Setelah Yanto pergi, aku segera bergegas mengambil ponsel yang kuletakkan tepat di atas lemari. Kumatikan durasi video dan segera menyimpan rahasianya di folder khusus. * Sejam kemudian suamiku datang, seperti biasa dia nampak lelah dan berkeringat deras hingga pakaian dan rambutnya basah. "Terima kasih karena selalu bekerja keras untuk kami Kak," ucapku yang menyambut di teras. "Sama sama, aku membanting tulang demi kamu dan Rima. Agar kalian bahagia," jawabnya. "Masuk dan mandilah Kak, aku siapkan sambal kentang dan ayam goreng, kakak pasti akan suka," ucapku dengan senyum termanis. "Terima kasih ya, Ibunya Rima." "Sama sama ayah Rima," balasku dengan tawa berderai. Seebenarnya ada rasa bersalah dan dosa setelah tadi sempat memancing Kak Yanto ke kamar. Andai tidak demi menghenti

