Tiga jam perjalanan yang melelahkan melewati pinggir laut, mendaki bukit dan mengitari pegunungan. Akhirnya mobil kami sampai di perkampungan penduduk di mana aku dulu lahir dan tumbuh remaja. Ketika kendaraan kami sampai, Inaq segera menyambut ke pekarangan berikut dengan anggota keluarga dan tetangga yang nampaknya sudah diberi tahu kalau kami akan datang. "Ya Allah, cucu dan cicitku datang, ayo masuk Nak," ucap Inaq dengan penuh kasih. Kumasuki rumah berlantai tanah yang masih sederhana sejak dulu, ada kursi rotan dan meja sederhana, bufet kecil berisi piring dan cangkir serta jam dinding tua yang tergantung di bilik pembatas. Semuanya yang ada meski sudah berumur lama tapi terawat rapi dan bersih. "Inaq sudah siapkan kamar kalian, Inaq jahitkan kasur baru," ucapnya dengan senyum tul

