2

1219 Words
Sekitar jam lima sore, Elang kembali ke rumah Elora setelah mengantar Dinda. Laki-laki itu segera menuju ke kamar Elora. Elang menatap pintu yang tidak bisa dibuka. Biasanya, Elora tidak mengunci pintu kamar. Bukan lagi mengetuk, Elang menggedor pintu berwarna putih tersebut. Tindakan Elang menarik perhatian bi Tiar. "Non El sedang pergi " "Mobilnya ada Bi." Elang melihat wajah lelah bu Tiar. Elang teringat Elora. Saat berpapasan tadi, begitulah mimik wajah Elora. Kantung mata juga diri yang tidak terurus. "Non El dijemput." Elang tertegun. Siapa yang menjemput Elora? Tidak pernah, begitu yang diketahui Elang. Ketika Elora sedang tidak berada di rumah, biasanya Elang akan menempati kamar gadis itu hingga pemiliknya pulang. Tidak dengan hari ini. "Aku kapok, Tik," kata Elora pada seseorang.  "Karena kamu menutupinya, El. Coba kamu jujur." Sapu tangan Elora tak lagi layak dipakai. Selembar kain kecil itu sudah menghapus air matanya sejak satu jam yang lalu. "Dia sudah memilih, artinya hatinya sudah berlabuh." Tika mengusap lembut bahu Elora. Sejak dari tadi gadis itu menyaksikan dan menenangkan sahabatnya. "Lebih baik berteman dengan sesama, dari pada canggung saat memiliki perasaan yang tidak salah, tapi aku menyalahkan karena takut Elang marah dan menjauh." "Bukankah sekarang dia juga menjauh?" Benar.  "Jujur atau tidak, kamu terlebih dulu menyalahkan perasaanmu," lanjut Tika. Elora diam dalam isak tangisnya. "Sekarang mau kamu apa?" "Aku rindu masa-masa dulu." karena Elora merasa dikhianati pada hal yang tidak diketahuinya. Sejak kapan hubungan Elang dan Dinda dimulai, Elora tidak tahu. "Kamu akan selalu menyalahkan diri." Tika tahu, sahabatnya jatuh cinta pada Elang sejak duduk di bangku kelas dua SMA. "Berdamai dengan keadaan, akan membantu El." Tidak akan mudah. "Iya. Tapi aku harus pergi, tidak mungkin selamanya aku menyaksikan kebersamaan mereka." Tika menjadi pendengar yang baik. Elora akan mengatakan isi hatinya jika memang tidak sanggup lagi dipendam. Seperti sore ini. Elora harus menempuh perjalanan selama satu jam lebih sepuluh menit untuk tiba di kediaman Tika. "Kuliahmu?" "Aku akan menyelesaikannya." Elora menangis lagi. Ia rindu pada Elang yang sudah menjadi kekasih sepupunya. "Untuk sementara aku tidak akan tinggal di rumah." Tika khawatir. "Aku tidak bermaksud meremehkan perasaanmu. Apakah karena seorang lelaki kamu harus kehilangan rasa nyamanmu?" Tika kesal, "Aku tahu, mungkin Elang adalah sosok ternyaman, tapi tidak untuk sekarang. Kenapa tidak buka mata hatimu?" Elora semakin terisak. "Karena aku mencintainya. Aku mencintai Elang." Sahabatnya butuh proses. Ia baru patah hati, wajar jika bucinnya mendunia. Sahabat dan cinta, itu dua hal yang sangat menyakitkan. Terlebih pada posisi Elora saat ini. Demi menjaga persahabatannya, ia bisa diam. Tapi, ketika tahu Elang jatuh cinta pada wanita lain, rasanya cukup sakit. "Belum tidur, Elang?" "Nungguin El, Ma." Ria melihat suaminya. "El tidak mengabarimu?" Perasaan Emang memang sudah tidak enak sejak kemarin, ditambah lagi hari ini. "Tidak." "El menginap di rumah temannya. Ada kepentingan Revisi katanya." Fahri, papa Elora yang menjawab.  Elang berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang tua Elora. "Boleh aku tahu di mana?" "Ranti, anaknya pak Karim Kodim." Elang mengangguk dan segera berpamitan pada dua orang tua itu. Elang tidak begitu mengenal Ranti, tapi tidak ada yang tidak mengenali ayahnya. Melajukan mobilnya, Elang menuju ke rumah Ranti. Dirinya sangat mengkhawatirkan Elora.  Begitu tiba di sana, Elang merasa ditampar oleh keadaan. Elora tidak ada di sana. Elora sedang menghindarinya, ada apa dengan Elora? Di kamar, Ria membicarakan Elora dan Elang. "Mereka lagi marahan, Pa?" Fahri tidak tahu. "Ini tidak seperti biasanya loh, Pa." Fahri setuju. Mereka tidak menutup mata pada hubungan persahabatan Elora dan Elang. "Atau jangan-jangan Elora sudah punya pacar?" Tentang hal itu, Fahri kurang setuju. Bagaimana cara laki-laki lain menggoda Elora sementara Elang selalu ada di sisinya? ****** Hari yang dilewati Elora kian berat. Satu bulan tidak bertemu dengan kedua orang tua juga seseorang, pikiran dan energinya terkuras. Elora sedang melakukan penelitian di sebuah desa yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota guna menyelesaikan semester akhirnya. Hati gadis itu masih sama. Masih menyimpan rasa pada seseorang. Elora memiliki hati yang setia. Sedang melakukan tugas penelitian, fokus Elora tidak bisa dipaksakan. Elora tidak bisa mengimbangi masalah yang menimpa. Alhasil seluruh kemampuannya diforsir agar mencapai kata sempurna. Ketimbang masalah hatinya saat ini, Elora memilih masalah lain saja. Biar berat tak apa, asalkan persahabatannya dengan Elang masih baik-baik saja tanpa ada ikatan hati dengan siapapun. Lusa, jadwal pulang. Gadis itu memutuskan pulang besok. Mamanya pasti akan memberitahu Elang perihal kepulangannya.  Sedang dirinya merasa rindu dan sesak pada rasa yang tak ingin dicurah lagi, Elora malah mendapati jika Elang baik-baik saja. Elora meyakinkan diri, jika Elang layak bahagia dengan siapapun. Insta story Dinda telah menjawab semuanya. Dengan dinda, Elang bahagia. Elora tidak bisa merelakan tapi ia tidak akan menganggu. Panggilan masuk dari nomor mamanya, diangkat Elora. "Iya Ma?" "Kamu baik-baik saja?" Darah Elora berdesir kala mendengar suara seseorang yang sangat dirindukannya. Elora hendak menekan tombol End tepat saat Elang mengatakan sebuah kalimat dengan tegas. "Lusa, aku menunggumu. Aku akan membuat keputusan besar." Elora menangis dan mematikan telepon saat mendengar suara parau Elang. Di sudut kamar, gadis itu terpuruk menangisi keadaannya. Lusa Elang menunggunya. Elora diminta mendengar kabar yang telah diketahui dari Insta story sepupunya. Entah sejak kapan Elora tidak membuka room chat-nya dengan Elang. Chat dari lelaki itu sudah menumpuk, tak satu pun dibaca Elora. Elora akan pulang, bukan untuk menyaksikan hari bahagia Elang. Gadis itu pulang untuk menyelesaikan pendidikannya seperti yang dikatakannya pada Tika. Jam tiga dini hari, Elora tiba di rumahnya. Bi Tiar yang membukakan pintu. Hati Elora berteriak rindu ketika melihat Elang tidur di sofa ruang tengah.  "Mas Elang menunggu Non setiap malam." Elora mengerjap. Sebelum ada yang menyadari kedatangannya, gadis itu segera masuk ke kamar. Elora pulang bersama keadaan yang sangat tidak baik. Hati dan tubuhnya sedang sakit. Elora tidak tidur lagi. Membersihkan diri, gadis itu menunggu waktu sarapan pagi untuk menyapa semuanya. Gadis itu tidak penasaran lagi pada keputusan yang akan dilakukan Elang. Karena ia membawa kabar untuk keadaan baru hatinya. Elora sudah siap, pada segala konsekuensinya. Elang akan membuat keputusan setelah berbicara dengannya, sedang Elora tidak ingin lagi bicara. Ketika turun dari kamarnya, semua orang terkejut melihat Elora. Tidak ada yang tahu kepulangannya, karena Elora telah meminta bi Tiar menutup mulut. "El, kapan kamu pulang?" Ria yang pertama kali menghampiri putrinya.  "Tadi subuh." Elora mendapat pelukan hangat dari mamanya. Gadis itu juga mencium tangan papanya. Elora melewatkan seseorang karena dia telah menarik sebuah bangku dan duduk di sana. "Kurus kamu El." Ria merasa tidak enak karena putrinya tidak menyapa Elang.  "Penelitian memang melelahkan, Ma." Elora mengambil piring dan mengisi dengan sepotong roti. "Kenapa tidak makan nasi?" Elora merasakan kembali hangat keluarganya. Mama yang cerewet saat melihat cara makan hingga menu yang dipilih Elora. "Enggak tahu. Nafsu makan kurang bagus akhir-akhir ini." Mereka menikmati sarapan bersama. Yang paling mencurigakan adalah sikap Ria. Diam-diam, wanita itu memperhatikan gelagat dari putrinya juga Elang. "Ada yang mau aku omongin dengan Papa, juga Mama." Elora sudah selesai makan, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Gadis tidak tahu dengan lelaki yang duduk di sampingnya, karena Elora tidak melihatnya. "Ada apa?" tanya Ria. Elora bangun dari bangkunya. Kedua tangan gadis itu dimasukkan ke dalam saku hoodie yang dikenakannya pagi itu. Elora sudah siap. "Aku hamil." Bagai siraman air mendidih di kepala, sontak Fahri berdiri. "Kamu bilang apa?" tajam kata Fahri tidak membuat Elora gentar. Dalam hati, Elora memohon ampun. "Aku hamil." kedua kali, Elora mengulang ucapannya. "Kami saling mencintai. Dia juga pria terhormat, seorang direktur." "Plak!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD