10

835 Words
Aku yang tak kuasa menahan tangisan dan gejolak kesedihan langsung bersimpuh di depan ibu mertua. Memohon di kakinya agar tidak diperlakukan serendah itu. "Ibu tidak pantas ibu merendahkan saya seperti ini, saya adalah menantu Ibu," ucapku menangis. "Hahah, apa kau merasa takut dan lemah hati?" "Tolong maafkan saya," ucapku "Harusnya pikirkan dulu sikapmu sebelum bertindak, kau membuat keluargaku malu, kau menjadikan masyarakat punya topik pembicaraan atas kami semua. Aku ini orang terhormat, bukan rendahan sepertimu," ucapnya sambil mendorong kepalaku. Saking kerasnya dorongan tangan ibu menyodok kepala, gelungan rambut yang kuikat sampai terlepas dan membuat anak rambutku terurai menutupi wajah. "Tolong jangan suruh saya buka baju ..." Sungguh miris hati ini sampai memohon seperti itu, aku seperti berada di jaman penjajahan, terhina dan tidak punya pilihan. "Baik, kalo tidak mau buka baju," ujarnya sambil melirik suami, dan kedua putranya, berikut juga cucu cucunya yang terdiam. "... Kau boleh gunakan separuh kain jarik yang kau pakai sebagai bawahan untuk mengepel." Pilihan yang ibu berikan kali ini lebih parah lagi. Bagaimana aku akan melepas bawahan dan menggunakannya untuk mengusap lantai. "Bagaimana mungkin Ibu?" Tenggorokanku tercekat dan terasa ditumbuhi duri duri yang tajam. "Entah kau harus merangkak , berguling-guling, tapi kau harus gunakan jarik itu untuk mengepel lantai rumahku," ujarnya sambil tertawa. Seketika itu tiba tiba dendam mencuat di dalam hatiku, rasa takut dan hormat yang tadinya begitu besar berubah jadi kebencian dan dendam yang mendalam. Air mataku yang bergulir seakan api panas yang membuat d**a ini semakin memendam kemarahan terbesar. Kucopot kain jarik yang melilit pinggang, kain yang melapisi stagen yang kukenakan sebagai ganjal perut, untungnya aku mengenakan celana pendek selutut jadi tidak terlalu mengekspos bagian pribadiku. Dengan hati yang sudah ditertancap kebencian mendalam, kuusap lantai kayu mewah itu. Air mataku tak lagi mengalir, bahkan menguap kering entah kemana. Kulap lantai sampai selesai lalu melilitkan kembali kain itu ke pinggang dan pamit pergi. "Sudah ibu, aku pergi dulu," ucapku dingin. Sepertinya wanita itu menangkap perubahan yang tiba tiba terjadi sehingga dia yang terlihat belum puas kembali menghampiriku. "Hei, dengar ya, kalau kau ulang lagi perbuatanmu, maka aku akan membuatmu t*******g di jalanan," ucapnya, ditingkahi tawa anak dan suaminya. Blast! Dadaku seakan dilubangi tapi air mata ini sudah tidak bisa mengalir lagi. Aku sudah kehilangan harga diri dan ternoda di hadapan ipar dan mertua lelakiku. Mungkin mulai besok semuanya tidak akan lagi sama, mungkin cara kami untuk saling menatap dan menghormati akan berbeda. Tapi sudahlah, yang terjadi tidak bisa dielakkan lagi. "Iya, Ibu, saya akan mengingatnya, seumur hidup akan mengingatnya," jawabku. "Pergilah!" "Sebelumnya ...." Aku menahan langkah ibu mertua yang akan masuk ke dalam rumah. "Apa!" Wanita itu melotot. "Tolong berikan upah suamiku, karena saya membutuhkan uang untuk belanja!" Selagi mengatakan itu ibu langsung melotot dan tarikan napas di dadanya seketika naik. "Apa?! Kurang ajar kamu, beraninya kamu mendikte diriku!" "Maaf, suamiku berkerja juga kan Ibu, aku butuh makan!" jawabku tegas. "Kurang ajar, semakin diberi pelajaran semakin kurang ajar!" teriak Ibu mertua di depan suami dan dua putranya. Selagi ibu mencak mencak marah, ayah dan keturunannya hanya tertawa dan mengomentari betapa beraninya diriku. Sebenarnya tidak ada yang tersisa dari diriku selain kesedihan dan serpihan harga diri yang tinggal beberapa centi. Aku melangkah gontai masuk rumah dengan hati terluka. Kutatap anak dan suamiku yang nampak berbaring. Kak Aidil bangun ketika melihatku masuk, kulebarkan senyum dan mengisyaratkan bahwa aku baik baik saja. Aku beralih ke dapur kecil dekat kamar lalu mengambil segelas air. Meneguknya pelan lantas tak kuasa lagi air mata ini mengalir. Aku menangis dalam diam, sedih akan semua yang terjadi. Iba pada diri sendiri yang harus mengalami takdir semalang ini. Kubekap mulut sambil meluncur lesu, bersandar pada tiang dapur dengan perasaan remuk redam sekaligus tak berdaya. Mungkin karena merasa aku sudah mengambil waktu lama, Kak Aidil menyusulku. Dia mendatangiku dan menanyai ada apa dengan diri ini. "Apa yang terjadi di sana Dik?" "Tidak ada," jawabku menelan ludah. Bukannya tidak bisa berkata, tapi aku takut imbasnya. Kak Aidil akan mengamuk lalu terjadi pertumpahan darah. Kupeluk suamiku lalu menumpahkan kesedihan di bahunya, kuluapkan tangis yang tidak bisa kulepaskan sejak tadi. Aku meraung dengan kepiluan yang tak bisa digambarkan. "Kak ... aku sedih sekali," ucapku sesenggukan. "Maafkan Kakak ya, yang sudah membawamu ke lingkungan ini," ucap Kak Aidil. "Itu bukan salah Kakak, itu kemauanku untuk menikah denganmu, kupikir bersamamu akan menaikkan derajat dan standar hidupku tapi semuanya jauh dari angan-anganku." "Maafkan Kakak ya ..." Air mata suamiku tumpah begitu saja. " Maafkan karena aku tak memenuhi ekspektasimu," bisiknya sambil memelukku di dadanya. Usai menumpahkan tangis hingga hati ini merasa sedikit lega dan tenang aku segera, bangkit dan pergi membersihkan diri. Kugantung jarik yang kupakai di kamar mandi dan bertekat akan terus menggantungnya di sana. Aku bersumpah bahwa sebelum aku membuat mereka membayar hal yang sama, maka jarik itu tak akan kubuang begitu saja. Aku akan membalas mereka sampai tidak ada lagi yang tersisa dari harga dirinya. "Kak ...." "Ada apa?" "Ayo pindah ke rumah inaq, aku tahu ini akan sulit, tapi setidaknya kita tidak susah air dan hati," ujarku tegas. "Sungguhkah?" "Iya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD