Empat.

1487 Words
Jam pulang sekolah akhirnya tiba, hari pertama sekolah sudah usai didetik ini. Gebi menghela napasnya pelan, ia menggendong tas ranselnya untuk kemudian keluar kelas bersama Citra dan Hanin. Ketiga gadis itu berjalan menuju koridor, dengan catatan; Gabi tetap menjadi pusat perhatian. "Gue tuh risih banget tau gak sih diliatin kaya gini, serasa gue itu buronan tau gak." gerutu Gebi dengan raut wajah kesal. Ia mempercepat langkahnya. "Eh Geb, selo dong jalannya." Citra terkekeh melihat kelakuan Gebi yang nampaknya memang benar-benar tak suka jika ia jadi pusat perhatian. "Geb, kapan nih kita bisa main kerumah lo?" tanya Hanin sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Gebi nampak memikirkan sesuatu lalu tersenyun kemudian. "Kapan aja, boleh pokoknya!" ujar Gebi terkekeh setelahnya. "Serius nih?" seketika wajah Hanin seketika berubah menjadi sumringah, "Hari ini, boleh kan?" tanyanya antusias. Gebi pun mengangguk dengan mantap. "Eh jangan hari ini dong, gue ada janji sama Mama gue soalnya." ujar Citra dengan bibir mengerucut. Langkah Gebi berhenti, "Janji sama nyokap?" tanyanya sambil menatap Citra. Citra mengangguk, "Nyokap gue ngebet ngajak gue nonton End Game. Makanya dari sini, gue langsung jemput nyokap dirumah temennya." ujar Citra. Sontak wajah Gebi berubah menjadi layu, ia menundukkan kepalanya. "Mama gue itu kalo ada film baru selalu aja ngajak gue, gak pernah tuh mau ngajak bokap gue. Kalo kaya gini sih gimana anak gadisnya mau dapet pacar coba, ya kan?" Citra menggerutu sebal. Hanin memukul lengan Citra pelan, "Nyokap gue mah gak suka nonton, tapi dia itu juaranya kalo soal masak memasak. Gue dituntut harus bisa masak deh jadinya. Padahal kan gak bisa masak gak apa-apa, yang penting bisa makan!" seru Hanin lalu dihadiahi oleh tawanya Citra, tetapi Gebi tidak. Gadis itu hanya tersenyum pahit lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. "Gue balik dulu ya." ujar Gebi kemudian ia berlari kearah gerbang. "Eh eh, Geb!" Hanin menoleh kearah Citra, "Gebi ngapa dah?" "Mungkin dia buru-buru." Citra mencoba berpikiran positif. Gebi berjalan dengan cepat kearah halte, gadis itu akan menunggu taxi, bus, atau angkot terserahlah, yang sampai lebih dulu akan ia taiki untuk mengantarnya pulang kerumah. Mobil sport putih berhenti tepat didepan halte, kaca mobil itu terbuka. Gebi hanya memutar bola matanya malas lalu mengalihkan pandangan dari mobil itu. "Geb, ayo naik." ujar si pengendara sedikit memekik. Gebi tidak merespon, ia masih terus mengalihkan pandangannya kearah beribu kendaraan yang berlalu lalang dihadapannya. "Gebi, ayo." Tak kunjung mendapat respon, si pengendara lantas turun dari mobilnya lalu menghampiri Gebi. "Geb, ayo pulang sama aku." ujar Elsa begitu lembut. Kini Gebi menatap sengit kearah Elsa, "Gue bisa pulang sendiri." ketusnya. Elsa menyentuh pundak Gebi, "Geb tapi ini udah mau sore, kamu pulang sama aku aja." Gebi menyingkirkan tangan mungil yang mendarat dipundaknya itu, "Gue bisa pulang sendiri! Lo denger gak sih?" ujar Gebi lebih ketus dari yang tadi, lalu tangannya melambai pada angkot yang baru saja melintas. "Gebi," Gebi turun dari halte, meninggalkan Elsa yang menatapnya penuh kekhawatiran. Gebi menaiki angkot yang penumpangnya didominasi oleh laki-laki, yang wanita hanya dirinya dan seorang Ibu yang membawa anak balitanya. Gebi melihat kearah kaca spion, ternyata supir angkot sedang memperhatikannya lewat kaca spion. Gebi mengalihkan pandangannya lalu mengelus lengannya sendiri, ia langsung berdoa didalam hati agar dirinya dapat sampai ke rumah dengan selamat. Angkot itu berhenti untuk kemudian Ibu bersama balitanya turun dari mobil itu, setelah wanita paruh baya itu membayar ongkos kepada supir, si supir segera melajukan kembali angkotnya. Perlu diakui, Gebi merasa ngeri karena didalam angkot itu hanya dirinya sendiri yang wanita, terlebih saat Gebi sadari bahwa si supir angkot itu masih memperhatikannya sampai detik ini. "Minggir," Tak mau ambil resiko, Gebi memutuskan untuk turun dari angkot itu walaupun belum sampai tujuannya. Namun si supir malah berlagak tidak mendengar, lantas Gebi langsung teriak lagi. "Minggir, kiri." pekiknya kini lebih keras. "Minggir," "Woi, minggir!" Para lelaki didalam angkot itu hanya terkekeh, dan kemudian mendekat kearah Gebi. "Adek sekolah dimana?" ujar lelaki paruh baya berkumis tebal disamping kananya sambil mencolek dagu Gebi. Gebi membelalakan matanya, lalu ia menepis tangan lelaki itu. "Bapak gak usah kurang ajar ya!" ujar Gebi dengan nada tinggi. "Minggir, Mas!" pekik Gebi lagi. Si supir hanya tersenyum menyeringai lalu menambah kecepatan kemudinya. "Udah lah, keliling dulu bareng kita-kita." "Iya, main dulu lah." Berbagai sorak membuat jantung Gebi semakin bergedup kencang, keringat mulai bercucuran dipelipis gadis itu. Sungguh, ini adalah mimpi buruk untuknya. Pak kumis tadi mengelus pipi Gebi lalu mendekatkan wajahnya kepada Gebi, "Gadis manis, kamu akan--" Plak! "Tolong!" Gebi berteriak sambil mencoba melarikan diri, namun percuma laju angkot itu semakin cepat dan Pak kumis pun mencengkram tangan Gebi dengan sekuat tenaga. Gebi tak bisa menahan tangisnya, ia menjerit meminta pertolongan namun ia rasa semua usahanya hanyalah sia-sia. "Malam ini kamu main sama Om ya, cantik." ujar si Pak kumis mengelus puncak kepala Gebi dengan tanpa dosanya. "Tolong!!" Si Pak kumis mencoba membuka kancing baju Gebi, namun tangan kirinya tetap mencengram kedua tangan Gebi yang dia satukan kebelakang. "Tolong! Pak, tolong lepasin Pak!" Satu kancing atas baju Gebi telah terbuka, kini tangan biadap itu mulai turun ke kancing kedua baju seragam Gebi. Senyuman miring tercetak jelas diwajah lelaki paruh baya itu. Dan, berhasil! Pak kumis berhasil membuka kancing baju kedua milik Gebi. "Pak, tolong jangan Pak!" Gebi menangis dan menjerit sekeras mungkin berharap ada keajaiban yang mau berteman dengannya. "TOLONG!!!" Cittt. Angkot yang kecepatannya diatas rata-rata itu berhenti mendadak karena hampir saja menyerempet motor, hal itu sontak membuat semua yang ada didalamnya menjadi terlonjak kedepan. Cengkraman si Pak kumis dengan reflek terlepas, Gebi langsung memanfaatkan keadaan ini. Ia turun dari angkot itu lalu berlari sekuat tenaga yang ia punya. "Eh, kabur. Kejar!" ujar si Pak kumis. Ketiga pemuda berbaju serba hitam keluar dari angkot itu lalu berlari mengejar Gebi yang jaraknya lumayan jauh. Namun apa daya, tenaga lelaki lebih kuat dari tenaga perempuan. Gebi berhasil ditangkap. Kedua tangan Gebi dicengkram oleh kedua pemuda itu lalu membawanya kembali menuju angkot. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipi Gebi. "Lepasin gue!" "Gue mohon lepasin gue!" Bug! Bug! Bug! Satu pukulan mendarat dipundak masing-masing pemuda itu. "Lepasin dia!" lelaki bertubuh atletis memandang tajam kearah ketiga pemuda itu. "Belajar jadi banci apa gimana? Beraninya sama cewek. Pake rok aja lo pada!" Cengkraman ditangan Gebi terlepaskan. Ketiga pemuda itu langsung menghajar lelaki yang sudah memukul pundak mereka, namun ternyata ketiga pemuda itu masih kurang fasih dalam berkelahi. Ketiganya babak belur akibat ulah satu orang, dasar lemah. Gebi membelalakan matanya dan menutup mulutnya. "Pandu," gumamnya masih dalam tangisan. Setelah ketiga pemuda itu lari terbirit-b***t, lelaki itu beranjak menghampiri Gebi yang sudah terlihat sangat lusuh, ditambah dua kancing baju seragam Gebi yang terbuka. Pandu mendekat lalu tangannya mengangkat untuk kemudian memasangkan kembali kancing baju itu dengan cepat. "Lo gakpapa?" Kedua kata itu berhasil membuat Gebi kembali kealam sadarnya. Jujur, Gebi sangat shock. Ia benar-benar menyaksikan jelas bagaimana Pandu menghajar ketiga pemuda itu dengan membabi buta, perkelahian itu terjadi tepat didepan matanya. Dan sumpah, itu kali pertama Gebi menyaksikan adegan adu jotos secara langsung, bukan hanya dari layar televisi. Gebi menggeleng pelan sambil menghapus air matanya. Ia masih menatap Pandu dengan tatapan tak percaya, jika tidak ada Pandu mungkin saja Gebi sudah dibawa oleh beberapa pria pecundang yang ada didalam angkot s****n itu. Pandu seolah mengerti kondisi Gebi langsung menepikan Gebi ke warung kecil yang berada tak jauh dari lokasi kejadian. "Minum dulu." Pandu memberikan air mineral kepada Gebi yang terlihat masih memandang kosong kedepan. "Minum," ujar Pandu lagi. Gebi tersadar. Ia mengambil botol air mineral itu untuk kemudian ia minum sedikit. "Makasih." katanya menatap Pandu masih dengan tatapan yang sama. Pandy duduk disamping Gebi lalu meminum minumannya. "Lo itu gak usah lebay gitu." ujar Pandu setelah menutup kembali botol minumnya. Gebi menoleh kearah Pandu, "Maksud lo?" "Di Jakarta biasa kejadian kaya tadi, udah gak heran." sahut Pandu tanpa melihat kearah Gebi. Gebi menelan salivanya, sumpah demi apapun ini sih namanya ia nyari mati jika setiap hari harus pulang naik angkot. "Lo cuma lagi ketemu apes aja." tutur Pandu. "Ya tapi gue hampir diper--" Gebi menjeda ucapannya, nada suara Gebi terdengar meninggi. Air mata gadis itu menetes lagi, ia membuang pandangannya dari Pandu. "Mereka hampir ngambil mahkota gue!" Pandu menarik Gebi kedalam pelukannya. "Lain kali, lo mesti lebih hati-hati." tutur Pandu lembut sambil mengelus rambut gadis itu. *** "Makasih, Pan." Pandu mengangguk lalu menyalakan mesin motornya kembali. "Istirahat." ucap Pandu lalu segera menancap gasnya. Gebi masih memandang Pandu dan motornya yang semakin lama semakin hilang dari pandangan. Gebi melirik jaket milik Pandu yang melapisi seragam sekolahnya, kemudian gadis itu memutarbalik badannya lalu segera masuk kedalam rumahnya. "Kemana saja jam segini baru pulang?" Gebi memberhentikan langkahnya, lalu menoleh keasal suara. "Papa," "Keluyuran lagi? Sampai malam begini baru pulang. Hari pertama sekolah sudah liar saja." ujar Firman-Papa Gebi. Gebi menatap Firman dengan mata berkaca-kaca. "Pa, Gebi hampir aja diculik." ucap Gebi dengan lirih. Bukannya prihatin, Firman malah tertawa. "Diculik? Diculik cowok kamu maksudnya?" Gebi mengernyitkan dahinya. "Kamu pikir Papa bodoh? Kamu pakai jaket siapa? Dan tadi kamu diantar siapa? Itu yang namanya hampir diculik?" ujar Firman dengan penuh penekanan. "Pa, dia yang nolongin Gebi." "Papa gak percaya!" bentak Firman yang kemudian membuat setetes air mata Gebi lolos begitu saja. "Pa, Gebi gak bohong." ucap Gebi penuh dengan harapan agar Firman segera percaya padanya. "Tadi Gebi pulang naik ang--" Firmat mengangkat jari telunjuknya, "Hustt. Papa gak mau denger semua ucapan bullshit kamu." Gebi menghela napas, "Pa, Gebi bener--" "Pokoknya kalau besok kamu pulang telat seperti ini lagi, Papa akan kasih hukuman ke kamu!" ujar Firman menunjuk wajah Gebi, "Ingat itu!" lanjutnya lalu pergi meninggalkan Gebi. Setelah Firman pergi, gadis itu mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar kacau, sungguh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD