Enam Belas.

1524 Words
"Seharusnya lo gak usah anterin gue pulang." ujar Gebi sambil melepas helmnya kemudian ia berikan kembali kepada Pandu. "Mana pake beli helm segala, gak berguna kan cuma dipake sekali?" ujarnya lagi, lebih tepatnya mendumel sih. Pandu menatap Gebi dengan intens tanpa membuka helm full face nya. Cowok itu menolak helm yang Gebi berikan padanya, "Helm itu gue beli buat lo. Tadi banyak polisi, gue gak mau ditilang cuma gara-gara lo gak pake-" "Gue gak minta lo buat anterin gue pulang." Gebi memotong ucapan Pandu. "Itung-itung gue beramal sama temen baru." ujar Pandu yang entah dibalik helmnya dia tersenyum atau tidak. "Basi. Jadi ini helm buat gue?" tanya Gebi sambil menenteng helm itu. Pandu mengangguk. "Yaudah, makasih." Gebi tersenyum sebentar. "Lo gak mau masuk dulu?" "Nggak usah, gue langsung balik aja." Gebi mengangguk paham. Kemudian setelah itu Pandu menyalakan mesin motornya, "Nunggu apa lagi?" tanya Pandu. "Nungguin lo pergi lah, baru gue masuk." "Justru gue gak akan pergi kalo lo belum masuk." ujar Pandu justru membalikkan ucapan Gebi. Gebi mengernyitkan dahinya sambil sedikit terkekeh. "Yaudah deh, gue masuk. Makasih ya, Pan." ujarnya. Pandu mengangguk sambil memperhatikan Gebi yang mulai membuka gerbang rumahnya. Gebi memberhentikan langkahnya lagi, ia menoleh kebelakang sambil tersenyum kearah Pandu. "Pan, hati-hati ya." ujarnya begitu lembut. Pandu mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Setelah ia pastikan bahwa Gebi sudah masuk kedalam rumahnya, ia beranjak untuk melajukan motornya. Tapi tunggu, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Mobil yang terparkir dihalaman rumah megah itu adalah mobil yang ia ingat sekali bahwa mobil itu yang digunakan oleh lelaki paruh baya yang menjemput Elsa tadi. Dan ya, kini otaknya berpikir keras. Apakah dugaannya selama ini benar? Entahlah. *** Gebi melangkahkan kakinya memasuki kamarnya, rasanya ia sudah tak sabar ingin bermanja dikasur. Tetapi langkahnya terhenti saat hentakan kaki yang menuju kearahnya cukup terdengar jelas. Gadis itu memutarbalikkan tubuhnya yang masih menggendong tas ransel. Firman. Lagi-lagi gadis itu harus mengeluarkan energinya untuk meladeni Ayahnya yang ia pun tahu bahwa saat itu beliau pasti ingin memarahinya. Lihat saja. Gebi menatap Firman dengan sengit, begitupun sebaliknya. "Anak gak sopan, masuk rumah itu salam sama orang tua!" ujar Firman sambil matanya yang mulai melotot. Gebi berdecih, "Buat apa? Lagian, orang tua Gebi juga udah gak nganggep Gebi ada." Firman menghela napasnya, berusaha untuk tidak emosi. "Pulang sama siapa? Pacar kamu?" "Kenapa Papa nanya gitu? Harusnya Gebi yang nanya, apa Papa lupa kalo tadi disekolah juga ada Gebi? Kenapa cuma Elsa yang dijemput? Yang anak kandung Papa tuh Gebi atau Elsa sih?" percayalah bahwa mata Gebi sudah mulai berkaca-kaca. "Elsa yang dianter kesekolah, seolah-olah Papa gak rela ngelepasin Elsa buat ikut studycamp. Sedangkan Gebi? Gebi pergi sendiri naik taxi, dan Papa gak peduli. Jadi seharusnya Papa gak usah nanya-nanya Gebi pulang atau pergi sama siapa dan kemana, karena Gebi pun tau Papa gak akan pernah peduli lagi. Gebi udah gak penting. Yang paling penting dan berharga dihidup Papa sekarang kan cuma Elsa dan Erika. Right?" "Gebi, jaga ucapan kamu!" Firman mulai meninggikan nada bicaranya. "Pa, Papa tau? Selama studycamp Gebi bersyukur karena Elsa gak ikut-ikutan keliling hutan karena dia jadi panitia konsumsi, Gebi seneng karena itu artinya dia gak usah capek-capek keliling hutan, Gebi tau gimana fisik Elsa. Tapi apa Papa tau? Waktu studycamp Gebi hampir celaka dan hampir hilang karena nyasar ditengah hutan. Saat itu, Gebi ngerasa gak ada harapan lagi buat ketemu sama Papa, Gebi gak bisa bayangin kalo hari itu Gebi pergi sedangkan Gebi belum jadi anak yang baik buat Papa, belum bisa jadi anak yang bikin Papa bangga. Tapi akhirnya Gebi selamat dan bener-bener bersyukur karena Tuhan udah jagain Gebi dan kasih kesempatan Gebi untuk bertemu kembali sama Papa, tapi ternyata Tuhan belum balikin Papa Gebi yang dulu..." Sempurna. Air mata Gebi mulai berjatuhan. Ia menggempalkan tangannya dengan begitu geram, ingin sekali ia teriak didepan Firman; bahwa ia lelah hidup seperti ini. Sungguh. "Pa, Papa tau? Gebi gak pernah minta yang muluk-muluk sama Tuhan, yang Gebi pinta cuma dua kok; yang pertama, semoga Mama selalu tenang dan bahagia dialam sana. Dan yang kedua, semoga Tuhan mau balikin Papa Gebi yang dulu.." Gebi tersenyum pahit, matanya yang berlinang air bening itu menatap Firman dengan penuh pengharapan. "Dan Gebi berharap, Tuhan kabulin doa Gebi sesegera mungkin." Gebi tersenyum lagi. "Gebi sayang Papa." Setelah mengucapkan 3 kata itu, Gebi meninggalkan Firman, ia berjalan dengan cepat masuk kedalam kamarnya kemudian segera menutup dan mengunci pintu kamarnya. Didalam kamar, ia menangis sesegukan. Sedangkan Firman, dirinya seolah mendapatkan tamparan yang begitu kuat dari Puteri sulungnya. *** Tepat pukul 10 malam, gadis berpiyama hitam itu menuruni tangga rumahnya. Ia melihat suasana rumah sudah sangat sepi, bahkan beberapa lampu ruangan sudah dimatikan. Ia menghela napasnya berat, ia melangkahkan kakinya menuju pintu belakang. Gadis itu duduk dibangku taman belakang rumahnya sambil kepalanya mendongak keatas, menyaksikan betapa indahnya seluruh bintang-bintang dilangit. Andai saja ia bisa menikmati keindahan ini dengan seorang— Ibu... "Ma, Mama lagi apa disana? Gebi rindu Mama." ujar Gebi sambil memeluk dirinya sendiri. Ia merasakan dinginnya udara malam ini yang menusuk kulitnya hingga ia harus meringkuk seperti itu. "Kalo ada Mama disini, pasti Gebi gak akan kesepian dan gak akan galau. Dan Papa juga pasti gak akan berubah gitu, gak akan ada Erika juga dirumah ini." ujar Gebi lagi dengan masih pandangannya keatas langit. Dan lagi, sebulir air mata menetes dipipinya. "Ma, maaf ya kalo Gebi sering banget nangis, maaf kalo Gebi sering curhat yang sedih-sedih, Mama jangan bosen dong dengerin curhatan Gebi.." gadis itu berucap lagi, namun kali ini nadanya jauh lebih menyentuh hati. Pada saat yang bersamaan, Mang Uno dan Bi Leha tak sengaja sedang melintasi tempat dimana sekarang Gebi sedang melepaskan kesedihannya, mereka berjalan menuju rumah mereka yang berada tepat dibelakang rumah Gebi. Rumah itu sederhana, tidak terlalu luas namun nyaman jika ditempatkan berdua, rumah itu diberikan kepada Firman dan Asya sejak mereka sudah 3 tahun kerja sebagai asisten rumahnya. Sekedar informasi, Bi Leha dan Mang Uno adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai asisten rumah Gebi sejak gadis itu berumur 9 tahun. Mereka tidak memiliki anak karena Bi Leha mengalami kemandulan. Bi Leha dan Mang Uno memang sudah cukup lama bekerja dirumah Gebi, namun Gebi tidak terlalu akrab dengan kedua asisten rumahnya itu, karena sejak kecil hingga dia umur 16 tahun; Gebi bukanlah seorang gadis yang kurang kasih sayang dari orang tua, orang tuanya selalu ada waktu untuk gadis kecilnya itu, jadi ia tidak perlu repot-repot diurusi dengan asisten rumah tangga. Namun berbeda dengan hari ini, semua itu telah sirna. Kini Gebi hanyalah gadis yang memprihatinkan karena kehilangan kasih sayang dari orang tua. Miris. "Non, kenapa masih diluar? Kan sudah malam," ujar Mang Uno yang datang dari arah belakang Gebi, diikuti dengan istrinya. Gebi menoleh, menurunkan kedua kakinya. Gadis itu menghapus air matanya yang mengalir deras. "Eh, Bi Leha, Mang Uno. Udah mau pulang?" ujar Gebi seolah menyembunyikan kesedihannya. Namun Mang Uno dan Bi Leha tidak sebodoh itu, tentu keduanya paham sekali apa yang terjadi dengan gadis itu sekarang. Sepasang suami istri itu menatap Gebi dengan penuh kasih sayang. "Non, Mamang sama Bibi disini sangat bersedia kalau harus dibagi kesedihannya Non Gebi, Non Gebi gak perlu sungkan." ujar Bi Leha sambil mengelus pundak Gebi. "Gebi boleh peluk Mang Uno sama Bi Leha?" ujar Gebi dengan mata yang penuh harapan. Mang Uno dan Bi Leha tersenyum bersamaan lalu segera menarik tubuh gadis kecil itu kedalam pelukan mereka. "Mulai sekarang, Non Gebi boleh anggap kami berdua seperti orang tua Non Gebi sendiri." ujar Bi Leha sambil mengelus puncak kepala Gebi. "Makasih Bi, Mang. Gebi nyesel kenapa baru sekarang deket gini sama Bibi dan Mamang." ujar Gebi didalam pelukan. *** Pagi ini, cuaca yang cerah begitu mendukung untuk berolahraga ditengah lapangan. Dan kebetulan hari ini adalah jadwal olahraga bagi kelas 11 IPA 1 & 11 IPA 3. Setelah semua murid IPA1 & IPA3 berkumpul dilapangan dan sudah serentak memakai pakaian olahraga GIS. Mereka diarahkan oleh Pak Subardi untuk melakukan pemanasan. Setelah sesi pemanasan selesai, mereka semua diperintahkan untuk berlari 5 kali putaran lapangan. 5 saja sudah cukup karena harus kalian tahu, lapangan GIS itu sangat luas. Saat sudah berlari 2 putaran, Gebi menghampiri Elsa yang sudah berlari dengan semakin pelan. "Sa, kalo gak mau cari urusan mending lo izin ke Pak Subardi." ujar Gebi sambil berlari kecil mengikuti langkah Elsa. Elsa mengelap keringatnya yang sudah mulai bercucuran. "Nggak Geb, aku kuat kok." "Sa, jangan cari urusan deh!" ujar Gebi lagi yang semakin khawatir kerena pandangan Elsa sepertinya mulai tidak stabil. "Geb, aku seneng kamu masi care sama aku." ucap Elsa. "Sa, gue bilang izin!" Gebi mulai bernada tinggi. Elsa tersenyum dan masih terus meneruskan langkah kecilnya itu padahal matanya sudah mulap kedap-kedip. "Sa.." Dan, bluk! Tepat. Elsa terjatuh lunglai disambut dengan pekikan Gebi yang begitu melengking; "Tuh kan gue bilang apa!" Seluruh perhatian kini beralih ke Elsa, dan kini giliran kaum adam berlomba-lomba untuk menggendong Elsa ke UKS namun ternyata Pandu yang paling cepat. Raut wajah Pandu pun berubah menjadi cemas ketika ia lihat Elsa sudah terkapar ditengah lapangan. Cowok itu segera membawa Elsa ke UKS dengan langkah yang gotai. Langkah Pandu rupanya dibuntuti oleh Gebi yang pasti, juga ada Citra dan Hanin yang senantiasa berada disisi Gebi. Serta ada Habib, Gibran, Ciko, dan Jeri yang dimana ada Pandu disitulah ada mereka. Pandu menaruh Elsa diranjang UKS, Suster pun segera menangani Elsa. "Kalian semua bisa tunggu didepan aja ya." ucap Suster yang diketahui bernama Emil. "Saya mau temenin Elsa, Sus." ujar Gebi disambunh dengan ucapan Pandu, "Saya juga." "Baik kalian berdua saja ya, yang lain silakan tunggu diluar." ujar Suster Emil dengan senyuman manisnya. "Oke Suster cantik." sahut Habib yang justru membuat Ciko menarik telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD