20. Di Depan Kamar

1679 Words

“Nih, makan!” titah Langit seraya memberikan bungkusan makanan yang dibawanya kepada Suara. “Sudah lebih dari seminggu kamu mendekam di kost-kostan, enggak sumpek?” tanyanya. Suara mengambil makanan yang baru saja diberikan oleh Langit seraya menggeleng, “Enggak, karena saya mengikuti berita-berita yang menyangkut saya, Langit. Dan, kalau saja kamu sadar kedatangan kamu ke sini itu justru membuat orang-orang makin-makin menggunjing saya,” jawabnya. Langit yang duduk di depan pintu kostan Suara mengedikkan bahunya, “Karena memikirkan perkataan orang lain itu memang menyesakkan, Su. Jadi, lebih baik tidak perlu dipikirkan dan lebih baik lagi kalau kamu memakan makanan kamu sekarang sebelum dingin dan basi seperti jalan hidupmu.” “Panjang sekali mengomelnya, Masnya,” sindir Suara. Lalu, ia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD