bohong seperti ini, Aisyah?" Aisyah terkejut dengan respon Amelia yang jauh dari dugaannya. "A-aku." "Cukup Aisyah! dari awal aku sudah tahu jika kamu memang tidak suka kepadaku, kan? kamu tidak rela jika kakakmu melabuhkan hati kepada wanita seperti aku." Baru saja Aisyah membuka mulutnya, Amelia sudah mengangkat tangan memberi tanda agar Aisyah tidak boleh berbicara apapun. "Kamu tahu, Aisyah? Farhan bisa merubahku menjadi manusia yang baru dalam sedetik saja. Kamu cemburukan? kamu bahkan takut kehilangan sosok kakak yang menyayangimu. Itu hal yang manusiawi, Aisyah. Tapi jangan sampai kamu merusak kebahagiaan orang lain dengan egomu itu." "Astagfirullah hal adzim, Amelia! bukan begitu, lebih baik kamu dengarkan dulu kebenarannya dengan hati yang dingin." Amelia segera berdiri dengan nafas yang tak beraturan, bahunya terlihat naik turun menahan amarah yang tak terbendung lagi. "Aku pergi. Assalamualaikum." Amelia berlalu meninggalkan Aisyah, sementara Aisyah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya memandang punggung Amelia yang kian lama menghilang dari pintu cafe. "Waalaikumsallam, Amelia." "Astaghfirullah. ko jadi begini. ya Allah kuatkan hamba!" ucap Aisyah dengan lemas. Terimakasih untuk yang mau mampir ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD