betapa

933 Words
Betapa teganya ibu mertua tidak mengangkat cucianku, sementara dia sendiri tahu bahwa bagiku hanya memiliki sedikit pakaian, dia sendiri juga melarang diri ini untuk memakaikan bayi Rima pospak dengan alasan pemborosan. Kulirik keranjang pakaian, yang tersisa hanya 3 popok kain, ada empat bedong, Aku tidak yakin pakai yang itu akan cukup sampai malam nanti bahkan esok pagi. Pergi kupandangi cucianku yang tengah melayang di tiup badai dan angin hujan deras dengan hati remuk redam. Mungkin karena aku berlatar belakang yatim piatu miskin sehinggaa ibu mertua sama sekali tidak menghargai keberadaanku. Mungkin aku tidak seperti menantu menantu nya yang lain yang berasal dari keluarga kaya dan kerabat dekatnya. Pernikahan kami nyaris tidak disetujui andai kak Aidil tidak nekat menyatakan keinginannya. Kabarnya suamiku yang anak bungsu hendak dijodohkan dengan seorang bidan, tapi karena kaidah lebih mencintai diri ini maka urung lah mertua bermenantukan seorang petugas kesehatan. Mungkin itulah yang membuat mertua punya sikap kasar dan sentimen negatif kepadaku, selalu begitu, sejak hari pertama diri ini jadi menantu. "Jika terus begini aku tidak tahan, aku bisa depresi dan gila, anakku bisa jadi korban sindrom depresi melahirkan. Ingin rasanya aku kembali ke rumah Inaq--nenekku--orang yang sudah membesarkanku dan menggantikan kasih orang tua yang telah diambil Tuhan." Aku menggumam sambil mengusap air mataku. Tadinya, aku hanya pelayan di rumah makan dengan gaji seadanya, sebisa mungkin ku cukupkan uang tersebut untuk kebutuhanku dan nenek, hingga tiba-tiba Kak Aidil datang dalam hidupku untuk menawarkan cintanya. Dia bilang, dia akan membahagiakan ku, dia bilang keluarganya akan menggantikan ruang kosong di dalam hati ini yang merindukan sosok orang tua. Tapi lihat buktinya, bahkan untuk perkara air saja ibu mertua sangat perhitungan. Andai aku kaya, andai aku punya daya dan upaya. Andai berandai-andai, berangan-angan seandainya aku adalah menantu kaya yang hanya pura-pura miskin, tentu akan terkejut sekali ibu mertua dengan kenyataannya dan di hari itulah aku akan balas dendam mengerjai ibu mertua, tapi itu hanya angan-angan dan cerita sinetron, kenyataannya hidupku masih pahit saja sampai sekarang, ya, sampai sekarang. Melihatku terduduk sedih di teras, Kak Aidil yang baru pulang langsung bergegas masuk, dia menghampiriku dan langsung memapahku masuk. "Dik, ngapain duduk di sini ketika hujan dan petir, pamali," ucapnya sambil berusaha membangunkanku. Aku yang sejak tadi sudah tak mampu menahan kesedihan langsung menangis tersedu-sedu di bahu suamiku yang berhati lembut. Sejak pertama kali mengenal hingga sekarang tak sekalipun pria itu menyakiti hati atau mengecewakanku. Dia amat baik dan perhatian, tapi, satu hal yang kurang kusukai darinya, ia terlalu menggantungkan hidup dan keputusan pada ibunya. Mungkin nanti, jika wanita tua jahat itu sudah meninggal, mungkin itulah waktunya suamiku mulai mandiri dan aku baru akan merdeka dari tekanan ini. "Kenapa menangis Dik?" "Aku lelah dan sakit, Mas, cucianku basah," ucapku sambil menahan sesak yang naik dan menusuk tenggorokan. . "Astaga ... Ini kenapa berdarah, kamu demam Dik Zahra?" tanyanya melihat kainku yang berwarna merah, suamiku langsung panik terlebih ketika meraba tubuhku yang panas luar biasa. "Tadi, aku mencuci di sumur, menimba dan mandi, lalu menggigil dan keluar darah Mas!" "Jangan-jangan jahitannya lepas, Dik?" "Gak tahu, Kak, yang pasti sakit sekali," ucapku menangis tersedu di bahunya. "Ayo masuk dulu, ganti kain dan minum obat," ucapnya lembut. "Itu pakaian Rima hanya tinggal tiga biji, gak akan cukup kak," ucapku sedih. "Sudah jangan khawatir, nanti Kakak belikan pospak." "Nanti ibu keberatan," ucapku ragu. "Tenang, biar nanti aku yang kasih tahu Ibu, kamu tadi timba air ya, kenapa gak minta tambahan dari ibu?" "Ibu bilang gak bisa ...." "Apa alasannya?" desak suamiku setengah tidak percaya. "Mungkin kamu gak paham apa kata-katanya, Sayang. Apa mungkin ibu melarang kamu ambil air?" "Dia bilang tagihan listrik akan membengkak," balasku lirih. "Seember air tidak cukup Kak, aku harus mandi, masak, mencuci dan lain sebagainya," keluhku dengan air mata berderai, teringat kembali betapa susahnya siang tadi diri ini menggeret air dari sumur yang dalam. "Adik kesakitan menarik beratnya timba, belum lagi cuaca sangat panas," ucapku dengan suara parau karena menahan sedu sedan dan sesak d**a. "Kalau begitu kita akali saja Dik. Nanti kakak beli ember tambahan, dan ketika ibu menyalakan air, Kakak bisa nekat nyuci baju kalian dan mandi, kamu pun mandi." "Tapi ibu bisa curiga, kalau ketahuan semuanya bisa gawat, Kak." "Gak akan ketahuan kalau kita diam-diam aja." "Maaf ya kak, kalo aku ngeluh, perasaannya yang hidupnya serumit ini ... kok hanya aku ya, Kak? Kakak-kakakmu baik baik saja dengan jatah air yah minim." "Mereka kan punya bak mandi yang besar Dik, sementara kita, kamar mandi pun masih setengah rampung, belum ada bak." "Lalu kenapa Ibumu pelit sekali dengan air?" "Mungkin maksudnya baik, dia ingin membiasakan kita hidup prihatin. Sudahlah ya, jangan sedih, aku akan pergi menemui ibu untuk bicara," ucapnya mengusap bahuku lalu membantuku berbaring. Setelah Kak Aidil ganti baju, dia keluar dengan senyum lebarnya. Mungkin berselang 5 menit dari kepergian Aidil tiba-tiba aku mendengar suara kegaduhan dari rumah ibu mertua, sayup-sayup kudengar ibunya Kak aidil berteriak dan menghardik anaknya. Kucoba menajamkan pendengaran karena hari masih hujan jadi suaranya tidak begitu jelas. "Apa katamu, Pampers? Gayamu ...!" teriak wanita itu dengan lantang. "Ajarkan istrimu untuk tidak terlalu manja, hanya karena perkara air dia sampai mengadu begini padamu. Kau lihat tidak dari semua Kakak dan Kakak iparmu, apakah ada dari mereka yah pernah complain dengan pengaturanku? hanya istrimu saja yang banyak tingkah dan manja. Mentang-mentang baru lahiran. Asal tahu aja ya, semua orang juga lahiran, tapi tidak ada yang semanja dia!" Mendengar itu dadaku rasanya ditusuk-tusuk, air mata ini melelek begitu saja, aku tersinggung dan jiwaku merasa sangat tersakiti, aku ingin keluar dan menjelaskan betapa sakitnya badan ini, tapi itu bukanlah ide yang bagus. Yang kulakukan hanya bisa tersedu sambil mengadu pada Allah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD