47

1168 Words

"Apa kau baik baik saja?" tanya Kak Aidil segera setelah kak Yanto pergi. Wajahnya nampak khawatir dan tegang memegangi lenganku yang masih menggendong Rima. "Iya, aku baik baik saja," jawabku sambil menyeka sedikit darah yang mengering di sudut bibir, bekas tamparan kakaknya. "Apa dia memukulmu lagi?" "Selalu," jawabku. "Ah, aku ingin sekali membunuhnya andai dia bukan kakakku," ucap suamiku geram. "Jangan Kak, kendalikan dirimu," balasku sembari mengajaknya masuk dan menutup pintu. Kami sudah terlalu sering mencuri perhatian warga dan tetangga. Aku tak bisa menyebut bahwa wajahku sudah tebal menahan malu, tapi itulah kenyataannya. Semuanya jadi canggung. "Kenapa bisa sampai bertengkar?" lanjut Kak Aidil seraya menyodorkan air padaku. Kuterima airnya lalu meneguknya, kemudian kuajak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD